Published March 9th, 2012
Kebutuhan dan Keinginan
Sepotong percakapan dari sekelompok mahasiswa:
A: Apa yang kamu butuhkan saat lapar?
B: Makan lah…
C: Makan dong…
A: Lalu untuk makan siang nanti kamu ingin apa?
B: Nasi, sayur asem, tempe goreng, ikan asin plus sambal lalab. Hmmm…
C: Pizza. Pizza dengan pinggiran keju. Uhhuuiii… pasti enak. Kamu?
A: Aku pengen gado-gado.
Tak dinyana percakapan menjelang siang berlanjut. Sesekali terdengar derai tawa panjang. Para mahasiswa terus mengobrol sambil menikmati lapar yang pelan-pelan membelokkan pembicaraan dari tugas membuat makalah tentang “kebutuhan dan keinginan” menjadi diskusi tentang menu makan siang.
A - yang sepertinya punya bakat jadi pemimpin - mulai bicara lagi.
A: Korupsi. Pangkalnya dari keinginan. Bukan kebutuhan.
B: Iya, kalau soal butuh semua orang butuh makan.
B - yang kelihatannya sudah lapar betul - menimpali.
C: Hmm… tapi ada yang korupsi karena memang perlu.
B: Masa? Kan keinginan itu kita yang bikin?
A: Iya… kaya makan tadi, semua orang butuh makan, tapi makan apa kan mestinya disesuaikan dengan selera dan… terutama kantong masing-masing.
Wah dari makan siang pembicaraan sampai juga ke korupsi. Sayang, aku harus berlalu dari situ… Kalau tidak, mungkin aku bisa mendengar lebih banyak diskusi menarik. He he…





