Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for the ‘Cerita Wati’


Published December 2nd, 2015

Wati Gagal Paham

Pernah lihat Wati bingung? Melihat Wati jengkel atau senang itu sering… tapi Wati bingung itu agak di luar kebiasaan. Wati biasanya punya penalaran dan logika tentang apa saja. Jadi segala sesuatu bisa dianalisis lalu disimpulkan serta dipahami kemudian dimakluminya. Jarang sekali dia dibuat bingung oleh situasi, yang menurut kita aneh sekali pun.

Tapi hari ini Wati kelihatan benar-benar bingung. Dahinya berkerut. Mulutnya cemberut. “Kenapa, Wat?” Aku bertanya penasaran.

“Itu… praja IPDN mukul taruna Akmil!” Wati menunjuk berita koran. Aku sekarang yang bingung. Kok Wati sampai kebingungan. Berita tentang kekerasan, tawuran, pengrusakan, atau perilaku anarkis lain dilakukan oleh mahasiswa di luar dan bahkan di dalam kampusnya sendiri kan bukan sekali ini saja? Aku jelas prihatin tentang kondisi itu, tapi… sampai Wati bingung masih jadi tanda tanya bagiku. Aku melirik berita yang ditunjuk Wati. Berita tentang pemukulan taruna yunior Akmil oleh praja senior IPDN pada 19 November 2015 di kampus IPDN. Apa pun perkaranya, berita itu tidak menggembirakan.

“Hm… justru itu.” Wati melanjutkan gumaman seolah bisa membaca pikiranku.

“Mengapa kalangan yang dianggap terdidik masih lebih menggunakan otot daripada otak untuk menyelesaikan masalah?”

Aku terdiam. Teringat kembali saat untuk keperluan tugas akhir pendidikan di suatu lembaga, aku mengumpulkan kliping berita tentang kekerasan, tawuran, dan sejenisnya yang melibatkan mahasiswa. Memang memprihatinkan.

“Non, tapi ada yang bikin aku tambah bingung.” Wati melanjutkan.

“Apa?” Tanyaku.

“Mengapa praja IPDN harus pakai baju ketat dan rambutnya dicukur cepak?”

“Hah?” Aku yang sekarang terperangah. “Memangnya tidak boleh?” Aku balik bertanya. Kok soal pakaian dan model rambut yang dipersoalkan Wati… Aku nyaris tertawa. Boleh dong pakai seragam yang keren? Tidak salah kan berpenampilan rapi, gagah, dan berwibawa? Itu pertanyaan agak tidak berdasar. Memangnya pakaian atau model rambut identik dengan kedisiplinan atau kemampuan?


Wati mengangguk, “Lulusan IPDN bukankah nantinya jadi birokrat? Kok menurutku lebih penting menyiapkan supaya mereka tampil santun, ramah, sigap, dan siap melayani masyarakat.”

“Latihan fisik penting supaya mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, emosional, spiritual, tetapi juga kinestetik. Supaya mereka cekatan bekerja dan tidak malas bertindak…” Aku mengangguk. Membayangkan para praja (dan kelak, para pejabat dan birokrat) yang berpakaian rapi bersikap ramah, murah senyum, sekaligus cekatan dan siap membantu mereka yang membutuhkan.


Terus pertanyaan Wati tentang seragam dan model rambut bagaimana?

“Itu yang aku gagal paham… Mengapa harus meniru model tentara?”

Ah Wati… begitu saja kok bingung? Kalau bisa merancang model seragam yang keren dan lebih cocok untuk para praja langsung kirim saja kepada pak Rektor, siapa tahu dipertimbangkan?

Published February 7th, 2012

Kursi Mantan Banggar Wati

Wati memicing ke kanan dan ke kiri. Berputar mengelilingi ruangan. Menatap dinding yang dihiasi gambar pemandangan yang digunting dari kalender lama, lalu kembali ke mejanya lagi. Duduk dan berdiri beberapa kali… Kemudian menghenyakkan tubuhnya – yang tetap langsing berkat lari pagi setiap hari – di kursi tua yang ada dibalik mejanya.

Aku yang mengawasi dari sudut ruangan cuma bisa diam menunggu. Wati sudah mencorat-coret kertas bekas. Aku melongok sejenak, mengintip apa sih yang dia tulis atau gambar di kertas yang sudah penuh coretan. “Non!” Akhirnya Wati angkat bicara. “Aku mau renovasi ruangan ini.” Wati mengacungkan gambar denah ruangan yang dicoret-coretnya di kertas bekas.

(more…)

Published December 16th, 2011

Rekening Gendut Wati

Wati duduk manis sambil tersenyum cerah. Wajahnya betul-betul sumringah. “Aku punya ide bagus!” Ruangan kerjanya yang dingin jadi terasa hangat oleh semangat yang terpancar dari binar matanya. Tentu saja aku jadi penasaran.

“Wow, betul-betul ide cemerlang pasti. Apa?” Tanyaku.

Wati masih senyum-senyum. “Ini sungguh menjanjikan lho, Non.”

Aku tambah tak sabar mendengar gagasan Wati.

“Begini, Non…” Wati berbisik, “Aku berencana menyewakan rekening bank.”

(more…)

Published January 27th, 2011

Gerakan Curhat Nasional

“Hai.. Gimana lo?”

“Gini aja sih. Abis gimana… Gue juga nggak tahu gimana enaknya… Lo?”

“Gue juga bingung. Ya udahlah… Dijalanin ajah!”

“Iya sih…”

Aku melirik Jana. Seperti biasa, wajahnya penuh tawa. Sambil senyum-senyum dia melanjutkan langkah bersamaku. “Kamu tadi ngomongin apa toh?” Tanyaku penasaran.

(more…)

Published January 24th, 2011

Mode Ala Wati (2)

Pusing karena Legging

Ah pasti kenal Wati toh? Kritikus mode untuk kalangan sendiri, he he… Baru-baru ini dia kembali memberiku tips mode terkini. “Non, kamu jangan ikutan mode nggak jelas lho.” Dia mengingatkan aku yang tengah memilih legging. Aku sedang mempertimbangkan legging mana yang akan kubeli. Ini menyangkut bahan, motif, warna, dan harga (tentu!). Lho, mode nggak jelas bagaimana?
(more…)

Published December 7th, 2010

Mode Ala Wati

In trends follow the crowd, in principles stand firm as a rock.

Dalam hal gaya ikutlah arus, dalam hal prinsip kokohlah bagai batu karang.
Mau ikut kata pepatah itu? Boleh saja. Tapi bagi Wati gaya adalah juga soal prinsip. Jadi dia akan tegar mempertahankan gayanya. Tak peduli gaya apa yang sedang jadi mode, dia selalu tampil dengan prinsipnya sendiri. Jadilah penampilannya seperti itu. Seperti yang setiap hari kamu lihat. Wati penuh percaya diri mengenakan pakaian, sepatu, kaca mata, topi, tas dan segala asesoris yang lainnya sesuai gaya yang disukainya.

(more…)

Published November 24th, 2010

Wati, Pengamen, dan Profesionalisme

Aku, Desi, dan Wati duduk di bangku bus Patas AC yang sudah agak “mblesek” joknya. Tak ada pilihan lain. Semua bangku sudah terisi penuh. Jadilah. Sebagai penduduk di wilayah Jabodetabek, menikmati sarana transportasi umum yang “apa adanya” adalah pilihan terbaik. Mencaci maki tidak ada guna. Mengomel juga tidak ada yang mendengarkan. Kondektur yang menagih ongkos juga kadang cuma mendesiskan kata maaf yang agak tidak jelas kalau diprotes, kadang malah balik mengancam, “Kalau mau nyaman naik taksi aja, Bu!” dengan suara disetel kencang (Lho, apa dia tidak tahu bahwa naik taksi juga ada kekhawatiran tersendiri?). Lalu semua penumpang menoleh. Bukannya simpati pada kami yang protes tapi geram karena kok masih rewel saja jadi penumpang angkutan umum.

(more…)

Published November 14th, 2010

Kalau Wati Jadi Orang Mirip Gayus

“Non, kamu kok di sini? Kamu kan harusnya di penjara sana?” Wati melotot padaku. Ngawur. “Ah… Gayus lu.” Jawabku tak kalah ngawur. Aku kok jadi ikut memlesetkan istilah anak sekarang: jayus. Wati tergelak-gelak. Ya ampun. Rupanya kasus penghuni rutan bisa jalan-jalan mencuat lagi. Gara-gara orang mirip Gayus Tambunan tertangkap kamera sedang menonton tenis di Bali. Peristiwa tahanan bisa keluar masuk penjara seenaknya pernah juga sayup-sayup terdengar sebelumnya. Katanya, napi yang punya uang bisa santai menemui anak isteri dan tidur di rumahnya sendiri dan baru kembali ke biliknya kalau akan ada pemeriksaan atau menjelang sidang. Alasan keluar penjara biasanya karena masalah kesehatan, bisa kolesterol, asam urat, jantung, paru-paru, perut, atau otak. Bisa dimengerti karena kehidupan di penjara pasti tidak menyenangkan sehingga yang tadinya sehat lalu dalam sekejap bisa terkena penyakit berat. Dokter penjara pasti tidak bisa menangani jadi harus dirujuk ke rumah sakit mahal, kalau perlu ke luar negeri atau setidaknya ke Bali, sekalian nonton pertandingan tenis, sepak bola, atau nonton apa sajalah. Tapi itu semua cuma sas-sus. Dugaan yang belum tentu benar. Aku jadi khawatir Wati bersikeras ingin dipenjara seperti dulu. Tapi kali ini kelihatannya Wati tidak terlalu berminat.

(more…)

Published October 31st, 2010

Doublethink

“Lho, katanya tadi nggak suka, kenapa sekarang bilang itu hobi?” Wati garuk-garuk kepala. Aku cuma bisa memandang waspada. Kalau Wati sudah garuk-garuk kepala itu tandanya dia sudah bingung menjelang marah. Runi sendiri hanya cengengesan. Runi tak sadar kalau seluruh kata-katanya penuh kontradiksi membuat hati Wati mendidih. Runi memang aneh. Suatu kali dia bilang kalau dia sedang sedih, pada detik yang sama dia tersenyum manis mengatakan bahwa hidupnya penuh dengan keberuntungan. Mana yang salah? Atau mana yang tidak benar?

(more…)

Published October 30th, 2010

Wati dan Sumpah Pemuda

Berhari-hari tidak menulis. Ada juga yang terasa mendesak. Tapi aku cuma termangu-mangu saja di depan papan ketik. Layar tetap putih cemerlang tak ternoda. Ternyata aku cuma bisa bengong. Terlalu banyak peristiwa, malah seperti mendadak kena penyakit lupa berat. Untunglah Wati datang. Dengan bernyanyi-nyanyi kecil dia menghampiriku. Seketika aku tertarik dengan lagu yang dinyanyikannya.

“Pemuda kemana langkahmu menuju
Apa yang membuat engkau ragu
Tujuan sejati menunggumu sudah
Tetaplah pada pendirian semula…“


(more…)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.