Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published October 29th, 2009

Arsitektur dan Perilaku Manusia

Maaf ya kalau judulnya saja yang keren. Tulisannya sama sekali tidak secanggih itu, karena isinya memang hanya uneg-uneg orang yang tidak paham apa itu arsitektur dan apa pula perilaku manusia. Dua-duanya bidang yang sulit untukku. Aku cuma membaca judul sebuah buku yang ditumpuk di bagian ”Borong Buku” di sebuah pameran yang menampilkan banyak penerbit dan perpustakaan di Istora Senayan, beberapa hari lalu. Buku yang dijual di bagian ini didiskon sampai dengan 80%. Pada kesempatan seperti ini, aku biasanya membeli buku yang jika dijual dengan harga ”normal” terpaksa tidak kubeli. Maklum, anggaran terbatas.

(more…)

Published October 6th, 2009

Panjang Umur di Jalan Margonda, Wati…

“Non, coba tolong tanya sama Pak Wali, apa sih maksudnya pelebaran jalan ini?”

Wati berjalan dengan rusuh di antara motor-motor dan angkot di Jalan Margonda Raya. Aku yang berjalan di belakangnya persis, cuma bisa nyengir. Aku sendiri sibuk menghindar dari senggolan motor dan mobil, yang semuanya sibuk membunyikan klakson. Mungkin maksudnya meminta kami minggir. Tapi kemana lagi kami mesti minggir? Wati tiba-tiba berhenti. Aku juga. Dia menoleh pada pengendara motor yang nyaris menyenggolnya. Matanya melotot… ”Eh kira-kira dong…!” Serunya. Si pengendara tak terlihat ekspresinya, tertutup helm fullface bergambar karikatur Rossi the Doctor… Tapi yang jelas, dia kembali bergerak di antara puluhan motor lainnya… menyalip dan menyelip di antara mobil pribadi, angkot, bus, truk, dan sebagainya yang menyesaki jalan Margonda Raya dari arah Pasar Minggu menuju Depok…

(more…)

Published July 16th, 2009

Kenangan Sepanjang Jalan Margonda Raya (2)

Makan yuk!

Menyusuri sepotong Jalan Margonda Raya, khususnya di area sekitar kampus D UG di Jalan Margonda Raya 100 untuk urusan makan sekarang. Ternyata, banyak warung makan yang dengan sangat percaya diri menyebut asal-usul daerahnya lho… Ini sungguh bukan soal SARA, tapi soal selera (makan). Ternyata, dalam radius 200 meter, segala rasa tersedia.

Mulai dari rumah makan Padang yang menjual randang dan teman-temannya, warung Tegal yang komplit lauk pauknya, dari tempe goreng hingga ikan tongkol dan telur dadar, sampai soto Ngawi yang tidak cuma jualan soto. Warung pempek Palembang yang selain menjual adaan dan kapal selam, juga menyajikan tekwan dan mie celor.

Bakso Malang di siang yang panas atau sore yang hujan? Boleh sekali. Mau bakso urat, bakso alus, tahu, mie kuning atau bihun? Silakan. Oh mau Gudeg Jogja juga ada. Dan jangan lupa, sroto Banyumas lengkap dengan mendoan. Aih… masih ditambah pula dengan pecel Madiun! Atau mau ke warung gado-gado Betawi ibu Umi aja? Tinggal pilih gado-gado atau rujak atau asinan… Kalau mau yang panas berkuah boleh pesan ke sebelahnya, soto Pak Sadi. Suroboyo rek!

Masih belum kenyang? Kita jalan lagi. Tak jauh dari situ, di samping jalan menuju stasiun Pocin, kita bisa makan mie Aceh yang… bikin keringat berleleran. Pedasnya itu lho! Ya sudah, ke sebelahnya saja, menikmati soto Kudus plus paru goreng, tahu dan tempe bacem, sate telur puyuh atau bakwan jagung.

Karena urusan makan ini, aku jadi ingat rumah makan dan warung yang bertahan dan yang sudah menghilang di sepanjang Margonda. Sekarang ini, sudah banyak warung dan rumah makan serta restoran baru yang muncul di sepanjang Margonda, tak sedikit yang tutup dan berganti dan berganti lagi bahkan beralih fungsi tidak menjual makanan lagi.

Published July 12th, 2009

Kenangan Sepanjang Jalan Margonda Raya (1)

Berjalan (kaki) sepanjang Margonda? Yang benar saja…!

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Depok awal tahun 1992. Jalan Margonda, entah waktu itu sudah pakai Raya atau belum, masih lengang. Kemacetan adalah hal yang tidak pernah terpikirkan. Menyeberang masih bisa leluasa. Merem juga bisa (he he… lebay). Saking sepinya. Bagaimana tidak, angkutan umumnya cuma ada bus Miniarta jurusan Pasar Minggu – Depok yang sudah menghilang begitu maghrib menjelang dan bus Patas 43 jurusan Pasar Baru – Depok, yang lewatnya entah kapan… saking jarangnya. Angkot D 11 sudah ada, tapi belum lewat jalan Margonda, jadi kalau mau ke Kelapa Dua dari jalan Margonda harus dua kali naik angkutan umum. Naik bus Miniarta dulu sampai halte UI lalu dilanjutkan naik angkot D 11 yang berputar di Gardu. Kalau tidak ingin ikut memutar, silakan menyeberangi rel kereta lalu menunggu angkot D 11 di halte UI di seberang jalan.

Sekarang ini mau ke arah mana saja ada bus kota dari terminal Depok melalui Jalan Margonda. Ke Tanjung Priok, Kalideres, Pulogadung, Bekasi, Blok M, Grogol, Senen, Tanah Abang, sampai ke Lebak Bulus. Ada! Naik angkot ke Kampung Rambutan, Pasar Rebo, Taman Mini, Pondok Labu, atau yang paling dekat, ke PAL? Bisa! Semua lewat Jalan Margonda. Oh, tentu saja Jalan Margonda sudah lebih lebar dari pada 17 tahun yang lalu. Sudah ada dua jalur untuk masing-masing arah dipisahkan oleh pembatas jalan (Pembatas jalan itu bagiku berfungsi juga untuk menenangkan diri dulu sebelum berjuang lagi menyebrang jalur satunya, he he…).

Dulu, sepanjang Jalan Margonda pun belum banyak rumah dan toko. Banyak lahan di kiri kanan jalan masih berupa kebon mangga dan rambutan. Sekarang sudah bersalin rupa jadi apartemen, mall, restoran, show room mobil, dan ruko. Dari kampus ke pertigaan Ramanda (dulu, Ramanda adalah satu-satunya dept store di sepanjang jalan ini), jalan kaki terasa sangat jauh karena sepi, tapi masih bisa dinikmati. Kalau lagi iseng, aku masih bisa jalan kaki dari Pondok Cina ke toko buku satu-satunya di Depok, yaitu Grafiti (yang lalu tutup). Tempatnya, kemudian berganti menjadi supermarket Hero, lalu sekarang Ace Hardware. Sekarang, jalan kaki dari depan kampus UG ke Margo City saja sudah deg-degan, karena khawatir terserempet bus kota, angkot, motor, atau menyenggol wajan panas milik pedagang gorengan, martabak, fried chicken, dsb. Trotoar yang ada adalah milik para pedagang kaki lima, atau jadi lahan parkir yang punya toko atau warung… atau tempat memajang mobil bekas yang dijual. Peringatan penting bagi pejalan kaki lainnya adalah tetap awas dan waspada juga dengan pengendara motor yang melawan arus.

Toko, warung, restoran, mall, ruko, dan perumahan bermunculan di wilayah Depok, tak terkecuali di sepanjang jalan Margonda. Tentu saja makin menambah meriah suasana jalan. Kalau dulu kemacetan hanya pada hari tertentu dan jam tertentu, sekarang kemacetan bisa dinikmati kapan saja sepanjang hari sepanjang tahun… mungkin kecuali saat lebaran. Jalan Margonda Raya ibarat etalase kota Depok. Kalau mau lihat kemajuan kota Depok, lihatlah jalan Margonda. Indikator kota yang maju yang sering diukur dengan adanya mall, ruko, rumah makan terkenal, bioskop, dan sejenisnya bisa dilihat di sepanjang Margonda. Sejak menjadi kota administratif lalu menjadi kota madya, Depok memang terus menggeliat… tapi di sisi lain, Jalan Margonda Raya menjadi makin tak memadai sebagai akses utama dari dan ke Depok. Sebagai orang awam, aku sering bertanya-tanya, tidakkah sebetulnya kondisi ini bisa diperhitungkan sebelumnya?

Lalu, akhir-akhir ini sudah mulai ada pengerjaan pelebaran jalan di beberapa ruas sepanjang Margonda. Wah, mestinya para pengguna jalan Margonda sudah bisa berharap kelak tidak perlu bermacet ria jika melintas Jalan Margonda. Mahasiswa yang mau ujian tidak perlu alasan kena macet jika terlambat… Apalagi kalau jalan tol juga jadi dibangun. Pasti akan mempengaruhi tingkat kepadatan lalin di Jalan Margonda. Ah… tapi… tapi… tapi…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.