<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Ati Harmoni</title>
	<atom:link href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati</link>
	<description>Sentimental Journey...</description>
	<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 00:17:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kebutuhan dan Keinginan</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/03/09/kebutuhan-dan-keinginan/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/03/09/kebutuhan-dan-keinginan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 00:17:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita dari kelas]]></category>

		<category><![CDATA[Gado-Gado]]></category>

		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<category><![CDATA[needs]]></category>

		<category><![CDATA[wants]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Sepotong percakapan dari sekelompok mahasiswa:
A: Apa yang kamu butuhkan saat lapar?
B: Makan lah&#8230;
C: Makan dong&#8230;
A: Lalu untuk makan siang nanti kamu ingin apa?
B: Nasi, sayur asem, tempe goreng, ikan asin plus sambal lalab. Hmmm&#8230;
C: Pizza. Pizza dengan pinggiran keju. Uhhuuiii&#8230; pasti enak. Kamu?
A: Aku pengen gado-gado. 
Tak dinyana percakapan menjelang siang berlanjut. Sesekali terdengar derai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepotong percakapan dari sekelompok mahasiswa:</p>
<p><em>A: Apa yang kamu butuhkan saat lapar?</em><br />
<em>B: Makan lah&#8230;</em><br />
<em>C: Makan dong&#8230;</em><br />
<em>A: Lalu untuk makan siang nanti kamu ingin apa?</em><br />
<em>B: Nasi, sayur asem, tempe goreng, ikan asin plus sambal lalab. Hmmm&#8230;</em><br />
<em>C: Pizza. Pizza dengan pinggiran keju. Uhhuuiii&#8230; pasti enak. Kamu?</em><br />
<em>A: Aku pengen gado-gado.</em> </p>
<p>Tak dinyana percakapan menjelang siang berlanjut. Sesekali terdengar derai tawa panjang. Para mahasiswa terus mengobrol sambil menikmati lapar yang pelan-pelan membelokkan pembicaraan dari tugas membuat makalah tentang &#8220;kebutuhan dan keinginan&#8221; menjadi diskusi tentang menu makan siang.</p>
<p>A - yang sepertinya punya bakat jadi pemimpin - mulai bicara lagi.<br />
<em>A: Korupsi. Pangkalnya dari keinginan. Bukan kebutuhan.</em><br />
<em>B: Iya, kalau soal butuh semua orang butuh makan.</em><br />
B - yang kelihatannya sudah lapar betul - menimpali.<br />
<em>C: Hmm&#8230; tapi ada yang korupsi karena memang perlu.</em><br />
<em>B: Masa? Kan keinginan itu kita yang bikin?</em><br />
<em>A: Iya&#8230; kaya makan tadi, semua orang butuh makan, tapi makan apa kan mestinya disesuaikan dengan selera dan&#8230; terutama kantong masing-masing.</em></p>
<p>Wah dari makan siang pembicaraan sampai juga ke korupsi. Sayang, aku harus berlalu dari situ&#8230; Kalau tidak, mungkin aku bisa mendengar lebih banyak diskusi menarik. He he&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/03/09/kebutuhan-dan-keinginan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kursi Mantan Banggar Wati</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/02/07/kursi-mantan-banggar-wati/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/02/07/kursi-mantan-banggar-wati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 04:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Wati]]></category>

		<category><![CDATA[Gado-Gado]]></category>

		<category><![CDATA[banggar]]></category>

		<category><![CDATA[DPR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1327</guid>
		<description><![CDATA[
Wati memicing ke kanan dan ke kiri. Berputar mengelilingi ruangan. Menatap dinding yang dihiasi gambar pemandangan yang digunting dari kalender lama, lalu kembali ke mejanya lagi. Duduk dan berdiri beberapa kali… Kemudian menghenyakkan tubuhnya – yang tetap langsing berkat lari pagi setiap hari – di kursi tua yang ada dibalik mejanya.
Aku yang mengawasi dari sudut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal">Wati memicing ke kanan dan ke kiri. Berputar mengelilingi ruangan. Menatap dinding yang dihiasi gambar pemandangan yang digunting dari kalender lama, lalu kembali ke mejanya lagi. Duduk dan berdiri beberapa kali… Kemudian menghenyakkan tubuhnya – yang tetap langsing berkat lari pagi setiap hari – di kursi tua yang ada dibalik mejanya.</p>
<p class="MsoNormal">Aku yang mengawasi dari sudut ruangan cuma bisa diam menunggu. Wati sudah mencorat-coret kertas bekas. Aku melongok sejenak, mengintip apa sih yang dia tulis atau gambar di kertas yang sudah penuh coretan. “Non!” Akhirnya Wati angkat bicara. “Aku mau renovasi ruangan ini.” Wati mengacungkan gambar denah ruangan yang dicoret-coretnya di kertas bekas.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-1327"></span>Aku tertawa terbahak-bahak. “Kok ikut-ikutan Banggar?” Tanyaku. Tumben toh. Wati kan biasanya gengsi kalau sekedar mengekor ide orang lain. Lagian… aku memandang sekeliling ruangan kerjanya…<span> </span>“Lihat ini!” Seru Wati. “Kursiku sudah lebih dari dua puluh tahun lho nggak pernah ganti.” Wati berkata sambil menepuk-nepuk sandaran tangan kursinya. “Masih kuat kan? Tapi sudah tidak pantas…” Aku menghela nafas… tapi bukan cuma kursi di ruangan itu yang sudah tua. Mejanya, lemari arsipnya, rak bukunya, bahkan rautan pinsilnya pun masih sama seperti dulu, ketika aku pertama kali melihatnya… Lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Memang pantas sih kalau diremajakan lagi… Apalagi mengingat jabatan Wati kini…</p>
<p class="MsoNormal">“Sebetulnya aku nggak tega juga menggantinya, Non.” Wati seperti bisa membaca pikiranku. “Semua yang ada di ruangan ini masih layak pakai walau kurang wah.”</p>
<p class="MsoNormal">“Lalu?”</p>
<p class="MsoNormal">“Tapi kursi yang nggak jadi dibeli untuk Banggar bagaimana? Karpet yang tidak jadi dipasang buat apa? Lukisan yang tidak jadi ditempel untuk apa?” Wati berkecak pinggang. Lalu, “ Apa kamu tahu siapa importir kursinya? Pengusaha Indonesia lho… Importir karpetnya? Pengusaha Indonesia juga lho… Terus lukisan itu… Pelukisnya juga seniman Indonesia! Dibeli dari galeri milik orang Indonesia! Apa kamu nggak kasihan sama mereka? Mereka bangsa kita juga lho… Aku harus membeli kursi, karpet, lukisan, dan sebagainya itu!”</p>
<p class="MsoNormal">Aku menggeleng-gelengkan kepala. Luar biasa Wati ini. Rasa solidaritasnya patut diacungi jempol. Tapi nggak lama kemudian Wati menghela nafas…</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>“Non, memangnya mengembalikan barang yang sudah dibeli itu apa tidak melanggar kontrak? Apa tidak kena pinalti? Apa membeli lagi itu gampang? Kan harus tender ulang…. Nah siapa itu yang nanti dapat proyek pengadaan barang yang baru? Nanti kalau asal pilih pengusaha mebel dan ternyata kursinya cepet rusak, apa nggak ongkos lagi? Beli lagi? Dicemooh lagi?”</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Aku nggak tahu… Kok tanya aku? Kalau aku juga harus ngurusin kursi dan lain-lainnya mereka yang terhormat, wadduuuhhh… pusing! Aku kan maunya diurusin mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/02/07/kursi-mantan-banggar-wati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jarum dalam Jerami</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/01/31/jarum-dalam-jerami/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/01/31/jarum-dalam-jerami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 01:33:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado-Gado]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1320</guid>
		<description><![CDATA[Bak mencari jarum di antara tumpukan jerami. Begitu kata pepatah untuk menggambarkan betapa sulitnya pekerjaan itu untuk dilakukan.
Tetapi jika diminta untuk memilih: mencari jarum di antara tumpukan jerami atau mencari jarum di antara tumpukan jarum, mana yang lebih mudah?

Mencari suatu barang di antara barang yang sejenis tentu lebih sulit. Bayangkan mencari jarum di antara ratusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bak mencari jarum di antara tumpukan jerami</strong>. Begitu kata pepatah untuk menggambarkan betapa sulitnya pekerjaan itu untuk dilakukan.</p>
<p>Tetapi jika diminta untuk memilih: <em>mencari jarum di antara tumpukan jerami</em> atau <em>mencari jarum di antara tumpukan jarum</em>, mana yang lebih mudah?</p>
<p><span id="more-1320"></span></p>
<p>Mencari suatu barang di antara barang yang sejenis tentu lebih sulit. Bayangkan mencari jarum di antara ratusan atau ribuan jarum yang sama bentuk dan rupanya&#8230; Kecuali jarum yang kita cari sudah ditandai, atau berbeda ukurannya, atau berbeda warnanya, mustahil untuk menemukan jarum yang dimaksud. Seribu tahun pun tak kan ketemu!</p>
<p>Hal yang sama pada kita&#8230; Jika ingin mudah ditemukan, dilihat, dan diingat maka kita mesti berbeda dengan orang lain. Di antara karyawan, apa bedanya kita dengan karyawan lainnya? Pikirkan para pimpinan kita itu. Bagaimana mereka akan &#8220;mencari&#8221; dan &#8220;menemukan&#8221; kita jika kita sama saja dengan karyawan lain?</p>
<p>Itu sarapan yang kudengar pagi ini. Aku jadi mikir, apakah aku sudah lebih banyak memikirkan apa kelebihan dan prestasiku dibandingkan dengan yang lain? Apakah aku sudah lebih berusaha untuk mengasah kemampuan dan kemauan untuk bekerja keras dan bekerja lebih cerdas agar bisa dilihat oleh pimpinan? Atau masih saja mengeluhkan situasi dan kondisi pekerjaan yang tak kunjung maju?</p>
<p>Hm&#8230; Sarapan yang lumayan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/01/31/jarum-dalam-jerami/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Ibu (yang hilang)&#8230;</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/01/04/dunia-ibu/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/01/04/dunia-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 10:13:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buku kubaca]]></category>

		<category><![CDATA[Korea]]></category>

		<category><![CDATA[Kyung Sook Shin]]></category>

		<category><![CDATA[Marianne Katoppo]]></category>

		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<category><![CDATA[Please Look After Mom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1308</guid>
		<description><![CDATA[
Buku tentang - atau sedikitnya berkaitan dengan – Korea, yang pertama kali kubaca adalah karya Marianne Katoppo (Dunia Tak Bermusim, 1984, Penerbit Sinar Harapan). Sudah bertahun-tahun yang lalu. Sejak itu aku bertanya-tanya, apakah ada buku karya pengarang Korea diterbitkan di Indonesia? Baru beberapa hari lalu aku menjumpainya. Mungkin karena tidak secara khusus mencarinya, sehingga tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Buku tentang - atau sedikitnya berkaitan dengan – Korea, yang pertama kali kubaca adalah karya <em>Marianne Katoppo (<strong>Dunia Tak Bermusim</strong></em>, 1984, Penerbit Sinar Harapan). Sudah bertahun-tahun yang lalu. Sejak itu aku bertanya-tanya, apakah ada buku karya pengarang Korea diterbitkan di Indonesia? Baru beberapa hari lalu aku menjumpainya. Mungkin karena tidak secara khusus mencarinya, sehingga tidak menemukannya selama ini. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku senang ketika akhirnya aku mendapatkan karya <strong>Kyung Sook Shin</strong> ini di toko buku Gramedia Depok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> <span id="more-1308"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"><strong>Ibu Tercinta</strong> adalah novel pertama Kyung Sook Shin yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan ke sembilan belas negara. Aku tidak tahu apakah edisi bahasa Indonesia ini diterjemahkan dari bahasa aslinya atau dari terjemahan bahasa Inggrisnya. Bagaimanapun ceritanya tetap menarik dibaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Novel ini mengisahkan tentang perempuan yang hilang di tengah hiruk pikuknya stasiun kereta bawah tanah di Seoul. Sepasang suami isteri yang sudah tua berniat mengunjungi anak-anak mereka di kota. Sang ayah bergegas masuk ke gerbong kereta dan mengira sang isteri mengikutinya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa isterinya tidak ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Seminggu – dua minggu hingga berbulan-bulan kemudian usaha pencarian dilakukan. Ribuan selebaran ditempel dan dibagikan, <span> </span>tetapi sang ibu tidak kunjung ditemukan. Sejak itulah anggota keluarga yang kehilangan – suami, anak-anak, ipar – menyadari betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka, dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok ibu&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Satu per satu kenangan bermunculan dan menyadarkan mereka bahwa selama ini mereka tak sungguh-sungguh memperhatikan sang ibu dan memandang ibu hanya sebagai seseorang yang “memang seharusnya begitu.” Semua yang dikerjakan ibu memang tugasnya demikian. Tak pernah sekali pun menyadari bahwa ibu, sebagai mana mereka sendiri, punya perasaan, harapan, dan impian, bahkan rahasia yang (terpaksa?) harus disimpannya sendiri. Dan&#8230; memang, kadang kita baru tersadar betapa berharganya apa yang kita miliki justru ketika kita sudah kehilangan&#8230; lalu kita menyesal bahwa kita tidak sempat melakukan sesuatu yang sepantasnya untuk yang telah pergi… <span> </span>selalu berusaha memperbaharui janji kita tetapi selalu pula luput memenuhinya karena kesibukan atau bahkan lupa&#8230; menganggap ada kali lain dan kesempatan lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Putri tertuanya, Chi-hon, seorang novelis yang berhasil, merasa bersalah selalu bersikap tak sabar pada ibunya, menganggapnya bodoh dan masih percaya tahayul. <span> </span>Hyong-chol, putra sulung yang sangat dibanggakan dan diharapkan ibunya menjadi jaksa, merasa bersalah karena selalu berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih baik dan nyaman bagi ibunya. Berulang kali dia memperbaharui janjinya, tapi lambat laun janji itu terlupakan. <span> </span>Ayah, sang suami, juga menyesal karena telah bersikap egois, kurang peduli, dan jauh di lubuk hatinya, mungkin, merendahkan isterinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Bagaimana pun kehidupan tampaknya berjalan terus, walau tidak pernah sama seperti dulu lagi. setiap anggota keluarga kemudian harus berupaya mengatasi trauma kehilangan. Tapi setidaknya mereka sekarang lebih menghargai apa yang telah dilakukan ibu pada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Buku setebal 293 halaman ini menarik untuk dibaca. Termasuk karena gaya bercerita Shin yang merangkai kisah ini dari 4 sudut pandang yang berbeda, Chi-hon – , sang novelis, Hyong-chol, putra sulung, suami, dan si ibu sendiri&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Sebetulnya, buku ini bisa lebih nyaman lagi dibaca jika tidak ada kesalahan pengetikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Judul buku: <strong>Ibu Tercinta</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Judul Asli: <em>Please Look After Mom</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Pengarang: Kyung Sook Shin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Tahun: 2011</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: left" align="left"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Jumlah halaman: 293</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2012/01/04/dunia-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Percakapan Pagi dan Petang (2)</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/12/22/percakapan-pagi-dan-petang-2/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/12/22/percakapan-pagi-dan-petang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 07:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rasa Bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1293</guid>
		<description><![CDATA[Prolog
Sepi ini begitu mengiris, kataku
Tataplah mataku, katamu
Aku tak setajam itu

Pergilah kemana hatimu menyeru, kataku
Dan genggamlah tanganku, katamu
Aku tak seyakin itu
Epilog
Seharusnya aku tulis cerita ini di tahun-tahun yang lalu
Saat ingatan masih menempel ketat di benak
Saat setiap kejadian tak mungkin terlewatkan
Atau sengaja dilupakan
Seharusnya aku tulis cerita ini di tahun-tahun yang lalu
Saat kamu masih punya sedikit rasa percaya
Saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Prolog</strong><br />
Sepi ini begitu mengiris, kataku<br />
Tataplah mataku, katamu<br />
Aku tak setajam itu</p>
<p><span id="more-1293"></span></p>
<p>Pergilah kemana hatimu menyeru, kataku<br />
Dan genggamlah tanganku, katamu<br />
Aku tak seyakin itu</p>
<p><strong>Epilog</strong><br />
Seharusnya aku tulis cerita ini di tahun-tahun yang lalu<br />
Saat ingatan masih menempel ketat di benak<br />
Saat setiap kejadian tak mungkin terlewatkan<br />
Atau sengaja dilupakan</p>
<p>Seharusnya aku tulis cerita ini di tahun-tahun yang lalu<br />
Saat kamu masih punya sedikit rasa percaya<br />
Saat kamu masih punya sejumput waktu menunggu</p>
<p>Ah&#8230; dulu atau kini bahkan kelak<br />
Aku terus coba mengerti<br />
Desahmu pada pucuk pagi yang dingin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/12/22/percakapan-pagi-dan-petang-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rekening Gendut Wati</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/12/16/rekening-gendut-wati/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/12/16/rekening-gendut-wati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 09:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Wati]]></category>

		<category><![CDATA[Gado-Gado]]></category>

		<category><![CDATA[rekening gendut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1286</guid>
		<description><![CDATA[
Wati duduk manis sambil tersenyum cerah. Wajahnya betul-betul sumringah. “Aku punya ide bagus!” Ruangan kerjanya yang dingin jadi terasa hangat oleh semangat yang terpancar dari binar matanya. Tentu saja aku jadi penasaran.
“Wow, betul-betul ide cemerlang pasti. Apa?” Tanyaku.
Wati masih senyum-senyum. “Ini sungguh menjanjikan lho, Non.”
Aku tambah tak sabar mendengar gagasan Wati.
“Begini, Non…” Wati berbisik, “Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Wati duduk manis sambil tersenyum cerah. Wajahnya betul-betul sumringah. “Aku punya ide bagus!” Ruangan kerjanya yang dingin jadi terasa hangat oleh semangat yang terpancar dari binar matanya. Tentu saja aku jadi penasaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">“Wow, betul-betul ide cemerlang pasti. Apa?” Tanyaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Wati masih senyum-senyum. “Ini sungguh menjanjikan lho, Non.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Aku tambah tak sabar mendengar gagasan Wati.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">“Begini, Non…” Wati berbisik, “Aku berencana menyewakan rekening bank.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span id="more-1286"></span></p>
<p class="MsoNormal">Hm… pasti terinspirasi berita tentang rekening gendut PNS muda yang sedang banyak dibicarakan itu. Beberapa waktu ini memang terbetik berita tentang PNS yang masih muda belia dengan golongan dan pangkat yang belum terlalu tinggi tapi punya rekening bank yang jumlah simpanannya sangat mencengangkan. <span> </span>Lalu?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">“Nah, PNS muda sekarang sudah jadi sorotan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">“Pertanyaanku : Pertama, memangnya salah kalau PNS muda punya uang banyak? Kan bisa saja dapat warisan, menang undian, menemukan harta karun… atau dapat uang gusuran kali…” Wati tertawa terkekeh-kekeh, “Pertanyaan berikutnya?” Tanyanya menantang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><span> </span>“Kedua, apa hubungannya PNS muda jadi sorotan dengan usaha sewa rekening?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal">Wati membetulkan letak kacamatanya yang sempat agak melorot. <span> </span>“Begini, Non.<span> </span>Jangan suka berburuk sangka. Memang mungkin saja mereka dapat uang gusuran milyaran rupiah karena rumahnya terkena proyek pembuatan gorong-gorong… atau apalah. Bisa jadi PNS yang masih muda punya banyak tenaga ini punya usaha sampingan ternak macan atau buaya… atau punya tambang emas entah di mana… <span> </span>Justru itu!” Jawab Wati. Aku bengong tidak menangkap maksud Wati.</p>
<p class="MsoNormal">“Justru aku kasihan pada mereka… Punya uang kok dicurigai. Sebagai orang yang punya pendidikan dan kemungkinan karir yang cemerlang, memangnya mereka mau cuma dititipi uang oleh atasan seperti selama ini diisukan? Dengan risiko dikira ikut korupsi? Kamu kira mereka mau disangka <span> </span>terlibat praktik pencucian uang?” <span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Hm… Aku mengangguk-angguk. “Lalu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">“Nah, aku akan menyewakan rekeningku untuk menyimpankan uang mereka, para PNS muda yang punya banyak uang tapi malas ditanya-tanya, nggak punya waktu untuk menjelaskan dari mana, bagaimana, dan untuk apa uangnya itu… Nanti sewanya ditentukan berdasarkan jumlah titipan…”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">“Lho, nanti kamu yang diawasi?” Tanyaku khawatir.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">“Ah, aku kan bukan PNS… <span> </span>Lagian tidak terlalu muda juga!” Jawab Wati tertawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal">Aku menggeleng-gelengkan kepala. Wati itu masih lebih percaya menyimpan uang di bawah bantal kok mau menyewakan<span> </span>rekening bank… tapi siapa tahu dia serius ya? “Jadi… kapan mau mulai? Perlu orang pemasaran? Aku bisa lho jadi account representative atau apa deh namanya.” Aku sekalian menawarkan diri, siapa tahu dapat komisi tinggi.</p>
<p class="MsoNormal">Wati nyengir, “Enggak ah. Memangnya aku kurang kerjaan apa, Non? Aku kan belum gila…” Ah Wati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/12/16/rekening-gendut-wati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merah Putih</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/08/17/merah-putih/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/08/17/merah-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 12:50:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado-Gado]]></category>

		<category><![CDATA[Bendera Merah Putih]]></category>

		<category><![CDATA[NKRI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1280</guid>
		<description><![CDATA[Ketika belajar di sekolah, dulu sekali, Pak Guru menerangkan tentang arti warna bendera Republik Indonesia. “Merah itu berati berani&#8230; sedangkan putih melambangkan kesucian.” Begitu beliau menjelaskan sambil menunjuk pada bendera yang dipasang pada tiang di sudut kelas. Bendera itu, merah – putih itu adalah perlambang yang menunjukkan keberanian seluruh rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika belajar di sekolah, dulu sekali, Pak Guru menerangkan tentang arti warna bendera Republik Indonesia. “Merah itu berati berani&#8230; sedangkan putih melambangkan kesucian.” Begitu beliau menjelaskan sambil menunjuk pada bendera yang dipasang pada tiang di sudut kelas. Bendera itu, merah – putih itu adalah perlambang yang menunjukkan keberanian seluruh rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kesucian hati untuk semata-mata membela bangsa dan negara&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"><span id="more-1280"></span>Hari ini, bendera merah putih kembali berkibar di mana-mana. Di depan rumah, toko, kantor, sekolahan, terpasang bendera. Setahun sekali, setidaknya, setiap tanggal 17 Agustus kita diingatkan tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia dan semangat para pejuang yang berupaya mewujudkannya yang dilambangkan dalam merah dan putih itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Aku memandang bendera yang terpasang tinggi di tiang depan rumah. Bendera yang berkibar-kibar ditiup angin siang yang terik&#8230; Merah dan putih&#8230; Masihkah melambangkan semangat keberanian dan kesucian membela tanah tumpah darah Indonesia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Masihkah seluruh rakyat Indonesia berani berjuang, bekerja keras, disiplin, tak kenal lelah untuk kesejahteraan bersama dan bukannya memperkaya diri sendiri sambil memperdaya orang di sekitarnya? Masihkah rakyat Indonesia kompak memperjuangkan martabat bangsa di kancah dunia dan bukannya mencoreng-moreng bangsa sendiri untuk popularitas pribadi? Masihkah kita punya semangat merah putih itu? Mengapa merah dan putih yang kulihat begitu suram ternoda di sana-sini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><em><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Bendera merah putih<br />
Bendera tanah airku<br />
Gagah dan jernih tampak warnamu<br />
Berkibarlah di langit yang biru<br />
Bendera merah putih<br />
Bendera bangsaku<br />
<span style="color: #eeeeee">*courtesy of LirikLaguIndonesia.net</span><br />
Bendera merah putih<br />
Pelambang brani dan suci<br />
Siap selalu kami berbakti<br />
Untuk bangsa dan ibu pertiwi<br />
Berdera merah putih<br />
Trimalah salamku</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left" align="left"><em><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">(<strong>Bendera Merah Putih, Ibu Sud</strong>)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Tiba-tiba terlintas lagu perjuangan yang dulu sering dinyanyikan pada saat upacara bendera&#8230; Bendera merah putih masih berkibar. 17 Agustus 2011. Harapan masih ada. Aku percaya jika mau, cita-cita menjadi bangsa yang sungguh merdeka bisa tercapai. Bangsa yang seluruh warganya sejahtera, berkeadilan, beradab, dan makmur tentu masih bisa diraih&#8230; Tentu dengan semangat dan kerja keras bersama seluruh rakyat Indonesia. Semoga.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/08/17/merah-putih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Semangat Bekerja?</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/20/semangat-bekerja/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/20/semangat-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 03:23:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado-Gado]]></category>

		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1077</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pengunjung toko oleh-oleh kebingungan. Menoleh kanan-kiri sampai akhirnya dia bertanya pada seorang pramuniaga berseragam putih hitam, berwajah manis yang berdiri di dekat rak pajang. &#8220;Ada bla-bla-bla&#8230;?&#8221; Sang pramuniaga sejenak menoleh kanan-kiri juga, lalu menunjuk ke bagian belakang toko. &#8220;Mungkin di belakang sana, Bu.&#8221; Toko ini seperti hanggar pesawat saja saking luasnya. Sang pengunjung bergegas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pengunjung toko oleh-oleh kebingungan. Menoleh kanan-kiri sampai akhirnya dia bertanya pada seorang pramuniaga berseragam putih hitam, berwajah manis yang berdiri di dekat rak pajang. &#8220;Ada bla-bla-bla&#8230;?&#8221; Sang pramuniaga sejenak menoleh kanan-kiri juga, lalu menunjuk ke bagian belakang toko. &#8220;Mungkin di belakang sana, Bu.&#8221; Toko ini seperti hanggar pesawat saja saking luasnya. Sang pengunjung bergegas ke arah yang ditunjuk. Hm&#8230; si ibu itu mungkin sudah harus <em>check out</em> dari hotel atau malah hampir ketinggalan pesawat sementara oleh-oleh pesanan belum didapat. Aku perhatikan pramuniaga yang bahkan tak beranjak dari tempatnya berdiri.</p>
<p><span id="more-1077"></span>&#8220;Mbak, kok nggak ada?&#8221; Tiba-tiba, ibu yang tadi bertanya kembali ke pramuniaga yang sama. &#8220;Oh&#8230; maaf Bu, mungkin sudah habis.&#8221; Jawab yang ditanya tanpa rasa sesal sedikit pun.</p>
<p>Toko oleh-oleh itu adalah toko yang cukup besar dan punya beberapa cabang di beberapa tempat di Denpasar. Aku yang kebetulan sudah berkeliling toko mendekati sang pengunjung yang mulai putus asa. Barangkali yang dicarinya pesanan bos di kantornya atau ibu mertuanya atu mungkin anak kesayangannya.  &#8220;Ibu bisa mencarinya di bagian situ&#8230; Ada beberapa jenis, bisa dipilih&#8230;&#8221; Si Ibu agak heran memandangku tapi kemudian mengucapkan terima kasih dan langsung terburu-buru ke arah yang kutunjuk. Masih sempat menoleh dan menunjukkan apa yang dicarinya&#8230; Kelihatan lega. Aku tertawa. Syukurlah&#8230;</p>
<p>Penjaga yang masih berdiri di tempatnya cuma tersenyum tipis. &#8220;Kamu belum hapal barang yang dijual di sini?&#8221; Aku penasaran bertanya padanya. &#8220;<strong>Baru</strong> seminggu kerja.&#8221; Jawabnya. Aku tertawa&#8230; &#8220;Oh&#8230; <strong>Sudah </strong>satu minggu, dik&#8230; Cukuplah untuk mengetahui di mana kacang disko, di mana dodol, di mana kaos barong, di mana daster&#8230; .&#8221; Dia, sang pramuniaga belia itu mengangguk enggan. Barangkali dia berpikir &#8220;Bos bukan&#8230; majikan bukan&#8230; kok ngatur seh&#8230;&#8221; Tapi aku masih belum selesai. &#8220;Kamu bisa berkeliling dulu setiap pagi sebelum toko buka supaya bisa memberi petunjuk yang benar pada pengunjung. Kan sayang kalau pelanggan nggak dapat yang diinginkan padahal di toko ini ada&#8230;&#8221;</p>
<p>Salah seorang teman yang kebetulan berada di dekatku tertawa geli. &#8220;Memangnya lo dibayar berapa sama yang punya toko?&#8221; Ha ha&#8230; betul juga. Apa urusannya kalau pegawai toko ini tidak bekerja dengan semangat dan penuh dedikasi? Apa peduliku kalau si ibu pengunjung tadi pulang ke kotanya tanpa membawa oleh-oleh yang mungkin sangat ditunggu oleh bosnya atau ibu mertuanya atau anaknya? Apa untungnya buatku kalau toko itu tidak memenuhi target penjualannya? Tapi tak berapa lama kemudian si ibu pengunjung yang sempat kebingungan mencari oleh-oleh menghampiriku dengan dua tas belanjaan. &#8220;Terima kasih ya mbak&#8230;! Akhirnya saya dapat pesanan anak saya!&#8221; Wajahnya berseri-seri.</p>
<p>&#8220;Wah pasti senang sekali dapat oleh-oleh yang diinginkan ya, Bu.&#8221;</p>
<p>Dalam perjalanan menuju ke bandara aku masih mengenang kejadian tadi. Apa yang salah ya? Apanya yang keliru kalau seorang pegawai tidak merasa harus menunjukkan semangat bekerja yang tinggi? Tidak merasa harus segera menguasai tugasnya? Tidak merasa perlu punya dedikasi pada perusahaannya tempat dia mendapatkan gaji? Kalau pun si pegawai merasa tidak harus membantu perusahaan untuk maju, setidaknya, apa dia tidak ingin membantu orang lain yang kebingungan?</p>
<p>Hm&#8230; Aku juga harus mengevaluasi semangat kerjaku. Bisa-bisanya nasihatin orang padahal kemarin, sebelum terbang ke sini, aku pamit sama bos, &#8220;Pak, saya ijin <em>mbolos </em>ya! Dua hari saja.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/20/semangat-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Percakapan Pagi dan Petang</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/11/percakapan-pagi-dan-petang/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/11/percakapan-pagi-dan-petang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 05:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rasa Bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1258</guid>
		<description><![CDATA[

Untukmu
 
Hei&#8230; Kamu berseru
Senyum mengelopak mawar
Aku terpana
Apakah pagi ini untukku?




Catatan

Tulislah dalam catatanmu
Hari ini
Barangkali kelak kita akan merindukannya
Semua perdebatan seru tapi tak berujung
Dan semua kebisuan sesudahnya



 
Indah

remang senja menyapa
bisik angin mendesir
seulas senyum merekah

keindahan ini
tak mungkin disembunyikan malam

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong>Untukmu</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Hei&#8230; Kamu berseru</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Senyum mengelopak mawar</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Aku terpana</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Apakah pagi ini untukku?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong>Catatan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Tulislah dalam catatanmu</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Hari ini</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Barangkali kelak kita akan merindukannya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Semua perdebatan seru tapi tak berujung</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">Dan semua kebisuan sesudahnya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt"><strong>Indah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">remang senja menyapa</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">bisik angin mendesir</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">seulas senyum merekah</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">keindahan ini</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt">tak mungkin disembunyikan malam</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/11/percakapan-pagi-dan-petang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gua Sunyaragi</title>
		<link>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/08/gua-sunyaragi/</link>
		<comments>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/08/gua-sunyaragi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 03:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ati</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gado-Gado]]></category>

		<category><![CDATA[Sepotong Perjalanan]]></category>

		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>

		<category><![CDATA[Gua Sunyaragi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[
Ketika aku kecil, Gua Sunyaragi adalah salah satu tempat main favoritku. Di gua yang berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahku itu, kami, aku dan teman-teman, bisa uji nyali masuk ke lorong gelap yang lembab dengan ancaman ada ular di dalamnya (Tidak heran karena saat itu mulut gua kadang agak tertutup semak – ancaman toh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Ketika aku kecil, Gua Sunyaragi adalah salah satu tempat main favoritku. Di gua yang berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahku itu, kami, aku dan teman-teman, bisa uji nyali masuk ke lorong gelap yang lembab dengan ancaman ada ular di dalamnya (Tidak heran karena saat itu mulut gua kadang agak tertutup semak – ancaman toh tidak pernah terbukti). Memanjat bangunan bermotif batu karang yang tajam atau sekedar duduk-duduk di atas bukit kecil di kompleks gua. Mungkin karena semua hal memang tampak luar biasa ketika kita masih kanak-kanak, kompleks gua yang saat itu agak kurang terawat justru menarik dan agak misterius. Belum lagi cerita-cerita seputar gua yang dituturkan penduduk sekitar.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot"><span id="more-1232"></span><a title="Taman Air Gua Sunyaragi" rel="attachment wp-att-1233" href="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/08/gua-sunyaragi/gua/"><img class="alignleft size-full wp-image-1233" style="margin: 5px" src="http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/files/2011/06/gua.jpg" alt="gua" width="400" height="300" /></a>Sekarang, keponakan-keponakankulah yang selalu mengajakku ke sana setiap kali berkunjung ke Cirebon. Sambil menyusuri setiap bangunan, mereka selalu minta padaku untuk menuturkan asal-usul gua atau kisah yang berkaitan dengannya. Namanya memang gua tapi sesungguhnya merupakan bangunan dengan ruangan-ruangan yang gelap dan lorong yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lainnya… Dibuat dengan model arsitektur yang khas. Melihat gaya bangunan yang ada di gua ini, kelihatannya kompleks dibangun dalam beberapa periode dan memperlihatkan pengaruh Cina, Timur Tengah, bahkan kelihatannya ada juga pengaruh Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Waktu aku kecil ada banyak cerita tentang gua ini yang entah benar entah hanya sekedar isapan jempol. Yang jelas Taman Air Gua Sunyaragi ini selalu dihubungkan dengan Sunan Gunung Jati, putri dari Cina (yang menjadi isteri Sunan Gunung Jati), dan Jabang Bayi (di Kesambi).<span> </span>Aku agak penasaran juga dengan sejarah yang sebenarnya tapi agak sulit mencari informasinya. Baru kemarin aku akhirnya mendapat bahan tertulis tentang taman ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">Taman Air Gua Sunyaragi dinamai demikian karena dahulu Sunyaragi dikelilingi danau berbentuk setengah lingkaran bernama Segaran Jati yang banyak ditumbuhi pohon jati. Nama Sunyaragi sendiri dari kata “sunyi” dan “raga” yang artinya tempat menyunyikan raga atau menyepi atau bertapa. Terdiri dari 13 bangunan dengan nama-nama yang disesuaikan dengan fungsinya. Misalnya Gua Padang Ati, Bangsal Jinem, Gua Peteng, Bale Kambang, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">“Jadi, bener nggak ada gua yang tembus sampai ke Gunung Sembung?” tanya salah satu keponakanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 12pt;font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&amp;quot">“Hm&#8230; “ Aku menggaruk-garuk kepala. Ini gara-gara Mamang Tukang Becak yang mengantar kami dari rumah ke Gua ikut menceritakan tentang Giri Sapta Rengga yang sekarang menjadi kompleks pemakaman dan diberi nama Gunung Sembung. Tampaknya aku harus mencari lebih banyak informasi dan menuliskan kembali tentang Taman Air Gua Sunyaragi ini untuk mereka. Setelah puas berkeliling dan berfoto di taman yang sekarang sudah jauh lebih bersih dan terawat itu, kami mampir ke kios penjual cindera mata yang menjual lukisan kaca dan topeng Cirebon. <span> </span><span> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/ati/2011/06/08/gua-sunyaragi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.
