Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published October 26th, 2009

Bukuku Riwayatmu…

Beberapa waktu yang lalu, aku membongkar isi rak buku. Sudah lama buku-buku itu menjejali rak yang kelihatan makin sarat saja. Aku keluarkan semua buku dan aku angin-anginkan. Mencoba mengusir kelembaban yang sudah jadi ciri khas negara tropis seperti Indonesia ini. Kelembaban yang tinggi bisa jadi musuh buku. Begitu juga kutu. Bisa membuat buku berbau apak, berjamur atau berlubang-lubang.

buku buku dan bukuSambil menyusun buku kembali setelah diangin-angin, aku membuka satu persatu bukuku… Beberapa masih ada label harga dari toko tempat aku membeli. Beberapa lagi ada tulisan dan tanda tangan dari yang memberi… Aku jadi mengingat-ingat, tidak hanya apa isi buku tapi juga riwayat dari mana buku-bukuku itu berasal. Hm…

Aku tahu, sekarang ini jamannya internet. Harga buku pun bukannya makin murah. Belum lagi penyimpanan yang membutuhkan tempat dan pemeliharaan yang perlu tenaga ekstra. Tapi membaca buku ternyata tetap lebih mengasyikkan buatku… Bisa dilakukan di mana saja, kapan saja.

(more…)

Published July 12th, 2009

Kenangan Sepanjang Jalan Margonda Raya (1)

Berjalan (kaki) sepanjang Margonda? Yang benar saja…!

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Depok awal tahun 1992. Jalan Margonda, entah waktu itu sudah pakai Raya atau belum, masih lengang. Kemacetan adalah hal yang tidak pernah terpikirkan. Menyeberang masih bisa leluasa. Merem juga bisa (he he… lebay). Saking sepinya. Bagaimana tidak, angkutan umumnya cuma ada bus Miniarta jurusan Pasar Minggu – Depok yang sudah menghilang begitu maghrib menjelang dan bus Patas 43 jurusan Pasar Baru – Depok, yang lewatnya entah kapan… saking jarangnya. Angkot D 11 sudah ada, tapi belum lewat jalan Margonda, jadi kalau mau ke Kelapa Dua dari jalan Margonda harus dua kali naik angkutan umum. Naik bus Miniarta dulu sampai halte UI lalu dilanjutkan naik angkot D 11 yang berputar di Gardu. Kalau tidak ingin ikut memutar, silakan menyeberangi rel kereta lalu menunggu angkot D 11 di halte UI di seberang jalan.

Sekarang ini mau ke arah mana saja ada bus kota dari terminal Depok melalui Jalan Margonda. Ke Tanjung Priok, Kalideres, Pulogadung, Bekasi, Blok M, Grogol, Senen, Tanah Abang, sampai ke Lebak Bulus. Ada! Naik angkot ke Kampung Rambutan, Pasar Rebo, Taman Mini, Pondok Labu, atau yang paling dekat, ke PAL? Bisa! Semua lewat Jalan Margonda. Oh, tentu saja Jalan Margonda sudah lebih lebar dari pada 17 tahun yang lalu. Sudah ada dua jalur untuk masing-masing arah dipisahkan oleh pembatas jalan (Pembatas jalan itu bagiku berfungsi juga untuk menenangkan diri dulu sebelum berjuang lagi menyebrang jalur satunya, he he…).

Dulu, sepanjang Jalan Margonda pun belum banyak rumah dan toko. Banyak lahan di kiri kanan jalan masih berupa kebon mangga dan rambutan. Sekarang sudah bersalin rupa jadi apartemen, mall, restoran, show room mobil, dan ruko. Dari kampus ke pertigaan Ramanda (dulu, Ramanda adalah satu-satunya dept store di sepanjang jalan ini), jalan kaki terasa sangat jauh karena sepi, tapi masih bisa dinikmati. Kalau lagi iseng, aku masih bisa jalan kaki dari Pondok Cina ke toko buku satu-satunya di Depok, yaitu Grafiti (yang lalu tutup). Tempatnya, kemudian berganti menjadi supermarket Hero, lalu sekarang Ace Hardware. Sekarang, jalan kaki dari depan kampus UG ke Margo City saja sudah deg-degan, karena khawatir terserempet bus kota, angkot, motor, atau menyenggol wajan panas milik pedagang gorengan, martabak, fried chicken, dsb. Trotoar yang ada adalah milik para pedagang kaki lima, atau jadi lahan parkir yang punya toko atau warung… atau tempat memajang mobil bekas yang dijual. Peringatan penting bagi pejalan kaki lainnya adalah tetap awas dan waspada juga dengan pengendara motor yang melawan arus.

Toko, warung, restoran, mall, ruko, dan perumahan bermunculan di wilayah Depok, tak terkecuali di sepanjang jalan Margonda. Tentu saja makin menambah meriah suasana jalan. Kalau dulu kemacetan hanya pada hari tertentu dan jam tertentu, sekarang kemacetan bisa dinikmati kapan saja sepanjang hari sepanjang tahun… mungkin kecuali saat lebaran. Jalan Margonda Raya ibarat etalase kota Depok. Kalau mau lihat kemajuan kota Depok, lihatlah jalan Margonda. Indikator kota yang maju yang sering diukur dengan adanya mall, ruko, rumah makan terkenal, bioskop, dan sejenisnya bisa dilihat di sepanjang Margonda. Sejak menjadi kota administratif lalu menjadi kota madya, Depok memang terus menggeliat… tapi di sisi lain, Jalan Margonda Raya menjadi makin tak memadai sebagai akses utama dari dan ke Depok. Sebagai orang awam, aku sering bertanya-tanya, tidakkah sebetulnya kondisi ini bisa diperhitungkan sebelumnya?

Lalu, akhir-akhir ini sudah mulai ada pengerjaan pelebaran jalan di beberapa ruas sepanjang Margonda. Wah, mestinya para pengguna jalan Margonda sudah bisa berharap kelak tidak perlu bermacet ria jika melintas Jalan Margonda. Mahasiswa yang mau ujian tidak perlu alasan kena macet jika terlambat… Apalagi kalau jalan tol juga jadi dibangun. Pasti akan mempengaruhi tingkat kepadatan lalin di Jalan Margonda. Ah… tapi… tapi… tapi…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.