Maunya Membantu, Ternyata….

June 11th, 2009

Pagi itu, aku melihat dua orang laki-laki tak dikenal berada di halaman depan rumah tetangga yang ada di seberang rumahku. Awalnya aku tak begitu memperhatikannya tetapi ketika kulihat mereka lama tak bergerak dari tempatnya rasa curiga mulai menghampiriku… Siapa mereka? Kenapa mereka ada disana padahal si empunya rumah sedang ke luar kota?

 

Tak lama, salah satu dari mereka, datang ke rumahku menanyakan si empunya rumah. Dia mengaku saudara si empunya rumah yang datang dari salah satu kota di Jawa Tengah.  Akupun menemui mereka berdua dan mendengarkan cerita panjang lebar mereka. Katanya, mereka sudah 3 hari di sini, HPnya sudah dijual, tidur berpindah-pindah, di masjid dan di pos satpam perumahanku, uangnya tinggal 3 lembar puluhan ribu sehingga makanpun seadanya. Aku sampaikan kepada mereka bahwa paling cepat si empunya rumah pergi selama seminggu. Merekapun mulai mengeluh, kalo seminggu mungkin mereka bisa mati kelaparan sementara mau pulang kampung uang sudah tak ada. Mereka sudah berusaha telephone si empunya rumah tapi sulit dihubungi. Merekapun mengutarakan maksudnya untuk meminjam uang kepadaku sekedar untuk ongkos pulang kampung, “nanti pasti diganti sama saudara kami karena kami datang atas pemintaannya” begitu katanya waktu itu. Hatiku bimbang…. “nih orang bener kesusahan atau boongan sich?” pikirku saat itu. Kalo aku ngga tolong dan memang nih orang butuh bantuan…. Wah kasian juga….

 

Ditengah-tengah kami mengobrol, salah seorang dari anggota satpam perumahankupun lewat dan berhenti sebentar untuk ikut mendengarkan cerita mereka. Pak satpam ini juga membenarkan bahwa semalem mereka berdua ada di pos satpam…. Kemudian berlalulah pak satpam.

 

Begitu juga nenek yang tinggal di sebelah rumahkupun keluar. Melihat nenek, akupun menghampirinya dan menceritakan apa yang telah mereka ceritakan kepadaku…. “Kasian juga ya” komentar beliau. Akupun mulai meminta pertimbangan untuk menolongnya dengan memberikan ongkos pulang kampung asal masih dalam batas tertentu. Akhirnya kami berdua sepakat untuk membantu dan kembali menemui mereka serta menanyakan berapa ongkos yang diperlukannya untuk pulang kampung. Ketika mereka menyebutkan angka tertentu ternyata angka tersebut sesuai dengan perkiraan nenek, maka akupun menyanggupinya. Singkat cerita, akhirnya aku memberikan uang yang diperlukannya tanpa berharap uang itu akan kembali, nenek bahkan menyediakan mie rebus dan teh untuk sarapan pagi mereka.

 

Selang beberapa hari kemudian, ketika si empunya rumah kembali dari luar kota, iapun datang ke rumahku. Ia telah mendengar kejadian di atas dari nenek karena itulah tetanggaku itu menemuiku untuk menjelaskan bahwa sebenarnya ia ngga punya saudara yang tinggal di Jawa Tengah. Ketika kusebutkan ciri-cirinya, iapun bercerita pengalamannya bahwa ketika beberapa waktu lalu ia berkenalan dengan seseorang di bus Damri dalam perjalanan dari bandara Soekarno Hatta. Kepada orang yang baru dikenalnya ini, ia cerita seperti layaknya orang yang telah lama kenal. Tak lama setelah berkenalan, orang yang baru dikenal ini menelphone meminta bantuan karena bapaknya meninggal dan beberapa kali ia sempat meminta bantuan dipenuhinya. Setelah itu barulah tetanggaku itu sadar bahwa teman yang baru dikenalnya itu orang yang ngga bener….

 

Begitulah ia menceritakan pengalamannya. Iapun memaksa aku untuk menerima ganti uangku yang kepake. Aku hanya bisa meminta maaf kepadanya…. Dan berpesan kepadanya untuk berkoordinasi dengan satpam perumahan (btw uang yang tersisa yang dimiliki orang tak dikenal yang disebutkan di atas ternyata dari pak satpam, he..he.. pak satpam ketipu juga ya….).   Itulah pelajaran yang kuterima bersama nenek…. Jika salah menilai orang, ternyata membantu orang itu juga bisa menyusahkan orang lain….

 


Hamster Patungan

May 8th, 2009

Krriiiggg…. krriiiggg…. krriiiggg…. krriiiggg…. Sudah hampir dua minggu ini suara itu setiap hari selalu memecahkan ketenangan malam di rumah kami. Suara yang berasal dari mainan putaran hamster peliharaan anakku. Ya…. hamster adalah binatang mengerat yang lincah, kehidupannya terbalik dengan kita, malam dia makan, bermain, bergerak kesana sini sementara siang dia bobok…. He..he..

 

Aku sebenarnya tidak suka memelihara binatang…. Suatu hari, anakku yang kecil, minta dibelikan hamster. ‘Ma.., beliin hamster dong…’ katanya waktu itu. ‘Dede, tabungannya cukup untuk beli hamster?’ kataku balik bertanya. ‘Cukup’ jawabnya. Akupun kembali bertanya ‘Dede bisa ngerawatnya?’. Itulah sepenggal percakapanku pada saat itu. Seminggu kemudian, anakku bercerita bahwa ia sudah tau bagaimana merawat hamster, ternyata ia bertanya ke temannya yang mempunyai peliharaan 7 hamster. Karena melihat kesungguhannya inilah kuijinkan anakku untuk memelihara hamster…. Akupun berusaha untuk browsing mencari informasi bagaimana memelihara hamster walaupun aku mengatakan bahwa aku tidak akan membantu merawat, minimal aku tau caranya.

 

Di akhir minggu itu, kami bersama-sama pergi membeli hamster. Dari rumah, dede dan kaka masing-masing menyiapkan uang tabungannya yang akan digunakan untuk membeli hamster. Dede dan kaka masing-masing akan membeli satu ekor. Sedangkan kandangnya bagian aku dan suami yang akan membelinya. Setelah melihat-lihat, akhirnya dede memilih hamster warna putih hitam sementara kaka warna krem putih. Kandang berwarna pink dilengkapi mainan menjadi pilihan mereka. Setelah mereka memilih, dede dan kaka memberikan uang tabungannya senilai harga hamster itu, suamiku memberikan uang 75% dari harga kandang, berarti bagianku hanya menutup sedikit kekurangannya saja. Aku menerima uang patungan itu sambil tersenyum…. Kurapikan uangnya…. Akupun tertawa…. Geli…. Lucu juga ya pikirku…. Aku jadi bandar hamster.

 

Di dalam lubuk hatiku ada 2 hal yang kuharapkan, yang pertama aku ingin agar anakku belajar bahwa kalau menginginkan sesuatu mereka harus menabung terlebih dahulu dan yang kedua mereka belajar bertanggung jawab untuk memelihara peliharaannya….

 

Sejauh ini menurutku mereka bisa melaksanakan apa yang kuharapkan. Krriiiggg…. krriiiggg…. krriiiggg…. krriiiggg…. Kembali suara itu terdengar, suara Stingky dan Kuci, si hamster yang sedang bermain membuatku tersenyum….


Ibu Tiri dan Ibu Kandung

March 18th, 2009

Anak-anakku senang bermain peran. Suatu hari kami bermain peran putri Cinderella. Aku mengambil peran sebagai ibu tiri dan kuminta kedua anakku untuk memerankan saudara tiri Cinderella. Anak pertamaku menolak sementara anak keduaku tertawa senang dengan peran yang kuusulkan. Ketika kuperankan ibu tiri yang galak kedua anakku melihatku sambil tertawa terpingkal-pingkal…. (mungkin menurutnya aku cocok memerankan ibu tiri yang galak….). Setelah selesai memerankan ibu tiri yang galak….aku mulai bertanya dalam hati, kenapa ya ibu tiri selalu digambarkan sebagai ibu yang galak terhadap anak tirinya…. Sementara ibu kandung selalu digambarkan sebagai ibu yang penuh kasih kepada anak-anaknya….? Aku mencoba membayangkan, mencoba menelusurinya dan mencoba memahaminya.

 

Menurutku ibu tiri adalah sosok ibu yang merawat anak yang tidak dikandungnya. Ia membesarkan anak tirinya karena disebabkan oleh beberapa hal, seperti karena perkawinannya yang belum juga mempunyai keturunan sehingga mencoba untuk mengambil anak untuk diasuh menjadi anaknya, bisa juga karena seorang wanita yang menikah dengan lelaki yang telah memiliki anak dari perkawinan sebelumnya atau mungkin juga disebabkan berbagai alasan lainnya. Ketika seorang wanita mejadi ibu, tentu berbagai tugas dan tanggung jawab wajib ia jalankan. Ketika fajar mulai menyingsing dan si anak mulai bangun, dengan mata yang masih mengantuk, ibu tiri harus membuatkan susu, memandikannya, menyiapkan sarapan, menyuapinya, mengajaknya menghirup udara pagi dan macam-macam lagi yang harus ia kerjakan hingga malam hari bahkan hingga tengah malam sekalipun, tidurnya terganggu sekedar memastikan bahwa si anak nyaman dalam mimpinya. Berbagai hal harus ia kerjakan sehingga waktu, pikiran dan tenaganya tersita untuk hal-hal baru yang tiba-tiba saja harus ia lakukan.  Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini dan ketidak siapan mental, tentu akan berdampak ke psikologis ibu tiri. Luapan emosi terkadang muncul, bukan hanya mulut yang bicara tak jarang tanganpun bermain di badan anak tirinya. Hal ini menyebabkan si anak tiri merasa tak nyaman dan  membuatnya melakukan sesuatu untuk menarik perhatian ibu tirinya. Tingkah untuk menarik perhatian ibu tiri mungkin tidak berhasil, sebaliknya bahkan bisa saja menambah emosi ibu tirinya…. Ya itulah yang mungkin terjadi sehingga kita mengenal ibu tiri yang galak dan jahat. Tapi coba bayangkan kalau si ibu tiri ini dapat melakukan semuanya dengan tulus, dengan keiklasannya tentu yang terjadi justru sebaliknya, ia akan menjadi ibu tiri yang penuh kasih kepada anak tirinya. Kurasa masih banyak wanita yang mempunyai ketulusan seperti ini dan aku sangat menghargai ketulusannya itu.

 

Berbeda dengan ibu tiri, ibu kandung adalah ibu yang mengandung anaknya, ia selalu membawa anaknya mulai dari benih hingga janin yang siap untuk dilahirkan dari perutnya. Sejak awal, ia menyadari ada kehidupan baru yang dititipkanNya untuk dirawat. Allah itu memang baik, Dia merencanakan sesuatu yang indah pada waktunya, Dia persiapkan si ibu selama 9 bulan sehingga si ibu siap menerima titipanNya dan  merasakan kebahagian yang luar biasa sehingga dapat mengasihi titipanNya itu. Menurutku Allah itu tidak hanya baik tetapi juga penuh pengertian, ketika Dia menitipkan kehidupan baru, Dia pun mencukupinya dengan kelimpahan rejeki sehingga rejeki itu dapat digunakan untuk merawat dan membesarkan titipanNya itu. Apakah semua ibu kandung merasakan hal ini? Akupun tak yakin…. Kurasa masih ada ibu kandung yang dengan berbagai alasan menolak kehadiran titipanNya itu dan bahkan menelantarkannya….

 

Lalu mana yang terbaik bagi anak, hidup bersama ibu tiri atau ibu kandung ya? Sepertinya semua tergantung ketulusan hati ibu dalam menjalani perannya dalam kehidupan di dunia ini….

Lho….  (tiba-tiba aku tersadar….)  sudahlah aku khan hanya bermain peran bersama anak-anakku kenapa aku jadi ngelantur kemana-mana ya…. ? he..he..

 


Kembang Wijayakusuma

February 2nd, 2009

Ketika aku kecil, di rumah nenekku alm terdapat sebuah pot besar yang ditanami kembang wijayakusuma. Seingatku setiap kali aku datang ke rumahnya, kuperhatikan banyak sekali kuncup-kuncup bunga yang belum mekar. Pemandangan ini jauh berbeda dengan kembang serupa yang dimiliki oleh mamiku. Tanaman wijayakusuma mamiku hanya sekali-kali saja berbunga. Ketika aku sudah berkeluarga dan akan menempati rumah yang kutinggali sekarang, mami membawakanku beberapa pot tanaman yang salah satunya adalah wijayakusuma. Tak berbeda dengan wijayakusuma mamiku, tanamankupun jarang sekali berbunga dan kalaupun berbunga hanya satu kuntum saja.

 

Tanaman wijayakusuma, daunnya berupa helaian daun pipih yang keras berwarna hijau berbentuk memanjang dan mengecil pada ujungnya dengan tepi yang bergelombang. Walaupun bentuknya seperti itu, namun kita dapat dengan mudah membedakan mana batang dan mana daunnya. Tunas kembang wijayakusuma akan muncul pada gelombang daun, berupa kuncup yang makin lama makin panjang tangkai kembangnya hingga kembang itu menjuntai ke bawah. Tangkai dan kuncup kembang biasanya berwarna merah muda tetapi kembangnya sendiri berwarna putih. Yang menarik kembang wijayakusuma ini hanya akan mekar pada saat tengah malam itupun hanya untuk beberapa saat saja, esok paginya pastilah sudah layu. Menurut mitos…. katanya siapa yang melihat kembang wijayakusuma pada saat mekar maka ia akan mendapatkan rejeki… (he..he.. masih percaya juga…).

 

Belakangan baru kutahu, kembang ini ternyata termasuk jenis kaktus yang mempunyai nama Latin (Epiphyllum anguliger). Tidak semua tanaman wijayakusuma mudah untuk berkembang, tergantung dari beberapa faktor seperti iklim, kesuburan tanah dan tentu saja perawatannya. Tanaman ini hanya berbunga setahun sekali pada saat musim penghujan…. (pantesan tanamanku dan mami rasanya jarang berkembang karena aku melihatnya setiap hari, sementara kepunyaan nenekku sering berkembang karena aku hanya datang di saat liburan yang mungkin saat itu adalah saatnya tanaman wijayakusuma berkembang….). Daun wijayakusuma juga dapat dipakai sebagai obat luka, dengan cara ditumbuk dan dioleskan pada luka tersebut (khasiat ini sich…. aku belum pernah mencobanya…).

 

Tadi pagi kulihat sebuah kuncup kembang wijayakusumaku yang baru muncul di sela-sela gelombang daunnya. Seperti biasanya hanya satu tunas saja…. Oya…. Ada hal yang menarik sebulan yang lalu, tepatnya sehari menjelang kepulanganku dari Canada, kembang wijayakusumaku katanya berbunga sampai sembilan kuntum (yang 2 kuntum ngga sampai mekar karena keburu patah akibat menjuntai menyentuh tanah….). Waktu itu, aku terheran-heran ngga percaya, selama ini paling hanya 1 kuntum kalau berkembang hingga akupun dikirimi foto kembangku…. anak-anakku sampai bangun tengah malam hanya untuk melihat ketujuh kembang yang mekar bersamaan…. Sesuai mitos…. Yang dapat rejeki adalah anak-anak dan suamiku karena melihat mekarnya wijayakusuma…. (ya jelas aja khan aku sebentar lagi nyampe rumah he..he.. rejekinya aku…. pikirku waktu itu menghibur diri…. he..he..)

 


Perjalanan Pulang

January 10th, 2009

Minggu 4 Januari 2009, genap sudah kami tinggal di Gatineau Canada selama 4 bulan ini. Pagi ini kami akan kembali ke tanah air tercinta dan tentu saja keluarga yang terkasih…. Pagi ini hatiku begitu bahagia, sedih dan deg-degan. Perasaan yang selalu kurasakan di minggu terakhir ini. Bahagia jelas karena aku akan bertemu dengan suami dan anak-anakku yang kukasihi…., sedih karena aku meninggalkan tempat tinggal dan lingkungan yang nyaman yang aku rasakan di Gatineau…. dan deg-degan…. entahlah apa yang membuatku mempunyai perasaan itu….

 

Pak Sarif menjemput kami, pukul 6.30 karena pesawat Air Canada akan take off pada pukul 10.00. Bersama pak Sarif, Lahcen rekan kami yang selalu membantu kamipun ikut mengantar ke bandara. (Seandainya Leonard belum kembali ke Jerman, pastilah ia juga akan mengantar kami ke bandara Ottawa).

 

Bandara Ottawa terlihat ramai penumpang yang akan melakukan perjalanan. Di bandara ini, nama kami tidak tercatat pada penerbangan yang sudah dijadwalkan. Setelah ditelusuri ternyata nama kami terdaftar pada penerbangan jam 9.00 bukan jam 10.00. Biro travel kami ternyata merubahnya tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Berutung kami berada di bandara lebih awal. Ketika boarding pass, kami tidak bisa langsung tujuan ke Jakarta tetapi ke Toronto karena nama kami tidak termasuk ke dalam penumpang connection flight. Terlintas pikiran jelek kami “jangan-jangan penerbangan Toronto-Hongkongpun dirubah jadwalnya tanpa sepengetahuan kami”. Kami perlu berhati-hati untuk penerbangan berikutnya. Ketika bagasi kami ditimbang ternyata 2 diantara 8 koper kami overweight. Kami diminta membongkar koper sesuai aturan seberat 23 kg. Di bandara ini, aturan memang benar-benar dijalankan, walaupun total berat masih jauh dari limit, masing-masing koper tetap tidak boleh melebihi aturan yang sudah ditetapkan. Dengan terburu-buru, Dyah dan Pipit membongkar kopernya dan membawa barang bawaannya ke cabin. Ketika semua proses sudah kami lewati, kami mencari gate 20, tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa 10 menit lagi pesawat akan take off dan penumpang diharap segera masuk ke pesawat…. Kami terpana dan segera berlari menuju gate 20 (naik pesawat koq rasanya seperti naik bus….). Setelah berada di pesawat, kami menunggu begitu lama…. He..he.. pesawat tidak juga terbang…. Baru terbang pada sekitar pukul 10.00…. pesawat di delay…. Kami hanya bisa tersenyum…. Sambil membayangkan kehebohan sebelumnya…. (ini mah sama aja sesuai jadwal, berangkat jam 10.00).

 

Satu jam berikutnya kami sudah berada di bandara Toronto. Kami menunggu bagasi …. yang keluar hanya 3 koper sementara yang 5 tidak kunjung ada…. Kami putari ruangan…. Kami datangi kumpulan-kumpulan koper yang terdapat di ruang itu…. kami cek satu per satu tapi tidak juga berhasil menemukannya…. Ketika kami datangi counter pelayanan untuk menyampaikan complain kami, tak disangka ternyata penumpang pesawat yang complain cukup banyak, karena bagasi yang terangkut dalam pesawat kami hanya 17 saja, selebihnya mungkin masih tertinggal di Ottawa…. Kami diminta menunggu pesawat berikutnya …. Siapa tau ada bagasi kami…. Kamipun hanya dapat menunggu sambil berharap cemas…. (memang perjalanan kami dicover asuransi…. tapi kami ngga rela kalau kehilangan souvenir….) Jam demi jam berlalu, satu per satu pesawat dr Ottawa landing…. Akhirnya setelah pesawat ke 4 datang dari Ottawa, muncullah koper kami…., senyum lega tersungging di bibir kami…. setelah 4,5 jam kami menunggu….

 

Namun demikian, kami masih tetap harus menunggu di bandara internasional Toronto, menunggu pesawat kami yang ke Hongkong, yang akan take off pada jam 0.15. Perjalanan kami berjalan lancar dan tiba di Hongkong pada jam 4.30 waktu Hongkong. Kami sejenak beristirahat dan membersihkan diri. Pukul 7.00 ketika mall di bandara mulai buka, kami pun melihat dan membeli souvenir sekedarnya karena waktu kami tak banyak. Pesawat akan terbang menuju Jakarta pada pukul 9.30, kamipun segera bergegas…. Selasa 6 Januari 2009 tepat jam 13.00 WIB pesawat kami menjejakkan kakinya di landasan Soekarno Hatta…. Setelah urusan imigrasi dan bagasi kami selesaikan…. Kami berpelukan satu sama lain bermaaf-maafan…. Dan keluarlah kami menjumpai keluarga kami masing-masing….

Usailah sudah tugas sandwich ini…. tapi ini bukan berarti selesai semuanya…. Kami masih harus melanjutkan dan menyelesaikan tugas yang sudah kami rintis di Canada dan semoga kami dapat menyelesaikannya dengan baik….


Lamunanku….

December 31st, 2008

Dari balik jendela ruang makan, mataku terpaku memandangi tupai yang bercanda di atas pohon…. Tiba-tiba tupai itu meloncat berlari menuruni batang pohon menyeberangi tumpukan salju…. Mataku menerawang…. Pikiranku menari-nari…. hampir empat bulan sudah aku disini seminggu lagi akan kutinggalkan tempat ini…. Tempat yang sudah kuanggap rumahku sendiri yang kutinggali dengan 3 orang rekanku yang kuanggap sebagai keluargaku…. Apa yang sudah kuperoleh .…?

 

Penelitianku kukerjakan setiap hari mulai Senin hingga Jumat, tentulah apa yg kucapai empat bulan disini tak akan bisa kulakukan bila aku di Depok. Selain itu, akupun belajar banyak hal…. Mulai dari bagaimana harus bersikap sebagai seorang mahasiswa, kuperhatikan juga sikap seorang pembimbing ketika memberikan bimbingan kepada mahasiswanya, kuketahui juga bagaimana seorang dosen harus menyiapkan semua materi yang akan diajarkan kepada mahasiswanya…. Banyak hal yang berhubungan dengan kehidupan kampus yang baik yang bisa kucontoh….

 

Banyak pelajaran yang bisa kupetik tentang kehidupan berkeluarga. Hidup bersama ketiga rekan kerjaku menjadikanku mempunyai sebuah ikatan keluarga. Serasa aku menjadi emak dari 3 anak (ya 3 anak remaja yang nakal… he..he.. dan katanya sich emaknya lebih nakal….) tanpa suami pula. Begitulah becandaan kami disini…. Layaknya hidup berkeluarga, keluargaku disinipun berputar seperti roda…. Kadang di atas kadang di bawah…. Masalahpun kadang datang menghampiri silih berganti dan satu per satu harus diselesaikan…. Kamipun belajar menyelesaikan masalah. Dalam keluarga inipun kami belajar melaksanakan tugas sebagai anggota keluarga, bergiliran kami menyiapkan makan untuk di apartemen maupun yang akan dibawa ke kampus dan juga mengerjakan tugas lainnya, belajar bersosialisasi dengan orang lain yang berbeda adat dan kebiasaan dan mau tidak mau kami juga harus belajar memahami karakter rekan kami agar dapat menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Sebagai orang asing, kamipun mengisi hari kosong kami dengan melihat keindahan ciptaan Tuhan seperti air terjun Niagara dan sungai Ottawa, melihat berbagai tempat sejarah atau hanya sekedar jalan-jalan di kota Ottawa dan Montreal. Terkadang kami mengisinya dengan belajar memasak makanan seperti cous-cous dan pelengkapnya.

 

Hmm…. kutarik nafasku dalam-dalam…. ya…. hari-hari itu tlah kulalui…. kutimbang-timbang ternyata pengalaman akan kehidupan berkeluarga bersama rekanku di negara orang jauh lebih banyak yang kudapatkan dibandingkan hasil penelitianku (he.. he..). Kuberharap apa yang kupelajari dan kualami disini dapat membuatku lebih dewasa, sabar dan bijak dalam menjalani peran hidupku….


Musim Dingin

December 26th, 2008

Indahnya daun kuning dan merah di bulan Oktober telah berguguran…. Memasuki bulan November tampaklah pohon dengan batang dan ranting-rantingnya tanpa selembar daunpun. Suhu pun selalu di bawah 00 C. Embun pagi yang biasanya berupa tetes air berubah menjadi butir-butir es yang berwarna putih…. Angin bertiup kencang membuat udara dingin menusuk serasa membeku membuat baal hidung dan telinga. Sambil menahan rasa dingin terucap candaan dari mulut kami…. ohh…. Tuhan betapa besar kulkasMu ini…. janganlah Kau buka pintu kulkasMu terlalu lebar….

 

Akhir bulan November, hujan salju mulai sering turun…. Membuat tumpukan salju menggunung di sepanjang jalan. Ketika pagi buta, tampak jalan raya dibersihkan dengan mobil pembersih salju sehingga jalanan bisa dilalui kendaraan. Ditebarkanlah kerikil-kerikil agar mudah dilalui dan garam agar es cepat mencair.

 

Bulan Desember, salju hampir setiap hari turun…., suhu bergeser mulai dari -30 C hingga -200 C bahkan mencapai -300 C jika angin bertiup. Turun salju bahkan membuat tumpukan hingga sedengkulku…, air sungaipun membeku menjadi es. Musim dingin membuat warna-warna indah RGB (Red Green Blue) berubah menjadi warna biner (hitam dan putih)…. he..he ya sepanjang mata memandang tampak hamparan salju yang memutih…. Orang keluar rumah mengenakan pakaian hampir menutup seluruh badannya…., mengenakan baju tebal musim dingin yang berlapis-lapis dan berwarna gelap lengkap dengan penutup kepala dan sepatu boot…. Malam datang walaupun jam masih menunjukkan pukul 17.00.
 

Berjalan di atas tumpukan salju serasa berjalan diatas tumpukan pasir…. Kaki diangkat tinggi ketika mau melangkah…. Keseimbangan harus dijaga…. Hati-hati memilih bagian yang kita lewati…. Kalau tidak…. srrreett…. terpelesetlah …. Atau bummm…. terjerembablah di atas salju…. ya…. itulah yang kualami…. berkali-kali aku terpeleset dan bahkan terjatuh…. Yang paling memalukan aku terjatuh di depan Prof Rokia, jatuh yang paling menghebohkan …. (ha…ha… bukan hanya rombongan kami yang tertawa tetapi orang yang di depan dan di belakang rombongan kamipun ikut tertawa…. aku terpeleset dengan dua kaki terangkat ke atas persis seperti gerakan yoga yang diajarkan pak Nyoto….)

 

Bagi kami, turunnya salju masih dapat kami nikmati…. Tumpukan salju kadang juga membuat lupa usia kami…. bertingkah seperti anak kecil…. Mengambil salju dan melemparkannya ke rekan yang lainnya sambil tertawa senang…. dan…. terjadilah perang salju…. Terkadang…. Ketika ada salah satu rekan yang lengah…. Di doronglah tubuhnya ke atas tumpukan salju…. tertawalah kami bersama….

 

Terbayangkah bagaimana warga Canada di musim dingin….? Yang jelas mereka juga merasa dingin…. He..he.. terlihat dari pakaian yang dikenakannya…. Ketika salju turun menutupi rumah atau apartemennya mereka harus membersihkannya. Diskopnya salju, dipinggirkanlah salju-salju itu membentuk gunung-gunung…. Kadang mereka menggunakan mesin pembersih salju yang bentuknya seperti mesin pemotong rumput yang didorong ketika digunakan…. Mereka melakukan tidak hanya di pagi hari tetapi kadang di malam hari…. Ketika hendak pergi menggunakan kendaraan…. Mereka harus membersihkannya, memanasi mesin dengan waktu yang cukup lama, dan ketika mau keluarpun kadang mobil sulit bergerak sehingga ditebarkanlah kerikil-kerikil kecil di sekitar ban depan dan belakang mobilnya. Belum lagi di perjalanan, selain membutuhkan konsentrasi yang tinggi dari pengemudi, penumpang dalam mobil dapat merasakan betapa licinnya jalan yang dilalui, meskipun ban mobil menggunakan ban khusus.

 

Di musim dingin, warga Canada melakukan aktifitas di luar rumah seperti hari-hari biasa. Begitu juga dengan anak-anak, merekapun pergi ke sekolah di jam-jam sekolah. Suatu hari terlihat seorang guru olah raga sedang memandu murid-muridnya untuk meluncur dengan papan karet dari tumpukan salju. Tetapi saat suhu mencapai -300C kegiatan sekolah mereka diliburkan. 

Salju masih akan terus turun, dan katanya tumpukan salju bisa mencapai 50-60 cm dan suhupun masih akan terus turun hingga mencapai -400 C. Hingga bulan April tumpukan salju ini masih akan tetap terlihat. Terbayangkah anda 6 bulan lamanya dalam satu tahun warga Canada melihat dan merasakan es? Beruntunglah dan bersyukurlah kita di Indonesia yang hanya mempunyai musim hujan dan kemarau.


Masa Terberat Membawa Kenangan

December 8th, 2008

Menurut hitunganku, minggu lalu adalah minggu ke 11 kami di Gatineau minggu yang kurasakan paling berat dari minggu-minggu yang telah kami lalui…. Aku bekerja setiap hari tapi rasanya ngga ada hasilnya…. Rasa lelah, kesal dan putus asa membuat sesak hatiku…. Kuperhatikan rekan-rekanku satu per satu…. ternyata merekapun mengalami hal yang sama…. Kami menyadari bahwa waktu makin cepat berjalan mendekati hari kepulangan kami tetapi rasanya apa yang sudah kami targetkan masih banyak yang belum tercapai….

 

Minggu itu kami mempersiapkan berbagai hal yang akan kami presentasikan pada saat progress report yang telah ditentukan pada hari Selasa di minggu ke 12. Imam begitu sibuknya membuat berbagai program lattice yang diminta oleh Prof. Rokia…. ngga tanggung-tanggung dia harus mengerjakan 5 buah program yang saling terikat satu dengan lainnya. Dyah berusaha setengah mati dengan Xilinknya, Pipit berusaha memahami beberapa papernya dan aku sendiri berusaha membaca beberapa paper untuk mencari karakteristik dari objek penelitianku karena aku belum juga mendapatkan hasil dari karakteristik tekstur. Walaupun kami mempunyai kegiatan sendiri-sendiri, tetapi setiap hari Rabu kami selalu mengikuti berbagai seminar yang sudah terjadwal dan diselenggarakan oleh LARIM maupun Departemen Informatika.

 

Tibalah hari Selasa dimana kami harus presentasi. Saat itu Prof. Rokia membawa sebuah buku yang berjudul Fundamentals of Database Systems karangan Elmasri/Navathe edisi ke 5, beliau mengatakan kepada kami bahwa yang terbaik diantara kami akan memperoleh hadiah buku tersebut. Seperti biasa Imam adalah orang pertama yang membuka presentasi ini. Ia mempresentasikan slide yang baru beberapa detik diselesaikannya yang belum sempat dibacanya. Namun demikian dia bisa menyampaikannya dengan lancar. Berikutnya Pipit, dia mempresentasikan progressnya yang kutahu juga di pagi hari masih berusaha untuk memahami apa yang dibacanya. Presentasi berikutnya Dyah, dengan kemampuan bahasa yang baik, dia bisa menyampaikan progressnya walaupun sempat ada hal yang susah dia sampaikan dalam bahasa Inggris tetapi dengan ekspresif dia bisa mengganti dengan bunyi dan gerakan yang bisa membuat tertawa. Aku tau persis bahwa pagi itupun Dyah masih belajar berusaha memahami slidenya karena kebetulan aku juga belajar bersamanya. Terakhir giliranku, aku berusaha menyampaikan progressku…. Aku bersyukur bahwa aku bisa berbunyi (he..he..) dan menyampaikan slide demi slide walaupun terbata-bata dan bahkan sempat ada jeda yang cukup lama ketika aku berusaha mencari kata yang tepat dalam bahasa Inggris. Tak sia-sia aku dari pagi belajar presentasi di depan Dyah. Pagi itu, Pak Sarif juga mensupportku dengan mengatakan bahwa beliau tidak mendengar apa yang aku utarakan (he..he.. padahal aku belajar presentasi di ruangannya bahkan di depan mejanya….).

 

Seperti biasa, dari presentasi yang telah kami sampaikan tentu ada berbagai pertanyaan mengenai apa yang telah kami kerjakan, saran untuk langkah berikutnya dan juga masukan bagaimana kami seharusnya melakukan presentasi. Prof. Rokia, pak Sarif, Leonard dan Lahcen berdiskusi…. mungkin mendiskusikan apa yang telah kami lakukan (kami tidak memahaminya karena beliau-beliau berbicara dalam bahasa Prancis….). Tak lama Prof. Rokia keluar ruangan dan masuk lagi dengan membawa sebuah buku. Kemudian beliau menyampaikan bahwa Imam telah berusaha keras untuk itu dia mendapatkan hadiah buku Database yang diperlukannya, Dyah dapat menyampaikan presentasinya dengan baik sehingga beliau memberikan sebuah buku yang baru saja diambilnya yang berjudul Big Java karangan Cay Hosrtmann edisi ke 3, sementara aku katanya mempunyai progress yang baik dalam penelitian dan bahasa sehingga akupun akan diberi sebuah buku yang kuperlukan tentang Image Processing. Aku boleh memilihnya…. dan akan dipesankan melalui Amazon atau boleh juga aku memilih di toko buku saat kami nanti diajak Prof. Rokia ke Montreal…. Dua buku yang ada, kemudian diisi kata-kata indah disertai dengan tanda tangan dari Prof. Rokia, pak Sarif, Leonard dan Lahcen…. Sebagai kenang-kenangan terindah ….

 

Mendengar dan mengalami semua itu, terhapus sudah rasa lelah ini…. berganti dengan rasa lega di hati ini…. walau perasaan itu hanya kami rasakan sesaat…. Kami sadar perjuangan kami membawa nama program Doktoral Universitas Gunadarma dan Indonesia yang memberikan kesempatan bagi kami untuk melakukan research ini, belumlah usai…. Masih ada waktu tersisa di bulan Desember ini, yang harus kami isi dengan belajar dan bekerja lebih keras lagi untuk mencapai target…. Semoga kami dapat memperbaiki kekurangan kami dan melakukannya dengan lebih baik lagi….


Benarkah Aku Paling Bahagia….?

November 21st, 2008

Seorang rekan di sini mengatakan bahwa diantara kami berempat, aku adalah orang yang terlihat paling bahagia karena ngga ada suami, ngga ada anak dan ngga ada kerjaan…. Katanya aku bisa menikmati keberadaanku di Canada ini. Pernyataan ini membuat hatiku tergelitik, benarkah seperti itu?

 

Aku mempunyai seorang suami yang baik yang juga bisa menjadi teman hidup dan partner kerja baik di rumah maupun di kampus. Aku yakin bahwa suamiku bisa mengatur dan mengelola keluarga, pekerjaan dan kegiatan lainnya. Dua anakku memang yang membuat hatiku berat untuk meninggalkannya selama 4 bulan ini. Tetapi seiring dengan waktu, aku dengar mereka menjadi gadis kecil yang penuh kedewasaan…. yang semula memberatkanku ternyata berbalik, merekalah yang dapat menguatkanku….

 

Rekan kerjaku Rini dan Edi di eLearning Center merupakan rekan kerja yang bisa diandalkan. Mereka bisa bekerja mandiri. Yang membuatku senang, sekali-kali mereka masih meghubungiku sehingga aku tahu kegiatan dan kesibukan di bagianku. Di BAPSI, aku biasa bekerjasama dengan Silfi, Yuli dan Misa tentu saja dibawah komando bapak komandan Budi Hermana ).

Karena aku dan Yuli ikut program sandwich, aku bisa bayangkan beban pekerjaan Silfi dan Misa…. Walaupun mungkin Silfi pusing tujuh keliling atau Misa berteriak minta tolong…. aku yakin mereka adalah pekerja yang tangguh yang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik…. Mba’ Sulis dan Diah, rekan kuliah seangkatanku yang selalu menjalin kontak sehingga akupun dapat mengetahui kegiatan rekan-rekan seangkatan dan juga terhibur dengan obrolan kita…. (ahh…. aku jadi kangen dengan rekan kerja dan kuliah serta suasana kampus….)

 

Disela-sela keseharianku, aku selalu membuka email, chatting dengan keluarga dan juga rekan-rekan. Begitu tiba hari Jumat malam biasanya aku membuka portal eLearning.

Sabtunya bisa skype berjam-jam dengan keluarga dan tentu saja ngeblog. Menulis di blog bagiku selain merupakan kegiatan pengisi waktu kosongku juga merupakan sarana menuangkan emosi yang ada di hati…. Terima kasih untuk Hanum), mahasiswaku yang karena rasa keingin tahuannya, telah memintaku untuk menulis kegiatan sandwich ini dalam bentuk blog…. tak kusangka ternyata aku menyukai dan menikmatinya…. Dalam blog ini, dengan kejujuranku aku dapat menuangkan perasaan dan pengalamanku yang baik dan kurang baik. Selain itu aku juga merasa diuntungkan karena ketika ada yang menanyakan keadaan kami disini, aku cukup memberikan link blogku sehingga aku tidak perlu bercerita panjang lebar yang mungkin saja apa yang kuceritakan akan berbeda-beda antara satu dengan yang lain…. (menghindari bergosip diri sendiri…. he..he..)

Kerjaku disini tentu saja tidak selalu berjalan mulus…. Ada saatnya satu minggu tanpa ada progress penelitian sama sekali…. Ada saatnya aku memiliki progress tetapi tidak dapat mempresentasikannya dengan baik karena keterbatasanku…. Semua kegagalan kuanggap sebagai proses belajar …. sehingga aku bisa mengevaluasinya, mencoba memotivasi diriku sendiri untuk bisa bangkit melakukan hal yang lebih baik…. Satu hal yang kutanamkan pada diriku yang dapat memotivasiku “Aku akan membayar pengorbanan keluargaku….”

 

Benarkah aku paling bahagia….? Ternyata aku tidak juga dapat menjawabnya karena ada kata paling yang artinya aku harus membandingkannya dengan ketiga rekanku disini sementara aku ngga tau isi hati mereka…. Kalau memang ada yang lebih bahagia aku tetap bahagia untuk kebahagiannya tapi kalau seandainya ada yang kurang bahagia akupun ingin merengkuh mengajaknya untuk lebih berbahagia bersama menikmati hidup….

 

Aku berterima kasih pada keluargaku, semua rekan dan semua orang yang berada di sekelilingku…. Terlebih aku sangat bersyukur atas segala hal yang telah diberikanNya kepadaku….


Rindu Rumah Tuhan….

November 16th, 2008

Hari ini hari Minggu, salju turun walaupun hanya sedikit ….. Aku dan Leonard berlari-lari kecil menuju gereja Katholik yang terletak tak jauh dari apartemen kami. Di luar gereja tampak beberapa mobil yang diparkir di pinggir jalan. Kami tak mendengar lonceng maupun lagu gereja. Aku dan Leonard membuka pintu gereja dan ternyata seperempat tempat duduk di dalam gereja telah terisi. Aku segera mengambil tempat duduk di sayap kiri paling belakang diikuti Leonard. Hari ini merupakan pertama kalinya aku mengikuti misa selama dua bulan ini berada di Gatineau (seharusnya aku malu dengan anak-anakku, karena mereka berdua pergi ke gereja setiap minggu walaupun aku tidak di rumah….).

 

Aku merasa tenang, nyaman dan damai berada di dalam rumah Tuhan…. Misa berlangsung menggunakan bahasa Perancis. Bagiku tak masalah, karena liturgi di gereja Katholik sama dimanapun berada. Aku masih bisa mendengarkan dan memberikan tanggapan walaupun kuucapkan dalam bahasa Indonesia. Aku juga masih bisa menyanyikan beberapa lagu gereja karena dinyanyikan dalam bahasa Latin. Meskipun misa hanya berlangsung satu jam namun terobati sudah rasa rinduku akan rumah Tuhan….

 

Aku jadi teringat… rumah Tuhan yang indah yang pernah kukunjungi, sebulan yang lalu, ketika kami berempat pergi ke Montreal. Aku diantar teman-teman singgah di gereja katedral yang dikenal dengan nama Cathedral-Basilica Mary Queen of the World & St. James the Greather. Gereja ini dirancang oleh Victor Bourgeault (1870) dibangun pada saat Mgr Ignace Bourget menjadi uskup Montreal kedua dan sejak tahun 1919 menjadi Cathedral Basilica. Gereja ini dipugar pada tahun 1955 dan selesai tahun 1960. Namun demikian renovasi kecil-kecilan tetap dilakukan.

 

 

Cathedral Basilica merupakan replika dari St. Peter’s Basilica di Roma. Gereja ini terletak di sudut perempatan jalan raya dimana dari luar tampak di bagian atas gereja terdapat 13 patung santo pelindung. Selain itu di bagian luar juga terdapat monumen Mgr Ignance Bourget yang diresmikan oleh Mgr Paul Bruchesi pada tahun 1903.

&nbsp

 

Masuk ke dalam gereja terasa nyaman dan begitu tampak indah penuh dengan karya seni. Altar terletak di bawah kubah yang dipenuhi dengan berbagai ornamen cantik. Hiasan di bawah kubah terbuat dari tembaga merah dihiasi daun emas dan dikerjakan dengan tangan (hand made) pada tahun 1900 oleh Victor Vincent. Dinding gereja dihiasi berbagai lukisan dan tentu saja dilengkapi dengan organ. Inilah sebagian keindahan rumah Tuhan yang terekam dalam kamera….

&nbsp



Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.