Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published January 28th, 2010

Sardi

Sardi adalah teman kuliahku dulu. Nama aslinya tidak usah kusebutkan di sini. Dia sih tidak keberatan sebenarnya. “Malah nanti aku tambah beken.” Begitu katanya. Dia ini agak bawel orangnya. Komentarnya selalu ada saja. Tak ada yang luput dari komentarnya. Tapi dia tidak pernah menjelek-jelekkan, menghasut, apa lagi menghina. Komentarnya tak pernah bikin sakit hati, malah terkadang lucu dan menyemangati. Ketika ada teman yang berkomentar tentang Gamal yang tidak suka baca buku, Sardi meralat, “Bukan gitu… Gamal itu hanya membaca buku yang dia suka.” Prasangkanya selalu baik.

(more…)

Published May 23rd, 2009

Naik KRL Ekonomi (1)

Aku mau cerita lagi. Masih tentang Wati yang kali ini mau naik kereta api. Tepatnya naik kereta api listrik. Biasa disebut KRL (Singkatan dari apa ya? K-nya kereta, L-nya listrik, tapi R-nya apa? Rel, gitu? Atau apa ya?). Dari Pondok Cina ke Juanda. KRL itu termasuk alat transportasi utama di Jabodetabek. Murah meriah. Nyaman? Belum tentu. Setidaknya sangat berperan dalam mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan yang terkenal macet ini. KRL juga favorit bagi banyak pegawai, pedagang, mahasiswa, pelajar, pengemis, pengamen, pengangguran yang sedang punya urusan. Berjasa bagi mereka yang akan pergi dan pulang bekerja, atau kuliah, atau sekolah, atau belanja, atau wisata, atau mengunjungi orang tua, atau menengok mertua, atau menjenguk menantu, atau menjemput cucu… dan masih banyak atau lainnya.

Pada Minggu pagi yang cerah. Wati berseri-seri menungguku di depan loket di Stasiun Pondok Cina. Kami memang sudah bersepakat untuk bertemu di situ. Bajunya warna merah fuhchia, menyala. Jeans coklat abu-abu (halah… warna apa pula ini? Pokoknya gitu deh) dengan sulaman bunga di sisi-sisinya. Feminin sekali. Sepatu mochasin warna abu-abu (sangat boleh jadi tadinya hitam). Topi kulit bundar warna krem. Pakai kaca mata peneduh warna coklat pula. Luar biasa. Dia mengacungkan 2 buah tiket begitu melihatku datang. “AC masih lama, jadi kita naik yang biasa aja.” Katanya. Rupanya dia sudah membeli tiket untuk kami. Naik yang biasa aja itu maksudnya naik KRL Ekonomi Non-AC.

Untuk yang belum tahu, KRL Jabodetabek, khususnya di jalur Bogor-Jakarta, ada macam-macam jenis KRL. KRL Ekonomi Non-AC, KRL Ekonomi AC, dan KRL Ekspres. KRL ekonomi berhenti di tiap stasiun yang dilewati kecuali Gambir, sedangkan KRL ekspres hanya berhenti di stasiun tertentu saja, termasuk Gambir. Tiket karcis bervariasi. Dari yang seribu lima ratus sampai sebelas ribu. Tergantung tujuan dan jenis kereta.

Kami menunggu di peron. Stasiun Pondok Cina termasuk bebas dari pedagang kaki lima, jadi peronnya lega. Aku dan Wati duduk di bangku yang terbuat dari besi rel bekas. KRL ekonomi pertama yang berhenti terlalu penuh. Banyak penumpang yang sama-sama menunggu, nekat masuk ke dalam gerbong yang pintunya tidak pernah tertutup itu. Mereka kaum yang lebih pemberani dari kami rupanya. Sementara aku dan Wati memutuskan untuk menunggu kereta berikutnya.

Kami (terutama aku) ragu bisa bernapas dengan leluasa dalam gerbong yang padat penumpang itu. Ah, jangan bilang aku manja begitu. Dengan tinggiku yang berkisar satu setengah meter, aku bisa terancam tidak mendapatkan oksigen. He he… Coba aku berdiri di antara penumpang-penumpang itu. Menghadap ke mana pun muka ini bakal mentok kalau bukan punggung, dada, atau waduh… ketiak (maaf) penumpang lain… Mau? Nggak ah. Aku pernah terjebak dalam kondisi begitu. Leherku pegel bukan main karena sepanjang perjalanan harus mendongak terus. Toh sekarang kami tidak sedang diburu waktu. Untunglah 15 menit kemudian kereta datang lagi. Penuh sih, tapi rasanya kami masih bisa berdiri dengan tegak tanpa terdesak-desak dan bisa bernapas dengan bebas. Kami pun naik. Berdiri menghadap jendela yang terbuka. Tidak terlalu dekat pintu. Hm… sempurna.

Suasana di dalam kereta boleh dibayangkan. Orang tua, anak muda, bahkan batita yang digendong atau dipangku ibunya. Laki-laki, perempuan, masing-masing dengan urusannya sendiri. Ada yang tertidur menyandar ke jendela yang bolong, ada yang merokok sambil melamun, ada yang bercengkrama dengan pasangannya tak peduli dunia, ada yang bercanda tertawa-tawa dengan teman-temannya dengan suara yang sama sekali tidak ditahan. Ada yang baca koran gossip, tabloid olah raga, atau novel. Ada yang sekeluarga asyik makan tahu goreng dengan cabe rawit (dibeli dari pedagang yang mondar-mandir di kereta juga)… Ada yang makan anggur sambil menyemburkan bijinya kemana pun dia suka. Ada yang sibuk ber-sms. Ada yang nekat berteriak-teriak di telepon. Ada yang bengong. Ada yang senyum-senyum sendiri… Mungkin sedang membayangkan jadi anggota DPR di Senayan atau terpilih menjadi menteri setelah pilpres nanti.

Begitulah, berdiri di gerbong KRL yang penuh sesak, Wati (dan aku juga sih) menemukan banyak hal menarik.

“Jeruk… yang jeruk… satu seribu, enam goceng… goceng enam, murah!”

Seorang pedagang jeruk berseru mengatasi deru roda kereta beradu dengan rel. Wati menoleh mencari si penjual, seorang pemuda kurus yang secara mengherankan sanggup mendorong dan mengangkat sekaranjang jeruk dari gerbong ke gerbong. Mungkin sudah terlatih, terbiasa.

Seorang ibu gemuk sibuk memilih. “Tujuh boleh? Kecil nih…” Katanya menawar.

“Enam dah murah, Bu… di supermarket mah nggak dapet. Ini juga ngabisin aja.” Kata si penjual. Lalu menoleh ke Wati, “Mangga neng… Boleh jeruknya.”

Wati menunjuk-nunjuk jeruk di keranjang, “Iya jeruk. Manis apa asem?” Wati bertanya.

“Ohh… Manis ini mah jeruknya… moal hanjakal. Sok lah… mangga…” Si penjual mengangsurkan tas kresek pada Wati.

“Nggak ada yang asem?” Tanya Wati lagi.

“Nggak ada. Cobain dulu boleh. Manis lah ditanggung.”

Sementara si ibu gemuk sudah selesai memilih. “Ini. Tujuh ya?” Gigih menawar rupanya ibu itu.

Si penjual mengambil kantong kresek hitam berisi jeruk hasil pilihan Si Ibu, menghitung isinya, “Ya udahlah… ngabisin,” katanya sambil menerima uang lima ribuan dan memberikan sekantong kresek jeruk itu pada si ibu yang jadi tersenyum-senyum senang.

“Gimana neng?” Sekarang si penjual bertanya pada Wati lagi. Aku melihat Si Ibu tadi sudah mengupas satu butir jeruk untuk anaknya. “Disamain lah sama Si Ibu itu.” Kata Si Penjual sambil mengatur letak jeruk di keranjangnya.

“Nggak ah. Nggak ada yang asem.” Wati menggeleng. Temanku ini sudah sibuk memperhatikan penjual asesoris yang lewat. Pernak-pernik asesoris itu direnteng sedemikian rupa. Mulai dari sisir, jepit rambut, bando, bros, sampai kalung dan liontin. Penjual jeruk sejenak terdiam menatap Wati.

Aku terpaksa harus urun suara. “Dia mah emang sukanya yang asem, Mang.” Kataku.

“Ih, si neng…” Penjual menggeser keranjangnya, menawarkan jeruk pada penumpang lainnya. Seorang pemuda mengambil sebuah lalu memberikan uang seribu. “Aneh…” Si Penjual jeruk masih heran rupanya.

Wati menoleh, “Serius, Bang. Nggak bercanda. Kalau Abang ndak jual jeruk asem ya udah.”

Sepasang suami istri (mungkin) yang duduk di depan kami tersenyum-senyum memandang Wati lalu aku. Aku terpaksa mengangguk dan tersenyum pada mereka, sementara Wati sudah sibuk memilih peniti.

Oh… Betapa aku cinta KRL… Betapa aku cinta Indonesia… Negeri yang serba ada, serba kaya…

Published May 14th, 2009

Krisis Ekonomi Wati

Beberapa waktu yang lalu, krisis ekonomi menjadi kata yang paling banyak disebut. Di koran, TV, radio, bahkan di kafe dan warung kopi. Amerika krisis ekonomi. Indonesia krisis lagi. Aku juga krisis, berulang setiap bulan menjelang pembagian gaji. Ha ha… Tapi ini cerita tentang Wati. Walau bersama jutaan orang di seluruh dunia, berada pada situasi yang sama, dia bisa punya pemikiran berbeda, perilaku berbeda. Banyak orang bisa berteori. Banyak orang mengaku mengerti. Masalahnya, tidak banyak orang yang punya teori dan mengerti tapi mau mengamalkan ilmunya dengan sepenuh hati. Lain dengan Wati. Nggak perlu sekolah ekonomi, dengan kesadaran sendiri dia mencoba membantu mengatasi krisis.

”Hari ini kita beli kain, aku mau jahitin baju dan rok.” Ajaknya pada sore yang mendung.

”Kemana?” Tanyaku.

”Toko kain di mall yang situ itu, yang sepi…”

”Lha, nanti nggak sesuai selera?”

“Ah, cuma baju buat main aja kok.” katanya sambil beranjak ke kasir. Membayar pempek dan tekwan yang baru saja kami habiskan. Kami pun keluar dari warung dan berjalan kaki menuju mal. Cuma satu kilometer dari warung.

“Duitmu belum habis juga?” Aku pura-pura menyelidiki. Selama makan tekwan tadi, dia bercerita bahwa minggu lalu dia baru belanja ke ITC. “Cuma beli ini lho, benang sama sandal,” begitu ceritanya. “Sandalnya buat mami. Nanti kukirim lewat pos.”

“Yah… gaji bulan kemaren kan masih ada.” Jawab Wati. Kaya’nya sih bercanda. Tapi mukanya serius begitu. “Duit disimpen terus juga nggak tambah banyak kok.” Maksudnya, menyimpan uang di bank. Kalau jumlahnya sedikit, bunganya tidak bisa menutupi biaya administrasi dan sejenisnya itu jadi saldonya pasti makin berkurang terus… Daripada berkurang karena jelas-jelas diambil bank, dia belanjakan saja uangnya. “Banyak yang senang.” Lanjutnya.

Di jalan, kami mampir dulu ke Warpad. Warung Padang. Wati membeli sebungkus nasi dan sepotong ikan tongkol. ”Jangan pakai sambel jangan pakai kuah. Ikannya yang besar ya? Nasinya yang banyak.” Pesannya pada yang melayani. Aku tahu, Wati nggak doyan tongkol. ”Buat siapa?” Wati nyengir kuda. ”Oleh-oleh buat yang di rumah lah…” Itu artinya buat Felix deCat dan adik-adiknya.

Perilaku belanja Wati memang makin menjadi sejak krisis ekonomi. ”Harusnya kamu nabung!” Fani menasihati. Fani memang paling pintar menahan diri. Entah mau buat apa uangnya kalau sudah banyak nanti. ”Jaman lagi susah begini…” lanjut Fani. Fani itu teman kami juga. Sama-sama karyawan kantor yang beruntung masih belum dipecat. Belum naik gaji sih, tapi perusahaan masih membayar jerih payah kami.

”Begini ya.” Jawab Wati sungguh-sungguh atau setidak-tidaknya tampak sungguh-sungguh. ”Kalau semua orang nggak mau belanja, terus pedagang itu siapa yang beli? Kalau pedagang tutup pemasoknya juga bangkrut. Pabrik-pabrik berhenti produksi. Buruhnya banyak dipecat, gak bisa kasih makan anak istri.”

”Lagian, aku kan beli produk dalam negeri.”

Kemarin, Wati memang baru bercerita tentang tetangganya yang terpaksa menjual TV. Buat modal jualan bakmi setelah tidak bekerja di pabrik sepatu lagi.

Fani menggeleng-geleng bingung. Aku mengangguk-angguk walau belum terlalu paham. ”Apa hubungannya?” Kamu aja deh yang menerangkan kepada kami. Iya. Kamu kan yang paham dan mengerti teori ekonomi. Mikro maupun makro. Bagaimana menjelaskan perilaku Wati?

Published April 28th, 2009

Hari yang Aneh…

Sebentar. Sebelum diteruskan bacanya, aku mau kasih tahu dulu kalau ini cuma cerita. Tentang Wati. Kalau ceritanya ternyata mirip dengan kejadian sebenarnya, ini bukan kebetulan, he he… memang dimirip-miripkan. Kadang-kadang kan cerita itu memang mirip dengan kejadian sehari-hari atau sebaliknya kejadian nyata tapi mirip cerita, ya kan?

Wati itu temanku. Orang Jawa Timur. Nama panjangnya Kiswati. Nggak tahu kenapa diberi nama begitu. Temanku yang lain, yang namanya Wati semuanya orang Sunda. Tapi sungguh, ini Wati dari Jawa Timur. Jujur orangnya.  Ceplas-ceplos kalau bicara. Tak bermaksud menyakiti, tapi yang diucapkan seringkali membuat orang terkejut, mengernyit, atau justru geli.

Hari ini Wati naik mikrolet dari Pasar Minggu ke Kampung Melayu. berarti M16 warna biru telor asin. Penumpang penuh sesak. Ada pegawai, ada anak sekolah berseragam SMA, ada ibu-ibu mungkin pulang dari belanja, ada juga bapak-bapak yang entah apa profesinya. Wati duduk terdesak di pojok belakang. Mengipas-ngipas mukanya pakai majalah. “Jendelanya nggak bisa dibuka…” gerutunya. Tak ada reaksi dari penumpang lain. Aku juga cuma menoleh sebentar, lalu kembali memandang jalan di belakang angkot yang macet. Di depan mikrolet juga jalan macet. Kalau nggak macet pastilah mikrolet ini ngebut.

Sudah sepuluh menit, angkot cuma maju sepuluh meter. Wati terus mengipas-ngipas sambil memandangi penumpang lain satu persatu. “Jeng!” Dia mencolek dengkulku. Aku yang duduk di depannya nyaris terlonjak kaget. Buyar deh lamunan jadi seperti ibu-ibu bersanggul modern naik merci terbaru di belakang angkot. Tuh, wajahnya mulus, tidak mengkilat berkeringat kaya si Wati yang melotot di depanku. “Yo opo? Kapan nyampe nih?”Aku nyengir, “Macet.” Aku menjawab pelan.

“Lha iya macet! Tiap hari begini?” Tanyanya. Aku mengangguk. Ibu yang duduk di sebelah Wati menoleh, “Biasa, mbak.” Ibu itu malah tersenyum, mungkin kasihan melihat Wati tersiksa. Wati menggeleng-gelengkan kepala. “Ternyata, orang Jakarta itu suabar-suabar ya?” Maksudnya sabar banget. “Moso, pagi subuh berangkat, kejepit di angkot, kepanasan, macet, gak ada yang marah-marah. Semua nrimo.” Penumpang lainnya, nggak cuma ibu-ibu di sebelah Wati, memandang Wati tawar, lalu kembali menatap hampa entah kemana…

———

Sudah sampai Pasar Senen sekarang. Aku takut ke Pasar Senen ini, tapi Wati iseng banget pengen tahu. Jakarta itu tidak bisa dipisahkan dari pasar, katanya. Apalagi Pasar Senen. Ah nggak jelaslah alasannya, wong apa yang dia cari sebetulnya ada juga di pasar-pasar lainnya. Mungkin lho. Aku, terus terang, nggak terlalu paham apa yang dijual di Pasar Senen dan pasar-pasar lainnya. Dalam setahun, mungkin cuma 2 atau 3 kali aku masuk pasar. Itu pun pasar PAL di Kelapa Dua Depok sana. Itu pun bukan buat belanja, paling mau mengobraskan kain…

“Berapa, Bang?” Tahu-tahu Wati sudah memegang kain katun kotak-kotak di kios kain. Si Abang yang ditanya sigap mendekati. “Tiga puluh lima.” Jawabnya. “Bukan… maksud saya berapa lebarnya?” Abang penjual menarik gulungan kain dari tumpukan, “Biasa Bu…”

“Apanya yang biasa? Saya nggak tahu. Nggak biasa. Jadi berapa?” Aku diam. Mulai nih…

“Lebarnya? Oh… biasa Bu, satu lima belas.” Abang penjual berambut kriting menggelar kainnya. “Bagus Bu, katun Jepang. Halus.”

“Ah Jepang… Nggak usah Jepang-jepang. Saya suka produk dalam negeri. Kasihan industri tekstil kita. Abang mau penduduk Indonesia banyak nganggur?” Aku tertawa dalam hati. Abang penjual nyengir. “Ini motif Jepang maksudnya, mbak, dibuatnya di Tangerang.” Pintar nih Abang penjual kain. Pinter ngeles…

“Maksudnya Kerawang, Bang? Ya sudah berapa se-meter?” Wati nggak percaya keterangan Abang Padang itu, tapi nggak terlalu peduli juga. Buktinya dia nanya harga. “Tiga puluh lima, mbak. Butuh berapa?” Eh, si Abang kok manggil mbak? Nggak tahu ah.

Wati memandangku, “Kalau bikin rok-blus… lebar satu lima belas, dua setengah cukup nggak?” Aku menaksir-naksir. “Ah… tiga meter aja Bang!” Tanpa menunggu jawabanku, Wati sudah memerintah si Abang buat memotong.

“Nggak pake nawar dulu, mbak?” Sekarang ganti aku yang memandang Wati. Khawatir…

“Bang, kalau jualan yang betul dong. Maksud Abang ini apa? Katanya tiga lima, sekarang saya disuruh nawar. Maksudnya apa?” Wati kelihatan gusar.

“Namanya juga pasar, mbak, ada tawar-menawar…” Si Abang menjawab sambil mengambil kayu meteran. Siap mengukur. Wajahnya seperti tanpa dosa.

Wati menggeleng-geleng, “Jadi berapa harga sebenarnya. Jujur dong! Kalau tiga lima, bilang tiga lima. Berapa yang bener?” Aku nyaris tidak bisa menahan tawa. Kaya’ adegan Srimulat.

“Dua lima bolehlah…” Wati menggerutu nggak jelas… “Gimana sih…”

“Jadi?” Abang mengacungkan gunting. “Jadi deh!” Kupandang berganti-ganti. Abang penjual terus Wati. Dari Wati terus ke Abang kain…

Published April 1st, 2009

The Boss is (not) Always Right

Ada pertanyaan menggelitik di kelas, “Bagaimana menghadapi atasan yang menganut paham like and dislike?” “Memangnya salah ya?” Aku balik bertanya. Kelas jadi gaduh.

Aku menunjuk pada sekelompok mahasiswa yang selalu duduk bergerombol selama kuliah. “Kalian selalu saja duduk berdekatan saat kuliah.” Mereka mengangguk setuju. Aku menunjuk kelompok yang lain, “Kalian juga selalu bersama-sama. Saya pernah melihat kalian makan bersama di warung setelah kuliah.” Mereka tertawa, tapi membenarkan pernyataanku.

Kalau kita punya nilai dan prioritas dalam memilih teman kok rasanya wajar saja. Kalau kita merasa nyaman atau tidak nyaman pada suatu situasi tertentu kok juga bisa diterima. Atasan atau bawahan, setiap orang bisa punya preferensi pertemanan sendiri.

Dalam kasus atasan tidak (belum) menyukai kita, maka sebaiknya kita lah yang harus lebih banyak bekerja keras. Atasan itu pastilah lebih sibuk, lebih banyak urusan, dan lebih besar tanggung jawabnya. Dia pasti sering harus sendirian memikirkan dan mengambil keputusan (uhhh, siapa bilang jadi atasan itu gampang?). Dia seperti di puncak menara yang diterpa angin lebih kencang daripada para bawahan yang duduk-duduk di kaki menara, kan? Pada kondisi seperti itu, mana mungkin kita mengharapkan atasan kita selalu manis, menyapa ramah dan bukannya marah-marah pada kita?

Jadi hubungan bawahan-atasan tidak hanya tanggung jawab atasan. Bawahan bahkan punya andil lebih besar dalam menjalin hubungan yang lebih manis dengan atasan. Bawahan tidak bisa memilih boss sementara boss sangat mungkin memilih anak buah.

Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah bawahan yang baik adalah dengan memberikan masukan dan informasi yang diperlukan oleh atasan. Lain dengan kita, para bawahan yang bisa ngrumpi kesana-kemari. Atasan kita itu lebih terisolir dari acara semacam itu. Jadi kita bisikinlah rahasia umum yang beredar di kantor misalnya. Kita beri tahu atasan tentang berbagai hal yang mungkin berguna baginya untuk mengambil tindakan yang tepat bagi perusahaan. Bukan hanya informasinya yang harus penting tapi juga harus dengan cara yang lebih mudah diterima atasan.

Nah, jadi, kita yang harus pandai-pandai memberikan informasi yang diperlukan dan bermanfaat baginya. Dan, tentu saja dengan cara yang tepat. Jangan selalu menunggu diminta atasan. Ingatlah bahwa kita adalah bagian dari tim yang sama.

Wah, jadi mlesetin lagunya Candil sewaktu masih di Seurieus…

Boss juga manusia punya rasa punya hati… Jangan samakan dengan pisau belati…

(Rocker juga Manusia, Seurieus)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.