Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published January 4th, 2012

Dunia Ibu (yang hilang)…

Buku tentang - atau sedikitnya berkaitan dengan – Korea, yang pertama kali kubaca adalah karya Marianne Katoppo (Dunia Tak Bermusim, 1984, Penerbit Sinar Harapan). Sudah bertahun-tahun yang lalu. Sejak itu aku bertanya-tanya, apakah ada buku karya pengarang Korea diterbitkan di Indonesia? Baru beberapa hari lalu aku menjumpainya. Mungkin karena tidak secara khusus mencarinya, sehingga tidak menemukannya selama ini. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku senang ketika akhirnya aku mendapatkan karya Kyung Sook Shin ini di toko buku Gramedia Depok.

(more…)

Published December 24th, 2009

Akademos

Tiga tahun yang lalu, Desember 2006, aku bertemu dengan dosen di Fakultas Psikologi UI ini. Waktu itu kami bersama-sama tengah menjadi peserta Pelatihan dan Lokakarya Pengembangan Soft Skills di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Direktorat Kelembagaan Dirjen DIKTI. Dalam kesempatan diskusi kelompok membahas program, aku mendapat kesan kalau dia ini orang yang aktif dan penuh ide. Barangkali karena selain menjadi dosen, dia juga meneliti dan memberikan konsultasi masalah psikologi. Banyak membaca pula. Sehingga wawasannya luas. Dia menunjukkannya dalam setiap kesempatan bicara atau tampil.

(more…)

Published December 9th, 2009

Resensi Buku

Ada pengumuman di studentsite dan Wartawarga tentang lomba menulis resensi buku untuk mahasiswa Universitas Gunadarma. Sebuah berita baik bagi mereka yang suka membaca dan ingin menulis tentang apa yang sudah diperolehnya dari bacaan. Membaca (saja) memang sering kali tidak cukup, kan? Membaca tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi si pembaca, tetapi juga bisa menjadi ladang berbagi (ilmu) kepada sesama. Salah satu caranya adalah dengan menuliskan resensi atas buku yang telah selesai dibaca.

(more…)

Published April 18th, 2009

Trilogi Ashadi: Cinta Mahasiswa

“Mahasiswa adalah mahluk ajaib, bisa melakukan hal-hal yang ajaib.” Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Ashadi Siregar. Aku tersenyum-senyum mendengar pernyataannya sekian tahun yang lalu itu. Dalam suatu pelatihan jurnalistik kampus yang aku ikuti, Ashadi Siregar, dosen FISIP UGM sekaligus penulis novel itu berkata di depan mahasiswa peserta dari berbagai fakultas di UGM dan perwakilan mahasiswa PT lain di Jogja. Beliau memberikan beberapa contoh ‘keajaiban’ yang dilakukan mahasiswa sebelum membedah persoalan pers mahasiswa. Aku tersenyum-senyum karena sebenarnya itu juga yang kupikirkan ketika pertama kali membaca novelnya.

Saat itu, aku yang masih SMP atau SMA mencuri-curi baca novel milik kakakku. Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir. Rangkaian kisah mahasiswa bernama Anton Rorimpandey dengan Erika di Jogja, Tody dan Irawati, hingga Widuri yang hijrah ke Jakarta lalu bertemu Joki Tobing. Dalam novel popular itu aku mendapat kesan bahwa mahasiswa itu hebat, terlebih lagi ajaib.

Ketika akhirnya aku jadi mahasiswa, yang pertama-tama kulakukan adalah mengecek lokasi. Ke Gedung Pusat, Bunderan UGM, Balairung, Asrama Mahasiswa, dan tempat-tempat yang disebutkan Ashadi dalam novelnya. Di sini keajaiban itu dilakukan? Apakah tempat bernama kampus itu yang menyebabkan mahasiswa menjadi mahluk ‘berbeda’? Ruang-ruang kelas berjendela lebar dengan bangku-bangku kayu coklat kusam penuh coretan, apa bedanya dengan ruang kelasku di SMA dulu? Bangku beton di bawah naungan pohon cemara di halaman kampus itu tidak istimewa, dingin, jauh dari mewah. Tapi di situ sekumpulan mahasiswa asyik mengobrol, diskusi, bahkan mungkin bertengkar atau merenung…

Takjub berikutnya adalah perbedaan perlakuan. Pada kuliah hari pertama, sang dosen menyapa, “Selamat pagi saudara-saudara!” Wah, aku bukan anak-anak lagi, pikirku. Aku, kami, mahasiswa, disapa sebagai sesama dewasa. Tapi itu juga membawa konsekuensi. Begitu menjadi mahasiswa, maka semua keputusan dan tindakan adalah tanggung jawab pribadi. Tak peduli masih tergagap-gagap hidup sendiri merantau, belum fasih mengatasi perbedaan budaya dan bahasa, bingung mengatur uang saku pas-pasan dan belum canggih mengatur jadwal kuliah dan praktikum. “Sekarang kamu mahasiswa!” Begitulah. Mahasiswa harus tanggap situasi dan kondisi, berpikir cepat, mandiri, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Merengek bukan tempatnya, lari dari tanggung jawab apalagi.

Bertahun-tahun kemudian, aku menemukan novel karya Ashadi Siregar itu lagi. Sudah dicetak ulang oleh penerbit yang berbeda (dulu Gramedia sekarang GagasMedia) dalam format yang lebih kecil dan ilustrasi sampul yang lebih ‘muda’. Aku tak tahan untuk tidak membaca ulang. Nostalgia. Ha ha…

Sekarang, aku masih menganggap bahwa menjadi mahasiswa tetaplah ‘ajaib’. Banyak kesempatan bisa dilakukan oleh mahasiswa. Disadari atau tidak, mahasiswa punya kedudukan istimewa. Kalau mahasiswa protes, mereka dianggap mewakili idealis yang murni dan tidak tercemari kepentingan selain kebenaran. Kata-katanya seringkali lebih didengar dari doktor ahli sekali pun. Coba yang teriak-teriak itu kumpulan sarjana, pasti dianggap sedang frustasi karena terlalu lama menganggur.

Saat kubaca kembali Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir, aku membayangkan mahasiswa sekarang. Situasi dan kondisi memang agak berbeda. Barangkali perhatian, fokus, dan nilai yang dianut juga ada yang berbeda, tapi setidaknya aku menangkap ada persoalan yang sama: keresahan menghadapi masa depan yang tak pasti.

Judul Buku: Cintaku di Kampus Biru (pernah difilmkan dan dibuat sinetronnya dengan judul yang sama)

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan X)

Judul Buku: Kugapai Cintamu (pernah difilmkan dan dibuat sinetronnya dengan judul yang sama)

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan IX)

Judul: Terminal Cinta Terakhir

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan VI)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.