Akademos
Tiga tahun yang lalu, Desember 2006, aku bertemu dengan dosen di Fakultas Psikologi UI ini. Waktu itu kami bersama-sama tengah menjadi peserta Pelatihan dan Lokakarya Pengembangan Soft Skills di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Direktorat Kelembagaan Dirjen DIKTI. Dalam kesempatan diskusi kelompok membahas program, aku mendapat kesan kalau dia ini orang yang aktif dan penuh ide. Barangkali karena selain menjadi dosen, dia juga meneliti dan memberikan konsultasi masalah psikologi. Banyak membaca pula. Sehingga wawasannya luas. Dia menunjukkannya dalam setiap kesempatan bicara atau tampil.
Pertemuan kembali dengannya adalah dua tahun kemudian. Tidak langsung. Tapi lewat karya yang ditulisnya. Aku menemukan bukunya dipajang di rak suatu toko buku di Depok. Saat itu rasanya aku tidak terlalu terkejut. Dari pertemuan selama 5 hari pelatihan dan lokakarya itu aku sudah menduga kalau dia sangat mungkin punya kemampuan itu. Menulis buku dan menerbitkannya. Memang baru kali ini aku mendapatkan bukunya. Sebuah novel setebal 368 halaman. Bukunya yang lain ada di ranah psikologi dan filsafat. Kategori yang jarang kujenguk, he he… Ada juga sih buku kumpulan cerpennya yang sudah pernah terbit, baik yang ditulisnya sendiri maupun kumpulan cerpen bersama penulis lain.
Akademos adalah sekolah di suatu taman di sudut kota Athena yang didirikan oleh murid Socrates yang sangat terkenal, yaitu sang filsuf Yunani Plato. Akademos kemudian menjelma menjadi Fakultas Psikologi UI tempat Didit, tokoh dalam novel ini menimba ilmu dan memulai kisah-kisah cintanya. Cerita dimulai ketika Didit diterima di Fakultas Psikologi hingga dia lulus delapan tahun kemudian. Periode yang sangat panjang untuk bisa mendapatkan banyak pelajaran dan juga untuk menjalin cinta dengan beberapa gadis di kampusnya.
Novel ini memang bercerita tentang percintaan Didit. Diawali dengan perpisahannya dengan Dita, pacarnya semasa SMA lalu mulai merasakan lagi getar cinta ketika jumpa Andin, seniornya di kampus pada masa orientasi. Andin yang mengenalkannya pada karya sastra. Membuat Didit patah hati karena harus putus di tengah jalan. Ternyata Andin sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Lalu bertemu Rosa yang melambungkan kembali semangatnya. Oleh Rosa, Didit diperkenalkan dengan dunia kosmopolitan dan kontemporer. Dari makanan hingga musik blues. Toh mereka mesti berpisah juga karena ditentang keluarga Rosa akibat perbedaan agama. Lalu satu gadis lagi mengisi kenangan hidup Didit, Ranti sang aktivis yang memperkenalkannya pada pergerakan mahasiswa, demonstrasi, dan pemikiran filsuf dunia yang radikal.
Sampailah di suatu saat. Hidup adalah sketsa-sketsa yang terlihat di balik jendela ketika pagi-pagi kita membukanya, membiarkan matahari menerobos kamar… (Coda, 369). Ya, novel ini memang layaknya sebuah sketsa yang menggambarkan fragmen hidup Didit. Perjuangannya mencari makna. Sebuah novel yang menarik karena penulisnya tidak hanya sekedar mengisahkan cinta masa muda di kampus, tetapi juga memberikan banyak catatan yang berharga tentang banyak hal. Sisipan artikel (box) itu turut menambah wawasan pembaca. Mulai dari syair lagu dengan chord-nya, sejarah singkat fiksi, sejarah musik blues ,sejarah kopi, resep masakan, hingga pemikiran filsuf tentang perilaku manusia, dll (sayang tidak ada catatan tentang peristiwa Mei 1998 yang menyertai kisah Penembakan Mahasiswa hingga Memanen Kegembiraan).
Aku tidak tahu apakah Bagus Takwin, penulis novel ini, dosen yang kutemui saat ikut lokakarya ini juga melankolis, tapi Didit sang tokoh novel, menurutku, memang digambarkan agak (terlalu) melankolis. Tapi secara keseluruhan novel ini menarik. Perbedaan karakter dan hobi para pacar Didit: Andin, Rosa, dan Ranti, membuat kita bersama-sama Didit, ikut belajar banyak tentang keanekaragaman dunia dan seisinya. Termasuk berbagai teori psikologi dan pendapat filsuf dunia. Tak heran karena Bagus menyelesaikan pasca sarjananya di jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI. Karenanya Bagus punya kapasitas untuk itu, termasuk menuliskan bagaimana kondisi kampus saat menjelang kejatuhan Soeharto, presiden saat itu. Untuk yang sedang belajar psikologi atau filsafat, boleh juga membaca novel ini. Sambil menyelam minum air.
Satu peringatan saja bagi pembaca, mungkin ada yang terkejut atau bingung dengan pergantian penutur dalam novel ini. Kadang Didit bertutur sebagai orang pertama, sebagai ”aku”, tapi dalam banyak bagian dia dikisahkan sebagai orang ketiga. Menurutku sendiri, itu tidak mengganggu. Lagipula bahasa dan pilihan kata Bagus juga bagus.
Judul: Akademos
Penulis: Bagus Takwin
Kategori: Novel
Penerbit: Jalasutra
Tahun: 2003





