Menunggu itu (tidak harus) Menjemukan
Hari itu aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Ada janji untuk wawancara dengan seseorang. Aku harus sampai di kantornya sebelum waktu yang dijanjikan. Jangan sampai terlambat dong… wong aku yang butuh bertemu. Ini berkaitan dengan penelitianku. Dan aku sudah menunggu berbulan-bulan. Setelah bolak-balik email, telepon, sms… akhirnya waktu pertemuan ditetapkan. Tentu tidak boleh disia-siakan.
Macet sepanjang jalan Margonda dan Lenteng Agung sudah diperkirakan, jadi aku tidak rusuh sampai harus misuh-misuh. Kunikmati saja sambil mendengarkan radio yang dipasang pak sopir.
…. Polisi sudah menetapkan tersangka pelaku bom di….xrxrxrxrkk.. Seorang mahasiswa institut…. Shrrkrkrk… Hilang sejak…. Komite Normalisasi PSSI… (Xcaczczzzzkksresek… kreserk… pindah saluran) … putus pertunangan dengan…krkrkrkrksshhh… yang sekarang menjadi bupati… Krisdayanti dikabarkan… krkrkrkrk… dituduh melarikan anak (tiri) seorang menteri…
Pagi yang hibuk. Berita, kabar, gosip, isu bertebaran. Kuperhatikan wajah-wajah yang setengah mengantuk tapi sudah harus turun ke jalan. Mengawali hari dengan berjuang di jalan raya yang padat.
Tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan aku sampai di gedung megah di kawasan Jakarta Selatan. Satpam merangkap resepsionis (karena duduk di meja resepsionis) menyapa. “Mau bertemu siapa, bu? Sudah janji?” Aku sebutkan nama orang yang akan kutemui dan namaku sendiri. Pak Satpam berseragam safari mengangkat telepon… Tut.. tuuut… tuut… “Baik. Saya sampaikan.” Lalu memandang padaku, “Ibu silakan menunggu dulu. Beliau sedang rapat.” “Terima kasih…” Sahutku sambil menuju kursi tamu. Hmm… rapat mendadak barangkali.
Kulirik jam tangan, sembilan kurang dua puluh lima menit sekarang. Aku mulai memilih majalah yang tersedia di rak di samping kursi tamu. Untunglah banyak majalah yang belum aku baca… Banyak artikel yang menarik juga… jadi aku mulai asyik membaca. Malah ada juga beberapa hal kucatat dalam notes yang kubawa. Waktu berlalu. Betul-betul berlalu karena ternyata sudah pukul sepuluh lewat seperempat. Kupandang pak satpam yang sedang sibuk menerima telepon, membukakan pintu, menyapa dan membalas sapaan semua orang yang datang dan pergi.
“Maaf bu… rapatnya belum selesai. Ibu tunggu ya…” Aku mengangguk sambil tersenyum. Kubuka laptop sekarang. Rasanya, aku bisa membaca dan membalas email sambil menunggu.
“Bapak-bapak silakan tunggu saja dulu. Itu… Ibu itu sudah menunggu sejak jam 9.” Ahh… aku sudah jadi benchmark, he he… Dua orang bapak duduk di kursi di depanku sambil menggerutu… “Ditelepon susah… gimana mau bikin janji. Langsung didatengin katanya mesti kontak dulu… Ribet dah.“ Entah apa keperluannya dan siapa yang akan mereka temui di kantor itu.
Sambil menulis email aku membatin… “Saya sudah janjian sejak seminggu yang lalu lho, Pak… Belum bisa segera bertemu juga… he he…” Setelah menunggu waktu untuk wawancara sejak empat bulan yang lalu, menunggu tiga jam lagi rasanya sudah tidak terlalu berarti. Pikirku, hanya yang bertahan yang akan menang.
Jam 12 siang. Aku pamit untuk sholat ke mesjid di samping gedung kantor, “Pak, saya masih menunggu ya…” Pesanku pada pak satpam merangkap resepsionis. Khawatir dikira kabur begitu saja. “Oh iya, bu… katanya jam satu nanti Ibu bisa diterima.” Lho, kok nggak bilang-bilang? Tapi… sekali lagi, aku sedang tidak ingin kesal, sedang tidak ingin mengomel. Waahhh… sudah sabar menunggu kok lalu dirusak dengan acara marah… No way!
Jam satu kurang sepuluh, aku sudah duduk manis lagi di ruang tunggu. Menyalin sebuah artikel dari jurnal yang ada di ruang tunggu itu. Kupikir-pikir, mungkin memang begitulah caranya supaya aku punya bahan referensi yang bagus dengan cara tak terduga!
“Bu, katanya jam setengah dua saja ya… Mau makan siang dulu.” Pak satpam merangkap resepsionis kembali memberitahuku. “Ok, Pak…” Jawabku sambil terus membolak-balik majalah dan jurnal yang bertumpuk-tumpuk tapi kelihatan jarang sekali disentuh itu… Sayang sekali lho. Majalah dan jurnalnya bagus (dan mahal) tapi ditumpuk rapi lebih sebagai pajangan saja (malah ada yang masih terbungkus plastik!).
“Ibu, silakan…” Akhirnya aku diantar menuju ke ruang kerja nara sumberku. Persis pukul setengah dua siang. Lima jam aku berkantor di ruang tunggu. Untunglah kemudian wawancaranya berjalan baik!






April 25th, 2011 at 5:01 pm
” I like this”.
April 26th, 2011 at 6:53 am
“I like this juga”
April 28th, 2011 at 8:13 am
saluuut mbak ati, blog temannya mbak ati juga bagus-bagus ya, isinya
April 29th, 2011 at 5:22 pm
Indah, Kin, Camar… terima kasih banyak ya. Camar, teman-temanku pasti senang juga mendengarnya. Semoga tambah semangat!
May 15th, 2011 at 12:39 am
orang sabar akan menerima hasil yang luarbiasa dari kesabarannya.. amin. Salam kenal dari Jogja
May 20th, 2011 at 10:18 am
Insya Allah, massigit… Kesabaran yang diramu dengan kekuatan dan pantang menyerah akan berbuah manis. Tentu dengan takaran yang pas ya… he he… Salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir!