Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published December 22nd, 2011

Percakapan Pagi dan Petang (2)

Prolog
Sepi ini begitu mengiris, kataku
Tataplah mataku, katamu
Aku tak setajam itu

(more…)

Published January 11th, 2011

Hujan di Menara

Pagi
Serasa aku dapat menyentuh
Awan putih yang melayang
Dan titik-titik air yang menerpa jendela
Kau bersikeras menyapa
Mengapa tidak jemu-jemu juga bertanya
Kemana angin?
Kemana matahari?
Bergulat dengan angan
Yang enggan pergi
Dan tak berhenti menggoda.

(more…)

Published November 21st, 2010

Sajak-Sajak Senja

Jarak

Tak terasa waktu berlalu, katamu.

Ah, kau tak pernah benar-benar tahu, kataku.

Aku bisa menjalin sepiku detik demi detik.

Tapi aku sudah berlari, katamu.

Ya, kataku.

Aku diam di sini membatu.

————–

Terpana

Aku membuka-buka buku

Mencari kata yang hilang pada detik kamu berlalu

Baris demi baris

Huruf demi huruf kutelusuri

Kemana gerangan?

Published November 18th, 2010

Mengerti

Sungguh

Aku tengah mencari

Bukan alasan

Hanya kerelaan hati.

Published March 2nd, 2010

Pilihan

Setiap orang punya masa

Setiap orang punya dunia

yang bisa dipulasnya sendiri:

merah, hijau, kuning,

biru atau ungu

Tak peduli orang lain memilih apa

Published July 20th, 2009

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono

Sajak Duabelas

Langit tak pernah curiga. Ia hanya melengkung di atas kita,
di tengahnya matahari-seperti bola mata.
Langit tidak pernah mengawasi langkah kaki kita,
tak pernah risau apakah kita ke selatan atau utara.
Langit suka berkaca pada bola matamu, yang tak letih
Menatapku, yang tak pernah berkejap seolah kawatir ia akan
Meninggalkanmu; di tengah kota yang selalu gelisah membincangkan cuaca
langit tak pernah mendengar keluhmu, “Kenapa ia di sana?”

Sajak Empatbelas

Rasanya aku pernah mengenal jala laba-laba itu. Tidak
di hutan. Semakin rapat di antara penangkal petir pencakar
Langit dan menara mesjid. “Tapi benang-benangnya tak tampak,”
katamu ketika kita berusaha lolos darinya. Seperti sebuah jerit.

Sajak Tujuhbelas

Rambutmu berkibaran di arus angin penghujan,
beberapa percik air tempias di pipimu. Demi Tuhan,
bukan karena itu aku mencintaimu, bukan
karena bajumu yang kusut-tak kaurapikan.


Sapardi. Siapakah kamu? Apakah aku pernah mengenalmu?

Mengapa tidak sekalian kamu kuliti aku? Ceritakan saja pada semua orang tentang kesedihanku kemarin. Tentang kegelisahanku dua hari lalu. Tentang kemarahanku seminggu yang lalu… Tentang keterkejutanku beberapa tahun yang lalu. Semuanya. Pinggan yang kamu lukis itu… Masih ingat? Sudah gompil-gompil dan retak-retak… Heran aku karena sampai hari ini belum pecah berantakan. Ayolah… Katakan saja pada setiap pendengar setiamu tentang air mataku yang tak pernah lagi jatuh… tentang hatiku yang selalu gelisah karena terombang-ambing antara ingin menghiburmu dan membahagiakan hatinya… tentang kemarahanku karena tak mampu bahkan untuk sekedar menipu hati sendiri…

Sapardi. Siapakah kamu Sapardi?
Berjanjilah padaku bahwa kisah ini belum selesai. Mungkin rambutku nanti sudah sepanjang yang kamu bayangkan. Mungkin mataku nanti secemerlang yang kamu gambarkan. Mungkin. Tolong. Berjanjilah seandainya pun aku jauh dari yang kamu bayangkan dan gambarkan, teruslah bercerita… Sampaikanlah kisahmu.  Atau kabarkan sajalah hatimu sendiri…

Ha ha… GR banget ya. Tapi begitulah. Setiap kali membaca sajak-sajaknya aku jadi GR sendiri. Aku yakin. Sapardi sudah terlalu sering mendapat klaim yang bahkan jauh lebih hebat dan lebih baik dari itu. Tapi siapa peduli? Menurutku, puisi bernilai bagi yang mengapresiasi. Walau mungkin jauh dari bayangan sang penciptanya sendiri.

Mula-mula aku membaca Sajak Sembilanbelas di koran Pikiran Rakyat. Aku lupa tanggal berapa. Aku cari-cari lagi tapi tidak ketemu. Malah aku menemukan Sajak Satu sampai Sajak Delapanbelas di lembar Bentara harian Kompas sekitar Maret 2004. Rupanya sajak-sajak itu memang baru dipersiapkan untuk diterbitkan sebagai buku. Semoga saja segera terlaksana. Sebab, dalam Catatan pada buku, “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” Sapardi Djoko Damono sempat menuliskan kekhawatirannya bahwa jangan-jangan buku kumpulan puisinya itu adalah yang terakhir. Semoga beliau tidak marah. Sebab seperti suara yang mendadak muncul yang didengarnya, “Apakah orang marah bisa menulis cerita?”

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono lahir pada 20 Maret 1940 di Solo. “Duka-Mu Abadi” merupakan kumpulan puisinya yang pertama yang diterbitkan oleh pelukis Jeihan Sukmantoro pada tahun 1969. Kumpulan puisinya yang terakhir “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” (2002) diterbitkan oleh Yayasan Indonesia Tera bekerjasama dengan “Jurnal Kalam”. Buku puisinya yang lain yang kukoleksi adalah “Hujan Bulan Juni” (1994). Sedangkan buku puisi lainnya yang sudah diterbitkan adalah “Mata Pisau dan Akuarium” (1974), “Perahu Kertas” (1983), “Sihir Hujan” (1984),  “Arloji” (1998),  dan “Ayat-ayat Api” (2000).

Published July 7th, 2009

Pilihan

Kita tidak punya pilihan lain
Kecuali bahwa kita harus memilih
Mau tak mau.

Published May 21st, 2009

Sajak-Sajak Lalu

Kangen (1)

Dear

Tak akan kubiarkan

Hatiku membenci siapa pun

Juga Kamu

Hanya karena namamu lah yang kuingat

(1992)

Kangen (2)

Apalagi yang menjadi beban bagimu?

Bukan rasa terbuang

Bukan pula rasa cemburu

Tapi kesepian memang tak kenal waktu

(1992)

Hari - hari Lewat

Hari-hari yang lewat

Kemanakah perginya?

Tidak kau tinggalkan jejak sedikit pun

Bila kutengok dalam catatan

Mereka menyebut sejumlah angka

Sebaris kalimat

Tidak ada arti

Karena waktu kehilangan makna

Hari-hari lewat

Kemana sembunyi?

Hari-hari yang belum teraba

Itukah jawabnya?

(1993)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.