Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published June 11th, 2011

Percakapan Pagi dan Petang

Untukmu

Hei… Kamu berseru

Senyum mengelopak mawar

Aku terpana

Apakah pagi ini untukku?

Catatan

Tulislah dalam catatanmu

Hari ini

Barangkali kelak kita akan merindukannya

Semua perdebatan seru tapi tak berujung

Dan semua kebisuan sesudahnya

Indah

remang senja menyapa

bisik angin mendesir

seulas senyum merekah

keindahan ini

tak mungkin disembunyikan malam

Published April 2nd, 2010

Mengapa

Mengapa kamu merasa boleh mencaci?

Mengapa kamu merasa boleh memaki?

Mengapa kamu merasa boleh mengusik?

Mengapa kamu merasa boleh menyayang?

Mengapa kamu merasa boleh merayu?

Mengapa kamu merasa boleh memuji?

Mengapa kamu merasa boleh meminta?

Mengapa kamu merasa boleh menghina?

Mengapa kamu merasa boleh menyanjung?

Mengapa kamu merasa boleh yakin?

Mengapa kamu merasa boleh tak percaya?

Mengapa kamu merasa boleh membenci?

Mengapa kamu merasa boleh mencinta?

Mengapa kamu merasa boleh…?

Published March 16th, 2010

Jika…

Jika seseorang memanggil

Jika seseorang  meminta pertolongan

Pantaskah kita enggan berpaling

Bolehkah kita terus berlalu…

dan pura-pura tak mendengar?

Published July 24th, 2009

Pesonamu

Buat A dan R


Tidak Mengerti

Tidak. Aku tidak paham

Aku tidak buta

Tapi, bukankah mustahil mengerti

Semua kolom, semua relung dalam jiwa manusia?

Tidak. Aku tidak paham

Aku bukan tidak punya hati

Cuma terlalu banyak sisi

Tidak. Aku tidak berhenti


Sehabis malam

Apakah kau gelisah setelah percakapan panjang semalam?

Apakah kau masih bertanya setelah semua jawab yang tak tuntas?

Apakah kau masih ragu setelah semua peristiwa?

Yang terjadi dan yang luput dari ingatan?


Di bawah cemara

Kita biasa bercanda di bawah luruhan daun jarum

Aku menggaruk-garuk gatal

Terlalu. Semut merah tengah berpesta

Kita tertawa saja

Lembar-lembar hidup tengah diisi

Hei… boleh pinjam tip ex?

Ah… coret saja dengan spidol hitam atau merah itu!

Kita kembali menekuri catatan

Kamu. Kamu. Siapa yang tahu akan ada apa hari ini?

Kita terus bercanda.

Hanya pada Sang Waktu kita tunduk.


Pesonamu

Kesederhanaan dan kemegahan adalah pesona

Karena terpadu dalam satu ayunan langkah

Kebencian dan kecintaan jadi belenggu

Karena terpadu dalam satu tarikan nafas

Ketika semua berlalu

Hanya angin yang mendesau

Satu yang tertinggal

Senyummu.

Published July 20th, 2009

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono

Sajak Duabelas

Langit tak pernah curiga. Ia hanya melengkung di atas kita,
di tengahnya matahari-seperti bola mata.
Langit tidak pernah mengawasi langkah kaki kita,
tak pernah risau apakah kita ke selatan atau utara.
Langit suka berkaca pada bola matamu, yang tak letih
Menatapku, yang tak pernah berkejap seolah kawatir ia akan
Meninggalkanmu; di tengah kota yang selalu gelisah membincangkan cuaca
langit tak pernah mendengar keluhmu, “Kenapa ia di sana?”

Sajak Empatbelas

Rasanya aku pernah mengenal jala laba-laba itu. Tidak
di hutan. Semakin rapat di antara penangkal petir pencakar
Langit dan menara mesjid. “Tapi benang-benangnya tak tampak,”
katamu ketika kita berusaha lolos darinya. Seperti sebuah jerit.

Sajak Tujuhbelas

Rambutmu berkibaran di arus angin penghujan,
beberapa percik air tempias di pipimu. Demi Tuhan,
bukan karena itu aku mencintaimu, bukan
karena bajumu yang kusut-tak kaurapikan.


Sapardi. Siapakah kamu? Apakah aku pernah mengenalmu?

Mengapa tidak sekalian kamu kuliti aku? Ceritakan saja pada semua orang tentang kesedihanku kemarin. Tentang kegelisahanku dua hari lalu. Tentang kemarahanku seminggu yang lalu… Tentang keterkejutanku beberapa tahun yang lalu. Semuanya. Pinggan yang kamu lukis itu… Masih ingat? Sudah gompil-gompil dan retak-retak… Heran aku karena sampai hari ini belum pecah berantakan. Ayolah… Katakan saja pada setiap pendengar setiamu tentang air mataku yang tak pernah lagi jatuh… tentang hatiku yang selalu gelisah karena terombang-ambing antara ingin menghiburmu dan membahagiakan hatinya… tentang kemarahanku karena tak mampu bahkan untuk sekedar menipu hati sendiri…

Sapardi. Siapakah kamu Sapardi?
Berjanjilah padaku bahwa kisah ini belum selesai. Mungkin rambutku nanti sudah sepanjang yang kamu bayangkan. Mungkin mataku nanti secemerlang yang kamu gambarkan. Mungkin. Tolong. Berjanjilah seandainya pun aku jauh dari yang kamu bayangkan dan gambarkan, teruslah bercerita… Sampaikanlah kisahmu.  Atau kabarkan sajalah hatimu sendiri…

Ha ha… GR banget ya. Tapi begitulah. Setiap kali membaca sajak-sajaknya aku jadi GR sendiri. Aku yakin. Sapardi sudah terlalu sering mendapat klaim yang bahkan jauh lebih hebat dan lebih baik dari itu. Tapi siapa peduli? Menurutku, puisi bernilai bagi yang mengapresiasi. Walau mungkin jauh dari bayangan sang penciptanya sendiri.

Mula-mula aku membaca Sajak Sembilanbelas di koran Pikiran Rakyat. Aku lupa tanggal berapa. Aku cari-cari lagi tapi tidak ketemu. Malah aku menemukan Sajak Satu sampai Sajak Delapanbelas di lembar Bentara harian Kompas sekitar Maret 2004. Rupanya sajak-sajak itu memang baru dipersiapkan untuk diterbitkan sebagai buku. Semoga saja segera terlaksana. Sebab, dalam Catatan pada buku, “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” Sapardi Djoko Damono sempat menuliskan kekhawatirannya bahwa jangan-jangan buku kumpulan puisinya itu adalah yang terakhir. Semoga beliau tidak marah. Sebab seperti suara yang mendadak muncul yang didengarnya, “Apakah orang marah bisa menulis cerita?”

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono lahir pada 20 Maret 1940 di Solo. “Duka-Mu Abadi” merupakan kumpulan puisinya yang pertama yang diterbitkan oleh pelukis Jeihan Sukmantoro pada tahun 1969. Kumpulan puisinya yang terakhir “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” (2002) diterbitkan oleh Yayasan Indonesia Tera bekerjasama dengan “Jurnal Kalam”. Buku puisinya yang lain yang kukoleksi adalah “Hujan Bulan Juni” (1994). Sedangkan buku puisi lainnya yang sudah diterbitkan adalah “Mata Pisau dan Akuarium” (1974), “Perahu Kertas” (1983), “Sihir Hujan” (1984),  “Arloji” (1998),  dan “Ayat-ayat Api” (2000).


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.