Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for August, 2009


Published August 27th, 2009

Sebutir Mutiara dari Ciborelang

Dulu sekali, ketika aku kecil, di Ciborelang Jatiwangi, aku punya tetangga yang sangat sederhana. Rumahnya kecil berdinding bambu dengan lantai dari batu bata. Cuma ada satu ruangan untuk semuanya. Tempat tidur di satu pojok, dapur di sudut yang lain. Lalu di tengah ruangan ada meja kayu dengan empat kursi yang juga sangat sederhana. Mereka punya satu anak yang masih batita. Kamar mandi? Oh, mereka menumpang sumur dan kamar mandi di rumah tetangga yang menempel di sebelahnya.

(more…)

Published August 24th, 2009

Rapat sampai Konferensi

Saat membuka kotak surat elektronik staff milikku, aku mendapati beberapa undangan yang masuk. Mulai dari undangan rapat, seminar, simposium, lokakarya, hingga konferensi. Aku tergoda untuk membuka kamus. Apa sih perbedaan antara itu semua? Kadang-kadang, aku menjumpai walau namanya berbeda tapi format acaranya sama saja. Sebaliknya, walau diberi nama yang sama, acaranya bisa berbeda susunannya. Berikut adalah hasil pencarian di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ke-3 tahun 2001 terbitan Balai Pustaka, Jakarta:

(more…)

Published August 15th, 2009

Sejarah

Sejarah adalah kebenaran yang
kadang diingkari dengan dendam
kadang diakui dengan maaf
kadang dikenang dengan senyum
tapi kadang bahkan tidak dianggap sama sekali

Published August 12th, 2009

Ada yang Mis Walau Sudah Diprepar…

Pukul duabelas kurang limabelas, Wati melirik arlojinya. Wati sedang terperangkap dalam suatu rapat yang menjengkelkan. Terperangkap? Menjengkelkan? Begitulah. Karena rapat terlambat tigapuluh menit dari seharusnya. Dan…

Wati gelisah, jemari mulai iseng memilin-milin kertas notes menjadi gulungan kecil. Lho untuk apa? Untuk menggelitik telinganya yang mulai gatal menangkap semua kata yang berhamburan di udara. Mereka yang berbicara di rapat ini rupanya hanya sibuk memungut susunan huruf yang mungkin ada di dunia sehingga timbullah kalimat semacam ini:

(more…)

Published August 6th, 2009

Lagi-lagi Uang…

Orang yang tidak punya uang tidak bisa jalan-jalan, jajan, belanja, nraktir, nonton konser dan lain sebagainya dengan seenaknya… Ha… semua orang juga tahu. Jangankan jalan-jalan yang perlu ongkos (karena pasti jalan-jalan itu artinya bukan jalan sehat untuk maksud olah raga toh?), buat ongkos pergi ke tempat kerja atau kuliah saja nggak cukup… Jangankan jajan, wong buat makan sehat dan teratur aja nggak bisa…

Tapi… ”Ternyata uang bukan segala-galanya…” Kata salah seorang sobatku. ”Lho, kok baru tahu?” Tanyaku… Ha ha… Dia malah tertawa, ngakak. Lalu terdiam lamaaaa sekali. Tercenung. Kita butuh uang untuk bisa mendapatkan barang dan jasa. Dunia ini memang sudah sangat material. Segala-gala diukur dan ditukar dengan uang. Memang lebih mudah sih membuat tabel dengan kolom-kolom berdasarkan angka, lalu memasukkan barang, jasa, bahkan orang, ke dalam kolom-kolom tersebut. Jadi, berapa harganya? Berapa juga hargamu? Waduuuhhh…

(more…)

Published August 2nd, 2009

Sepenggal Senja Bersama Nyoman Nuarta

Selasa, 28 Juli 2009. Kami baru saja menghabiskan nasi timbel di suatu rumah makan di Bandung, ketika salah seorang teman mengusulkan untuk mampir ke NuArt. Kami, Bu Marliza, Pak Hendro, Bu Crispina, Pak Furuhitho, dan aku, dalam perjalanan menuju Lembang untuk menghadiri rapat kerja. Wah boleh juga idenya. Matahari masih terik menyengat kota Bandung, sementara rapat baru akan dimulai pukul 19.00 malam nanti. Aku browsing dulu untuk menemukan alamat lengkapnya. Setelah mendapat alamatnya, berangkatlah kami menuju ke NuArt Sculpture Park di Jl. Setra Duta Kencana II/11 Bandung milik perupa Nyoman Nuarta itu…

img0162aPerlu beberapa kali bertanya untuk sampai ke sana. Agak mengherankan karena, bahkan sebelum masuk kota Bandung, papan petunjuk ke café, resto, mall, dan factory outlet sudah bertebaran, tapi kami gagal menemukan papan petunjuk menuju NuArt ini! Walau demikian akhirnya kami sampai juga di NuArt di tengah perumahan di daerah Karang Setra, Bandung. NuArt Sculpture Park seluas kurang lebih 3 ha itu memang milik pribadi dan dikelola oleh sang empunya sendiri.

(more…)

Published August 1st, 2009

Bang Bing Bung… Menabung… Wati Bingung

Hei… kali ini cerita ditulis oleh Wati sendiri. Pada suatu pagi yang cerah dia datang menyerahkan naskah. Wah… boleh juga. Kisah dari nara sumber asli! He he… Jarang-jarang lho aku dapat rejeki nomplok seperti ini. Aku baca sekilas… Oh Wati masih memakai bahasa Melayu-nya yang khas… Tak apalah… Kupoles sedikit saja ya?

Suara adzan dari langgar sebelah rumah masih bergema, eh… ada suara tanpa judul memasuki telinga Wati yang matanya masih merem melek mikir mimpi tadi pagi. Mimpi ditraktir seorang teman di suatu restoran wah dengan hidangan yang cuma membuat Wati melongo. Ah, ini bukan mimpi. Ternyata pada kenyataannya ada yang sibuk menelepon di pagi nan gerah. Maklum bulan Juli di Depok. “Wei… eh hola… eh mami…” Ya ampun, ternyata ibunda yang menelepon dari kota kecamatan nun di sana yang beda waktunya tiga puluh menit dengan kota Depok.

“Hai Wati, lama amat sih ngangkatnya? Belum bangun ya? Aduuuh anak perempuanku koq semakin malas…”

“Hah, tadi sih udah bangun tapi koq enakan tidur… Ada gosip apa, Ma? Siapa yang kawin?”

”Ih, nyari undangan melulu. Begini lho, mama cuma ngasih tahu kamu kalau tabungan mama yang di bank ANU udah mama tutup. Jadi kamu jangan kirim-kirim pake tabungan itu.”

”Lho… koq gitu. Kenapa, Ma? Sebel ya Ma nggak pernah dapat hadiah?”

”Mama sebal. Itu bank mottonya bukan lagi mempermudah nasabah tapi merepotkan… Habis… sekarang karena nggak punya kartu ATM kalau mau transaksi, mama nggak bisa di sini, harus ke kantor pembuka yang jauhnya tiga puluh lima kilometer itu… Udah gitu biayanya pun andai mamamu ini bikin kartu… uh… biayanya besar. Nggak sesuai sama perolehan per bulannya. Wah jadi judulnya cuma ikut menggaji karyawannya. Ya nggak?” Wati masih mendengarkan sambil manggut-manggut.

”Eh, begitu mau nutup sama bagian konsumen koq dipersulit, disuruh nunjukin Kartu Keluarga, nggak cuma KTP seperti di prosedur… Mamamu ini sampe marah dan menggebrak meja.” Wow, mata Wati langsung melek selebar-lebarnya. Mama menggebrak meja? Berarti sudah sangat keterlaluan situasi yang dihadapinya… Ho, mamanya Wati sangat sabar lho… (Lha wong sanggup jadi mamanya Wati).

Seraya menggosok gigi, pikiran Wati membahas telepon mamanya tadi. Masa kini, keuntungan menabung di bank bukan lagi dari peningkatan jumlah tabungan. Justru harus siap menghadapi kemungkinan penurunan jumlah tabungan akibat iming-iming kredit konsumsi dan yang jelas, karena biaya bank yang kini semakin besar. Sungguh berbeda situasinya di kala Wati masih imut berpuluh tahun yang lalu. Sejak kecil, Wati sudah menabung minded, punya celengan tanah liat yang tiap bulan dikepruk, lalu berbagai pecahan isi celengan itu digotong ke bank rahayat. Mbak kasirnya tersenyum mengacungkan jempol. Walau pun nilainya kecil, Wati gembira sekali melihat deretan angka di buku tabungannya, ada peningkatan lho tiap bulan. Benar juga kata Titiek Puspa… ”…tiap bulan tahu-tahu dapat untung…”

Suatu waktu di kala kuliah, Wati juga punya tabungan yang sudah pasif bertahun-tahun. Waktu cek saldo, ternyata tetap ada peningkatan jumlah… Hal yang tidak mungkin lagi terjadi saat ini. Pertanyaannya adalah mengapa? Apakah sedemikian besar biaya teknologi sehingga begitu besar juga yang harus ditanggung konsumen?

Kemarin, Wati memutuskan tidak jadi transfer dari suatu bank ke bank lain karena biayanya yang… menurut Wati sih, lumayan besar.

Di televisi Wati melihat bagaimana sedihnya konsumen bank kalau mengalami masalah… Habis manis sepah dibuang, kalau ada krisis uang hilang… Waduh Wati jadi bingung, dimanakah dia harus menyimpan uang? Apakah dalam bantal yang bau iler? Ataukah dalam guci tempat beras? Pusing deh…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.