Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for the ‘Cerita dari kelas’


Published March 9th, 2012

Kebutuhan dan Keinginan

Sepotong percakapan dari sekelompok mahasiswa:

A: Apa yang kamu butuhkan saat lapar?
B: Makan lah…
C: Makan dong…
A: Lalu untuk makan siang nanti kamu ingin apa?
B: Nasi, sayur asem, tempe goreng, ikan asin plus sambal lalab. Hmmm…
C: Pizza. Pizza dengan pinggiran keju. Uhhuuiii… pasti enak. Kamu?
A: Aku pengen gado-gado.

Tak dinyana percakapan menjelang siang berlanjut. Sesekali terdengar derai tawa panjang. Para mahasiswa terus mengobrol sambil menikmati lapar yang pelan-pelan membelokkan pembicaraan dari tugas membuat makalah tentang “kebutuhan dan keinginan” menjadi diskusi tentang menu makan siang.

A - yang sepertinya punya bakat jadi pemimpin - mulai bicara lagi.
A: Korupsi. Pangkalnya dari keinginan. Bukan kebutuhan.
B: Iya, kalau soal butuh semua orang butuh makan.
B - yang kelihatannya sudah lapar betul - menimpali.
C: Hmm… tapi ada yang korupsi karena memang perlu.
B: Masa? Kan keinginan itu kita yang bikin?
A: Iya… kaya makan tadi, semua orang butuh makan, tapi makan apa kan mestinya disesuaikan dengan selera dan… terutama kantong masing-masing.

Wah dari makan siang pembicaraan sampai juga ke korupsi. Sayang, aku harus berlalu dari situ… Kalau tidak, mungkin aku bisa mendengar lebih banyak diskusi menarik. He he…

Published June 7th, 2011

Generasi Sekarang

Dalam perbincangan dengan seorang wartawan, aku ditanya, “Apa bedanya mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dulu?” Saat itu kami memang sedang mengobrol tentang dunia kemahasiswaan di kampus. Yang dimaksud dengan mahasiswa dulu adalah generasi ketika aku jadi mahasiswa. Hm… itu lebih 20 tahun yang lalu…

Beberapa waktu sebelumnya, seorang direktur dari perusahaan yang cukup besar mengatakan padaku tentang para sarjana baru. “Fresh graduate itu… Waduh, sudah lulus universitas tapi belum tahu bagaimana bekerja, kurang tahu tata krama dalam organisasi… Kami harus kerja lebih keras dan lebih lama mengajari mereka. Beda sekali dengan ketika saya baru lulus dulu.” Sang direktur tak lupa menyebutkan bahwa para lulusan itu datang dari berbagai universitas. Negeri dan Swasta. Sebagai orang universitas, aku jadi merasa agak tersengat. “Apa kamu ini tidak melakukan sesuatu?” Kira-kira begitu barangkali “tuduhan” sang direktur.

(more…)

Published April 25th, 2011

Menunggu itu (tidak harus) Menjemukan

Hari itu aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Ada janji untuk wawancara dengan seseorang. Aku harus sampai di kantornya sebelum waktu yang dijanjikan. Jangan sampai terlambat dong… wong aku yang butuh bertemu. Ini berkaitan dengan penelitianku. Dan aku sudah menunggu berbulan-bulan. Setelah bolak-balik email, telepon, sms… akhirnya waktu pertemuan ditetapkan. Tentu tidak boleh disia-siakan.

(more…)

Published November 13th, 2010

Jalan Panjang Menuju Obama (2)

“Pulang kampung nih…” Dan seluruh hadirin di Balairung UI pun bertepuk tangan. Presiden Obama memikat para pendengarnya dengan kenangan masa lalunya. Apalagi ketika Presiden menirukan memanggil tukang sate atau bakso dengan meyakinkan. “Sate! Bakso..!” Tepuk tangan kembali menggema. Tentu saja, aku berharap isi pidatonya tidak hanya sekedar cerita nostalgia. Perjuangan untuk mendengar langsung pidato Presiden dari negara yang mengaku sebagai punya “super power” itu, tentu tidak boleh hanya dibayar dengan cerita tentang becak dan bemo atau Sarinah dan Hotel Indonesia dalam kenangannya. Kukira semua yang hadir di Balairung juga menunggu apa sesungguhnya yang ingin disampaikan Presiden Amerika di depan publik Indonesia.

(more…)

Published November 12th, 2010

Jalan Panjang Menuju Obama (1)

Pidato Presiden Obama di Balairung UI sudah diulas banyak pihak. Koran, radio, tv, media Internet sampai blog dan twitter diisi dengan ulasan, ungkapan, kesan, dan komentar tentang isi pidatonya. Aku sendiri sempat pasang status FB berkaitan dengan cerita Obama tentang masa kecilnya sebagai anak Menteng. Aku tulis status sambil sambil mengurut kaki yang pegal dan sesekali memijat kepala karena mendadak pening akibat dijemur saat antri masuk Balairung.

(more…)

Published November 7th, 2010

Passion

Ada satu kata yang mungkin paling berkesan dalam pertemuan antara Bidang Kemahasiswaan dan Ketua Kelas Angkatan 2010 di Kampus Kalimalang, 29 Oktober 2010 yang lalu: gairah. Bermula dari cerita Pak Budi Prijanto tentang buku “Lessons from the Top”. Buku tersebut berisi 50 orang yang paling berhasil di dunia bisnis. Dalam buku itu muncul nama-nama seperti Bill Gates, Jack Welch, Mike Amstrong, Charles Schwab, Lou Gerstner, Andy Grove, Bill Steere, Shelly Lazarus, dan lain-lain. Mereka adalah tokoh-tokoh yang paling dikagumi dalam dunia bisnis. What makes them a great business leader? What qualities do the men and women at the top of the world’s best-run companies have in common? Salah satu alasan yang utama adalah karena mereka mempunyai “passion”. Mereka adalah orang yang punya nafsu, punya semangat besar (untuk mengerjakan atau mencapai sesuatu). “Punya gairah.” Sambung Pak Budi. Lalu, pada akhir sesi seorang ketua kelas bertanya, “Bagaimana caranya agar kita selalu bergairah?”

(more…)

Published August 1st, 2010

Peksiminas X Pontianak

Peksiminas X tahun 2010 di Pontianak baru saja usai. Seminggu sebelumnya Pimnas XXIII di Denpasar juga baru saja ditutup. Dua ajang tingkat nasional bagi para mahasiswa baru saja digelar. Peksiminas adalah Pekan Seni Mahasiswa tingkat Nasional yang diselenggarakan dua tahun sekali, sedangkan Pimnas adalah Pekan Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional yang diadakan satu tahun sekali. Tahun ini kedua ajang itu digelar pada waktu yang hampir bersamaan. Pimnas XXIII di Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali tanggal 20-24 Juli 2010, sedangkan Peksiminas di Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat tanggal 24-29 Juli 2010. Satu ajang serupa tingkat nasional yang lain adalah Pomnas, Pekan Olah Raga Mahasiswa tingkat Nasional.

(more…)

Published May 18th, 2010

Membaca dan Menulis

Ting tung tang ting tung…

Aku angkat teleponku… “Hallo… dengan mbak Ati? Saya…. bla bla…” Kujawab, “Betul. Bla bla bla…” Suara ibu-ibu. Tak berapa lama telepon berbunyi lagi, “Assalamualaikum… Saya bla bla bla… ingin menanyakan tentang….” Suara seorang bapak-bapak. Kulirik jam tangan, jam 4 sore lewat 56 menit. Lalu… ting tung tang ting tung… “Bu Ati ya? Saya tuuut… dari tuuuut… kapan boleh mengumpulkan?” Jelas suara anak muda. Mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta Barat. HPku yang semua tombolnya sudah copot itu masih berfungsi baik. Telepon genggam ompong ini masih bisa menerima pesan singkat dan telepon yang datang bertubi-tubi itu dari dosen pembina maupun mahasiswa yang berminat ikut dalam lomba fotografi pada Pekan Seni Mahasiswa tingkat Daerah (Peksimida) DKI Jakarta 2010.

(more…)

Published February 27th, 2010

Si Pendiam yang Membangun Jejaring

Pada posting tedahulu (Pendiam yang Belum Tentu Pemalu), disebutkan bahwa networking adalah salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja eksekutif. Nah, ekstrover yang dikenal sebagai orang yang senang bergaul sering dianggap jago dalam networking. Bagaimana dengan orang introver?

Dalam dunia kerja sekarang, membangun jejaring sudah menjadi satu keharusan (necessary to have) bukan lagi sebagai keterampilan yang bagus untuk dimiliki (nice to have). Dengan demikian setiap orang, ekstrover maupun introver, perlu mengembangkan keterampilan networking yang lebih baik. Pada kenyataannya membangun jejaring perlu usaha keras, tidak hanya bagi para introver tetapi juga bagi kaum ekstrover.

(more…)

Published February 26th, 2010

Pendiam yang Belum Tentu Pemalu

“Ya, aku memang pendiam. Introvert.” Lalu kesunyian yang panjang. Aku mengangguk-angguk saja. Berbicara dengan orang pendiam ya begini. Sulit mendapat penjelasan panjang lebar dari orang yang introver. Padahal orang yang sama ini baru saja berceramah dengan sangat bagus di depan peserta pelatihan manajemen.

(more…)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.