Published December 22nd, 2011
Percakapan Pagi dan Petang (2)
Prolog
Sepi ini begitu mengiris, kataku
Tataplah mataku, katamu
Aku tak setajam itu
Prolog
Sepi ini begitu mengiris, kataku
Tataplah mataku, katamu
Aku tak setajam itu
Untukmu
Hei… Kamu berseru
Senyum mengelopak mawar
Aku terpana
Apakah pagi ini untukku?
Catatan
Tulislah dalam catatanmu
Hari ini
Barangkali kelak kita akan merindukannya
Semua perdebatan seru tapi tak berujung
Dan semua kebisuan sesudahnya
Indah
remang senja menyapa
bisik angin mendesir
seulas senyum merekah
keindahan ini
tak mungkin disembunyikan malam
Pusing karena Legging
Ah pasti kenal Wati toh? Kritikus mode untuk kalangan sendiri, he he… Baru-baru ini dia kembali memberiku tips mode terkini. “Non, kamu jangan ikutan mode nggak jelas lho.” Dia mengingatkan aku yang tengah memilih legging. Aku sedang mempertimbangkan legging mana yang akan kubeli. Ini menyangkut bahan, motif, warna, dan harga (tentu!). Lho, mode nggak jelas bagaimana?
(more…)
Pagi
Serasa aku dapat menyentuh
Awan putih yang melayang
Dan titik-titik air yang menerpa jendela
Kau bersikeras menyapa
Mengapa tidak jemu-jemu juga bertanya
Kemana angin?
Kemana matahari?
Bergulat dengan angan
Yang enggan pergi
Dan tak berhenti menggoda.
Membaca status FB keponakan yang sudah remaja aku terpaksa mengerutkan dahi (yang sudah berkerut walau tidak dipaksa he he…). Hm… Komentar teman-temannya tak kurang ajaibnya. Bahasanya itu lho. Kulihat status mahasiswaku juga banyak yang begitu. Beberapa menit sebelumnya, ada pesan singkat dari seorang mahasiswa yang juga menggunakan istilah dan cara penulisan yang ‘aneh’. Katanya itulah bahasa gaul jaman sekarang. Lalu aku teringat artikel tentang bahasa alay di Femina terbitan beberapa minggu lalu. Kubaca kembali artikel itu sambil mendengarkan radio yang sedang memutar lagu D’Alays dari Superglad. Pas banget. He he… bener lho ini, gw g lebay! Syairnya kutulis sebagian ya:
Ada pengumuman di studentsite dan Wartawarga tentang lomba menulis resensi buku untuk mahasiswa Universitas Gunadarma. Sebuah berita baik bagi mereka yang suka membaca dan ingin menulis tentang apa yang sudah diperolehnya dari bacaan. Membaca (saja) memang sering kali tidak cukup, kan? Membaca tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi si pembaca, tetapi juga bisa menjadi ladang berbagi (ilmu) kepada sesama. Salah satu caranya adalah dengan menuliskan resensi atas buku yang telah selesai dibaca.
Saat membuka kotak surat elektronik staff milikku, aku mendapati beberapa undangan yang masuk. Mulai dari undangan rapat, seminar, simposium, lokakarya, hingga konferensi. Aku tergoda untuk membuka kamus. Apa sih perbedaan antara itu semua? Kadang-kadang, aku menjumpai walau namanya berbeda tapi format acaranya sama saja. Sebaliknya, walau diberi nama yang sama, acaranya bisa berbeda susunannya. Berikut adalah hasil pencarian di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ke-3 tahun 2001 terbitan Balai Pustaka, Jakarta:
Pukul duabelas kurang limabelas, Wati melirik arlojinya. Wati sedang terperangkap dalam suatu rapat yang menjengkelkan. Terperangkap? Menjengkelkan? Begitulah. Karena rapat terlambat tigapuluh menit dari seharusnya. Dan…
Wati gelisah, jemari mulai iseng memilin-milin kertas notes menjadi gulungan kecil. Lho untuk apa? Untuk menggelitik telinganya yang mulai gatal menangkap semua kata yang berhamburan di udara. Mereka yang berbicara di rapat ini rupanya hanya sibuk memungut susunan huruf yang mungkin ada di dunia sehingga timbullah kalimat semacam ini:
Buat A dan R
Tidak Mengerti
Tidak. Aku tidak paham
Aku tidak buta
Tapi, bukankah mustahil mengerti
Semua kolom, semua relung dalam jiwa manusia?
Tidak. Aku tidak paham
Aku bukan tidak punya hati
Cuma terlalu banyak sisi
Tidak. Aku tidak berhenti
Sehabis malam
Apakah kau gelisah setelah percakapan panjang semalam?
Apakah kau masih bertanya setelah semua jawab yang tak tuntas?
Apakah kau masih ragu setelah semua peristiwa?
Yang terjadi dan yang luput dari ingatan?
Di bawah cemara
Kita biasa bercanda di bawah luruhan daun jarum
Aku menggaruk-garuk gatal
Terlalu. Semut merah tengah berpesta
Kita tertawa saja
Lembar-lembar hidup tengah diisi
Hei… boleh pinjam tip ex?
Ah… coret saja dengan spidol hitam atau merah itu!
Kita kembali menekuri catatan
Kamu. Kamu. Siapa yang tahu akan ada apa hari ini?
Kita terus bercanda.
Hanya pada Sang Waktu kita tunduk.
Pesonamu
Kesederhanaan dan kemegahan adalah pesona
Karena terpadu dalam satu ayunan langkah
Kebencian dan kecintaan jadi belenggu
Karena terpadu dalam satu tarikan nafas
Ketika semua berlalu
Hanya angin yang mendesau
Satu yang tertinggal
Senyummu.