Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published July 10th, 2009

Gunadarma dan Ahli IT

Beberapa waktu yang lalu, aku sudah menulis tentang calon-calon dokter yang kutemui di atas Trans Jogja dari Ambarukmo ke Malioboro. Ya. Mereka para mahasiswa fakultas kedokteran dari universitas di daerah Cawang Jakarta. Masih ada yang tertinggal dari pertemuan dengan mereka itu. Saat itu mereka bertanya apakah aku dokter juga. Aku menjawab bukan. Lalu temanku menjelaskan bahwa aku adalah dosen di Jakarta, Depok tepatnya. “Oh… UI?” Aku menggeleng lagi. “Bukan.” Jawabku. “Saya dosen di Universitas Gunadarma.” Mereka saling pandang, “Kalau begitu mbak ini pasti ahli IT. Ahli komputer!” Seru para mahasiswi tersebut. Aku tersenyum. “Gunadarma kan jago di IT, kan?” kata salah seorang dari mereka padaku.

Temanku memandangku sambil tersenyum juga. Kebetulan aku ke Jogja karena acara yang berhubungan dengan IT. Tapi disebut ahli mah jauh pisan atuh. Dia, temanku itu,  masih sering tidak percaya kalau aku sudah “berpaling ke lain hati.” Tidak lagi mengurusi bakteri di laboratorium mikrobiologi. Atau sibuk mencampur ini itu di laboratorium biokimia. Melihat koloni jamur melalui mikroskop, atau kegiatan semacam lainnya. Aku bilang, aku sudah tidak luwes lagi memegang petri di atas bunsen, memegang pipet, menanam biakan mikro dan sejenisnya. Dulu, kalau jalan-jalan pun, yang diamati habitat ini itu lalu ambil sampel. Sekarang, kalau jalan-jalan yang dilihat warung jajanan. Ha ha… Sementara dia masih menikmati penelitian sampai ke pelosok Papua melihat berbagai biota.

Untunglah kemudian percakapan dengan rombongan calon dokter ini beralih ke bagaimana dan dimana belanja baju batik, tas etnik, selendang, sandal, asesoris dan sebagainya. ”Tapi yang murah-murah aja mbak… Dimana carinya?” Aku mengangguk. Ingat jaman kuliah dulu. Syarat terakhir itu yang paling penting dan menentukan. Ha ha… murah! Sebenarnya sih sampai sekarang juga begitu, he he… Temanku pun berusaha memberi petunjuk bagaimana dan dimana mesti berbelanja di Malioboro dan sekitarnya. Aku cuma mengangguk-angguk saja. Agak kurang pengalaman sih.

Apa yang ingin aku sampaikan adalah pernyataan tentang aku sebagai ”ahli IT” itu. Rupanya, begitu menyebut nama Universitas Gunadarma maka asosiasinya adalah IT atau komputer. Nah, silakan mengintepretasikan sendiri. Ini bisa jadi kekuatan, tapi juga sekaligus merupakan tantangan. Apa pun jurusannya, kemampuan IT melekat padanya. Apakah persepsi masyarakat di luar sana itu benar atau tidak? Yuk mariii!

Published June 30th, 2009

Dokter - Dokter Trans Jogja

Berdiri di atas Trans Jogja dari halte Ambarukmo Palace menuju Malioboro pada Minggu siang, 21 Juni 2009, aku jadi punya kesempatan lebih leluasa untuk mengamati kanan-kiri jalan. Oh… Jogja sudah semakin ramai… toko-toko dan rumah makan sudah begitu banyak dan beragam. Dari yang sederhana, atau mengesankan sederhana (padahal tidak) sampai yang mewah dan mahal atau mengesankan begitu (padahal belum tentu). Apa bedanya Jogja sekarang dengan kota besar lainnya di Indonesia ya? Jalanan juga sudah penuh dengan berbagai jenis kendaraan… “Wis, Ti… Kowe nostalgiao kono…” Temanku yang asli Jogja meledekku. Aku bertanya-tanya tentang toko ini, warung itu, gedung ini, bangunan itu di sepanjang jalan. Jalan-jalan ini cukup sering aku lewati dulu. Dan aku berusaha mencari jejak kemana saja aku pernah mampir.

“Mbak, Malioboro masih jauh ya?” Tiba-tiba seorang gadis berkaca mata yang memakai T-shirt, yang berdiri di sampingku, bertanya. Gadis di sebelahnya, yang berbaju hijau tua ikut bertanya dengan matanya. Rupanya mereka bukan orang Jogja. Dari caranya bertanya dan ‘celingukan’ pasti mereka itu pendatang. Bus tengah menyusuri Jalan Solo.

“Oh… Mau ke Malioboro? Masih lumayan jauh… Adek dari mana?” Tanyaku, ”Liburan?”

Rupanya mereka adalah mahasiswa fakultas kedokteran dari satu universitas swasta yang cukup terkenal di daerah Cawang. Mereka akan co-as di Rumah Sakit Mata ”Dr Yap”. Lalu kami pun ngobrol ini-itu. Termasuk tentang siapa dekannya… siapa dosen faalnya… ”Kalian sudah bertemu dengan Prof W…?” Aku bertanya. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya gadis baju hijau menjawab, ”Tadi pagi, mbak… Iya, yang tadi pagi kan?” Si Baju Hijau bertanya tak yakin pada temannya yang berkaca mata.

”Mbak dokter juga ya?” Aku dan temanku tertawa. Serempak menggeleng-geleng kepala. Temanku yang dosen di universitas swasta di Jogja sedang ikut menyusun kurikulum untuk membuka fakultas kedokteran, jadi pastilah harus berhubungan dengan banyak dokter dari beberapa universitas maupun dari rumah sakit. Sementara profesor yang kutanyakan tadi adalah dokter yang dulu dosen Fakultas Kedokteran UGM (aku tidak tahu apakah beliau masih mengajar atau sudah pensiun sekarang). Beliau pernah menjadi penatar saat P4 100 jam duluuuu sekali, saat aku baru masuk kuliah. Lebih dari 20 tahun yang lalu. Setelah sekian tahun berlalu, nama beliaulah yang paling kuingat dari P4 itu.

Beliau yang saat itu juga bertugas di RS Dr Sardjito pernah mendapatiku duduk menunggu di depan klinik mata rumah sakit dekat fakultasku itu. Aku mengangguk menyapa, layaknya pasien kepada dokternya lah. Beliau yang tengah sibuk mondar-mandir akhirnya berhenti di depanku. ”Sebentar…  ko sek… Kowe sopo? Pasienku apa mahasiswaku?” Aku berdiri, ”Siap dok… bukan… saya Biologi.” Lalu beliau pun tertawa. Aku menjawab dengan gaya penataran P4.

Yo… aku kelingan saiki. Kamu Siti dari Biologi! Kenopo? Kenapa kamu di sini?” Aku ikut tertawa kecil, bahkan beliau ingat nama panggilanku saat penataran! Mmm… padahal penataran sudah setahun berlalu. Berkali-kali aku meralat namaku, berkali-kali juga beliau mengelak. ”Lho, kan kamu Siti Harmoni. Kamu Siti aja. Ya, Siti… Siti ajalah.” Penataran itu sungguh melelahkan. Pagi, siang, sore, hingga malam, dipenuhi dengan ceramah, diskusi, membuat makalah, presentasi. Kadang seru, tidak jarang membosankan. Tapi protesku tentang Siti selalu ditanggapi bercanda oleh beliau. Kelas jadi ramai dan hidup. Susah untuk mengantuk. Ternyata di luar ruang kelas, beliau tetaplah dokter yang ramah dan penuh perhatian.

Setelah memeriksa mataku yang agak bermasalah, beliau langsung memintaku masuk ke kamar periksa. ”Menyerahkanku” pada dokter yang tengah bertugas dan menyampaikan keluhanku.

Aku ono rapat, dadi kowe karo dokter iki yoDia ahlinya.” Beliau meyakinkanku sambil memperkenalkanku kepada  dokter yang diminta untuk memeriksaku. Dokter yang menanganiku dan para perawat memperlakukanku dengan ramah. Bahkan aku tidak perlu mengambil sendiri obatku dari apotik, ada perawat yang mengambilkan. Saat menunggu obat itulah aku membaca papan nama di klinik. Tentu sambil memicingkan mata karena satu mataku sudah ditutup perban. Rupanya dokter W adalah wakil kepala bagian mata di RS Sardjito saat itu… Sekian belas tahun kemudian, ayahku bercerita bahwa dokter yang memeriksa dan mengoperasi kataraknya di RS Mata ”Dr Yap” sangat baik dan ramah. Terus terang aku agak terkejut atas kebetulan ini, ternyata dokter W lah yang menangani ayahku!

Nah, memandang kedua gadis calon dokter ini, aku teringat dokter yang mengesankan itu. Di tengah berita tentang tudingan mal praktik dokter, perlakuan rumah sakit yang berlebihan atau justru kurang memadai, aku berharap bahwa profesi yang sangat mulia ini dapat dipegang oleh orang-orang yang juga berjiwa mulia. Oleh mereka yang tidak hanya punya pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang baik, tapi juga sikap perilaku yang baik.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.