Gerakan Curhat Nasional
“Hai.. Gimana lo?”
“Gini aja sih. Abis gimana… Gue juga nggak tahu gimana enaknya… Lo?”
“Gue juga bingung. Ya udahlah… Dijalanin ajah!”
“Iya sih…”
Aku melirik Jana. Seperti biasa, wajahnya penuh tawa. Sambil senyum-senyum dia melanjutkan langkah bersamaku. “Kamu tadi ngomongin apa toh?” Tanyaku penasaran.
“Oh… sama si Berti tadi? Aku juga nggak tahu. Tadi kan aku cuma tanya kabar dia… Eh dia jawabnya gitu, ya udah kujawab lagi begitu… he he…” Jana tertawa terkekeh-kekeh. Aku menggeleng-geleng kepala. Pusing. “Sepertinya dia pengen curhat ya, mbak… tapi nggak tahu apa yang mesti dicurhatin. Aku juga sama… Ha ha…”
Tadi pagi aku terima telpon dari seorang sobat yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Tiba-tiba dia menghubungiku, bercerita soal kebingungannya memilih universitas untuk anak sulungnya yang sebentar lagi tamat SMA. “Wah… gimana ya. Dia masih kayak gitu… Tahu-tahu mau kuliah. Apa bisa? Maksudku apa aku bisa tega melepas dia jauh dari rumah ya…?” Aku cuma bisa melongo. Bukan apa-apa, temanku itu tidak butuh nasihat dan sejenisnya. “Dah ya… sori nih pagi-pagi ngadu…” Sudah. Begitu saja. Lebih ajaib lagi adalah setelah itu telepon berdering lagi.
“Halo…? Ini Bona? Bon, nanti kamu mampir nggak? Nenek bikin bubur kesukaanmu lho. Mampir ya? Bentar juga nggak papa…” Aku tidak kuasa memotong pembicaraan. “Oh ya, kemarin tante Nini kan kirim oleh-oleh dari Medan, ada bika ambon sama bolu gulung tuh. Tantenya sih nggak mampir, cuma suruh sopir… Katanya harus bikin laporan proyek. Oh ya, nenek kan kemarin ke dokter. Sendiri. Ke dokter Tan di ujung situ aja. Nggak papa cuma ngecek tensi… Kata dokter agak tinggi, padahal nenek sudah nggak makan macem-macem… mungkin karena sudah tiga hari agak kurang tidurnya… Jadi nanti kamu mampir ya?” Sekali lagi aku melongo… “Halo…?” Masih suara yang sama… Suara yang menyiratkan kerinduan berbincang dengan cucu tersayangnya. “Maaf, bu… Ini bukan Bona.” Akhirnya aku menjawab. “Oh… jadi siapa?” Tanya si nenek. “Maaf ya… berarti saya salah pencet ya? Wah… maklum sudah tua. Jadi ini bukan Bona? Bona itu cucu saya… sudah kuliah lho di Depok. Ambil teknik apa gitu… Sudah berapa minggu ini kok nggak mampir… nggak telpon…” Suara nenek khawatir. Apa yang bisa kulakukan selain tetap mendengarkan? Mana tega aku tutup telepon begitu saja…
Begitu sampai di depan ruangan, Wati sudah menunggu.
“Lama sekali kalian sampai.” Belum-belum Wati sudah menegur sambil melihat jam. He he… tamu kok galak. “Ayo masuk!” Seruku sambil membuka pintu.
“Ada apa nih pagi-pagi sudah mampir.”
“Begini Non, kita harus membuat suatu gerakan.” Wati langsung pada pokok persoalan tanpa basa-basi yang memang bukan kebiasaan dia. Jana ikut duduk di samping Wati. “Aku boleh ikut kan?” Tanyanya sambil (masih) senyum-senyum.
“Ya, boleh.” Sahut Wati cepat.”Ini menyangkut kesehatan mental bangsa.”
Ups! Pasti ada yang sangat serius kalau Wati sudah memikirkan bangsa dan negara.
“Jadi gerakan apa yang perlu kita bikin?” Tanyaku.
“Kamu tahu kan, sekarang ini bangsa kita sudah agak budek?”
Aku menggeleng-geleng kepala, “Ah kamu bicara tanpa data. Memang sudah ada penelitiannya?”
“Iya Wat, kata siapa tuh?” Jana ikut nyambung.
“Tapi gejalanya sudah jelas. Tanda-tandanya sangat kentara.” Wati ngeyel. “Semua orang maunya bicara tapi tidak bisa mendengar orang lain.” Aku dan Jana berpandang-pandangan. Iya juga. “Ini jelas tidak sehat.” Hmmm… aku mengangguk. Jana melihat padaku dan Wati berganti-ganti. “Jadi kita bikin gerakan operasi telinga atau gerakan korek kuping?” Tanyanya. “Bukan!” Wati langsung menukas. “Kita bikin sebaliknya!” Aku langsung menerka apa yang ada dalam kepala Wati.
Sekarang ini bangsa Indonesia sedang sibuk semua. Masing-masing dengan urusannya sendiri. Semua orang berjuang untuk hidupnya sendiri. Mulai dari anak-anak sampai orang tua. Rakyat jelata sampai pejabat tinggi negara. Coba lihat. Di jalanan, semua orang tumpah ruah berdesak-desakan mencari jalannya sendiri. Tak peduli orang lain. Saking sibuknya orang lalu lupa bicara dengan sesama. Dari hati ke hati, maksudnya. Kalau sekedar berteriak-teriak sih sering. Malah dunia ini sudah terlalu berisik. Bising. Tapi siapa yang mendengar? Tak ada yang punya waktu untuk mendengarkan keluhan orang lain. Lha wong masalahnya sendiri sudah banyak… Katanya begitu.
“Nah… karena biasa sibuk sendiri, bicara sendiri, maka fungsi telinga jadi tidak bisa bekerja. Kita bahkan tidak bisa mendengar diri sendiri.” Kata Wati menjelaskan. “Untuk itu kita harus membuat gerakan yang membuat orang mau mendengarkan orang lain…”
“Setiap orang harus curhat pada orang lain dan orang yang dicurhati harus mendengarkan… lalu dia curhat lagi ke orang lain lagi… begitu seterusnya… Pokoknya semua orang wajib curhat dan mendengarkan curhat. Kita memfungsikan kembali telinga kita!” Jana bertepuk tangan, “Bagus!” Serunya. “dan… yang lebih penting lagi, memfungsikan hati kita sih sebetulnya…” Sambung Wati.
Baiklah, jadi mari kita buat GERAKAN CURHAT NASIONAL.






January 28th, 2011 at 7:24 am
Bagaikan sebuah rombongan yang akan membidik seekor burung…., kalau semua berisik…, nanti tidak mencapai sasaran. keburu burungnya terbang. Maka yang berbicara komandonya saja agar gerak langkahnya seirama. yang laian cukup menjadi pendengar…, dengan pengamatan yang tajam demi kepentingan semua…. Namun sayang…, kenyataan sekarang adalah sebaliknya.