Kursi Mantan Banggar Wati
Wati memicing ke kanan dan ke kiri. Berputar mengelilingi ruangan. Menatap dinding yang dihiasi gambar pemandangan yang digunting dari kalender lama, lalu kembali ke mejanya lagi. Duduk dan berdiri beberapa kali… Kemudian menghenyakkan tubuhnya – yang tetap langsing berkat lari pagi setiap hari – di kursi tua yang ada dibalik mejanya.
Aku yang mengawasi dari sudut ruangan cuma bisa diam menunggu. Wati sudah mencorat-coret kertas bekas. Aku melongok sejenak, mengintip apa sih yang dia tulis atau gambar di kertas yang sudah penuh coretan. “Non!” Akhirnya Wati angkat bicara. “Aku mau renovasi ruangan ini.” Wati mengacungkan gambar denah ruangan yang dicoret-coretnya di kertas bekas.
Aku tertawa terbahak-bahak. “Kok ikut-ikutan Banggar?” Tanyaku. Tumben toh. Wati kan biasanya gengsi kalau sekedar mengekor ide orang lain. Lagian… aku memandang sekeliling ruangan kerjanya… “Lihat ini!” Seru Wati. “Kursiku sudah lebih dari dua puluh tahun lho nggak pernah ganti.” Wati berkata sambil menepuk-nepuk sandaran tangan kursinya. “Masih kuat kan? Tapi sudah tidak pantas…” Aku menghela nafas… tapi bukan cuma kursi di ruangan itu yang sudah tua. Mejanya, lemari arsipnya, rak bukunya, bahkan rautan pinsilnya pun masih sama seperti dulu, ketika aku pertama kali melihatnya… Lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Memang pantas sih kalau diremajakan lagi… Apalagi mengingat jabatan Wati kini…
“Sebetulnya aku nggak tega juga menggantinya, Non.” Wati seperti bisa membaca pikiranku. “Semua yang ada di ruangan ini masih layak pakai walau kurang wah.”
“Lalu?”
“Tapi kursi yang nggak jadi dibeli untuk Banggar bagaimana? Karpet yang tidak jadi dipasang buat apa? Lukisan yang tidak jadi ditempel untuk apa?” Wati berkecak pinggang. Lalu, “ Apa kamu tahu siapa importir kursinya? Pengusaha Indonesia lho… Importir karpetnya? Pengusaha Indonesia juga lho… Terus lukisan itu… Pelukisnya juga seniman Indonesia! Dibeli dari galeri milik orang Indonesia! Apa kamu nggak kasihan sama mereka? Mereka bangsa kita juga lho… Aku harus membeli kursi, karpet, lukisan, dan sebagainya itu!”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Luar biasa Wati ini. Rasa solidaritasnya patut diacungi jempol. Tapi nggak lama kemudian Wati menghela nafas…
“Non, memangnya mengembalikan barang yang sudah dibeli itu apa tidak melanggar kontrak? Apa tidak kena pinalti? Apa membeli lagi itu gampang? Kan harus tender ulang…. Nah siapa itu yang nanti dapat proyek pengadaan barang yang baru? Nanti kalau asal pilih pengusaha mebel dan ternyata kursinya cepet rusak, apa nggak ongkos lagi? Beli lagi? Dicemooh lagi?”
Aku nggak tahu… Kok tanya aku? Kalau aku juga harus ngurusin kursi dan lain-lainnya mereka yang terhormat, wadduuuhhh… pusing! Aku kan maunya diurusin mereka.






February 9th, 2012 at 9:21 pm
kalau sdh pernah rasain duduk diatas kursi banggar, saya yakin Wati gak mau pindah-pindah lagi apalagi ganti kursi. he3
February 10th, 2012 at 9:57 am
karena kursinya bagus, nyaman, dan…. mahal! He he…