Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published August 6th, 2009

Lagi-lagi Uang…

Orang yang tidak punya uang tidak bisa jalan-jalan, jajan, belanja, nraktir, nonton konser dan lain sebagainya dengan seenaknya… Ha… semua orang juga tahu. Jangankan jalan-jalan yang perlu ongkos (karena pasti jalan-jalan itu artinya bukan jalan sehat untuk maksud olah raga toh?), buat ongkos pergi ke tempat kerja atau kuliah saja nggak cukup… Jangankan jajan, wong buat makan sehat dan teratur aja nggak bisa…

Tapi… ”Ternyata uang bukan segala-galanya…” Kata salah seorang sobatku. ”Lho, kok baru tahu?” Tanyaku… Ha ha… Dia malah tertawa, ngakak. Lalu terdiam lamaaaa sekali. Tercenung. Kita butuh uang untuk bisa mendapatkan barang dan jasa. Dunia ini memang sudah sangat material. Segala-gala diukur dan ditukar dengan uang. Memang lebih mudah sih membuat tabel dengan kolom-kolom berdasarkan angka, lalu memasukkan barang, jasa, bahkan orang, ke dalam kolom-kolom tersebut. Jadi, berapa harganya? Berapa juga hargamu? Waduuuhhh…

(more…)

Published July 4th, 2009

Uang: Lain Ladang Lain Belalang

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya

(pepatah Indonesia)

Ini soal uang. Bukan uang sebagai alat pembayaran yang sah, tapi lebih pada bagaimana kita menilai dan menghargai uang. Mengumpulkan rupiah demi rupiah itu kan tidak mudah (bagiku). Jadi kalau kadang-kadang terkesan sangat perhitungan mohon dimaklumi. Hi hi…

Ketika aku berkesempatan jadi tumis (turis miskin) ke negara tetangga, aku diingatkan untuk membawa mata uang lokal, kalau bisa dalam pecahan kecil juga. Negeri tetangga yang makmur berlambang binatang (?) berkepala singa tapi berbadan ikan itu punya mata uang yang disebut dollar. Sin Dollar lah. “Untuk tip…” Kata temanku yang memang sering ke manca negera. Ada kebiasaan memberi tip untuk setiap layanan yang diberikan. “Buat belanja barang-barang kecil juga,” katanya lagi. Aku cuma nyengir. Di dompetku hanya ada dua lembar 50-an dollar. Memang hanya sebegitu bekalku. Ditambah rupiah secukupnya agar pulangnya nanti bisa naik bus dari bandara ke Pasar Minggu lalu lanjut ke Depok.

Berbekal dua lembar lima puluhan dollar itulah aku sampai di Singapura. Ketika harus membeli sesuatu seharga 2 dollar 30 sen di pasar, si pedagang menerima uang tanpa banyak cincong dan memberi kembalian dengan jumlah yang tepat. Sekarang aku punya berbagai pecahan uang kertas dan koin. Di Dept Store besar aku membeli barang yang harganya 6 dolar 20 sen. Aku pakai lima puluhanku yang satu lagi. Kasirnya juga tidak banyak ini itu minta uang pecahan lebih kecil. Dia menerima uangku dan memberi kembalian persis seperti yang tertera pada mesin kasir. Tidak lebih tidak kurang. “Thank you. Come again.” Desisnya dengan seulas senyum tipis. Aku mengangguk saja. Off course aku tidak akan kembali kalau tidak harus membeli barang penting yang kuperlukan. “Larang kabeh, rek!”

Saat hendak mencoba naik MRT (secara di Indonesia aku pengguna KRL Jabodetabek gitu lho. Kesempatan mencoba naik kereta api yang serupa tapi (betul-betul) tidak sama tentu tidak boleh dilewatkan) aku melihat mesin penjual tiket juga jelas menyebutkan uang pecahan berapa yang diterima dan pasti mengembalikan kelebihannya kalau harga karcisnya lebih murah daripada yang kita bayarkan.

Kembali ke Indonesia. Di bandara Soekarno-Hatta, aku mengeluarkan lima puluh ribuan (rupiah) untuk membeli tiket bus Damri ke Pasar Minggu. Mbak penunggu loket bilang, “Pake uang pas aja.” Aku mengaduk-aduk dompet lalu menggeleng-geleng kepala, “Nggak ada, mbak.” Sebenarnya aku nggak perlu buka-buka dompet pura-pura mencari, wong sudah hapal isinya. Memang nggak ada. Si mbak acuh tak acuh saja tetap menggeleng, “Nggak ada kembalian.” Lalu? Ya, tidak ada lalu. Selesai. Aku menghela nafas. Sekarang sudah jam 9 malam dan loket ini sudah buka sejak pagi hari, masa tidak punya uang kembalian? Aku menoleh kanan-kiri. Untunglah aku bertemu teman yang juga akan membeli tiket jurusan yang sama. Dengan uang lima puluhan itu aku dapat dua karcis dan kembalian sepuluh ribu.

Di Supermarket keesokan harinya, aku membeli makanan kecil. Tanpa ba bi bu, kasir menerima uang yang kusodorkan dan tanpa ba bi bu juga memberi kembalian yang jumlahnya kurang enam puluh lima rupiah. Kalau beruntung, biasanya aku diberi sebutir permen dan senyum permintaan dimaklumi, tapi sering kali kasir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin sedang marahan sama pacarnya sehingga semua orang wajib menerima wajah cemberutnya. Sekarang aku yang cuma bisa menggeleng-geleng kepala. He he…

Di Negaraku tercinta ini uang seratus rupiah jarang ada yang mau, apa lagi dua puluh lima rupiah. Aku pernah melihat sendiri kok pengamen di bus membuang uang seratusan rupiah yang dia dapat. Sementara saat belanja ke supermarket aku tetap njlimet memperhatikan selisih harga antar satu toko dengan toko lainnya. Selisih harga dua puluh lima rupiah kadang bahkan lima belas rupiah diburu, padahal begitu sampai di kasir, kita bisa kehilangan lebih dari itu. Aku sampai berpikir, untuk apa uang dua puluh lima rupiah, lima puluh rupiah, dan seratus rupiah itu masih juga dibuat? Lagi pula bahan dan ongkos membuat koinnya itu tentu lebih mahal dari itu? Mengapa juga harga barang di toko diberi harga yang ’aneh-aneh’ seperti Rp. 2925, Rp 49. 875, dan sejenisnya? Eh, aku lupa, harga sebegitu kan lumayan berarti kalau kita belinya satu kodi, ya?


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.