Dunia Ibu (yang hilang)…
Buku tentang - atau sedikitnya berkaitan dengan – Korea, yang pertama kali kubaca adalah karya Marianne Katoppo (Dunia Tak Bermusim, 1984, Penerbit Sinar Harapan). Sudah bertahun-tahun yang lalu. Sejak itu aku bertanya-tanya, apakah ada buku karya pengarang Korea diterbitkan di Indonesia? Baru beberapa hari lalu aku menjumpainya. Mungkin karena tidak secara khusus mencarinya, sehingga tidak menemukannya selama ini. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku senang ketika akhirnya aku mendapatkan karya Kyung Sook Shin ini di toko buku Gramedia Depok.
Ibu Tercinta adalah novel pertama Kyung Sook Shin yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan ke sembilan belas negara. Aku tidak tahu apakah edisi bahasa Indonesia ini diterjemahkan dari bahasa aslinya atau dari terjemahan bahasa Inggrisnya. Bagaimanapun ceritanya tetap menarik dibaca.
Novel ini mengisahkan tentang perempuan yang hilang di tengah hiruk pikuknya stasiun kereta bawah tanah di Seoul. Sepasang suami isteri yang sudah tua berniat mengunjungi anak-anak mereka di kota. Sang ayah bergegas masuk ke gerbong kereta dan mengira sang isteri mengikutinya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa isterinya tidak ada.
Seminggu – dua minggu hingga berbulan-bulan kemudian usaha pencarian dilakukan. Ribuan selebaran ditempel dan dibagikan, tetapi sang ibu tidak kunjung ditemukan. Sejak itulah anggota keluarga yang kehilangan – suami, anak-anak, ipar – menyadari betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka, dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok ibu…
Satu per satu kenangan bermunculan dan menyadarkan mereka bahwa selama ini mereka tak sungguh-sungguh memperhatikan sang ibu dan memandang ibu hanya sebagai seseorang yang “memang seharusnya begitu.” Semua yang dikerjakan ibu memang tugasnya demikian. Tak pernah sekali pun menyadari bahwa ibu, sebagai mana mereka sendiri, punya perasaan, harapan, dan impian, bahkan rahasia yang (terpaksa?) harus disimpannya sendiri. Dan… memang, kadang kita baru tersadar betapa berharganya apa yang kita miliki justru ketika kita sudah kehilangan… lalu kita menyesal bahwa kita tidak sempat melakukan sesuatu yang sepantasnya untuk yang telah pergi… selalu berusaha memperbaharui janji kita tetapi selalu pula luput memenuhinya karena kesibukan atau bahkan lupa… menganggap ada kali lain dan kesempatan lain.
Putri tertuanya, Chi-hon, seorang novelis yang berhasil, merasa bersalah selalu bersikap tak sabar pada ibunya, menganggapnya bodoh dan masih percaya tahayul. Hyong-chol, putra sulung yang sangat dibanggakan dan diharapkan ibunya menjadi jaksa, merasa bersalah karena selalu berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih baik dan nyaman bagi ibunya. Berulang kali dia memperbaharui janjinya, tapi lambat laun janji itu terlupakan. Ayah, sang suami, juga menyesal karena telah bersikap egois, kurang peduli, dan jauh di lubuk hatinya, mungkin, merendahkan isterinya.
Bagaimana pun kehidupan tampaknya berjalan terus, walau tidak pernah sama seperti dulu lagi. setiap anggota keluarga kemudian harus berupaya mengatasi trauma kehilangan. Tapi setidaknya mereka sekarang lebih menghargai apa yang telah dilakukan ibu pada mereka.
Buku setebal 293 halaman ini menarik untuk dibaca. Termasuk karena gaya bercerita Shin yang merangkai kisah ini dari 4 sudut pandang yang berbeda, Chi-hon – , sang novelis, Hyong-chol, putra sulung, suami, dan si ibu sendiri…
Sebetulnya, buku ini bisa lebih nyaman lagi dibaca jika tidak ada kesalahan pengetikan.
Judul buku: Ibu Tercinta
Judul Asli: Please Look After Mom
Pengarang: Kyung Sook Shin
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Jumlah halaman: 293






January 29th, 2012 at 10:51 pm
adalah sumber mata air yang besar
dia akan terus mengalirkan air
yang jernih dan menyejukkan
meski jalanan yang akan ditemui
berdebu berbatu berlumpur
dia akan terus mengalir
dan mengalir
dan mengalir
dan ingin terus mengalir
….
biarkan mereka (siapa saja)
akan memanfaatkan kesejukkan dan kejernihan itu
…
mata air yang besar itu
ibu
January 31st, 2012 at 8:48 am
Terima kasih camar…
ya… ibu tidak hanya menjadi penyejuk, penyegar, penghilang dahaga bagi anak-anaknya… tetapi siapa saja yang ditemuinya…
February 10th, 2012 at 1:20 pm
Bunda telah pergi
Kemana ananda mesti membalas budi ?
Adakah tempat itu ?
Bisakah ?
February 12th, 2012 at 6:12 am
yang tinggal harus melanjutkan hidup
dengan benar.
sebut Bunda dalam doa… selalu.
semoga Bunda bahagia.
Terima kasih kunjungannya, Salamov.