Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published August 24th, 2009

Rapat sampai Konferensi

Saat membuka kotak surat elektronik staff milikku, aku mendapati beberapa undangan yang masuk. Mulai dari undangan rapat, seminar, simposium, lokakarya, hingga konferensi. Aku tergoda untuk membuka kamus. Apa sih perbedaan antara itu semua? Kadang-kadang, aku menjumpai walau namanya berbeda tapi format acaranya sama saja. Sebaliknya, walau diberi nama yang sama, acaranya bisa berbeda susunannya. Berikut adalah hasil pencarian di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ke-3 tahun 2001 terbitan Balai Pustaka, Jakarta:

(more…)

Published May 8th, 2009

Apresiasi dan Ekspresi

Agenda rapat hari itu sebenarnya sudah jelas: ada dua kegiatan “besar”. Kegiatan yang satu karena melibatkan banyak dosen dan banyak sekali mahasiswa. Kegiatan yang satu lagi karena lumayan strategis, bisa menentukan arah dan dinamika kegiatan kemahasiswaan di masa datang.

Barangkali karena agenda yang berat itu maka semua yang hadir, duduk diam menunggu. Tegang (he he… agak lebay nih…). Rapat memang belum dimulai. Lalu tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Rani itu mahasiswa semester berapa?” Yah, Rani siapa yang dibicarakan tidak perlu kujelaskan. Tahu sendiri lah. Oh… Bukan, dia bukan mahasiswa UG. Setidaknya, Rani yang dimaksud itu bukan Rani yang mahasiswa UG, jadi tidak masuk dalam wilayah pembicaraan rapat mestinya. Tapi kan rapat memang belum dibuka. Pertanyaan itu jadi merembet ke segala hal… Dari teori konspirasi sampai apresiasi (Mungkin ini yang disebut ice breaker, pemecah kebekuan, ha ha… karena sejak itu suasana jadi cair… penuh tawa dan ramai komentar).

Teori konspirasi tidak usah dibahas. Bukan karena tidak penting dan tidak menarik. Cuma terlalu njlimet buatku. Isi kepala masih alot untuk diajak berpikir rumit. Aku mau cerita soal yang satu lagi. Apresiasi. Mengapa orang Indonesia sulit mengapresiasi sesuatu?

“Mungkin karena budaya kita juga. Orang Indonesia, Jawa khususnya, diajarkan untuk tidak terlalu gumun. Ojo gumun.” Kata temanku.

“Aku sih bukannya tidak bisa mengapresiasi, tapi tidak mengekspresikannya.” Kata temanku yang satu lagi.

“Bagaimana aku tahu kamu mengapresiasi kalau disimpan dalam hati? Tidak pernah mengekspresikannya?” Tanyaku. Aku harus catat ini karena mungkin berguna saat merancang metode pelatihan di Bidang Kemahsiswaan nanti.

Mengapresiasi dan mengekspresikannya sebetulnya baik bagi kedua belah pihak ya? Bagi yang mengapresiasi, sikap ini menunjukkan kejujuran dan kebesaran hati. Kita jadi terbiasa bersaing secara sehat. Mengakui prestasi orang lain bisa memicu semangat untuk juga maraih prestasi di bidang yang sama atau di bidang lain. Bagi yang diapresiasi, penghargaan (apa pun bentuknya, bukan melulu soal uang) jelas sangat berarti, merasa kerja kerasnya dihargai. Dan, tentu saja menambah semangat untuk terus mengasah diri meraih prestasi yang lebih tinggi

Aku tercenung. Barangkali, itu sebabnya tidak banyak prestasi yang bisa kita raih. Karena prestasi tidak pernah kita catat dan hargai sebagai prestasi. Kita mudah sekali berkomentar, “Ah… gitu doang…!” Sementara kita tidak pernah melakukan yang cuma “gitu doang” itu. “Yaaah… Ini mah gue juga bisa.” Tanpa pernah sekali pun memperlihatkan “kebisaan” kita itu. Padahal, sekali lagi, prestasi adalah prestasi. Suatu capaian yang patut diberi apresiasi. Sekecil apa pun. Tentu saja apresiasinya harus proporsional agar kita tidak segera berhenti dan berpuas diri. Nah, barangkali, kelangkaan apresiasi itu maka orang jadi malas untuk menunjukkan kemampuannya…

Barangkali…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.