Budaya Perusahaan
Seorang rekan mengomel jengkel karena di kantornya, terlambat masuk kerja adalah hal biasa, “Tidak ada yang datang tepat waktu (kalau pulang sih biasanya on time, hi hi…).” Teman yang lain menggeleng-geleng kepala, dia justru bercerita kondisi sebaliknya. Di kantornya, semua pegawai selalu disiplin, bersemangat, dan senang bekerja keras. Rekan yang lain lagi sambil menghela nafas bilang kalau dia sering kesal karena di kantornya, rapat selalu bertele-tele. Setiap orang bicara panjang lebar, berputar-putar, tidak langsung ke inti soal. Kadang malah penuh sindiran tanpa jelas siapa yang dituju.
Aku ingat pengalamanku sendiri. Suatu kali aku pernah datang ke satu bank swasta terkenal. Dari yang semula mau menabung akhirnya aku malah tutup rekening karena jengkel dengan pelayanan yang diberikan. Rasanya, sejak berurusan pertama kali membuka tabungan aku tidak pernah dapat pengalaman menyenangkan di situ. Semua pegawainya tampan dan cantik berseragam rapi tapi judesnya minta ampun. Sebaliknya, aku selalu terkesan dengan bank swasta yang lain yang semua pegawainya bersikap ramah. Dari tukang parkir, satpam, teller, sampai customer service-nya, semuanya sangat ramah menyapa dan siap membantu. Aku rasa, pegawai yang lainnya, bahkan direktur utama di kantor pusatnya sana juga punya standar perilaku yang sama. Mengapa bisa begitu? Mengapa pegawai di suatu perusahaan yang sama bisa punya sikap, perilaku, kebiasaan, dan nilai yang sama?
Sekarang, aku memandang sekeliling ruangan kantor tempat kami bertemu. Kantor yang bagus tapi berantakan. Tidak kotor sih… tapi jangan tanya soal kerapian. Di setiap kubik, di meja kerja setiap karyawan, berkas terserak bersama tumpukan map, kertas, buku, majalah, dan catatan. Di dinding kubikelnya, tempelan kertas, memo, foto, nota bon, dan gambar-gambar hasil cetakan tumpang-tindih. Di kolong meja ada kardus entah isi apa, sepatu, sandal jepit… tas kresek entah isi apa pula. Temanku yang berkantor di situ tersenyum tersipu. Sambil mengangkat bahu dia berkata, “Beginilah. Home sweet home…” Katanya, kantor yang terlalu rapi membuat karyawan takut melakukan sesuatu. “Dengan kondisi begini, mereka merasa lebih bebas berpikir, berkreasi, dan bekerja.”
Aku jadi berpikir, mengingat-ingat apa ya yang mencirikan tempat kerjaku… He he…
Corporate culture. Budaya perusahaan. Secara sederhana, budaya perusahaan sering dikatakan sebagai “How we do things around here, ” Beginilah cara kami bekerja di sini. Dalam bahasa yang lebih ilmiah, budaya perusahaan adalah perilaku kolektif orang menggunakan visi perusahaan, tujuan, nilai-nilai bersama, kepercayaan, kebiasaan, bahasa, sistem, dan simbol yang berlaku (pada perusahaan tersebut). Perusahaan dengan budaya perusahaan yang kuat, secara sadar membentuk karyawan untuk menginternalkan dan menularkan nilai-nilai sesuai budaya yang diharapkan, seperti integritas, melayani, atau berfokus pada pelanggan sehingga nilai-nilai tersebut tercermin dalam setiap tindakan semua pegawai, dan terasa sebagai budaya perusahaan yang khas. Pengunjung yang datang ke kantor tersebut dengan segera dapat mengenalinya lalu bisa berkomentar, “Oh… di sini kebiasaannya begitu ya?”
Edgar Shein menggambarkan tiga tingkat budaya perusahaan:
1. Tingkatan Permukaan: budaya dilakukan dan diperkuat melalui penampilan dan perilaku yang terlihat, seperti layout fisik kantor, aturan berpakaian, struktur organisasi, kebijakan perusahaan, prosedur dan program, serta sikap.
2. Tingkat Menengah: budaya diwujudkan melalui keyakinan dan nilai-nilai.
3. Tingkat Terdalam: budaya dimanifestasikan melalui asumsi dasar – lewat proses pembelajaran, respon otomatis dan pendapat yang diberikan.
Hm… Budaya perusahaan memang dapat ditularkan kepada seluruh anggotanya, tapi untuk bisa dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh kepada setiap individu dalam organisasi, dan dari generasi ke generasi haruslah ada kepemimpinan yang kuat dari atas. Pegawai atau karyawan adalah pelaku budaya perusahaan itu, merekalah yang berperan tapi budaya perusahaan tidak bisa begitu saja dibentuk tetapi harus dibangun dan perlu kepemimpinan.






December 6th, 2010 at 3:03 pm
Bagus sekali artikelnya, Ati.
Indah sekali tentunya budaya tsb juga ada di UG. Begitu ‘kan ya..?
December 21st, 2010 at 6:02 am
Artikel yang menarik hemm…
July 9th, 2012 at 11:52 pm
(untuk yg nomer 4) setiap baagin dari suatu konstruksi benda mempunyai peran penting. Bagian kayu dari pensil (baagin luar) sangat penting untuk menjaga kekokohan arang di dalamnya, bila kualitas kayu tak baik maka arang di dalam bisa rapuh dan mudah patah saat di raut. Bila arang saja tanpa bungkus kayu, maka memegangnya akan sangat tidak nyaman karena seluruh tangan bisa tercoreng. Jadi menurutku, tidak ada istilah baagin terpenting’ karena semuanya penting. Walau ada hal yg lebih penting lagi, yaitu bagaimana, untuk apa pensil itu digunakan.