Luna di Dunia Maya
Luna Maya jadi berita. Mestinya itu bukan berita. Sudah biasa kan artis jadi berita? Tapi ini beneran berita karena Luna tidak diberitakan sedang hidup tenang nyaman menjalankan profesinya atau menikmati kehidupan pribadinya, melainkan diadukan ke polisi oleh wartawan infoteinment. Kan katanya, bad news is a good news. Lho ini bad news buat siapa, good news buat siapa ya? Hidup ini memang susah, maka untuk menghibur diri sendiri kita tonton saja kesedihan orang lain, kekecewaan, kemarahan orang lain… Melihat orang tersandung, dirundung masalah kita lalu agak lega jadinya, “Oh… ternyata ada (banyak) yang lebih susah dari aku ya…” Astagfirullah… Pasti bukan begitu maksudnya semua “berita buruk” itu disebarluaskan. Karena jika memang hanya “berita buruk” yang layak jadi berita, pantas saja dunia jadi tambah muram dan geram. Menyedihkan…
Kembali ke Luna Maya. Tulisan di akun pribadinya, di Twitter, dianggap melecehkan wartawan infoteinment. Konon Luna bisa dijerat berdasarkan UU ITE. Mungkin Luna lupa bahwa dunia maya bisa jadi kepanjangan dari dunia nyata. Apa yang dilontarkan di dunia maya bisa berdampak di dunia nyata. Tapi siapa yang bisa menduga apa sebenarnya yang dia rasakan hingga keluar tulisan yang kemudian menyinggung para wartawan yang biasa mengejarnya, yang berharap ada yang bisa dikulik dari sang artis hingga jadi berita?
Terkait dengan hubungan artis dan wartawan aku jadi ingat Dessy Ratna Sari dengan “No comment”-nya. Di dunia yang lebih jauh… Aku juga ingat Robert de Niro yang sungguh ogah ditanya wartawan tentang hidup pribadinya. Aku kok bisa menghormati pendirian mereka. Seberapa perlu sih aku tahu apa yang dia makan? Baju apa yang dia pakai? Siapa yang dia telpon, siapa yang dia kasih hadiah? Apa isi mimpinya semalam? Bagaimana dia menghabiskan waktunya di luar pekerjaannya? Ya ampuuun, aku menggeleng-geleng kepala. Oh ya, mereka adalah figur publik, lalu apa? Hm… tapi ini lah dunia yang makin terbuka. Kayaknya kok tidak penting kamu mau atau tidak, suka atau tidak, perlu atau tidak… Sebagian orang juga berpendapat, atas nama profesi, wartawan boleh bertanya, menulis, atau menyampaikan apa saja. Media menyediakan semuanya. Silakan pilih… kamu punya kebebasan menentukan (berita) apa yang menurut kamu bisa membuat sejahtera dan bahagia.
Aku teringat film yang pernah kutonton bertahun-tahun yang lalu (sekitar 1993). Film Hollywood biasa sih. Kukira film drama komedi ini dibuat untuk hiburan saja. Judulnya Hero (atau di Indonesia dipasarkan dengan judul Accidental Hero). Dustin Hoffman, seperti biasa, bermain luar biasa. Bintang lainnya di film itu adalah Andy Garcia dan Geena Davis. Hoffman berperan sebagai Bernie La Plante yang kebetulan berada di dekat tempat pesawat yang mengalami kecelakaan. Dia bermaksud mengambil apa yang bisa dia curi dari dalam pesawat yang jatuh itu, tapi kemudian dia menyelamatkan beberapa orang yang mengalami kecelakaan itu. Salah satunya adalah seorang reporter televisi (diperankan oleh Geena Davis). Bukan ceritanya benar yang menarik dari film itu yang mengingatkanku pada kasus Luna Maya.
Apa yang kukenang dari film itu adalah adegan ketika Gale Gayley, sang reporter, memberi sambutan pada malam dia memenangkan penghargaan sebagai wartawan. Dia membawa sebutir bawang bombay. Dia menggambarkan tugas wartawan yang mengupas satu kasus, mendalami sumber berita, sambil menguliti bawang lapis demi lapis… Mulai dari kulit arinya yang tipis… ”Ya, kita kupas terus, satu demi satu kita buka… kita gali lebih dalam, berharap mendapat inti yang bisa jadi berita. Hingga akhirnya… semua kulit sudah dikelupas… Apa yang kita dapat?”






December 21st, 2009 at 12:51 pm
Luna Maya mesti ganti nama, jadi Luna Nyata….
May 18th, 2011 at 10:34 pm
luna di dunia maya..ada ada aja nich mas.hahaha… visit juga http://bmt.umy.ac.id
February 9th, 2012 at 11:26 pm
otak kita slrkngiaei menganggurutk merenungkan bgm cara menciptahati kita sering tergiurutk merenung bgm cara membeli