Published June 20th, 2010
Maaf
jika kesempurnaan
memang bukan
milik manusia
mengapa sulit untuk
memaafkan kesalahan?
jika kesempurnaan
memang bukan
milik manusia
mengapa sulit untuk
memaafkan kesalahan?
Di pintu gua itu, Tuhan taruh seekor laba-laba yang kemudian membentuk jaring-jaring, membangun sarang… Melihat sarang laba-laba di mulut gua, orang Quraisy mengira bahwa gua itu kosong, tak ada seorang pun di dalamnya. Maka selamatlah Rasulullah, Muhammad putra Abdullah, dari kejaran orang Quraisy.
Begitulah kisah itu kudengar.
Berbeda. Apa yang salah? Berbeda adalah hal yang lumrah. Biasa. Malahan kita sering merindukan sesuatu yang berbeda. Ketika bosan dengan yang “itu-itu saja” kita tiba-tiba menginginkan yang lain. Something different. Apa pun yang berbeda, atau nyeleneh, lalu menjadi istimewa. Tak peduli yang berbeda itu lebih bagus atau lebih jelek. He he…
Mengapa kamu merasa boleh mencaci?
Mengapa kamu merasa boleh memaki?
Mengapa kamu merasa boleh mengusik?
Mengapa kamu merasa boleh menyayang?
Mengapa kamu merasa boleh merayu?
Mengapa kamu merasa boleh memuji?
Mengapa kamu merasa boleh meminta?
Mengapa kamu merasa boleh menghina?
Mengapa kamu merasa boleh menyanjung?
Mengapa kamu merasa boleh yakin?
Mengapa kamu merasa boleh tak percaya?
Mengapa kamu merasa boleh membenci?
Mengapa kamu merasa boleh mencinta?
Mengapa kamu merasa boleh…?
Jika seseorang memanggil
Jika seseorang meminta pertolongan
Pantaskah kita enggan berpaling
Bolehkah kita terus berlalu…
dan pura-pura tak mendengar?
Senjata yang Bisa Makan Tuan
Pertanyaan semacam, ”Eh, ada gosip?” atau “Ada gosip baru nggak?” rasanya tidak asing kita dengar. Atau pertanyaan yang sebenarnya pernyataan, ”Tahu nggak kalau ternyata… bla… bla…” Lalu perbincangan pun dimulai, makin lama makin melebar, menukik, melambung, menajam, dan menyayat. Jadilah acara nggosip.
Gosip sering diplesetkan menjadi singkatan dari (makin) digosok makin sip. Makin dibicarakan makin asyik. Acara bergosip bisa terjadi di mana saja. Saat minum teh di warung atau ngopi bareng di café. Waktu menunggu bis di halte. Ketika arisan RT atau keluarga. Bahkan di meja kantin atau di meja rapat perusahaan. Pendeknya, gosip bisa berkembang dimana saja, tentang apa saja, dan mengenai siapa saja. Termasuk, tentu saja, di kantor kita.
Apakah gosip bisa membahayakan kehidupan di kantor?
Jangan-jangan gosip kantor terkait juga dengan politik kantor?
Memutar kaset lama bisa mengundang senyum…Bukan hanya karena lagunya atau syairnya yang mengesankan (terus terang pilihan kosa katanya, kurasa memang agak berbeda dengan syair lagu sekarang…), tapi juga karena mengingat segala peristiwa yang melatari atau dilatari setiap lagu itu…
Aku berkeluh kesah pada seorang sahabatku nun jauh di sana. Percakapan di dunia maya yang sangat terbuka. Teknologi memungkinkan kami mengobrol seru seolah tak berjarak ruang dan waktu. Padahal entah berapa kilometer dan berapa jam kami terpisah.
Dulu percakapan ini biasa kami lakukan juga, sambil duduk di kursi kayu yang keras di teras (atau di mana saja sih… sebenarnya). Tidak ada penganan menemani. Toh kami tidak terusik. Sebab yang kelaparan bukan perut kami. Aku sering tersenyum mengenang perbincangan yang gak jelas topiknya itu. Mula-mula tentu saja laporan takso, histo, atau apa sajalah tugas membuat makalah. Lalu subyeknya menggurita… Lho, bukankah dunia memang milik kita yang muda?
Tapi toh yang muda tidak hanya punya dunia. Mereka juga punya kegelisahannya sendiri. Punya pertanyaan-pertanyaan yang entah ada jawabnya atau tidak. Atau justru seharusnya tidak perlu bahkan tidak boleh ada pertanyaan. Kami tidak tahu. Nyatanya kami, terutama aku, tergoda untuk mengasihani diri sendiri juga.
Hei, waktu berjalan…
Semua yang muda sudah beranjak tua. Ada yang menjadi dewasa dan ada yang masih dorman terus… Ha ha… Mungkin perlu enzim atau hormon khusus untuk mematahkan masa dormansi yang panjang ini pada sebagian biji. Seperti yang kita coba saat praktikum fisiologi, bukan?
Apa yang sudah kamu dapat? Apa yang diajarkan Sang Empunya Kisah kepadamu? Apa yang sudah kukerjakan? Apa yang sudah kuberikan pada Sang Pemilik? Tidak cukupkah kemewahan yang kudapat sekarang ini? Kenikmatan setiap kali terbangun dan mendapati secercah pagi menandai hidup dimulai lagi?
Sahabatku, kutuliskan kembali kutipan dari Mario Teguh yang kamu kirimkan di sini, biar aku malu jika terlupa.
Kurang kah yang kurang padaku,
sehingga aku harus memamerkan kekuranganku,
untuk mengundang kasih sayang?
Buat A dan R
Tidak Mengerti
Tidak. Aku tidak paham
Aku tidak buta
Tapi, bukankah mustahil mengerti
Semua kolom, semua relung dalam jiwa manusia?
Tidak. Aku tidak paham
Aku bukan tidak punya hati
Cuma terlalu banyak sisi
Tidak. Aku tidak berhenti
Sehabis malam
Apakah kau gelisah setelah percakapan panjang semalam?
Apakah kau masih bertanya setelah semua jawab yang tak tuntas?
Apakah kau masih ragu setelah semua peristiwa?
Yang terjadi dan yang luput dari ingatan?
Di bawah cemara
Kita biasa bercanda di bawah luruhan daun jarum
Aku menggaruk-garuk gatal
Terlalu. Semut merah tengah berpesta
Kita tertawa saja
Lembar-lembar hidup tengah diisi
Hei… boleh pinjam tip ex?
Ah… coret saja dengan spidol hitam atau merah itu!
Kita kembali menekuri catatan
Kamu. Kamu. Siapa yang tahu akan ada apa hari ini?
Kita terus bercanda.
Hanya pada Sang Waktu kita tunduk.
Pesonamu
Kesederhanaan dan kemegahan adalah pesona
Karena terpadu dalam satu ayunan langkah
Kebencian dan kecintaan jadi belenggu
Karena terpadu dalam satu tarikan nafas
Ketika semua berlalu
Hanya angin yang mendesau
Satu yang tertinggal
Senyummu.
Masih tentang kerja keras, my dear…
Aku suka pada kerja yang pantang menyerah.
Kagum pada orang yang tahu apa yang diinginkannya, dan tahu bagaimana memperolehnya.
Banyak orang yang tidak tahu apa-apa, bahkan untuk dirinya sendiri, kan?
Tapi, bagaimana pun juga, optimismu yang kelewat takaran (kamu sendiri menyebutnya sebagai ambisi) sering membuatku keder.
Begitu keraskah hidup?
Kamu begitu gigih. Seolah dunia akan melemparmu ke luar angkasa kalau kamu berhenti barang sejenak.
Aku tidak akan pernah berusaha menghentikan kamu. Sebab kita memang berpacu dengan waktu yang tidak akan pernah berhenti berlari, apalagi berganti arah.
”Kalau kita berhenti sehari, itu artinya kita ketinggalan satu tahun, dan kita tidak akan pernah bisa mengganti kehilangan itu.” Begitu katamu.
Memang.
Aku bahkan tidak ingin kamu mengikuti iramaku.
Aku cuma mau bilang, berlarilah terus di lintasan yang benar.
Dan mengapa pula kita tidak mengatur tempo?
Tidak ada pelari maraton yang melakukan sprint sepanjang hampir 43 km terus-menerus.
Ada saat menarik napas, memperlambat tempo, mengatur langkah, mengukur kekuatan, untuk kemudian melesat lagi.
Lagi pula, sahabatku my dear…
Kamu tidak sendirian…
Ada orang-orang di belakangmu, di depanmu, di sampingmu.
Mereka semua menyapamu.
Tidakkah kamu ingin membalas sapaan mereka?