Rekening Gendut Wati
Wati duduk manis sambil tersenyum cerah. Wajahnya betul-betul sumringah. “Aku punya ide bagus!” Ruangan kerjanya yang dingin jadi terasa hangat oleh semangat yang terpancar dari binar matanya. Tentu saja aku jadi penasaran.
“Wow, betul-betul ide cemerlang pasti. Apa?” Tanyaku.
Wati masih senyum-senyum. “Ini sungguh menjanjikan lho, Non.”
Aku tambah tak sabar mendengar gagasan Wati.
“Begini, Non…” Wati berbisik, “Aku berencana menyewakan rekening bank.”
Hm… pasti terinspirasi berita tentang rekening gendut PNS muda yang sedang banyak dibicarakan itu. Beberapa waktu ini memang terbetik berita tentang PNS yang masih muda belia dengan golongan dan pangkat yang belum terlalu tinggi tapi punya rekening bank yang jumlah simpanannya sangat mencengangkan. Lalu?
“Nah, PNS muda sekarang sudah jadi sorotan.”
“Pertanyaanku : Pertama, memangnya salah kalau PNS muda punya uang banyak? Kan bisa saja dapat warisan, menang undian, menemukan harta karun… atau dapat uang gusuran kali…” Wati tertawa terkekeh-kekeh, “Pertanyaan berikutnya?” Tanyanya menantang.
“Kedua, apa hubungannya PNS muda jadi sorotan dengan usaha sewa rekening?”
Wati membetulkan letak kacamatanya yang sempat agak melorot. “Begini, Non. Jangan suka berburuk sangka. Memang mungkin saja mereka dapat uang gusuran milyaran rupiah karena rumahnya terkena proyek pembuatan gorong-gorong… atau apalah. Bisa jadi PNS yang masih muda punya banyak tenaga ini punya usaha sampingan ternak macan atau buaya… atau punya tambang emas entah di mana… Justru itu!” Jawab Wati. Aku bengong tidak menangkap maksud Wati.
“Justru aku kasihan pada mereka… Punya uang kok dicurigai. Sebagai orang yang punya pendidikan dan kemungkinan karir yang cemerlang, memangnya mereka mau cuma dititipi uang oleh atasan seperti selama ini diisukan? Dengan risiko dikira ikut korupsi? Kamu kira mereka mau disangka terlibat praktik pencucian uang?”
Hm… Aku mengangguk-angguk. “Lalu?”
“Nah, aku akan menyewakan rekeningku untuk menyimpankan uang mereka, para PNS muda yang punya banyak uang tapi malas ditanya-tanya, nggak punya waktu untuk menjelaskan dari mana, bagaimana, dan untuk apa uangnya itu… Nanti sewanya ditentukan berdasarkan jumlah titipan…”
“Lho, nanti kamu yang diawasi?” Tanyaku khawatir.
“Ah, aku kan bukan PNS… Lagian tidak terlalu muda juga!” Jawab Wati tertawa.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Wati itu masih lebih percaya menyimpan uang di bawah bantal kok mau menyewakan rekening bank… tapi siapa tahu dia serius ya? “Jadi… kapan mau mulai? Perlu orang pemasaran? Aku bisa lho jadi account representative atau apa deh namanya.” Aku sekalian menawarkan diri, siapa tahu dapat komisi tinggi.
Wati nyengir, “Enggak ah. Memangnya aku kurang kerjaan apa, Non? Aku kan belum gila…” Ah Wati.






December 16th, 2011 at 6:00 pm
wkakakak ada2 aja sob postingannya,
nie sbenernya si wati mo jadi polisi berhubung dulu gak punya duit jdi masuk PNS dan mulailah dia menggelembungkan rekeningnya….
December 17th, 2011 at 1:02 am
Ide cemerlang…! Namun syukurlah, Wati belum gila…
December 18th, 2011 at 8:53 pm
hhaaaaaa…. [:ngakak]
yang penting jangan sampai kena lupa ingatan.
December 21st, 2011 at 8:23 pm
hehehe..bisa aj ne!
salam pak TB,
( http://narotama.ac.id )
December 26th, 2011 at 3:42 pm
Mungkin ….
February 9th, 2012 at 11:12 pm
PNS itu abdi masaarykat….bukan abdi negara lagi, tapi secara substansi ga ada perubahan ya Gan..??