Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published May 26th, 2009

Naik KRL Ekonomi (2)

Sungguh. Naik KRL ekonomi itu kadang-kadang mengasyikkan. Beberapa temanku, cuma bisa membayangkan seperti apa rasanya. Ingin mencoba tapi tidak (atau belum) berani. Takut. Barangkali karena mereka pernah melihat KRL lewat saat mereka berhenti di perlintasan kereta. Memandang dari balik kaca mobilnya yang adem dan nyaman sambil menggeleng-geleng ngeri. Betapa KRL yang meluncur cepat itu penuh sesak, bahkan penumpang sampai bergelantungan di pintu atau duduk di atap kereta. Belum lagi cerita soal copet atau jambret yang katanya senang beraksi di sana. Ditambah lagi kabar soal pelecehan terhadap penumpang oleh penumpang juga.

Kalau kata temanku, yang bukan Wati, yang sudah lama di Australia, naik KRL ekonomi berarti “menikmati keajaiban dunia ketiga.” Bayangkan naik kereta bareng sama pegawai berpakaian necis, mahasiswa yang mendekap map, anak sekolah dengan seragam yang pasti tadinya licin tersetrika tapi sekarang kusut, pedagang dari Bogor atau Citayam yang akan berjualan di Kota membawa keranjang berisi jambu batu, papaya, pisang, atau belimbing. Lho, malah sebelum ada kasus H5N1, itu virus penyebab penyakit flu burung, aku pernah juga mendapati di bawah bangku yang kududuki terikat dua ekor ayam kampung yang dibawa majikannya ke Kota juga. Ada ibu-ibu yang mau belanja ke Mangga Dua. Ada calon pengantin mau beli cincin kawin ke Cikini. Di gerbong yang sama juga ada kakek nenek yang mau berobat ke RSCM. Ada mbak-mbak yang mau ke Mangga Besar untuk totok wajah, beli kosmetik penghilang noda atau pemutih kulit, mau photo aura, atau cari salon yang bisa menghilangkan selulit.

Pedagang asongan hilir mudik menawarkan mulai dari kamus bahasa Inggris, buku kumpulan doa lima ribu tiga (maksudnya lima ribu rupiah dapat tiga buku), sarung HP, pinsil warna, mainan, jeruk, apel, klengkeng, gambar tempel, penambal panci, aneka koran, tabloid, dan majalah, korek api sampai korek kuping. Belum lagi yang jual minuman. Mereka yang menenteng jualannya dalam ember plastik hitam yang diisi dengan berbagai macam minuman dalam kemasan botol atau plastik, lengkap dengan potongan es batu yang berfungsi sebagai pendingin. Atau menggunakan keranjang plastik yang ditumpuk kemudian di bagian bawahnya diberi roda sehingga bisa didorong sepanjang gerbong… Kata temanku yang lain, “Udah kaya’ DRTV…” Segala ada.

Ada berbagai macam jenis pengamen juga. Dari yang sekedar menyanyi nggak jelas sambil bertepuk tangan, penyanyi bersuara lantang membawa tas berisi pengeras suara, sampai pada, kalau beruntung, serombongan pengamen yang membawa alat musik dan sound system lengkap. Ada juga orang buta yang mengaji, membaca ayat suci, atau menyanyi juga. Mereka dituntun oleh rekannya yang tidak buta, atau berjalan sendiri membawa tongkat. Eh, ada juga anak-anak yang kerjanya menyapu lantai gerbong untuk sekedar mendapat imbalan atas jasanya itu. Yang begini cuma ada di KRL Ekonomi bukan AC.

Sekarang kami mau pulang ke Pondok Cina. Jadi, kami menunggu kereta di Stasiun Juanda. Hm… sudah begitu banyak calon penumpang? Hari menjelang sore. Wati masih ingin naik KRL ekonomi non-AC. Lebih seru, katanya. Heran. Kok nggak ada matinya sih Wati ini? Aku sudah berkeringat kepanasan. Betis kaku karena terlalu banyak berdiri dan berjalan kaki. Lagi pula aku yakin nggak bakal dapat tempat duduk di kereta nanti. Eh, Wati masih menyanyi-nyanyi. Teringat pengamen yang sempat menyanyi lagunya Ikang Fawzi di KRL saat berangkat. “Hebat ya. Kok dia bisa tahu lagu itu. 80-an banget.” Komentarnya.

Dugaanku terbukti. KRL datang dari arah Kota. Sudah penuh penumpang. Kami pun terpaksa berdiri (lagi). Wati memperhatikan seisi gerbong. Mulai berkomentar tentang segala hal yang tertangkap panca inderanya, khususnya mata. Orang-orang yang berdiri di sekitar pintu yang tidak mau bergeser barang sejengkal, walau tahu tindakannya menghalangi orang yang akan keluar masuk gerbong. “Itu orang keterlaluan deh!” (Jengkel). Orang yang tega merokok walau di sekitarnya orang terbatuk-batuk. “Nggak sopan banget ya!” (Keluh). Orang yang sekenanya melemparkan gelas air mineral yang sudah kosong, atau plastik bekas bungkus roti, atau kulit salak… “Ya ampuuun, kok begitu sih?” (Gregetan). Pemuda-pemuda dengan kostum dan dandanan ala punk rock yang duduk menggerombol tapi tak saling bicara… “Mereka itu keluar rumah sudah dandan begitu?” (Penasaran). Tak ada yang luput dari perhatian Wati.

Tidak semuanya membuat gusar Wati. Karena dia juga senang mengamati model baju, celana, tas, sampai sepatu yang dipakai para penumpang. “Baju kaya’ gitu enak kali ya, adem…” (Agak bingung). Dia mengerling ibu yang memakai setelan kaos yang kelihatannya memang semacam baju tidur. “Eh, itu… bahan begitu dimana belinya ya? Bagus kalau jadi rok.” (Mupeng). Bisiknya mengomentari tas kotak-kotak warna merah yang disandang seorang remaja. “Uhh. Ada juga yang hobinya sama kaya’ gue tuh!” (Takjub campur heran). Masih berbisik-bisik dia sambil cekikikan. Aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Wati dengan isyarat matanya. Seorang wanita duduk di bangku dekat pintu memakai blus katun kembang dan bertopi hitam. Tekun membaca. Aku masih bingung apanya yang sama dengan si Wati? Ah… rupanya buku yang dibacanya. Ketika wanita itu membetulkan topinya, bukunya ikut terangkat. Cersil. Terbaca judulnya: Sakit Hati Sedalam Lautan… OKT… Emang Wati banget!

Di setiap stasiun, penumpang bertambah. Gondangdia, Cikini, Manggarai… Ada yang turun tapi lebih banyak yang naik. Tebet… Kalibata… Pasar Minggu… Akhirnya penumpang dalam gerbong makin berjejalan. Aku pun terpisah dari Wati. Aku terdorong ke depan, sementara Wati entah dimana. Aku tidak bisa lagi menoleh ke kanan dan ke kiri.

KRL berhenti di Stasiun UI. Aku berjuang agar bisa bergeser mendekati pintu. Tetap tidak melihat Wati. Semoga saja dia ingat harus turun di stasiun berikutnya. Doaku dalam hati. Tiba di Stasiun Pondok Cina aku menerobos orang di pintu agar bisa keluar. Huaah… leganya menghirup udara segar. Banyak penumpang lain berhamburan keluar juga. Aku menepi sambil mencari-cari Wati. KRL mulai bergerak lagi. Sebagian besar penumpang telah berjalan ke luar stasiun. “Ah… mana Si Wati?”

Aku duduk dulu menunggu. Memperhatikan sekeliling. Kriiing… Tiba-tiba HP-ku berdering. Dari Wati!

“Haiiii Non…” Wati berseru di antara suara kereta, “Aku ndak isa turun. Aku terbawa kereta!”. Walah… Rupanya Wati tidak berhasil menembus gerombolan orang yang hobi banget berdiri di pintu, menghalangi orang yang mau turun atau naik. Semoga saja Wati bisa turun di Stasiun Depok Baru, pikirku sambil berjalan ke luar stasiun…

Oh ya, aku sudah bilang kalau ini cuma cerita, kan? Seperti biasa, cerita ini dimirip-miripkan dengan kisah yang sebenarnya.

Published May 23rd, 2009

Naik KRL Ekonomi (1)

Aku mau cerita lagi. Masih tentang Wati yang kali ini mau naik kereta api. Tepatnya naik kereta api listrik. Biasa disebut KRL (Singkatan dari apa ya? K-nya kereta, L-nya listrik, tapi R-nya apa? Rel, gitu? Atau apa ya?). Dari Pondok Cina ke Juanda. KRL itu termasuk alat transportasi utama di Jabodetabek. Murah meriah. Nyaman? Belum tentu. Setidaknya sangat berperan dalam mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan yang terkenal macet ini. KRL juga favorit bagi banyak pegawai, pedagang, mahasiswa, pelajar, pengemis, pengamen, pengangguran yang sedang punya urusan. Berjasa bagi mereka yang akan pergi dan pulang bekerja, atau kuliah, atau sekolah, atau belanja, atau wisata, atau mengunjungi orang tua, atau menengok mertua, atau menjenguk menantu, atau menjemput cucu… dan masih banyak atau lainnya.

Pada Minggu pagi yang cerah. Wati berseri-seri menungguku di depan loket di Stasiun Pondok Cina. Kami memang sudah bersepakat untuk bertemu di situ. Bajunya warna merah fuhchia, menyala. Jeans coklat abu-abu (halah… warna apa pula ini? Pokoknya gitu deh) dengan sulaman bunga di sisi-sisinya. Feminin sekali. Sepatu mochasin warna abu-abu (sangat boleh jadi tadinya hitam). Topi kulit bundar warna krem. Pakai kaca mata peneduh warna coklat pula. Luar biasa. Dia mengacungkan 2 buah tiket begitu melihatku datang. “AC masih lama, jadi kita naik yang biasa aja.” Katanya. Rupanya dia sudah membeli tiket untuk kami. Naik yang biasa aja itu maksudnya naik KRL Ekonomi Non-AC.

Untuk yang belum tahu, KRL Jabodetabek, khususnya di jalur Bogor-Jakarta, ada macam-macam jenis KRL. KRL Ekonomi Non-AC, KRL Ekonomi AC, dan KRL Ekspres. KRL ekonomi berhenti di tiap stasiun yang dilewati kecuali Gambir, sedangkan KRL ekspres hanya berhenti di stasiun tertentu saja, termasuk Gambir. Tiket karcis bervariasi. Dari yang seribu lima ratus sampai sebelas ribu. Tergantung tujuan dan jenis kereta.

Kami menunggu di peron. Stasiun Pondok Cina termasuk bebas dari pedagang kaki lima, jadi peronnya lega. Aku dan Wati duduk di bangku yang terbuat dari besi rel bekas. KRL ekonomi pertama yang berhenti terlalu penuh. Banyak penumpang yang sama-sama menunggu, nekat masuk ke dalam gerbong yang pintunya tidak pernah tertutup itu. Mereka kaum yang lebih pemberani dari kami rupanya. Sementara aku dan Wati memutuskan untuk menunggu kereta berikutnya.

Kami (terutama aku) ragu bisa bernapas dengan leluasa dalam gerbong yang padat penumpang itu. Ah, jangan bilang aku manja begitu. Dengan tinggiku yang berkisar satu setengah meter, aku bisa terancam tidak mendapatkan oksigen. He he… Coba aku berdiri di antara penumpang-penumpang itu. Menghadap ke mana pun muka ini bakal mentok kalau bukan punggung, dada, atau waduh… ketiak (maaf) penumpang lain… Mau? Nggak ah. Aku pernah terjebak dalam kondisi begitu. Leherku pegel bukan main karena sepanjang perjalanan harus mendongak terus. Toh sekarang kami tidak sedang diburu waktu. Untunglah 15 menit kemudian kereta datang lagi. Penuh sih, tapi rasanya kami masih bisa berdiri dengan tegak tanpa terdesak-desak dan bisa bernapas dengan bebas. Kami pun naik. Berdiri menghadap jendela yang terbuka. Tidak terlalu dekat pintu. Hm… sempurna.

Suasana di dalam kereta boleh dibayangkan. Orang tua, anak muda, bahkan batita yang digendong atau dipangku ibunya. Laki-laki, perempuan, masing-masing dengan urusannya sendiri. Ada yang tertidur menyandar ke jendela yang bolong, ada yang merokok sambil melamun, ada yang bercengkrama dengan pasangannya tak peduli dunia, ada yang bercanda tertawa-tawa dengan teman-temannya dengan suara yang sama sekali tidak ditahan. Ada yang baca koran gossip, tabloid olah raga, atau novel. Ada yang sekeluarga asyik makan tahu goreng dengan cabe rawit (dibeli dari pedagang yang mondar-mandir di kereta juga)… Ada yang makan anggur sambil menyemburkan bijinya kemana pun dia suka. Ada yang sibuk ber-sms. Ada yang nekat berteriak-teriak di telepon. Ada yang bengong. Ada yang senyum-senyum sendiri… Mungkin sedang membayangkan jadi anggota DPR di Senayan atau terpilih menjadi menteri setelah pilpres nanti.

Begitulah, berdiri di gerbong KRL yang penuh sesak, Wati (dan aku juga sih) menemukan banyak hal menarik.

“Jeruk… yang jeruk… satu seribu, enam goceng… goceng enam, murah!”

Seorang pedagang jeruk berseru mengatasi deru roda kereta beradu dengan rel. Wati menoleh mencari si penjual, seorang pemuda kurus yang secara mengherankan sanggup mendorong dan mengangkat sekaranjang jeruk dari gerbong ke gerbong. Mungkin sudah terlatih, terbiasa.

Seorang ibu gemuk sibuk memilih. “Tujuh boleh? Kecil nih…” Katanya menawar.

“Enam dah murah, Bu… di supermarket mah nggak dapet. Ini juga ngabisin aja.” Kata si penjual. Lalu menoleh ke Wati, “Mangga neng… Boleh jeruknya.”

Wati menunjuk-nunjuk jeruk di keranjang, “Iya jeruk. Manis apa asem?” Wati bertanya.

“Ohh… Manis ini mah jeruknya… moal hanjakal. Sok lah… mangga…” Si penjual mengangsurkan tas kresek pada Wati.

“Nggak ada yang asem?” Tanya Wati lagi.

“Nggak ada. Cobain dulu boleh. Manis lah ditanggung.”

Sementara si ibu gemuk sudah selesai memilih. “Ini. Tujuh ya?” Gigih menawar rupanya ibu itu.

Si penjual mengambil kantong kresek hitam berisi jeruk hasil pilihan Si Ibu, menghitung isinya, “Ya udahlah… ngabisin,” katanya sambil menerima uang lima ribuan dan memberikan sekantong kresek jeruk itu pada si ibu yang jadi tersenyum-senyum senang.

“Gimana neng?” Sekarang si penjual bertanya pada Wati lagi. Aku melihat Si Ibu tadi sudah mengupas satu butir jeruk untuk anaknya. “Disamain lah sama Si Ibu itu.” Kata Si Penjual sambil mengatur letak jeruk di keranjangnya.

“Nggak ah. Nggak ada yang asem.” Wati menggeleng. Temanku ini sudah sibuk memperhatikan penjual asesoris yang lewat. Pernak-pernik asesoris itu direnteng sedemikian rupa. Mulai dari sisir, jepit rambut, bando, bros, sampai kalung dan liontin. Penjual jeruk sejenak terdiam menatap Wati.

Aku terpaksa harus urun suara. “Dia mah emang sukanya yang asem, Mang.” Kataku.

“Ih, si neng…” Penjual menggeser keranjangnya, menawarkan jeruk pada penumpang lainnya. Seorang pemuda mengambil sebuah lalu memberikan uang seribu. “Aneh…” Si Penjual jeruk masih heran rupanya.

Wati menoleh, “Serius, Bang. Nggak bercanda. Kalau Abang ndak jual jeruk asem ya udah.”

Sepasang suami istri (mungkin) yang duduk di depan kami tersenyum-senyum memandang Wati lalu aku. Aku terpaksa mengangguk dan tersenyum pada mereka, sementara Wati sudah sibuk memilih peniti.

Oh… Betapa aku cinta KRL… Betapa aku cinta Indonesia… Negeri yang serba ada, serba kaya…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.