Ati Harmoni

Sentimental Journey…


Published August 12th, 2009

Ada yang Mis Walau Sudah Diprepar…

Pukul duabelas kurang limabelas, Wati melirik arlojinya. Wati sedang terperangkap dalam suatu rapat yang menjengkelkan. Terperangkap? Menjengkelkan? Begitulah. Karena rapat terlambat tigapuluh menit dari seharusnya. Dan…

Wati gelisah, jemari mulai iseng memilin-milin kertas notes menjadi gulungan kecil. Lho untuk apa? Untuk menggelitik telinganya yang mulai gatal menangkap semua kata yang berhamburan di udara. Mereka yang berbicara di rapat ini rupanya hanya sibuk memungut susunan huruf yang mungkin ada di dunia sehingga timbullah kalimat semacam ini:

(more…)

Published June 23rd, 2009

Curhat dan Balita

“Aku mau curhat.” Seseorang nyaris berteriak dari ujung telepon. Aku tentu saja cuma bisa terhenyak. Agak kaget. Bukan karena isi curhat-nya, tapi karena suaranya yang cempreng sempat agak menusuk telinga, he he… Oh, isi curhat tentu tidak bisa dibuka di sini. Tidak semua curhat bisa, boleh, atau harus dibuka kepada semua orang toh?

Aku hanya ingin mengingat-ingat kata curhat itu. Pada awalnya curhat merupakan bentuk akronim dari curahan hati. Entah bagaimana asal-usulnya sehingga terbentuk akronim tersebut. Kita sudah terbiasa dengan pembentukan akronim yang amburadul karena memang tidak ada kaidah pembentukan akronim (anggap saja begitu karena kenyataannya, kalau pun ada, tidak selalu diikuti). Sekarang ini, aku ingin membicarakan penggunaan akronim tersebut dalam kalimat. Soalnya, penggunaan atau penempatan akronim dalam kalimat secara serampangan bisa mengganggu pola berpikir kita.

Seandainya curhat itu adalah akronim dari curahan hati, yang berarti kata/frasa benda, maka pola kalimat temanku di atas seharusnya:

Aku mau menyampaikan curhat.

Tetapi, nampaknya, pada kalimat temanku itu, curhat bukan lagi akronim dari curahan hati, tetapi mencurahkan (isi) hati. Jika memang demikian, kita anggap curhat itu adalah akronim dari mencurahkan (isi) hati yang berarti kata/frasa kerja, maka kalimat ”Aku mau curhat” sudah benar. Tidak perlu koreksi, he he…

Barangkali, penggunaan atau penempatan akronim dalam kalimat yang kurang tepat dimulai dari kurangnya pemahaman kita akan kategori atau kelas kata: kata benda, kata kerja, atau kata keterangan. Misalnya, balita yang merupakan akronim bawah lima tahun adalah kata keterangan. Dalam kalimat seringkali akronim tersebut ditempatkan seolah-olah kata benda:

Balita itu terjangkit demam berdarah.

Seharusnya, akronim balita tersebut didampingkan kepada sebuah kata benda dulu agar bisa mengisi suatu kalimat sebagai kata benda, misalnya:

Anak balita itu terjangkit demam berdarah.

Lho kok, aku jadi membahas penggunaan akronim dalam kalimat. Kalau begitu, aku mau menerima curhat temanku dulu ya!


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.