Generasi Sekarang
Dalam perbincangan dengan seorang wartawan, aku ditanya, “Apa bedanya mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dulu?” Saat itu kami memang sedang mengobrol tentang dunia kemahasiswaan di kampus. Yang dimaksud dengan mahasiswa dulu adalah generasi ketika aku jadi mahasiswa. Hm… itu lebih 20 tahun yang lalu…
Beberapa waktu sebelumnya, seorang direktur dari perusahaan yang cukup besar mengatakan padaku tentang para sarjana baru. “Fresh graduate itu… Waduh, sudah lulus universitas tapi belum tahu bagaimana bekerja, kurang tahu tata krama dalam organisasi… Kami harus kerja lebih keras dan lebih lama mengajari mereka. Beda sekali dengan ketika saya baru lulus dulu.” Sang direktur tak lupa menyebutkan bahwa para lulusan itu datang dari berbagai universitas. Negeri dan Swasta. Sebagai orang universitas, aku jadi merasa agak tersengat. “Apa kamu ini tidak melakukan sesuatu?” Kira-kira begitu barangkali “tuduhan” sang direktur.
Setiap generasi punya masanya sendiri. Punya ciri khas sendiri. Generasi sekarang jelas lahir pada masa di mana teknologi informasi sudah demikian canggih. Mereka sangat “tech savvy”. Aku baru baca manual, keponakanku yang masih SMP sudah bisa mengoperasikan HP baru tanpa perlu repot buka buku panduan. Banyak teman-temanku (ha ha… termasuk aku sebenarnya) yang belajar bikin akun email, facebook, blog, atau sekedar mencari informasi lewat internet dari anaknya atau keponakannya. Generasi sekarang juga punya optimisme sendiri menghadapi dunia. “Gampang… Tinggal browsing aja…” Internet menjawab semuanya. Mereka, generasi sekarang ini, bisa bicara apa saja walau kadang tidak terlalu paham apa esensinya.
Jadi, generasi sekarang memang berbeda dengan generasi kami yang jadul, agak gaptek, dan lebih birokratis. Harus diakui generasi yang punya sebutan Generation Next atau Net Generation ini punya cara berkomunikasi yang berbeda, cara gaul yang berbeda. Lho, mereka bisa punya komunitas yang solid tanpa perlu bertemu langsung dengan sesama anggota! Para muda itu seringkali juga adalah orang-orang yang mampu melakukan berbagai pekerjaan sekaligus. Multitasking. Aku sering menjumpai para muda itu, mahasiswaku misalnya, mengerjakan PR atau menulis makalah sambil makan bakso, sambil tetap chatting lewat laptop, sambil mendengarkan lagu, dan kadang-kadang toh masih tetap bisa bertukar pesan singkat melalui telpon genggamnya. Lalu kenapa? Kenyataannya, yang disebut dengan generasi sekarang itu juga banyak yang sukses. Dalam usia belum lagi 30 tahun, mereka ada yang sudah masuk dalam deretan orang terkaya di dunia. Berhasil menjalankan bisnisnya sendiri.
Barangkali, yang lebih perlu dipikirkan bukan melulu perbedaannya melainkan bagaimana kita menjembatani jurang perbedaan dan menjalin komunikasi dengan lebih mulus. Mempersempit kesenjangan yang terjadi antar generasi ini. Aku sendiri terus terang, banyak belajar tentang hal-hal canggih dari anak-anak muda itu. Mereka juga sering memberi solusi yang sama sekali tidak terpikirkan olehku yang masih terikat pada pola penyelesaian masalah konvensional.






June 14th, 2011 at 6:28 am
Your anwesr was just what I needed. It?s made my day!