Published November 24th, 2010
Wati, Pengamen, dan Profesionalisme
Aku, Desi, dan Wati duduk di bangku bus Patas AC yang sudah agak “mblesek” joknya. Tak ada pilihan lain. Semua bangku sudah terisi penuh. Jadilah. Sebagai penduduk di wilayah Jabodetabek, menikmati sarana transportasi umum yang “apa adanya” adalah pilihan terbaik. Mencaci maki tidak ada guna. Mengomel juga tidak ada yang mendengarkan. Kondektur yang menagih ongkos juga kadang cuma mendesiskan kata maaf yang agak tidak jelas kalau diprotes, kadang malah balik mengancam, “Kalau mau nyaman naik taksi aja, Bu!” dengan suara disetel kencang (Lho, apa dia tidak tahu bahwa naik taksi juga ada kekhawatiran tersendiri?). Lalu semua penumpang menoleh. Bukannya simpati pada kami yang protes tapi geram karena kok masih rewel saja jadi penumpang angkutan umum.






