MIMPI PSSI WATI
Aku melihat Wati termenung di mejanya. Wajahnya serius sekali memikirkan sesuatu. Aku yang masuk ke ruang kerjanya bahkan tidak dilirik. Sebel juga. Sampai aku duduk di hadapannya, Wati masih juga duduk lurus memandang ke luar jendela. Sama sekali tidak merepotkan diri berbasa-basi menyapaku. Tambah sebel aku.
“Kenapa sih Wat?” Wati bergeming. Ihhh…
“Wat, kamu kesambet apa sih?” Akhirnya Wati menoleh padaku. “Aku sedang memikirkan sepakbola.”
“Mau jadi ketua PSSI?”
“Nggak. Aku justru sedang mempertimbangkan untuk bilang kepada para pendukungku agar aku nggak usah dicalonkan.” Tandas Wati. ”
Aku sekarang yang melongo. Memangnya dia siapa? Siapa pula yang mencalonkan dia? Aku baru mendengar kalau FIFA memberi waktu untuk kongres lagi. Kelompok 78 mengatakan bahwa mereka masih mengusahakan agar Arifin Panigoro dan Goerge Toisutta tetap dapat dicalonkan. Ini bukan soal pencalonan tapi soal kebenaran. Belum ada sejarahnya FIFA melarang seseorang menjadi ketua umum sebuah persatuan sepak bola di negara mana pun. Katanya begitu. Sementara Komite Normalisasi mengatakan bahwa situasinya darurat sehingga penanganannya juga harus tidak biasa. Tidak bisa sama dengan biasanya ketika situasi normal. Masih ruwet. Jadi? Aku memandang Wati.
“Begini, Non… Kalau aku ngotot dicalonkan sedangkan FIFA sudah menolak resikonya apa? Kongres bakal ribut lagi dan gagal lagi… kan aku jadi merasa bersalah. Setidaknya aku bisa dituding jadi biang kerok. Dunia sepak bola Indonesia akan runtuh. Akan banyak anak muda Indonesia yang berbakat tidak bisa bertanding bola… Tidak ada lagi pemain hebat dari luar negeri yang minta dinaturalisasi…”
“Ahhh… mana bisa runtuh… Kan… nanti FIFA kasih kesempatan kongres lagi… gitu aja kok repot. Tetap bertahan, Wat. PSSI butuh orang kaya kamu. Punya dedikasi dan tidak punya kepentingan lain kecuali ingin mengurus PSSI dengan benar. Punya program pembinaan yang bagus mulai dari pencarian bibit unggul di tiap daerah se-Indonesia kalau perlu ke seluruh penjuru Bumi. Punya program kompetisi yang sehat dan bebas suap. Aku yakin di bawah komandomu prestasi PSSI bisa mendunia. Jangankan menjadi juara di ASEAN, juara dunia juga bisa!” Jawabku.
“Oh ya, dengan uang yang kamu punya, kamu bisa beli mal-mal yang ada di tengah kota yang dulunya lapangan bola… lalu kamu ubah lagi jadi stadion sepak bola yang keren. Jadi, anak-anak muda bisa latihan di lapangan sungguhan… bukan di kubangan yang mirip lapangan… Jadi teknik main bolanya bisa diterapkan dengan benar…”
Wati sudah menjep. Mulutnya miring kiri, miring kanan… lalu manyun.
“Kamu pasti bisa jadi ketua yang hebat, Wat. Dalam manajemenmu pemainnya tahu aturan main, wasitnya berwibawa. Penonton akan menikmati sepak bola dengan suka cita. Tidak perlu cari kegembiraan dan kebahagiaan di luar lapangan dengan ribut dengan suporter lain… ribut di jalan… atau melempari stasiun kereta… Pokoknya sepak bola bakal jadi olah raga yang menyehatkan jiwa raga seluruh rakyat Indonesia”
“Gombal!” Wati beranjak dari kursinya. “Ayo, kita makan siang yang enak!” Berakhir sudah mimpi di siang bolong. He he… Dengan senang hati aku mengikuti Wati menuju ke kantin.






May 31st, 2011 at 3:33 pm
Artikel yang menarik. Salam http://fis.uii.ac.id/
June 5th, 2011 at 5:43 pm
salam kenal…
June 6th, 2011 at 10:19 am
AuliaRahman dan rodes, terima kasih sudah berkunjung. Salam kenal juga…
June 15th, 2011 at 10:23 pm
Real brain power on display. Thanks for that ansewr!
January 5th, 2012 at 11:30 pm
wkwkwkwk…
aku juga pengin jadi ketua pssi ni, asal gak disuruh rapat pssi..hehehe