Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published June 7th, 2009

Outbond dan Praktikum Morfologi

Hari keempat LKMM 2009. Sabtu pagi, kami berkumpul di kampus D untuk berangkat menuju Taman Buah Mekar Sari dengan 3 bus kampus. Setelah 3 hari di kelas dari pagi sampai sore, mendengar ceramah, latihan, diskusi, presentasi, dan sejenisnya. Hari ini, peserta, pemandu, penceramah, diajak panitia berkegiatan di alam terbuka. Outbond. Sebetulnya lebih tepat disebut outing, tapi tak apalah… kita sebut saja begitu.

Acara outbond di Taman Buah tidak akan kuceritakan di sini. Lebih seru kalau ikut sendiri atau melihat di t-k-p sana. Aku hanya ingin menceritakan kalau berjalan-jalan di kebun itu mengingatkan jaman kuliah dulu.

Sebagai mahasiswa Biologi, sebelum penjurusan, kami semua wajib berurusan dengan yang namanya mencandra tanaman dan hewan. Itu pelajaran namanya mulai dari morfologi, taksonomi sampai ekologi. Buatku, pelajaran itu antara asyik nggak asyik. Istilah latinnya bikin sakit kepala. Tapi jalan-jalannya seru. Selain praktikum di laboratorium, kami juga praktikum di lapangan. Yang disebut lapangan itu bisa di hutan arboretum di sebelah fakultas atau pergi naik Merapi (nggak sampai puncaklah paling sampai ke Plawangan), blusukan ke Hutan Wanagama di Gunung Kidul sana, bahkan ke Pangandaran, ke Cibodas, nyemplung ke kali atau lari-larian dikejar ombak saat identifikasi biota laut di pantai Krakal, Kukup, atau Baron.

Sebetulnya, untuk urusan tanaman, aku lebih suka menikmati keindahannya, atau ketika kecil, pohon itu artinya tantangan untuk dipanjat. Sejak masih TK, aku sudah hobi memanjat pohon. Semua pohon yang batangnya lebih besar dari pangkal lenganku, pastilah layak dicoba untuk dipanjat. Ha ha… Tapi begitu pelajaran morfo dan takso dimulai, wah… nanti dulu.

Pohon, tinggi 10-30 m. Ujung ranting bersisik. Daun bertangkai, memanjang, dengan pangkal membulat dan ujung meruncing, 6-25 kali 2,5-9 cm, seperti kulit, di bawah bersisik rapat. Bunga dalam payung tambahan samping, menggantung, berbunga 3-30. Daun pelindung bersatu mengelilingi kuncup, berbelah terbuka. Kelopak bentuk lonceng, berlekuk 6 atau bercangap 4-6…. dst… Buah bulat memanjang, 15-30 kali 13-15 cm, tertutup oleh duri tempel yang kasar… dst… Durio zibethinus. Itu deskripsi kalau ketemu pohon duren. Itu pohon yang buahnya berbau harum sampai bisa bikin pusing. Pusing juga kalau harus mendeskripsikannya!

Pohon yang menggugurkan bunga, tinggi 8-30 m. Batang muda dengan duri tempel besar berbentuk kerucut. Tajuk jarang, cabang dalam karangan tiga-tiga, menyimpang ke samping horizontal. Daun bertangkai panjang, berbilang 5-9. Anak daun berbentuk lancet, gundul, panjang 5-16 cm. Bunga terkumpul 2-15 di ketiak daun yang sudah rontok, dekat ujung ranting. Kelopak bentuk lonceng, berlekuk 5 pendek…. dst… Buah memanjang, panjang 7,5-15 cm, menggantung, membuka dari bawah ke atas dengan katup… katup dengan rambut wol yang panjang. Waktu berbunga tanpa daun… dst… Ceiba pentandra. Ini deskripsi jika jumpa pohon kapuk atau randu. Ya, pengisi bantal dan kasur itu. Mumet!

Begitulah, melewati kebun buah menuju lokasi outbond aku mengingat-ingat kembali jaman tiap hari harus bikin deskripsi. Kadang-kadang kami bercanda juga supaya pelajaran hapalan ini tidak terlalu membebani. “Hei… ada Tamarindus indica!”Lalu yang lain menyahut, “Lihat, buahnya polongan bertangkai!” Yang lain lagi meneruskan, “Daunnya berseling ya, menyirip genap.” “Ya betul, buahnya asem dipakai buat bikin sayur asem…”Lalu, kami pun teringat perut yang keroncongan belum sempat makan siang.

“Coba ya, kalau saja ada Cocos nucifera muda… Siang-siang begini, pasti segar…” Celetuk salah seorang dari kami. Pastilah dia sedang membayangkan minum es kelapa muda. “Apalagi ditambah Artocarpus integra…” Maksudnya ada nangka juga. “Eh, jangan lupa pakai Persea americana dong…” Oh ya, pakai alpokat. Ha ha… jadi es teler deh!

Published June 4th, 2009

Manajemen Waktu: Antara Kuliah, Praktikum dan Organisasi

Pada hari pertama LKMM 2009 bagi pengurus ORMAWA di UG, kemarin (3-6-09), ada pernyataan bahwa salah satu kesulitan yang dihadapi para pengurus adalah menyeimbangkan antara kegiatan belajar dan kegiatan ekstra kurikuler. Bagaimana mengatur waktu dan tenaga agar kedua tugas tidak terbengkalai.

Menurut sistem kredit semester (SKS) mahasiswa belajar setidaknya dua jam di luar kelas untuk setiap jam belajar di kelas (bahkan ada universitas yang merekomendasikan lebih dari dua jam lho!). Jika seorang mahasiswa mengambil 18 SKS, yang berarti kuliah di kelas 18 jam per minggu, maka mahasiswa tersebut harus belajar sedikitnya 36 jam per minggu di luar kelas secara mandiri. Jadi, mahasiswa tersebut harus merencanakan total jam belajar di kelas dan di luar kelas sebanyak 54 jam per minggu. Nah, jika masih harus mengurus organisasi tentu kita harus menyiasati, kapan waktu belajarnya?

Pertama-tama tentu harus kita catat dulu aktivitas ekstra kurikuler termasuk hari kerja (jika bekerja), pertemuan atau rapat organisasi, aktivitas sosial, jadwal ke luar kota (pulang kampung di akhir pekan atau liburan, misalnya), dan sejenisnya. Mencatat aktivitas ekstra kurikuler memungkinkan kita mendapat gambaran yang lebih akurat tentang seberapa penuh atau seberapa luang jadwal kita selama satu semester. Hal ini tentu memungkin jika organisasi kita juga mempunyai program kerja yang jelas.

Berikut adalah beberapa strategi yang mungkin bisa membantu membuat jadwal belajar menjadi efektif dan efesien.

1. Identifikasi waktu terbaik setiap harinya.

Apakah kita termasuk seorang “night person” atau “morning person”? Gunakan kekuatan waktu tersebut untuk belajar. Belajar pada waktu terbaik setiap harinya - apakah itu pagi (jika kita seorang “morning person”) atau malam hari (jika kita seorang “night person”) - memungkinkan kita menyelesaikan tugas dalam waktu yang lebih singkat.

2. Belajar subyek yang sulit atau membosankan lebih dulu.

Dalam keadaan segar, informasi dapat diproses lebih cepat sehingga lebih menghemat waktu. Alasan lainnya adalah lebih mudah mendapatkan motivasi untuk mempelajari sesuatu yang menyenangkan pada saat lelah daripada mempelajari subyek yang membosankan.

3. Pastikan bahwa lingkungan sekitar kondusif untuk belajar.

Perpustakaan adalah tempat yang baik untuk belajar karena satu-satunya yang bisa dilakukan di perpustakaan adalah belajar. Tetapi jika perpustakaan tidak memungkinkan untuk belajar (karena jam operasi yang terbatas, misalnya), carilah tempat yang memang benar-benar jauh dari gangguan.

4. Jangan tinggalkan rekreasi dan hiburan.

Kuliah di perguruan tinggi tidak berarti kita harus belajar sepanjang waktu. Kita harus tetap mempunyai kehidupan sosial demi keseimbangan hidup kita. Jadi, tidak ada salahnya kita menjadwalkan berkunjung dan mengobrol dengan teman atau mengerjakan hobi yang lain, termasuk juga mengerjakan tugas sebagai pengurus organisasi.

5. Usahakan punya waktu tidur dan makan yang cukup dan berkualitas.

Tidur seringkali dianggap sebagai “bank” dalam manajemen waktu. Maksudnya, setiap kali kita mendapat tugas yang membutuhkan waktu cukup banyak, kita akan “mengambil” waktu tidur kita untuk mengerjakan tugas. Hal ini jelas tidak efektif karena kita pasti akan memerlukan waktu yang lebih banyak lagi untuk mengerjakan tugas karena tubuh kelelahan sehingga kurang konsentrasi. Jadi kebutuhan tidur kita haruslah tetap diperhatikan.

6. Manfaatkan waktu menunggu atau kombinasikan dua kegiatan.

Jika menggunakan transpotasi umum untuk pergi dan pulang dari kampus kita seringkali harus menunggu beberapa menit bahkan beberapa jam di halte atau peron stasiun. Mengapa tidak manfaatkan waktu menunggu tersebut untuk membaca? Bawalah catatan atau ringkasan kuliah kemana pun kita pergi dan baca setiap ada kesempatan meskipun hanya satu paragraf.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, mobil misalnya, jangan membaca sambil mengemudi karena sangat berbahaya. Tapi tidak berarti tidak bisa belajar selama perjalanan. Dengarkan saja rekaman belajar kita sendiri dari kaset.

Kita juga bisa mengerjakan soal latihan atau menyalin catatan kuliah sambil menunggu rapat organisasi dimulai.

(Catatan: Ini adalah sebagian tulisanku yang pernah dimuat di UG News (tentu dengan perubahan sedikit) beberapa tahun yang lalu yang berjudul ”Manajemen Waktu untuk Mahasiswa”).


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.