Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for the ‘Sepotong Perjalanan’


Published June 8th, 2011

Gua Sunyaragi

Ketika aku kecil, Gua Sunyaragi adalah salah satu tempat main favoritku. Di gua yang berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahku itu, kami, aku dan teman-teman, bisa uji nyali masuk ke lorong gelap yang lembab dengan ancaman ada ular di dalamnya (Tidak heran karena saat itu mulut gua kadang agak tertutup semak – ancaman toh tidak pernah terbukti). Memanjat bangunan bermotif batu karang yang tajam atau sekedar duduk-duduk di atas bukit kecil di kompleks gua. Mungkin karena semua hal memang tampak luar biasa ketika kita masih kanak-kanak, kompleks gua yang saat itu agak kurang terawat justru menarik dan agak misterius. Belum lagi cerita-cerita seputar gua yang dituturkan penduduk sekitar.

(more…)

Published November 21st, 2010

Sajak-Sajak Senja

Jarak

Tak terasa waktu berlalu, katamu.

Ah, kau tak pernah benar-benar tahu, kataku.

Aku bisa menjalin sepiku detik demi detik.

Tapi aku sudah berlari, katamu.

Ya, kataku.

Aku diam di sini membatu.

————–

Terpana

Aku membuka-buka buku

Mencari kata yang hilang pada detik kamu berlalu

Baris demi baris

Huruf demi huruf kutelusuri

Kemana gerangan?

Published November 18th, 2010

Mengerti

Sungguh

Aku tengah mencari

Bukan alasan

Hanya kerelaan hati.

Published August 2nd, 2010

Pontianak, Kota di Katulistiwa

Ini adalah perjalanan ke Pontianak dalam rangka mengikuti Peksiminas. Tapi… kali ini aku tidak akan bercerita tentang Peksiminasnya. Aku akan menulis tentang pengalaman lain selama berkunjung ke kota yang dilalui oleh sungai terpanjang di Indonesia yaitu Sungai Kapuas.

(more…)

Published February 18th, 2010

Sie Jin Kwie

img_70652Sie Jin Kwie adalah karya sastra China klasik yang ditulis oleh Tio Keng Jian dan Lo Koan Chung pada abad ke-14. N. Riantiarno (Nano) dari Teater Koma kemudian menyadurnya dan mementaskannya menjadi sebuah pertunjukan yang megah.

(more…)

Published August 2nd, 2009

Sepenggal Senja Bersama Nyoman Nuarta

Selasa, 28 Juli 2009. Kami baru saja menghabiskan nasi timbel di suatu rumah makan di Bandung, ketika salah seorang teman mengusulkan untuk mampir ke NuArt. Kami, Bu Marliza, Pak Hendro, Bu Crispina, Pak Furuhitho, dan aku, dalam perjalanan menuju Lembang untuk menghadiri rapat kerja. Wah boleh juga idenya. Matahari masih terik menyengat kota Bandung, sementara rapat baru akan dimulai pukul 19.00 malam nanti. Aku browsing dulu untuk menemukan alamat lengkapnya. Setelah mendapat alamatnya, berangkatlah kami menuju ke NuArt Sculpture Park di Jl. Setra Duta Kencana II/11 Bandung milik perupa Nyoman Nuarta itu…

img0162aPerlu beberapa kali bertanya untuk sampai ke sana. Agak mengherankan karena, bahkan sebelum masuk kota Bandung, papan petunjuk ke café, resto, mall, dan factory outlet sudah bertebaran, tapi kami gagal menemukan papan petunjuk menuju NuArt ini! Walau demikian akhirnya kami sampai juga di NuArt di tengah perumahan di daerah Karang Setra, Bandung. NuArt Sculpture Park seluas kurang lebih 3 ha itu memang milik pribadi dan dikelola oleh sang empunya sendiri.

(more…)

Published July 29th, 2009

Seberapa Kurangkah?

Aku berkeluh kesah pada seorang sahabatku nun jauh di sana. Percakapan di dunia maya yang sangat terbuka. Teknologi memungkinkan kami mengobrol seru seolah tak berjarak ruang dan waktu. Padahal entah berapa kilometer dan berapa jam kami terpisah.

Dulu percakapan ini biasa kami lakukan juga, sambil duduk di kursi kayu yang keras di teras  (atau di mana saja sih… sebenarnya). Tidak ada penganan menemani. Toh kami tidak terusik. Sebab yang kelaparan bukan perut kami. Aku sering tersenyum mengenang perbincangan yang gak jelas topiknya itu. Mula-mula tentu saja laporan takso, histo, atau apa sajalah tugas membuat makalah. Lalu subyeknya menggurita… Lho, bukankah dunia memang milik kita yang muda?

Tapi toh yang muda tidak hanya punya dunia. Mereka juga punya kegelisahannya sendiri. Punya pertanyaan-pertanyaan yang entah ada jawabnya atau tidak. Atau justru seharusnya tidak perlu bahkan tidak boleh ada pertanyaan. Kami tidak tahu. Nyatanya kami, terutama aku, tergoda untuk mengasihani diri sendiri juga.

Hei, waktu berjalan…

Semua yang muda sudah beranjak tua. Ada yang menjadi dewasa dan ada yang masih dorman terus… Ha ha… Mungkin perlu enzim atau hormon khusus untuk mematahkan masa dormansi yang panjang ini pada sebagian biji. Seperti yang kita coba saat praktikum fisiologi, bukan?

Apa yang sudah kamu dapat? Apa yang diajarkan Sang Empunya Kisah kepadamu? Apa yang sudah kukerjakan? Apa yang sudah kuberikan pada Sang Pemilik? Tidak cukupkah kemewahan yang kudapat sekarang ini? Kenikmatan setiap kali terbangun dan mendapati secercah pagi menandai hidup dimulai lagi?

Sahabatku, kutuliskan kembali kutipan dari Mario Teguh yang kamu kirimkan di sini, biar aku malu jika terlupa.

Kurang kah yang kurang padaku,
sehingga aku harus memamerkan kekuranganku,
untuk mengundang kasih sayang?

Published July 16th, 2009

Kenangan Sepanjang Jalan Margonda Raya (2)

Makan yuk!

Menyusuri sepotong Jalan Margonda Raya, khususnya di area sekitar kampus D UG di Jalan Margonda Raya 100 untuk urusan makan sekarang. Ternyata, banyak warung makan yang dengan sangat percaya diri menyebut asal-usul daerahnya lho… Ini sungguh bukan soal SARA, tapi soal selera (makan). Ternyata, dalam radius 200 meter, segala rasa tersedia.

Mulai dari rumah makan Padang yang menjual randang dan teman-temannya, warung Tegal yang komplit lauk pauknya, dari tempe goreng hingga ikan tongkol dan telur dadar, sampai soto Ngawi yang tidak cuma jualan soto. Warung pempek Palembang yang selain menjual adaan dan kapal selam, juga menyajikan tekwan dan mie celor.

Bakso Malang di siang yang panas atau sore yang hujan? Boleh sekali. Mau bakso urat, bakso alus, tahu, mie kuning atau bihun? Silakan. Oh mau Gudeg Jogja juga ada. Dan jangan lupa, sroto Banyumas lengkap dengan mendoan. Aih… masih ditambah pula dengan pecel Madiun! Atau mau ke warung gado-gado Betawi ibu Umi aja? Tinggal pilih gado-gado atau rujak atau asinan… Kalau mau yang panas berkuah boleh pesan ke sebelahnya, soto Pak Sadi. Suroboyo rek!

Masih belum kenyang? Kita jalan lagi. Tak jauh dari situ, di samping jalan menuju stasiun Pocin, kita bisa makan mie Aceh yang… bikin keringat berleleran. Pedasnya itu lho! Ya sudah, ke sebelahnya saja, menikmati soto Kudus plus paru goreng, tahu dan tempe bacem, sate telur puyuh atau bakwan jagung.

Karena urusan makan ini, aku jadi ingat rumah makan dan warung yang bertahan dan yang sudah menghilang di sepanjang Margonda. Sekarang ini, sudah banyak warung dan rumah makan serta restoran baru yang muncul di sepanjang Margonda, tak sedikit yang tutup dan berganti dan berganti lagi bahkan beralih fungsi tidak menjual makanan lagi.

Published July 12th, 2009

Kenangan Sepanjang Jalan Margonda Raya (1)

Berjalan (kaki) sepanjang Margonda? Yang benar saja…!

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Depok awal tahun 1992. Jalan Margonda, entah waktu itu sudah pakai Raya atau belum, masih lengang. Kemacetan adalah hal yang tidak pernah terpikirkan. Menyeberang masih bisa leluasa. Merem juga bisa (he he… lebay). Saking sepinya. Bagaimana tidak, angkutan umumnya cuma ada bus Miniarta jurusan Pasar Minggu – Depok yang sudah menghilang begitu maghrib menjelang dan bus Patas 43 jurusan Pasar Baru – Depok, yang lewatnya entah kapan… saking jarangnya. Angkot D 11 sudah ada, tapi belum lewat jalan Margonda, jadi kalau mau ke Kelapa Dua dari jalan Margonda harus dua kali naik angkutan umum. Naik bus Miniarta dulu sampai halte UI lalu dilanjutkan naik angkot D 11 yang berputar di Gardu. Kalau tidak ingin ikut memutar, silakan menyeberangi rel kereta lalu menunggu angkot D 11 di halte UI di seberang jalan.

Sekarang ini mau ke arah mana saja ada bus kota dari terminal Depok melalui Jalan Margonda. Ke Tanjung Priok, Kalideres, Pulogadung, Bekasi, Blok M, Grogol, Senen, Tanah Abang, sampai ke Lebak Bulus. Ada! Naik angkot ke Kampung Rambutan, Pasar Rebo, Taman Mini, Pondok Labu, atau yang paling dekat, ke PAL? Bisa! Semua lewat Jalan Margonda. Oh, tentu saja Jalan Margonda sudah lebih lebar dari pada 17 tahun yang lalu. Sudah ada dua jalur untuk masing-masing arah dipisahkan oleh pembatas jalan (Pembatas jalan itu bagiku berfungsi juga untuk menenangkan diri dulu sebelum berjuang lagi menyebrang jalur satunya, he he…).

Dulu, sepanjang Jalan Margonda pun belum banyak rumah dan toko. Banyak lahan di kiri kanan jalan masih berupa kebon mangga dan rambutan. Sekarang sudah bersalin rupa jadi apartemen, mall, restoran, show room mobil, dan ruko. Dari kampus ke pertigaan Ramanda (dulu, Ramanda adalah satu-satunya dept store di sepanjang jalan ini), jalan kaki terasa sangat jauh karena sepi, tapi masih bisa dinikmati. Kalau lagi iseng, aku masih bisa jalan kaki dari Pondok Cina ke toko buku satu-satunya di Depok, yaitu Grafiti (yang lalu tutup). Tempatnya, kemudian berganti menjadi supermarket Hero, lalu sekarang Ace Hardware. Sekarang, jalan kaki dari depan kampus UG ke Margo City saja sudah deg-degan, karena khawatir terserempet bus kota, angkot, motor, atau menyenggol wajan panas milik pedagang gorengan, martabak, fried chicken, dsb. Trotoar yang ada adalah milik para pedagang kaki lima, atau jadi lahan parkir yang punya toko atau warung… atau tempat memajang mobil bekas yang dijual. Peringatan penting bagi pejalan kaki lainnya adalah tetap awas dan waspada juga dengan pengendara motor yang melawan arus.

Toko, warung, restoran, mall, ruko, dan perumahan bermunculan di wilayah Depok, tak terkecuali di sepanjang jalan Margonda. Tentu saja makin menambah meriah suasana jalan. Kalau dulu kemacetan hanya pada hari tertentu dan jam tertentu, sekarang kemacetan bisa dinikmati kapan saja sepanjang hari sepanjang tahun… mungkin kecuali saat lebaran. Jalan Margonda Raya ibarat etalase kota Depok. Kalau mau lihat kemajuan kota Depok, lihatlah jalan Margonda. Indikator kota yang maju yang sering diukur dengan adanya mall, ruko, rumah makan terkenal, bioskop, dan sejenisnya bisa dilihat di sepanjang Margonda. Sejak menjadi kota administratif lalu menjadi kota madya, Depok memang terus menggeliat… tapi di sisi lain, Jalan Margonda Raya menjadi makin tak memadai sebagai akses utama dari dan ke Depok. Sebagai orang awam, aku sering bertanya-tanya, tidakkah sebetulnya kondisi ini bisa diperhitungkan sebelumnya?

Lalu, akhir-akhir ini sudah mulai ada pengerjaan pelebaran jalan di beberapa ruas sepanjang Margonda. Wah, mestinya para pengguna jalan Margonda sudah bisa berharap kelak tidak perlu bermacet ria jika melintas Jalan Margonda. Mahasiswa yang mau ujian tidak perlu alasan kena macet jika terlambat… Apalagi kalau jalan tol juga jadi dibangun. Pasti akan mempengaruhi tingkat kepadatan lalin di Jalan Margonda. Ah… tapi… tapi… tapi…

Published July 10th, 2009

Gunadarma dan Ahli IT

Beberapa waktu yang lalu, aku sudah menulis tentang calon-calon dokter yang kutemui di atas Trans Jogja dari Ambarukmo ke Malioboro. Ya. Mereka para mahasiswa fakultas kedokteran dari universitas di daerah Cawang Jakarta. Masih ada yang tertinggal dari pertemuan dengan mereka itu. Saat itu mereka bertanya apakah aku dokter juga. Aku menjawab bukan. Lalu temanku menjelaskan bahwa aku adalah dosen di Jakarta, Depok tepatnya. “Oh… UI?” Aku menggeleng lagi. “Bukan.” Jawabku. “Saya dosen di Universitas Gunadarma.” Mereka saling pandang, “Kalau begitu mbak ini pasti ahli IT. Ahli komputer!” Seru para mahasiswi tersebut. Aku tersenyum. “Gunadarma kan jago di IT, kan?” kata salah seorang dari mereka padaku.

Temanku memandangku sambil tersenyum juga. Kebetulan aku ke Jogja karena acara yang berhubungan dengan IT. Tapi disebut ahli mah jauh pisan atuh. Dia, temanku itu,  masih sering tidak percaya kalau aku sudah “berpaling ke lain hati.” Tidak lagi mengurusi bakteri di laboratorium mikrobiologi. Atau sibuk mencampur ini itu di laboratorium biokimia. Melihat koloni jamur melalui mikroskop, atau kegiatan semacam lainnya. Aku bilang, aku sudah tidak luwes lagi memegang petri di atas bunsen, memegang pipet, menanam biakan mikro dan sejenisnya. Dulu, kalau jalan-jalan pun, yang diamati habitat ini itu lalu ambil sampel. Sekarang, kalau jalan-jalan yang dilihat warung jajanan. Ha ha… Sementara dia masih menikmati penelitian sampai ke pelosok Papua melihat berbagai biota.

Untunglah kemudian percakapan dengan rombongan calon dokter ini beralih ke bagaimana dan dimana belanja baju batik, tas etnik, selendang, sandal, asesoris dan sebagainya. ”Tapi yang murah-murah aja mbak… Dimana carinya?” Aku mengangguk. Ingat jaman kuliah dulu. Syarat terakhir itu yang paling penting dan menentukan. Ha ha… murah! Sebenarnya sih sampai sekarang juga begitu, he he… Temanku pun berusaha memberi petunjuk bagaimana dan dimana mesti berbelanja di Malioboro dan sekitarnya. Aku cuma mengangguk-angguk saja. Agak kurang pengalaman sih.

Apa yang ingin aku sampaikan adalah pernyataan tentang aku sebagai ”ahli IT” itu. Rupanya, begitu menyebut nama Universitas Gunadarma maka asosiasinya adalah IT atau komputer. Nah, silakan mengintepretasikan sendiri. Ini bisa jadi kekuatan, tapi juga sekaligus merupakan tantangan. Apa pun jurusannya, kemampuan IT melekat padanya. Apakah persepsi masyarakat di luar sana itu benar atau tidak? Yuk mariii!


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.