Aku mau cerita lagi. Masih tentang Wati yang kali ini mau naik kereta api. Tepatnya naik kereta api listrik. Biasa disebut KRL (Singkatan dari apa ya? K-nya kereta, L-nya listrik, tapi R-nya apa? Rel, gitu? Atau apa ya?). Dari Pondok Cina ke Juanda. KRL itu termasuk alat transportasi utama di Jabodetabek. Murah meriah. Nyaman? Belum tentu. Setidaknya sangat berperan dalam mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan yang terkenal macet ini. KRL juga favorit bagi banyak pegawai, pedagang, mahasiswa, pelajar, pengemis, pengamen, pengangguran yang sedang punya urusan. Berjasa bagi mereka yang akan pergi dan pulang bekerja, atau kuliah, atau sekolah, atau belanja, atau wisata, atau mengunjungi orang tua, atau menengok mertua, atau menjenguk menantu, atau menjemput cucu… dan masih banyak atau lainnya.
Pada Minggu pagi yang cerah. Wati berseri-seri menungguku di depan loket di Stasiun Pondok Cina. Kami memang sudah bersepakat untuk bertemu di situ. Bajunya warna merah fuhchia, menyala. Jeans coklat abu-abu (halah… warna apa pula ini? Pokoknya gitu deh) dengan sulaman bunga di sisi-sisinya. Feminin sekali. Sepatu mochasin warna abu-abu (sangat boleh jadi tadinya hitam). Topi kulit bundar warna krem. Pakai kaca mata peneduh warna coklat pula. Luar biasa. Dia mengacungkan 2 buah tiket begitu melihatku datang. “AC masih lama, jadi kita naik yang biasa aja.” Katanya. Rupanya dia sudah membeli tiket untuk kami. Naik yang biasa aja itu maksudnya naik KRL Ekonomi Non-AC.
Untuk yang belum tahu, KRL Jabodetabek, khususnya di jalur Bogor-Jakarta, ada macam-macam jenis KRL. KRL Ekonomi Non-AC, KRL Ekonomi AC, dan KRL Ekspres. KRL ekonomi berhenti di tiap stasiun yang dilewati kecuali Gambir, sedangkan KRL ekspres hanya berhenti di stasiun tertentu saja, termasuk Gambir. Tiket karcis bervariasi. Dari yang seribu lima ratus sampai sebelas ribu. Tergantung tujuan dan jenis kereta.
Kami menunggu di peron. Stasiun Pondok Cina termasuk bebas dari pedagang kaki lima, jadi peronnya lega. Aku dan Wati duduk di bangku yang terbuat dari besi rel bekas. KRL ekonomi pertama yang berhenti terlalu penuh. Banyak penumpang yang sama-sama menunggu, nekat masuk ke dalam gerbong yang pintunya tidak pernah tertutup itu. Mereka kaum yang lebih pemberani dari kami rupanya. Sementara aku dan Wati memutuskan untuk menunggu kereta berikutnya.
Kami (terutama aku) ragu bisa bernapas dengan leluasa dalam gerbong yang padat penumpang itu. Ah, jangan bilang aku manja begitu. Dengan tinggiku yang berkisar satu setengah meter, aku bisa terancam tidak mendapatkan oksigen. He he… Coba aku berdiri di antara penumpang-penumpang itu. Menghadap ke mana pun muka ini bakal mentok kalau bukan punggung, dada, atau waduh… ketiak (maaf) penumpang lain… Mau? Nggak ah. Aku pernah terjebak dalam kondisi begitu. Leherku pegel bukan main karena sepanjang perjalanan harus mendongak terus. Toh sekarang kami tidak sedang diburu waktu. Untunglah 15 menit kemudian kereta datang lagi. Penuh sih, tapi rasanya kami masih bisa berdiri dengan tegak tanpa terdesak-desak dan bisa bernapas dengan bebas. Kami pun naik. Berdiri menghadap jendela yang terbuka. Tidak terlalu dekat pintu. Hm… sempurna.
Suasana di dalam kereta boleh dibayangkan. Orang tua, anak muda, bahkan batita yang digendong atau dipangku ibunya. Laki-laki, perempuan, masing-masing dengan urusannya sendiri. Ada yang tertidur menyandar ke jendela yang bolong, ada yang merokok sambil melamun, ada yang bercengkrama dengan pasangannya tak peduli dunia, ada yang bercanda tertawa-tawa dengan teman-temannya dengan suara yang sama sekali tidak ditahan. Ada yang baca koran gossip, tabloid olah raga, atau novel. Ada yang sekeluarga asyik makan tahu goreng dengan cabe rawit (dibeli dari pedagang yang mondar-mandir di kereta juga)… Ada yang makan anggur sambil menyemburkan bijinya kemana pun dia suka. Ada yang sibuk ber-sms. Ada yang nekat berteriak-teriak di telepon. Ada yang bengong. Ada yang senyum-senyum sendiri… Mungkin sedang membayangkan jadi anggota DPR di Senayan atau terpilih menjadi menteri setelah pilpres nanti.
Begitulah, berdiri di gerbong KRL yang penuh sesak, Wati (dan aku juga sih) menemukan banyak hal menarik.
“Jeruk… yang jeruk… satu seribu, enam goceng… goceng enam, murah!”
Seorang pedagang jeruk berseru mengatasi deru roda kereta beradu dengan rel. Wati menoleh mencari si penjual, seorang pemuda kurus yang secara mengherankan sanggup mendorong dan mengangkat sekaranjang jeruk dari gerbong ke gerbong. Mungkin sudah terlatih, terbiasa.
Seorang ibu gemuk sibuk memilih. “Tujuh boleh? Kecil nih…” Katanya menawar.
“Enam dah murah, Bu… di supermarket mah nggak dapet. Ini juga ngabisin aja.” Kata si penjual. Lalu menoleh ke Wati, “Mangga neng… Boleh jeruknya.”
Wati menunjuk-nunjuk jeruk di keranjang, “Iya jeruk. Manis apa asem?” Wati bertanya.
“Ohh… Manis ini mah jeruknya… moal hanjakal. Sok lah… mangga…” Si penjual mengangsurkan tas kresek pada Wati.
“Nggak ada yang asem?” Tanya Wati lagi.
“Nggak ada. Cobain dulu boleh. Manis lah ditanggung.”
Sementara si ibu gemuk sudah selesai memilih. “Ini. Tujuh ya?” Gigih menawar rupanya ibu itu.
Si penjual mengambil kantong kresek hitam berisi jeruk hasil pilihan Si Ibu, menghitung isinya, “Ya udahlah… ngabisin,” katanya sambil menerima uang lima ribuan dan memberikan sekantong kresek jeruk itu pada si ibu yang jadi tersenyum-senyum senang.
“Gimana neng?” Sekarang si penjual bertanya pada Wati lagi. Aku melihat Si Ibu tadi sudah mengupas satu butir jeruk untuk anaknya. “Disamain lah sama Si Ibu itu.” Kata Si Penjual sambil mengatur letak jeruk di keranjangnya.
“Nggak ah. Nggak ada yang asem.” Wati menggeleng. Temanku ini sudah sibuk memperhatikan penjual asesoris yang lewat. Pernak-pernik asesoris itu direnteng sedemikian rupa. Mulai dari sisir, jepit rambut, bando, bros, sampai kalung dan liontin. Penjual jeruk sejenak terdiam menatap Wati.
Aku terpaksa harus urun suara. “Dia mah emang sukanya yang asem, Mang.” Kataku.
“Ih, si neng…” Penjual menggeser keranjangnya, menawarkan jeruk pada penumpang lainnya. Seorang pemuda mengambil sebuah lalu memberikan uang seribu. “Aneh…” Si Penjual jeruk masih heran rupanya.
Wati menoleh, “Serius, Bang. Nggak bercanda. Kalau Abang ndak jual jeruk asem ya udah.”
Sepasang suami istri (mungkin) yang duduk di depan kami tersenyum-senyum memandang Wati lalu aku. Aku terpaksa mengangguk dan tersenyum pada mereka, sementara Wati sudah sibuk memilih peniti.
Oh… Betapa aku cinta KRL… Betapa aku cinta Indonesia… Negeri yang serba ada, serba kaya…