Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published April 25th, 2011

Menunggu itu (tidak harus) Menjemukan

Hari itu aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Ada janji untuk wawancara dengan seseorang. Aku harus sampai di kantornya sebelum waktu yang dijanjikan. Jangan sampai terlambat dong… wong aku yang butuh bertemu. Ini berkaitan dengan penelitianku. Dan aku sudah menunggu berbulan-bulan. Setelah bolak-balik email, telepon, sms… akhirnya waktu pertemuan ditetapkan. Tentu tidak boleh disia-siakan.

(more…)

Published June 4th, 2009

Manajemen Waktu: Antara Kuliah, Praktikum dan Organisasi

Pada hari pertama LKMM 2009 bagi pengurus ORMAWA di UG, kemarin (3-6-09), ada pernyataan bahwa salah satu kesulitan yang dihadapi para pengurus adalah menyeimbangkan antara kegiatan belajar dan kegiatan ekstra kurikuler. Bagaimana mengatur waktu dan tenaga agar kedua tugas tidak terbengkalai.

Menurut sistem kredit semester (SKS) mahasiswa belajar setidaknya dua jam di luar kelas untuk setiap jam belajar di kelas (bahkan ada universitas yang merekomendasikan lebih dari dua jam lho!). Jika seorang mahasiswa mengambil 18 SKS, yang berarti kuliah di kelas 18 jam per minggu, maka mahasiswa tersebut harus belajar sedikitnya 36 jam per minggu di luar kelas secara mandiri. Jadi, mahasiswa tersebut harus merencanakan total jam belajar di kelas dan di luar kelas sebanyak 54 jam per minggu. Nah, jika masih harus mengurus organisasi tentu kita harus menyiasati, kapan waktu belajarnya?

Pertama-tama tentu harus kita catat dulu aktivitas ekstra kurikuler termasuk hari kerja (jika bekerja), pertemuan atau rapat organisasi, aktivitas sosial, jadwal ke luar kota (pulang kampung di akhir pekan atau liburan, misalnya), dan sejenisnya. Mencatat aktivitas ekstra kurikuler memungkinkan kita mendapat gambaran yang lebih akurat tentang seberapa penuh atau seberapa luang jadwal kita selama satu semester. Hal ini tentu memungkin jika organisasi kita juga mempunyai program kerja yang jelas.

Berikut adalah beberapa strategi yang mungkin bisa membantu membuat jadwal belajar menjadi efektif dan efesien.

1. Identifikasi waktu terbaik setiap harinya.

Apakah kita termasuk seorang “night person” atau “morning person”? Gunakan kekuatan waktu tersebut untuk belajar. Belajar pada waktu terbaik setiap harinya - apakah itu pagi (jika kita seorang “morning person”) atau malam hari (jika kita seorang “night person”) - memungkinkan kita menyelesaikan tugas dalam waktu yang lebih singkat.

2. Belajar subyek yang sulit atau membosankan lebih dulu.

Dalam keadaan segar, informasi dapat diproses lebih cepat sehingga lebih menghemat waktu. Alasan lainnya adalah lebih mudah mendapatkan motivasi untuk mempelajari sesuatu yang menyenangkan pada saat lelah daripada mempelajari subyek yang membosankan.

3. Pastikan bahwa lingkungan sekitar kondusif untuk belajar.

Perpustakaan adalah tempat yang baik untuk belajar karena satu-satunya yang bisa dilakukan di perpustakaan adalah belajar. Tetapi jika perpustakaan tidak memungkinkan untuk belajar (karena jam operasi yang terbatas, misalnya), carilah tempat yang memang benar-benar jauh dari gangguan.

4. Jangan tinggalkan rekreasi dan hiburan.

Kuliah di perguruan tinggi tidak berarti kita harus belajar sepanjang waktu. Kita harus tetap mempunyai kehidupan sosial demi keseimbangan hidup kita. Jadi, tidak ada salahnya kita menjadwalkan berkunjung dan mengobrol dengan teman atau mengerjakan hobi yang lain, termasuk juga mengerjakan tugas sebagai pengurus organisasi.

5. Usahakan punya waktu tidur dan makan yang cukup dan berkualitas.

Tidur seringkali dianggap sebagai “bank” dalam manajemen waktu. Maksudnya, setiap kali kita mendapat tugas yang membutuhkan waktu cukup banyak, kita akan “mengambil” waktu tidur kita untuk mengerjakan tugas. Hal ini jelas tidak efektif karena kita pasti akan memerlukan waktu yang lebih banyak lagi untuk mengerjakan tugas karena tubuh kelelahan sehingga kurang konsentrasi. Jadi kebutuhan tidur kita haruslah tetap diperhatikan.

6. Manfaatkan waktu menunggu atau kombinasikan dua kegiatan.

Jika menggunakan transpotasi umum untuk pergi dan pulang dari kampus kita seringkali harus menunggu beberapa menit bahkan beberapa jam di halte atau peron stasiun. Mengapa tidak manfaatkan waktu menunggu tersebut untuk membaca? Bawalah catatan atau ringkasan kuliah kemana pun kita pergi dan baca setiap ada kesempatan meskipun hanya satu paragraf.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, mobil misalnya, jangan membaca sambil mengemudi karena sangat berbahaya. Tapi tidak berarti tidak bisa belajar selama perjalanan. Dengarkan saja rekaman belajar kita sendiri dari kaset.

Kita juga bisa mengerjakan soal latihan atau menyalin catatan kuliah sambil menunggu rapat organisasi dimulai.

(Catatan: Ini adalah sebagian tulisanku yang pernah dimuat di UG News (tentu dengan perubahan sedikit) beberapa tahun yang lalu yang berjudul ”Manajemen Waktu untuk Mahasiswa”).


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.