Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published January 7th, 2011

Dulu, Kini, dan Mimpi

“Bukankah kita semua harus membayar, apa pun pilihan kita?”

Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui Dalam Hidup Kita

Berapa banyak kesalahan yang pernah kita lakukan yang tidak kita sadari? Dari hal kecil semacam pernyataan sok tahu ketika kita remaja tentang apa yang menjadi prioritas hidup hingga perbuatan yang tanpa kita ketahui sudah mengubah jalan hidup…?

(more…)

Published December 20th, 2010

Sekolom Senyum Simon

Aku membolak-balik buku yang jelas sudah tidak baru lagi itu. Belum terlalu rusak, hanya sedikit menguning pada beberapa halaman. Tapi dalam tumpukan buku bekas yang dijual di toko itu aku tidak mendapatkan buku yang sama lagi, jadi aku ambil juga buku bersampul hijau dan biru itu. “Tak apalah.” pikirku.

(more…)

Published December 9th, 2009

Resensi Buku

Ada pengumuman di studentsite dan Wartawarga tentang lomba menulis resensi buku untuk mahasiswa Universitas Gunadarma. Sebuah berita baik bagi mereka yang suka membaca dan ingin menulis tentang apa yang sudah diperolehnya dari bacaan. Membaca (saja) memang sering kali tidak cukup, kan? Membaca tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi si pembaca, tetapi juga bisa menjadi ladang berbagi (ilmu) kepada sesama. Salah satu caranya adalah dengan menuliskan resensi atas buku yang telah selesai dibaca.

(more…)

Published December 4th, 2009

Harmonium – Mengejar Cakrawala

Setiap kali berkunjung ke rumah temanku ini, Ade, aku selalu melirik koleksi bukunya. Buku-bukunya memang bertebaran di mana-mana… rak buku di sana, rak buku di sini… tumpukan buku di sana, tumpukan buku di sini… Aku terutama tertarik pada buku-buku lamanya. Koleksi yang dikumpulkan oleh ayahnya dan dia sendiri barangkali, sejak bertahun-tahun yang lalu.

harmonium-budi-darmaLalu aku mendapati buku ini. Harmonium. Wah… sepertinya menarik nih. Temanku tertawa melihatku memicingkan mata membaca judul bukunya. Aku bilang padanya alasanku tertarik pada buku itu. Pertama, judul bukunya mengandung namaku, he he… Kedua, penulisnya Budi Darma. Ketiga, harmonium itu apanya akuarium? ”Teuing ahSok lah dibawa kalau mau baca mah,” temanku ini tertawa. Dia tidak khawatir kalau aku yang meminjam bukunya, he he…

Budi Darma adalah novelis, cerpenis, kritikus, dan guru besar Ilmu Sastra pada IKIP Surabaya. Karyanya selalu menarik. Olenka, Orang-orang Bloomington, dan Kritikus Adenan adalah beberapa karyanya yang sudah terbit. Tentu masih banyak lagi novel, cerpen, dan esai-esai yang telah dipublikasikan. Termasuk cerpennya yang dimuat di Kompas Minggu, misalnya.

(more…)

Published October 29th, 2009

Arsitektur dan Perilaku Manusia

Maaf ya kalau judulnya saja yang keren. Tulisannya sama sekali tidak secanggih itu, karena isinya memang hanya uneg-uneg orang yang tidak paham apa itu arsitektur dan apa pula perilaku manusia. Dua-duanya bidang yang sulit untukku. Aku cuma membaca judul sebuah buku yang ditumpuk di bagian ”Borong Buku” di sebuah pameran yang menampilkan banyak penerbit dan perpustakaan di Istora Senayan, beberapa hari lalu. Buku yang dijual di bagian ini didiskon sampai dengan 80%. Pada kesempatan seperti ini, aku biasanya membeli buku yang jika dijual dengan harga ”normal” terpaksa tidak kubeli. Maklum, anggaran terbatas.

(more…)

Published October 26th, 2009

Bukuku Riwayatmu…

Beberapa waktu yang lalu, aku membongkar isi rak buku. Sudah lama buku-buku itu menjejali rak yang kelihatan makin sarat saja. Aku keluarkan semua buku dan aku angin-anginkan. Mencoba mengusir kelembaban yang sudah jadi ciri khas negara tropis seperti Indonesia ini. Kelembaban yang tinggi bisa jadi musuh buku. Begitu juga kutu. Bisa membuat buku berbau apak, berjamur atau berlubang-lubang.

buku buku dan bukuSambil menyusun buku kembali setelah diangin-angin, aku membuka satu persatu bukuku… Beberapa masih ada label harga dari toko tempat aku membeli. Beberapa lagi ada tulisan dan tanda tangan dari yang memberi… Aku jadi mengingat-ingat, tidak hanya apa isi buku tapi juga riwayat dari mana buku-bukuku itu berasal. Hm…

Aku tahu, sekarang ini jamannya internet. Harga buku pun bukannya makin murah. Belum lagi penyimpanan yang membutuhkan tempat dan pemeliharaan yang perlu tenaga ekstra. Tapi membaca buku ternyata tetap lebih mengasyikkan buatku… Bisa dilakukan di mana saja, kapan saja.

(more…)

Published September 27th, 2009

Who Moved My Cheese?

Keputusan tersulit adalah berpindah dari kondisi yang “aman dan nyaman” ke situasi yang “entah bagaimana”. Bahkan jika sebenarnya kita tahu persis kondisi yang kita kira “aman dan nyaman” itu sudah berubah.

Orang bilang bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Tapi kalimat itu justru seringkali tidak dianggap sebagai peringatan untuk siap berubah. Lebih sering kita mengingat kalimat itu sebagai alasan untuk diam dan tidak melakukan sesuatu. Memaklumi keadaan. “Habis mau bagaimana lagi? Apa boleh buat…!” Lalu kita menghibur diri dengan berharap bahwa nasib baik akan kembali lagi. Roda berputar lagi… Atau lebih parah, setelah terkejut karena perubahan yang tidak kita kehendaki, kita meratap dan bersikukuh mengatakan bahwa seharusnya kondisinya tidak demikian…

(more…)

Published June 3rd, 2009

Sleepers - dan kanak-kanak yang hilang

Kanak-kanak

Seorang kanak-kanak bahagia

Karena ketidaktahuannya

Tapi dia tak bisa apa-apa

Sebab kanak-kanaknya itu

Dia tidak bisa menolak

Bukan karena dia mau menerima segala

Melainkan karena dia hanya seorang kanak-kanak.

Buku ini menceritakan bagaimana sebuah peristiwa bisa menyebabkan luka. Luka yang terus menerus menganga. Mungkin sudah tidak berdarah, tapi tetap menyisakan nyeri yang tak kunjung hilang. Keceriaan dan kenakalan kanak-kanak yang terenggut tiba-tiba. Saat mereka belum lagi menyadari apa sesungguhnya arti setiap laku dan setiap tindakan, kecuali keceriaan masa kecil. Di sela-sela hidup yang serba terbatas di lingkungan yang keras macam distrik Hell’s Kitchen di kota New York.

Sleepers dikategorikan sebagai buku non-fiksi yang berarti bahwa buku ini ditulis sebagai suatu kisah nyata. Carcatera menuliskan bagaimana situasi jalanan di distrik Hell’s Kitchen New York. Bagaimana empat kanak-kanak bermain dan bertumbuh bersama di sana. Lorenzo “Shakes” Carcaterra, Thomas “Tommy” Marcano, Michael “Mike” Sullivan dan John Reilly adalah empat sahabat karib. Kemudian ada Carol Martinez yang membuat mereka lebih lengkap sebagai kawanan yang asyik. Dan jangan lupa, Father Bobby yang luar biasa. Sesungguhnya Father Bobby merupakan ”ayah” bagi mereka semua. Selain keluarga yang seringkali tidak sempat mengawasi mereka, atau King Benny yang menguasai wilayah, anak-anak ini punya Father Bobby sebagai sahabat yang dengan ketulusan dan keprihatinan siap melindungi mereka. Sesungguhnya, pada awalnya hidup tidak terlalu buruk bagi mereka.

Tapi suatu peristiwa terjadi. Kenakalan yang sembrono membuat keempat sekawan itu harus dikirim ke Wilkinson Home for Boys (Mungkin, di Indonesia tempat itu disebut sebagai Lembaga Pemasyarakatan Anak). Dan apa yang terjadi di sana? Kenakalan mereka dibayar dengan sangat mahal. Lebih gelap, lebih perih, lebih menyakitkan. Tak terlupakan. Mereka bisa keluar dari lembaga rehabilitasi itu dan tumbuh menjadi dewasa. Tapi luka sudah mengoyak jiwa. Mereka bukan lagi orang yang sama.

Carcatera adalah penulis Amerika yang lahir di Hell’s Kitchen New York tahun 1954. Menurutku dia penulis bagus. Bukunya yang lain adalah A Save Place, yang seperti Sleepers, juga diklaim sebagai kisah nyata. Diklaim? Ya, beberapa orang meragukan bahwa apa yang ditulisnya adalah otobiografi. Terlepas dari apakah bukunya ini fiksi atau bukan, Carcatera adalah pencerita yang bagus.

Berdasarkan buku ini telah dibuat film dengan judul yang sama. Aku sempat nonton juga. Dan keluar dari bioskop masih dengan mata bengkak karena menangis. He he… Tapi siapa yang bisa menyangkal jika kenyataan kadang memang pahit. Ketika Tommy dan John memutuskan bahwa membalas dendam mungkin membuat jiwanya sedikit lega, aku menahan getir. Harus seperti itu? Dalam film, Robert de Niro sangat mengesankan sebagai Father Bobby. Dibandingkan dengan Brad Pitt yang tampan yang berperan sebagai Mike, harus kuakui bahwa akting de Niro dalam film itu lebih mempesona.

Judul: Sleepers

Penulis: Lorenzo Carcatera

Kategori: Kisah Nyata

Penerbit: Random House Publishing Group

Tahun: 1996

Published June 1st, 2009

Norwegian Wood

Apakah sebuah lagu mengingatkanmu pada suatu peristiwa? Atau sebaliknya: sebuah kejadian mengingatkanmu pada suatu lagu tertentu?

Dalam film, theme song seringkali menjadi bagian yang penting dan tak terpisahkan dari cerita atau karya film itu sendiri. Bahkan dalam festival film, theme song itu diapresiasi juga dengan menjadikannya kategori penghargaan tersendiri untuk diperebutkan.

Lagu memang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Terlepas dari jenis, genre, dan alirannya, setiap orang tampaknya punya lagu kenangan sendiri. Lagu yang menandai suatu babakan penting dalam hidupnya. Begitu pula dengan Toru Watanabe.

Mendengar lagu Norwegian Wood dari The Beatles dilantunkan secara instrumentalia di kabin pesawat Boeing 747 yang mendarat di Hamburg, Watanabe merasa gundah luar biasa. Begitu dahsyat kenangan itu menyerbu. Serta merta dia terlempar ke masa hampir 20 tahun lalu. Saat-saat dia kuliah di Tokyo. Saat dia terombang-ambing dalam pertemanan yang rumit, seks bebas, minuman keras, kesepian, dan rasa hampa. Dan terutama sekali, dia terkenang pada cinta pertamanya, Naoko, yang kebetulan adalah juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Sampai saat kemudian dia berjumpa dengan seorang gadis di kampusnya, Midori.

Haruki Murakami adalah pengarang Jepang kelahiran Kyoto tahun 1949 namun besar di Kobe. Murakami telah memenangkan banyak penghargaan atas karya-karyanya. Sempat hijrah ke Amerika dan menjadi peneliti di Universitas Princenton sebelum akhirnya kembali ke Jepang dan menetap di Tokyo.

Dalam Norwegian Wood ini, rasanya Murakami berhasil menggambarkan gejolak masa remaja (Jepang) dengan begitu memukau dan menghanyutkan. Dengan gamblang dia menceritakan bagaimana perasaan terdalam orang muda yang bebas tetapi juga suram. Walau demikian banyak bagian yang membuat kita bisa tersenyum. Percakapan blak-blakan dan rinci, sarat dengan perumpamaan yang ganjil untuk hal-hal yang juga ganjil seringkali mengejutkan. Membaca buku ini, perasaanku seperti berayun dialun gelombang, tenang menghanyutkan, kadang kocak, seringkali mengharukan. Diiringi lagu-lagu pop tahun 1960-an.

Orang-orang yang lewat memandang kami dengan padangan aneh, tetapi aku sudah tidak memedulikannya. Kami hidup, dan kami hanya harus memikirkan semata-mata bagaimana melanjutkan hidup (hal 549).

Kizumi dan Naoko memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Hidup terlalu membingungkan buat mereka, barangkali. Dan sepi.

”Jangan mengasihani diri sendiri,” kata Nagasawa-san kepada Watanabe.

”Berbahagialah,” kata Reiko-san.

Tapi, Midori si badung lah yang kemudian membuat Watanabe harus memilih masa depan atau masa silam.

Judul: Norwegian Wood (Judul Asli: Noruwei no Mori)

Pengarang: Haruki Murakami

Kategori: Novel

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta

Tahun: 2005

Published April 18th, 2009

Trilogi Ashadi: Cinta Mahasiswa

“Mahasiswa adalah mahluk ajaib, bisa melakukan hal-hal yang ajaib.” Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Ashadi Siregar. Aku tersenyum-senyum mendengar pernyataannya sekian tahun yang lalu itu. Dalam suatu pelatihan jurnalistik kampus yang aku ikuti, Ashadi Siregar, dosen FISIP UGM sekaligus penulis novel itu berkata di depan mahasiswa peserta dari berbagai fakultas di UGM dan perwakilan mahasiswa PT lain di Jogja. Beliau memberikan beberapa contoh ‘keajaiban’ yang dilakukan mahasiswa sebelum membedah persoalan pers mahasiswa. Aku tersenyum-senyum karena sebenarnya itu juga yang kupikirkan ketika pertama kali membaca novelnya.

Saat itu, aku yang masih SMP atau SMA mencuri-curi baca novel milik kakakku. Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir. Rangkaian kisah mahasiswa bernama Anton Rorimpandey dengan Erika di Jogja, Tody dan Irawati, hingga Widuri yang hijrah ke Jakarta lalu bertemu Joki Tobing. Dalam novel popular itu aku mendapat kesan bahwa mahasiswa itu hebat, terlebih lagi ajaib.

Ketika akhirnya aku jadi mahasiswa, yang pertama-tama kulakukan adalah mengecek lokasi. Ke Gedung Pusat, Bunderan UGM, Balairung, Asrama Mahasiswa, dan tempat-tempat yang disebutkan Ashadi dalam novelnya. Di sini keajaiban itu dilakukan? Apakah tempat bernama kampus itu yang menyebabkan mahasiswa menjadi mahluk ‘berbeda’? Ruang-ruang kelas berjendela lebar dengan bangku-bangku kayu coklat kusam penuh coretan, apa bedanya dengan ruang kelasku di SMA dulu? Bangku beton di bawah naungan pohon cemara di halaman kampus itu tidak istimewa, dingin, jauh dari mewah. Tapi di situ sekumpulan mahasiswa asyik mengobrol, diskusi, bahkan mungkin bertengkar atau merenung…

Takjub berikutnya adalah perbedaan perlakuan. Pada kuliah hari pertama, sang dosen menyapa, “Selamat pagi saudara-saudara!” Wah, aku bukan anak-anak lagi, pikirku. Aku, kami, mahasiswa, disapa sebagai sesama dewasa. Tapi itu juga membawa konsekuensi. Begitu menjadi mahasiswa, maka semua keputusan dan tindakan adalah tanggung jawab pribadi. Tak peduli masih tergagap-gagap hidup sendiri merantau, belum fasih mengatasi perbedaan budaya dan bahasa, bingung mengatur uang saku pas-pasan dan belum canggih mengatur jadwal kuliah dan praktikum. “Sekarang kamu mahasiswa!” Begitulah. Mahasiswa harus tanggap situasi dan kondisi, berpikir cepat, mandiri, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Merengek bukan tempatnya, lari dari tanggung jawab apalagi.

Bertahun-tahun kemudian, aku menemukan novel karya Ashadi Siregar itu lagi. Sudah dicetak ulang oleh penerbit yang berbeda (dulu Gramedia sekarang GagasMedia) dalam format yang lebih kecil dan ilustrasi sampul yang lebih ‘muda’. Aku tak tahan untuk tidak membaca ulang. Nostalgia. Ha ha…

Sekarang, aku masih menganggap bahwa menjadi mahasiswa tetaplah ‘ajaib’. Banyak kesempatan bisa dilakukan oleh mahasiswa. Disadari atau tidak, mahasiswa punya kedudukan istimewa. Kalau mahasiswa protes, mereka dianggap mewakili idealis yang murni dan tidak tercemari kepentingan selain kebenaran. Kata-katanya seringkali lebih didengar dari doktor ahli sekali pun. Coba yang teriak-teriak itu kumpulan sarjana, pasti dianggap sedang frustasi karena terlalu lama menganggur.

Saat kubaca kembali Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir, aku membayangkan mahasiswa sekarang. Situasi dan kondisi memang agak berbeda. Barangkali perhatian, fokus, dan nilai yang dianut juga ada yang berbeda, tapi setidaknya aku menangkap ada persoalan yang sama: keresahan menghadapi masa depan yang tak pasti.

Judul Buku: Cintaku di Kampus Biru (pernah difilmkan dan dibuat sinetronnya dengan judul yang sama)

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan X)

Judul Buku: Kugapai Cintamu (pernah difilmkan dan dibuat sinetronnya dengan judul yang sama)

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan IX)

Judul: Terminal Cinta Terakhir

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan VI)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.