Gua Sunyaragi
Ketika aku kecil, Gua Sunyaragi adalah salah satu tempat main favoritku. Di gua yang berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahku itu, kami, aku dan teman-teman, bisa uji nyali masuk ke lorong gelap yang lembab dengan ancaman ada ular di dalamnya (Tidak heran karena saat itu mulut gua kadang agak tertutup semak – ancaman toh tidak pernah terbukti). Memanjat bangunan bermotif batu karang yang tajam atau sekedar duduk-duduk di atas bukit kecil di kompleks gua. Mungkin karena semua hal memang tampak luar biasa ketika kita masih kanak-kanak, kompleks gua yang saat itu agak kurang terawat justru menarik dan agak misterius. Belum lagi cerita-cerita seputar gua yang dituturkan penduduk sekitar.
Sekarang, keponakan-keponakankulah yang selalu mengajakku ke sana setiap kali berkunjung ke Cirebon. Sambil menyusuri setiap bangunan, mereka selalu minta padaku untuk menuturkan asal-usul gua atau kisah yang berkaitan dengannya. Namanya memang gua tapi sesungguhnya merupakan bangunan dengan ruangan-ruangan yang gelap dan lorong yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lainnya… Dibuat dengan model arsitektur yang khas. Melihat gaya bangunan yang ada di gua ini, kelihatannya kompleks dibangun dalam beberapa periode dan memperlihatkan pengaruh Cina, Timur Tengah, bahkan kelihatannya ada juga pengaruh Barat.
Waktu aku kecil ada banyak cerita tentang gua ini yang entah benar entah hanya sekedar isapan jempol. Yang jelas Taman Air Gua Sunyaragi ini selalu dihubungkan dengan Sunan Gunung Jati, putri dari Cina (yang menjadi isteri Sunan Gunung Jati), dan Jabang Bayi (di Kesambi). Aku agak penasaran juga dengan sejarah yang sebenarnya tapi agak sulit mencari informasinya. Baru kemarin aku akhirnya mendapat bahan tertulis tentang taman ini.
Taman Air Gua Sunyaragi dinamai demikian karena dahulu Sunyaragi dikelilingi danau berbentuk setengah lingkaran bernama Segaran Jati yang banyak ditumbuhi pohon jati. Nama Sunyaragi sendiri dari kata “sunyi” dan “raga” yang artinya tempat menyunyikan raga atau menyepi atau bertapa. Terdiri dari 13 bangunan dengan nama-nama yang disesuaikan dengan fungsinya. Misalnya Gua Padang Ati, Bangsal Jinem, Gua Peteng, Bale Kambang, dan sebagainya.
“Jadi, bener nggak ada gua yang tembus sampai ke Gunung Sembung?” tanya salah satu keponakanku.
“Hm… “ Aku menggaruk-garuk kepala. Ini gara-gara Mamang Tukang Becak yang mengantar kami dari rumah ke Gua ikut menceritakan tentang Giri Sapta Rengga yang sekarang menjadi kompleks pemakaman dan diberi nama Gunung Sembung. Tampaknya aku harus mencari lebih banyak informasi dan menuliskan kembali tentang Taman Air Gua Sunyaragi ini untuk mereka. Setelah puas berkeliling dan berfoto di taman yang sekarang sudah jauh lebih bersih dan terawat itu, kami mampir ke kios penjual cindera mata yang menjual lukisan kaca dan topeng Cirebon.






June 8th, 2011 at 12:11 pm
Ati, menarik sekali ceritamu tentang Gua Sunyaragi. Situs itu dulu dibangun oleh Sunan Gunung Jati atau raja kerajaan Cirebon sesudahnya ya?
Kalau tujuannya untuk bertapa atau menyepi, saat itu apakah semua orang boleh masuk, atau hanya kalangan kerajaan Cirebon?
Aku jadi pengin sekali mengunjungi Gua Sunyaragi itu…
June 9th, 2011 at 3:37 pm
Menurut sejarah yang saya baca, Gua Sunyaragi dibangun pertama kali pada masa Keraton Pakungwati yaitu oleh cicit Sunan Gunung Jati bernama Pangeran Emas Zainul Arifin atau Panembahan Ratu I. Kompleks Gua dibangun sebagai tempat penenang raga dan penggemblengan fisik dan mental serta tempat rekreasi.
Kalau Indah sempat ke Cirebon silakan saja mampir ke Gua Sunyaragi… Nikmati keunikan bangunan yang ada di sana…
June 10th, 2011 at 1:55 pm
Yaa…, aku memimpikan bisa berkunjung ke sana. Bahkan aku merasakan Cirebon adalah hometownku yang kedua..
Nanti kukabari ya…
June 14th, 2011 at 6:32 am
What a joy to find someone else who thknis this way.