Gosip Kantor
Senjata yang Bisa Makan Tuan
Pertanyaan semacam, ”Eh, ada gosip?” atau “Ada gosip baru nggak?” rasanya tidak asing kita dengar. Atau pertanyaan yang sebenarnya pernyataan, ”Tahu nggak kalau ternyata… bla… bla…” Lalu perbincangan pun dimulai, makin lama makin melebar, menukik, melambung, menajam, dan menyayat. Jadilah acara nggosip.
Gosip sering diplesetkan menjadi singkatan dari (makin) digosok makin sip. Makin dibicarakan makin asyik. Acara bergosip bisa terjadi di mana saja. Saat minum teh di warung atau ngopi bareng di café. Waktu menunggu bis di halte. Ketika arisan RT atau keluarga. Bahkan di meja kantin atau di meja rapat perusahaan. Pendeknya, gosip bisa berkembang dimana saja, tentang apa saja, dan mengenai siapa saja. Termasuk, tentu saja, di kantor kita.
Apakah gosip bisa membahayakan kehidupan di kantor?
Jangan-jangan gosip kantor terkait juga dengan politik kantor?
Politik kantor (office politics) berbeda dengan gosip kantor (office gossip) dalam hal orang melakukan politik kantor untuk tujuan mendapatkan keuntungan, sementara gosip boleh jadi hanyalah aktivitas sosial biasa. Walau demikian kedua aktivitas itu bisa saling berkaitan satu sama lain. Gosip kantor seringkali digunakan oleh orang untuk menempatkan dirinya pada titik dimana dia dapat mengontrol arus informasi dan karenanya mendapatkan keuntungan maksimal.
Journal of Contemporary Ethnography edisi Oktober 2009, seperti dilaporkan oleh The New York Times, memuat penelitian tentang gosip. Pasti banyak yang tidak menyangka kalau gosip bisa jadi subyek penelitian dan dimuat di jurnal ilmiah. Tim Hallett, sosiolog dari Indiana University bersama Donna Eder, dan Brent Harger dari Albright College, melakukan studi ethnografi politik di tempat kerja selama dua tahun pada suatu sekolah dasar di daerah urban.
Dr Hallett menyatakan bahwa gosip kantor itu seperti gosip informal lainnya tapi bisa lebih “kaya” dan mendetail. Gosip kantor juga biasanya tersembunyi karena orang tidak berani terang-terangan. Orang lebih berhati-hati karena mereka tahu bahwa mereka tidak hanya bisa kehilangan teman tetapi juga pekerjaan.
Peneliti menyimpulkan bahwa gossip di tempat kerja adalah “suatu bentuk perang reputasi”
Gossip in the workplace can be a weapon in reputational warfare or a gift and can offer clues to power and influence not found on organizational charts.
Lebih lanjut, Dr Hallett juga mengatakan:
“Be aware that what is going on is a form of politics and it’s a form of politics that can be a weapon to undermine people who aren’t present. But it also can be a gift. If people are talking positively it can be a way to enhance someone’s reputation.”
Ya. Sangat mungkin memang, gosip menjatuhkan seseorang jika target gosip dijelek-jelekkan tapi ada kalanya jadi “berkah” kalau orang yang menjadi target gosip justru dibaik-baikkan (ada toh? He he…).
Tapi umumnya yang berlaku adalah seperti yang dikatakan pepatah lama. Gosip itu seperti garpu dengan tiga ujungnya yang lancip. Dia bisa menyakiti yang berbicara, yang mendengarkan, dan tentu saja target gosip. Artikel itu juga menyimpulkan bahwa gossip kantor tidak baik dari segi moral maupun produktivitas, dan bisa jadi sangat, sangat buruk.
Karena hampir tidak mungkin menjadikan area kantor sebagai daerah bebas gosip, para peneliti ini kemudian memberikan tips bagaimana menangani gosip:
1. Gunakan evaluasi pre-emptive positif
Jika ada yang mulai bergosip tentang seseorang, komentar balik seperti, “Bukankah dia punya prestasi bagus?” bisa menurunkan semangat orang yang ingin bergosip tentang orang itu.
2. Berlagak bodoh
Jika ada yang memulai bergosip dengan melontarkan pernyataan sinis nyaris sarkastik, misalnya, “Oh dia kan memang hebat kerjanya!” maka tanyakan apa maksudnya dengan pernyataan itu. Tanya saja dengan nada yang biasa, santai, dan ceria.
3. Ganti topik pembicaraan
Jika pembicaraan sudah mulai “panas”, ganti segera topik pembicaraan. Untuk ini kita harus tahu topik yang hangat di kantor, sehingga kita bisa segera mengganti pembicaraan yang tidak karuan juntrungannya menjadi lebih produktif. Misalnya:
Tukang gosip: “Eh lihat nggak si A tadi? Ya ampun, dia pakai baju hijau udah kaya lontong aja…”
Anda: “Ngomong-omong soal hijau… Kantor kita kan ikut program penghijauan di Pantai Kapas… Kita ikut yuk, sekalian jalan-jalan!”
4. Kembali bekerja
Jika pembicaraan sudah semakin ngawur, gosip sana gosip sini tidak terkendali, cara terakhir adalah kembali mengingatkan kepada semua orang untuk melakukan sesuatu yang seharus dikerjakan di kantor, “Hei… Bukannya ada yang harus kita kerjakan? Ayo, kembali bekerja!”






January 1st, 2010 at 2:51 pm
Saran yang sangat berguna, terjebak dalam gosip memang tiada ujungnya.
January 1st, 2010 at 7:22 pm
wah, yang ketika bagus banget bu sarannya
hehehe, mengalihkan perhatian dengan mencari topik lain :p
January 4th, 2010 at 4:54 pm
Makasih Wahyu atas kunjungannya. Ya, sedapat mungkin memang jangan sampai terjebak dalam gosip. Sebagai penyebar, pendengar, atau pun jadi target gosip. Buat Jemiro: sudah pernah mencoba? He he… Lumayan manjur lho.
January 5th, 2010 at 6:50 am
Psst ada gosip apa nih ? wahahahaha
January 5th, 2010 at 9:45 am
Psssttt… Made, diam-diam aja yah! Wahahahaha… Malah mulai bergosip…
January 7th, 2010 at 2:53 am
What are we doing at work? Working hopefully. While no one expects we to be all business all the time. Too much time spent chit chatting means too little time working.
January 7th, 2010 at 9:56 pm
emang punya kantor?
kantor pos?
January 9th, 2010 at 2:41 pm
Pak Jaka, begitulah… Tapi jangan-jangan chit chatting-nya bagian dari pekerjaan, bagian dari tugas, he he… Bu SSiregar masa lupa kalau pernah menyebut ruanganku sebagai kantor titik-titik tiga…? Ha ha… Tapi yang jelas-jelas punya kantor memang pos, polisi, dan pajak ya…
January 11th, 2010 at 11:38 pm
Discuss personal matters with our co-workers? I think, it’s kind of hard not to….., Mbak Ati! After all, these are the people with whom we spend at least eight hours a day, six days a week. We’re practically living with them — we spend more time with our co-workers than we do with our own family.
If we don’t talk to them, we may lose our mind…
January 25th, 2010 at 5:21 pm
hehe nanti dicoba ah, jitu kayanya,
kalo masih back to topic gimana tuh bu? hehe
oia thx FBnya dah di prov
mohon bimbingannya bu
February 2nd, 2010 at 8:19 am
[...] di mall pada akhir pekan. Mereka biasa ngobrol ngalor-ngidul, dan ya… kadang tentang isu dan gosip di kantor [...]