Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published January 24th, 2010

Bantal ATM Wati

“Non… sudah cek ATM?” Wati kirim sms pagi-pagi. Aku mau balas, “Tidak perlu dicek dan ricek segala. Tabungan sudah amblas.” Belum sempat terkirim, sudah ada pesan berikutnya masuk. Juga dari Wati. “Antar aku beli bantal ya!” Kali ini aku segera kirim jawaban. “OK.” Bukan apa-apa, aku penasaran. Kok Wati bisa melompat dari soal ATM ke bantal? Tidak biasanya dia begitu. Aku perlu penjelasan.

(more…)

Published August 1st, 2009

Bang Bing Bung… Menabung… Wati Bingung

Hei… kali ini cerita ditulis oleh Wati sendiri. Pada suatu pagi yang cerah dia datang menyerahkan naskah. Wah… boleh juga. Kisah dari nara sumber asli! He he… Jarang-jarang lho aku dapat rejeki nomplok seperti ini. Aku baca sekilas… Oh Wati masih memakai bahasa Melayu-nya yang khas… Tak apalah… Kupoles sedikit saja ya?

Suara adzan dari langgar sebelah rumah masih bergema, eh… ada suara tanpa judul memasuki telinga Wati yang matanya masih merem melek mikir mimpi tadi pagi. Mimpi ditraktir seorang teman di suatu restoran wah dengan hidangan yang cuma membuat Wati melongo. Ah, ini bukan mimpi. Ternyata pada kenyataannya ada yang sibuk menelepon di pagi nan gerah. Maklum bulan Juli di Depok. “Wei… eh hola… eh mami…” Ya ampun, ternyata ibunda yang menelepon dari kota kecamatan nun di sana yang beda waktunya tiga puluh menit dengan kota Depok.

“Hai Wati, lama amat sih ngangkatnya? Belum bangun ya? Aduuuh anak perempuanku koq semakin malas…”

“Hah, tadi sih udah bangun tapi koq enakan tidur… Ada gosip apa, Ma? Siapa yang kawin?”

”Ih, nyari undangan melulu. Begini lho, mama cuma ngasih tahu kamu kalau tabungan mama yang di bank ANU udah mama tutup. Jadi kamu jangan kirim-kirim pake tabungan itu.”

”Lho… koq gitu. Kenapa, Ma? Sebel ya Ma nggak pernah dapat hadiah?”

”Mama sebal. Itu bank mottonya bukan lagi mempermudah nasabah tapi merepotkan… Habis… sekarang karena nggak punya kartu ATM kalau mau transaksi, mama nggak bisa di sini, harus ke kantor pembuka yang jauhnya tiga puluh lima kilometer itu… Udah gitu biayanya pun andai mamamu ini bikin kartu… uh… biayanya besar. Nggak sesuai sama perolehan per bulannya. Wah jadi judulnya cuma ikut menggaji karyawannya. Ya nggak?” Wati masih mendengarkan sambil manggut-manggut.

”Eh, begitu mau nutup sama bagian konsumen koq dipersulit, disuruh nunjukin Kartu Keluarga, nggak cuma KTP seperti di prosedur… Mamamu ini sampe marah dan menggebrak meja.” Wow, mata Wati langsung melek selebar-lebarnya. Mama menggebrak meja? Berarti sudah sangat keterlaluan situasi yang dihadapinya… Ho, mamanya Wati sangat sabar lho… (Lha wong sanggup jadi mamanya Wati).

Seraya menggosok gigi, pikiran Wati membahas telepon mamanya tadi. Masa kini, keuntungan menabung di bank bukan lagi dari peningkatan jumlah tabungan. Justru harus siap menghadapi kemungkinan penurunan jumlah tabungan akibat iming-iming kredit konsumsi dan yang jelas, karena biaya bank yang kini semakin besar. Sungguh berbeda situasinya di kala Wati masih imut berpuluh tahun yang lalu. Sejak kecil, Wati sudah menabung minded, punya celengan tanah liat yang tiap bulan dikepruk, lalu berbagai pecahan isi celengan itu digotong ke bank rahayat. Mbak kasirnya tersenyum mengacungkan jempol. Walau pun nilainya kecil, Wati gembira sekali melihat deretan angka di buku tabungannya, ada peningkatan lho tiap bulan. Benar juga kata Titiek Puspa… ”…tiap bulan tahu-tahu dapat untung…”

Suatu waktu di kala kuliah, Wati juga punya tabungan yang sudah pasif bertahun-tahun. Waktu cek saldo, ternyata tetap ada peningkatan jumlah… Hal yang tidak mungkin lagi terjadi saat ini. Pertanyaannya adalah mengapa? Apakah sedemikian besar biaya teknologi sehingga begitu besar juga yang harus ditanggung konsumen?

Kemarin, Wati memutuskan tidak jadi transfer dari suatu bank ke bank lain karena biayanya yang… menurut Wati sih, lumayan besar.

Di televisi Wati melihat bagaimana sedihnya konsumen bank kalau mengalami masalah… Habis manis sepah dibuang, kalau ada krisis uang hilang… Waduh Wati jadi bingung, dimanakah dia harus menyimpan uang? Apakah dalam bantal yang bau iler? Ataukah dalam guci tempat beras? Pusing deh…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.