Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for the ‘Cuma Cerita’


Published May 4th, 2010

Perbedaan

Berbeda. Apa yang salah? Berbeda adalah hal yang lumrah. Biasa. Malahan kita sering merindukan sesuatu yang berbeda. Ketika bosan dengan yang “itu-itu saja” kita tiba-tiba menginginkan yang lain. Something different. Apa pun yang berbeda, atau nyeleneh, lalu menjadi istimewa. Tak peduli yang berbeda itu lebih bagus atau lebih jelek. He he…

(more…)

Published January 28th, 2010

Sardi

Sardi adalah teman kuliahku dulu. Nama aslinya tidak usah kusebutkan di sini. Dia sih tidak keberatan sebenarnya. “Malah nanti aku tambah beken.” Begitu katanya. Dia ini agak bawel orangnya. Komentarnya selalu ada saja. Tak ada yang luput dari komentarnya. Tapi dia tidak pernah menjelek-jelekkan, menghasut, apa lagi menghina. Komentarnya tak pernah bikin sakit hati, malah terkadang lucu dan menyemangati. Ketika ada teman yang berkomentar tentang Gamal yang tidak suka baca buku, Sardi meralat, “Bukan gitu… Gamal itu hanya membaca buku yang dia suka.” Prasangkanya selalu baik.

(more…)

Published November 24th, 2009

Tolong Putarkan Lagi Lagu Itu

Aku memandangi kaset-kaset yang berserakan di lantai. Eka mengaduk-aduk koleksi kasetku untuk mencari satu lagu. Aneh. Kataku. Sekarang kan jaman canggih. Ada internet dengan Youtube. Kok dia malah balik ke jaman purba, mencari kaset lama, yang belum tentu masih mulus diputar. Eka cuma senyam-senyum nggak jelas. Dia tahu, aku tak bakal tega menolak permintaannya.

(more…)

Published May 14th, 2009

Krisis Ekonomi Wati

Beberapa waktu yang lalu, krisis ekonomi menjadi kata yang paling banyak disebut. Di koran, TV, radio, bahkan di kafe dan warung kopi. Amerika krisis ekonomi. Indonesia krisis lagi. Aku juga krisis, berulang setiap bulan menjelang pembagian gaji. Ha ha… Tapi ini cerita tentang Wati. Walau bersama jutaan orang di seluruh dunia, berada pada situasi yang sama, dia bisa punya pemikiran berbeda, perilaku berbeda. Banyak orang bisa berteori. Banyak orang mengaku mengerti. Masalahnya, tidak banyak orang yang punya teori dan mengerti tapi mau mengamalkan ilmunya dengan sepenuh hati. Lain dengan Wati. Nggak perlu sekolah ekonomi, dengan kesadaran sendiri dia mencoba membantu mengatasi krisis.

”Hari ini kita beli kain, aku mau jahitin baju dan rok.” Ajaknya pada sore yang mendung.

”Kemana?” Tanyaku.

”Toko kain di mall yang situ itu, yang sepi…”

”Lha, nanti nggak sesuai selera?”

“Ah, cuma baju buat main aja kok.” katanya sambil beranjak ke kasir. Membayar pempek dan tekwan yang baru saja kami habiskan. Kami pun keluar dari warung dan berjalan kaki menuju mal. Cuma satu kilometer dari warung.

“Duitmu belum habis juga?” Aku pura-pura menyelidiki. Selama makan tekwan tadi, dia bercerita bahwa minggu lalu dia baru belanja ke ITC. “Cuma beli ini lho, benang sama sandal,” begitu ceritanya. “Sandalnya buat mami. Nanti kukirim lewat pos.”

“Yah… gaji bulan kemaren kan masih ada.” Jawab Wati. Kaya’nya sih bercanda. Tapi mukanya serius begitu. “Duit disimpen terus juga nggak tambah banyak kok.” Maksudnya, menyimpan uang di bank. Kalau jumlahnya sedikit, bunganya tidak bisa menutupi biaya administrasi dan sejenisnya itu jadi saldonya pasti makin berkurang terus… Daripada berkurang karena jelas-jelas diambil bank, dia belanjakan saja uangnya. “Banyak yang senang.” Lanjutnya.

Di jalan, kami mampir dulu ke Warpad. Warung Padang. Wati membeli sebungkus nasi dan sepotong ikan tongkol. ”Jangan pakai sambel jangan pakai kuah. Ikannya yang besar ya? Nasinya yang banyak.” Pesannya pada yang melayani. Aku tahu, Wati nggak doyan tongkol. ”Buat siapa?” Wati nyengir kuda. ”Oleh-oleh buat yang di rumah lah…” Itu artinya buat Felix deCat dan adik-adiknya.

Perilaku belanja Wati memang makin menjadi sejak krisis ekonomi. ”Harusnya kamu nabung!” Fani menasihati. Fani memang paling pintar menahan diri. Entah mau buat apa uangnya kalau sudah banyak nanti. ”Jaman lagi susah begini…” lanjut Fani. Fani itu teman kami juga. Sama-sama karyawan kantor yang beruntung masih belum dipecat. Belum naik gaji sih, tapi perusahaan masih membayar jerih payah kami.

”Begini ya.” Jawab Wati sungguh-sungguh atau setidak-tidaknya tampak sungguh-sungguh. ”Kalau semua orang nggak mau belanja, terus pedagang itu siapa yang beli? Kalau pedagang tutup pemasoknya juga bangkrut. Pabrik-pabrik berhenti produksi. Buruhnya banyak dipecat, gak bisa kasih makan anak istri.”

”Lagian, aku kan beli produk dalam negeri.”

Kemarin, Wati memang baru bercerita tentang tetangganya yang terpaksa menjual TV. Buat modal jualan bakmi setelah tidak bekerja di pabrik sepatu lagi.

Fani menggeleng-geleng bingung. Aku mengangguk-angguk walau belum terlalu paham. ”Apa hubungannya?” Kamu aja deh yang menerangkan kepada kami. Iya. Kamu kan yang paham dan mengerti teori ekonomi. Mikro maupun makro. Bagaimana menjelaskan perilaku Wati?

Published April 28th, 2009

Hari yang Aneh…

Sebentar. Sebelum diteruskan bacanya, aku mau kasih tahu dulu kalau ini cuma cerita. Tentang Wati. Kalau ceritanya ternyata mirip dengan kejadian sebenarnya, ini bukan kebetulan, he he… memang dimirip-miripkan. Kadang-kadang kan cerita itu memang mirip dengan kejadian sehari-hari atau sebaliknya kejadian nyata tapi mirip cerita, ya kan?

Wati itu temanku. Orang Jawa Timur. Nama panjangnya Kiswati. Nggak tahu kenapa diberi nama begitu. Temanku yang lain, yang namanya Wati semuanya orang Sunda. Tapi sungguh, ini Wati dari Jawa Timur. Jujur orangnya.  Ceplas-ceplos kalau bicara. Tak bermaksud menyakiti, tapi yang diucapkan seringkali membuat orang terkejut, mengernyit, atau justru geli.

Hari ini Wati naik mikrolet dari Pasar Minggu ke Kampung Melayu. berarti M16 warna biru telor asin. Penumpang penuh sesak. Ada pegawai, ada anak sekolah berseragam SMA, ada ibu-ibu mungkin pulang dari belanja, ada juga bapak-bapak yang entah apa profesinya. Wati duduk terdesak di pojok belakang. Mengipas-ngipas mukanya pakai majalah. “Jendelanya nggak bisa dibuka…” gerutunya. Tak ada reaksi dari penumpang lain. Aku juga cuma menoleh sebentar, lalu kembali memandang jalan di belakang angkot yang macet. Di depan mikrolet juga jalan macet. Kalau nggak macet pastilah mikrolet ini ngebut.

Sudah sepuluh menit, angkot cuma maju sepuluh meter. Wati terus mengipas-ngipas sambil memandangi penumpang lain satu persatu. “Jeng!” Dia mencolek dengkulku. Aku yang duduk di depannya nyaris terlonjak kaget. Buyar deh lamunan jadi seperti ibu-ibu bersanggul modern naik merci terbaru di belakang angkot. Tuh, wajahnya mulus, tidak mengkilat berkeringat kaya si Wati yang melotot di depanku. “Yo opo? Kapan nyampe nih?”Aku nyengir, “Macet.” Aku menjawab pelan.

“Lha iya macet! Tiap hari begini?” Tanyanya. Aku mengangguk. Ibu yang duduk di sebelah Wati menoleh, “Biasa, mbak.” Ibu itu malah tersenyum, mungkin kasihan melihat Wati tersiksa. Wati menggeleng-gelengkan kepala. “Ternyata, orang Jakarta itu suabar-suabar ya?” Maksudnya sabar banget. “Moso, pagi subuh berangkat, kejepit di angkot, kepanasan, macet, gak ada yang marah-marah. Semua nrimo.” Penumpang lainnya, nggak cuma ibu-ibu di sebelah Wati, memandang Wati tawar, lalu kembali menatap hampa entah kemana…

———

Sudah sampai Pasar Senen sekarang. Aku takut ke Pasar Senen ini, tapi Wati iseng banget pengen tahu. Jakarta itu tidak bisa dipisahkan dari pasar, katanya. Apalagi Pasar Senen. Ah nggak jelaslah alasannya, wong apa yang dia cari sebetulnya ada juga di pasar-pasar lainnya. Mungkin lho. Aku, terus terang, nggak terlalu paham apa yang dijual di Pasar Senen dan pasar-pasar lainnya. Dalam setahun, mungkin cuma 2 atau 3 kali aku masuk pasar. Itu pun pasar PAL di Kelapa Dua Depok sana. Itu pun bukan buat belanja, paling mau mengobraskan kain…

“Berapa, Bang?” Tahu-tahu Wati sudah memegang kain katun kotak-kotak di kios kain. Si Abang yang ditanya sigap mendekati. “Tiga puluh lima.” Jawabnya. “Bukan… maksud saya berapa lebarnya?” Abang penjual menarik gulungan kain dari tumpukan, “Biasa Bu…”

“Apanya yang biasa? Saya nggak tahu. Nggak biasa. Jadi berapa?” Aku diam. Mulai nih…

“Lebarnya? Oh… biasa Bu, satu lima belas.” Abang penjual berambut kriting menggelar kainnya. “Bagus Bu, katun Jepang. Halus.”

“Ah Jepang… Nggak usah Jepang-jepang. Saya suka produk dalam negeri. Kasihan industri tekstil kita. Abang mau penduduk Indonesia banyak nganggur?” Aku tertawa dalam hati. Abang penjual nyengir. “Ini motif Jepang maksudnya, mbak, dibuatnya di Tangerang.” Pintar nih Abang penjual kain. Pinter ngeles…

“Maksudnya Kerawang, Bang? Ya sudah berapa se-meter?” Wati nggak percaya keterangan Abang Padang itu, tapi nggak terlalu peduli juga. Buktinya dia nanya harga. “Tiga puluh lima, mbak. Butuh berapa?” Eh, si Abang kok manggil mbak? Nggak tahu ah.

Wati memandangku, “Kalau bikin rok-blus… lebar satu lima belas, dua setengah cukup nggak?” Aku menaksir-naksir. “Ah… tiga meter aja Bang!” Tanpa menunggu jawabanku, Wati sudah memerintah si Abang buat memotong.

“Nggak pake nawar dulu, mbak?” Sekarang ganti aku yang memandang Wati. Khawatir…

“Bang, kalau jualan yang betul dong. Maksud Abang ini apa? Katanya tiga lima, sekarang saya disuruh nawar. Maksudnya apa?” Wati kelihatan gusar.

“Namanya juga pasar, mbak, ada tawar-menawar…” Si Abang menjawab sambil mengambil kayu meteran. Siap mengukur. Wajahnya seperti tanpa dosa.

Wati menggeleng-geleng, “Jadi berapa harga sebenarnya. Jujur dong! Kalau tiga lima, bilang tiga lima. Berapa yang bener?” Aku nyaris tidak bisa menahan tawa. Kaya’ adegan Srimulat.

“Dua lima bolehlah…” Wati menggerutu nggak jelas… “Gimana sih…”

“Jadi?” Abang mengacungkan gunting. “Jadi deh!” Kupandang berganti-ganti. Abang penjual terus Wati. Dari Wati terus ke Abang kain…

Published November 13th, 2008

Bulan pun Menanti Sepi

 

Bulan tengah menanti di ujung malam. Sudah hampir fajar memang dan Bulan sudah makin pucat. Tapi dia enggan segera mengambil selimut awan abu-abu itu. “Aku masih akan menanti…,” lirih bisik Bulan. Bintang Gemintang yang sejak senja menemani sudah lelah berkedip, tapi juga belum putus asa. Dengan setia mereka menemani Bulan, “Siapa tahu dia segera terjaga…” Hibur mereka. Bulan hanya tersenyum mengangguk “Terima kasih, sahabatku…”

 

Dua minggu ini Bulan hanya sesekali menyapa teman-teman Bintangnya. Bulan bukan sedang tidak ingin bermain apalagi bosan pada sahabat-sahabat malamnya itu. Bulan hanya takut pada mendung yang hari-hari ini kerap muncul. Mega gelap hitam itu seringkali mencoba mengajuk hatinya. Membujuknya untuk mengarungi semesta yang asing. “Ada banyak rahasia yang akan kubukakan padamu,” rayunya. “Ada Planet-planet dengan gelang warna-warni yang berkilauan. Kau akan senang bertamasya di sana. Atau kamu mau bertemu dengan teman-temanmu yang selama ini hanya kau dengar lewat Meteor atau Komet yang lewat? Kuantarkan kau pada Europa atau Callisto… Atau Miranda, Ariel… ” Bulan menggeleng. “Aku berjanji menunggunya di sini…” Lalu mendung pun marah. Dia menjerit, berteriak, sampai kemudian menangis tersedu… Mencurahkan kekesalan hatinya pada semua yang ada di Bumi… “Ah… Bulan…” Keluh Mega yang mulai luruh cair menderas. Bulan cuma menunduk sedih… “Seandainya kau ada di sini…,” keluhnya.

 

Kemudian, di tepian pagi ini Bulan pucat tersenyum. Akhirnya yang dinanti menyapa. Juga dengan wajah yang pasi. Bulan beringsut mendekat. Ragu.  “Aku lelah, Bulan.” Ah… Bulan pun berhenti melangkah, makin pucat. “Banyak sekali yang ku kerjakan. Maafkan aku.” Bulan mengangguk mengerti. “Padahal aku hanya ingin memandangmu… dan menghiburmu jika kau perkenankan aku…” Bisiknya dalam hati. Bulan lupa bahwa dia hanyalah pelengkap malamnya. Saat-saat yang rawan dan gundah. Saat-saat dia membutuhkan tempat berkeluh kesah, menumpahkan kegelisahannya entah pada apa. Tapi percakapan setiap malam itu telah menjadi candu. Bulan menghela nafas.

 

Dari sudut mata, Bulan menampak Matahari yang mulai beranjak. Dengan ceria menebarkan pesona. “Selamat Pagi…!” Seru Sang Surya ramah. Bulan mengangguk membalas sapanya. Lalu sekali lagi berpaling menatap wajah yang dirinduinya. Betapa lelah, betapa gusar, betapa kelam… Ah, sahabatku, rupanya aku salah kira. Aku selalu merasa tersanjung setiap kali kau sisipkan aku diantara doa malammu. Aku selalu mengira kau merindukan aku karena kau sebut aku sambil menghirup kopi di pagi buta… Selama ini. Rupanya pada minggu-minggu tanpa berita banyak hal yang terjadi. Dan bodohnya aku tidak pernah mencoba bertanya… “Maafkan penantianku…” Bulan berbisik beranjak. Tanpa sanggup melambaikan tangan. Bulan kembali ke kesunyiannya, ke sepinya sendiri… Bintang-bintang meredup, tak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Published November 8th, 2008

Ceritaku dan Ceritanya

 

Ceritaku:

Ingatanku pada seorang gadis. Pendiam. Kaku.

“Hai… Tadi aku dengar Utha Likumahua… Aih jadi ingat gadis berambut panjang jaman di senat mahasiswa dulu…” Katanya.

Aku tertawa. Itu kan berarti hampir dua puluh tahun yang lalu.

“Dia selalu sedang serius rapat, atau sibuk ngetik bikin daftar peserta seminar, atau bantuin Dony yang sedang nyiapin dekorasi…”

Aku mengangguk. Rasanya aku tahu suasana itu. “Ha ha… Kamu sendiri ngapain?”

“Aku selalu sedang bingung gimana caranya bisa terlibat dengan kesibukannya… He he… Padahal teman-teman sudah atur supaya aku selalu di seksi yang sama dengannya setiap kali ada kepanitiaan.”

“Terus si Utha?”

“Iya… dia selalu nyanyi mengiringi kesepianku di tengah canda tawa mereka semua…”

“Ha ha… Kasihan sekali deh kamu.”

“Kasihan kok ketawa…” Katanya sambil tertawa juga, “Ok, jangan lupa besok malam nonton Milan! Lihat bagaimana elegannya Kaka…” Sambungnya menutup percakapan. Wah. Padahal dia tahu, Milan buatku tetap Maldini.

 

Ceritanya:

Ingatanku pada seorang gadis. Manis. Berambut sebahu.

Matanya yang bulat jarang sekali diarahkan padaku. Kecuali kalau aku sengaja mengajaknya bicara, yang jarang sekali mampu kulakukan.

Bicaranya yang pelan tapi galak jarang sekali bisa membujukku untuk tidak mengenangnya pada malam-malam yang lapar di tengah-tengah laporan praktikum histologi, embriologi, taksonomi… Dan aku selalu kangen untuk mendengar suaranya, tawanya, bahkan kritikannya sekalipun.

Sikapnya yang tenang jarang sekali bisa meyakinkan aku untuk menyebutnya sekedar tidak peduli atau sombong. Dan aku tetap berusaha melintas di hadapannya untuk menegurnya atau sekedar memandangnya atau meliriknya.

Aku ingat saat pertama kali melihat dan bicara dengannya. Bisa kudeskripsikan tempat dan waktu dan semuanya padanya atau pada siapa saja tentang itu. Dan dia cuma mengerutkan kening sambil geleng-geleng kepala. ”Begitu…?” Sadis sebetulnya. Setidaknya aku mengharapkan jawaban sedikit simpati. Tapi dia memang tidak pernah merepotkan diri untuk basa-basi.

“Ah kamu pasti tidak tahu, karena kenangan itu milikku!” Agak menyakitkan mengakuinya.

Tapi dia malah tersenyum dan mengangguk, “Kamu beruntung…punya kenangan itu”

Apa pun maksud kata-katanya itu, senyumnya, anggukannya, dan suaranya segera jadi milikku pula. Dalam ingatan tentu saja.

 

Ceritaku. Ceritanya. Cuma cerita.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.