Politik Kantor Tidak Harus Kotor
”Malas deh, ngikutin politik kantor.” Begitu kira-kira pernyataan seorang teman padaku baru-baru ini. Sadar atau tidak, lingkungan kerja memang sering jadi arena politik. Ada kasak-kusuk, mungkin malah bujuk membujuk, adu taktik, bisa penuh intrik, kadang pelik, bahkan ada kalanya licik. Hm… Tidak selamanya begitu dan rasanya tidak harus begitu juga. Politik kantor pun bisa santun dan beretika.
Politik kantor (office politics) memang bisa diartikan sebagai cara para pegawai berlaku di antara sesama mereka. Ini bisa berarti negatif atau positif. Menurut Eileen Rachman, dari lembaga sumber daya manusia, Experd, politik kantor menjadi nyata pada lembaga yang kekuatan sumber daya manusianya tidak seimbang. Misalnya banyak yang produktif sementara banyak yang bermalas-malasan atau juga karena job description yang tidak seimbang. Kondisi tersebut bisa membangkitkan rasa tidak aman dalam bekerja. Rasa tidak aman ini terutama akan lebih terasa pada orang yang sama sekali tidak ingin ”bermain” atau tidak menyadari apalagi tahu cara mainnya.
Sebetulnya apa sih yang ingin dicapai dengan ”bermain” politik di kantor? Ada yang menyasar gaji yang lebih besar atau hal-hal material lain. Ada yang mementingkan karir yang melesat, kinerja makin bagus, dan peningkatan kompetensi. Ada yang merasa harus mempertahankan posisi dan keamanan (baca: kenyamanan) kedudukannya. Ada yang berharap dapat diterima di kelompok tertentu. Ada pula yang ingin memiliki kekuatan dan kontrol atas situasi di kantor.
Konon, orang yang kuat dalam perusahaan adalah orang yang pandai berstrategi dan politically savvy. Mereka tahu bagaimana berhubungan dengan atasan, bagaimana tampil di rapat penting, tahu mendekati orang-orang kunci, menunjukkan corporate manners yang baik, dan merupakan anggota tim yang bisa diandalkan. Walau demikian, pada banyak situasi, berharap segalanya berjalan sesuai sistem yang berlaku memang hampir tidak mungkin. Jadi upaya persuasi dan berpolitik harus dilakukan. Asalkan tetap berlaku fair, tidak curang dan manipulatif.
Masalahnya, politik kantor memang sangat dekat dengan isu manipulasi itu. Manipulasi bisa terjadi pada setiap hubungan dimana satu atau lebih pihak yang terlibat menggunakan cara tidak langsung untuk mencapai tujuannya. Manipulator ini sering mencapai karir atau tujuan personalnya dengan memanfaatkan sebanyak mungkin koleganya dalam rencananya, memperkuat posisinya dengan memastikan bahwa dia adalah orang yang terakhir disalahkan jika ada yang keliru, bersekutu dengan semua orang, jika perlu beralih ke pihak tertentu sesuai dengan agenda tersembunyi pribadinya.
Itulah sebabnya politik kantor sering menjadi isu besar dalam bisnis karena orang yang memanipulasi hubungan kerjanya bisa menghabiskan waktu dan sumber daya milik tim atau perusahaan untuk kepentingannya sendiri. Praktek politik kantor juga bisa berdampak serius pada proses bisnis, misalnya pada pembentukan strategi, penyusunan anggaran, manajemen kinerja, dan kepemimpinan. Hal ini bisa terjadi bila orang yang bermain politik kantor melakukan interferensi arus informasi. Informasi bisa dibelokkan, disalaharahkan, atau ditahan, untuk memanipulasi situasi demi keuntungannya sendiri.
Bagaimana menanganinya? Itulah yang sulit dicari resep ajaibnya. Setiap lingkungan perusahaan berbeda situasi dan kondisinya. Yang jelas, agar bisa eksis di perusahaan (atau organisasi apa pun), kita harus bisa memberikan kontribusi yang signifikan. Tanpa kontribusi berarti, sebaik apa pun bermain politik, akhirnya toh tidak bisa melanjutkan karirnya. Sementara yang sudah punya kinerja baik, punya kans untuk tetap diperhitungkan oleh perusahaan, asalkan mengasah kemampuan soft skills-nya, termasuk menjalankan politik kantor yang baik. Misalnya bagaimana cara berinteraksi, bersikap dalam rapat, berhubungan dengan atasan dan orang kunci, membina hubungan emosional yang sehat, serta menonjolkan orang lain tanpa lupa memunculkan diri sendiri. Jika kita yakin dengan kontribusi kita untuk perusahaan, mempraktekkan cara gaul yang murahan seperti bergosip, menekan anak buah dan rekan, menyalahgunakan jabatan, mencari muka atasan tanpa alasan, dan sejenisnya tidak harus dilakukan.
Jadi, kerja keras saja memang tidak cukup, perlu kerja cerdas dan tetap mempertahankan integritas. Jika tetap tidak ingin pusing dengan politik kantor, barangkali tips berikut bisa juga dipraktekkan:
1. Bersikap adil
Memang terkadang permainan politik bisa berjalan dengan keji dan kotor. Tak perlu terbawa arus, tetaplah fokus pada isu utama, bukan pada individu. Bersikap fair tanpa menghakimi dalam menghadapi masalah.
2. Menjunjung etika
Sopan santun, hormat, tata krama, dan etika kantor, tetap harus dijunjung tinggi. Tunjukkan corporate manners yang baik dan dorong rekan kerja melakukan hal yang sama.
3. Kepala dingin
Jika kita memandang segala sesuatu sesuai porsinya, mestinya tidak ada kejadian yang mengejutkan di kantor. Jadi walau tidak terlibat, tidak ada salahnya mengetahui peta perpolitikan di kantor, misalnya siapa bergabung dengan siapa.
4. Tutup mulut
Bergosip memang mengasyikkan tetapi lebih baik tidak terlibat gosip yang terkait urusan pekerjaan. Jangan terpancing apalagi sampai membeberkan rahasia perusahaan.
5. Tetap produktif
Tetaplah berusaha untuk membuat diri lebih diperhitungkan. Caranya adalah melalui prestasi dan kinerja yang luar biasa.






December 28th, 2009 at 1:03 am
curhat ceritanya?
December 30th, 2009 at 5:28 pm
[...] Ati Harmoni Sentimental Journey… ← Politik Kantor Tidak Harus Kotor [...]
January 5th, 2010 at 4:32 pm
dalam kegundahanpun (hanum : curhat ceritanya ?) tutur katamu tersusun apik,… sebuah tulisan yang bisa dijadikan cermin diri, mampukah kita bertindak bijak dalam setiap proses….
aku belum……….. tanks
January 7th, 2010 at 3:07 am
“Eighteen percent of an administrator’s time — more than nine weeks out of every year — is spent resolving conflicts among employees”
(”Surviving Office Politics.” Talent Scout. April 16, 1998).
September 21st, 2011 at 11:29 am
rasanya masih sulit untuk menekan diri dari politik kantor yang kotor….
alasannya hanya sepele.budaya kerja kita sudah mengakar dengan kalimat “yang Dekat Yang Dapat”.ini yang mendorong menhalalkan cara untuk bisa mendapat posisi ataupun kedekatan dengan atasan.
salam kenal….