Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for July, 2009


Published July 29th, 2009

Seberapa Kurangkah?

Aku berkeluh kesah pada seorang sahabatku nun jauh di sana. Percakapan di dunia maya yang sangat terbuka. Teknologi memungkinkan kami mengobrol seru seolah tak berjarak ruang dan waktu. Padahal entah berapa kilometer dan berapa jam kami terpisah.

Dulu percakapan ini biasa kami lakukan juga, sambil duduk di kursi kayu yang keras di teras  (atau di mana saja sih… sebenarnya). Tidak ada penganan menemani. Toh kami tidak terusik. Sebab yang kelaparan bukan perut kami. Aku sering tersenyum mengenang perbincangan yang gak jelas topiknya itu. Mula-mula tentu saja laporan takso, histo, atau apa sajalah tugas membuat makalah. Lalu subyeknya menggurita… Lho, bukankah dunia memang milik kita yang muda?

Tapi toh yang muda tidak hanya punya dunia. Mereka juga punya kegelisahannya sendiri. Punya pertanyaan-pertanyaan yang entah ada jawabnya atau tidak. Atau justru seharusnya tidak perlu bahkan tidak boleh ada pertanyaan. Kami tidak tahu. Nyatanya kami, terutama aku, tergoda untuk mengasihani diri sendiri juga.

Hei, waktu berjalan…

Semua yang muda sudah beranjak tua. Ada yang menjadi dewasa dan ada yang masih dorman terus… Ha ha… Mungkin perlu enzim atau hormon khusus untuk mematahkan masa dormansi yang panjang ini pada sebagian biji. Seperti yang kita coba saat praktikum fisiologi, bukan?

Apa yang sudah kamu dapat? Apa yang diajarkan Sang Empunya Kisah kepadamu? Apa yang sudah kukerjakan? Apa yang sudah kuberikan pada Sang Pemilik? Tidak cukupkah kemewahan yang kudapat sekarang ini? Kenikmatan setiap kali terbangun dan mendapati secercah pagi menandai hidup dimulai lagi?

Sahabatku, kutuliskan kembali kutipan dari Mario Teguh yang kamu kirimkan di sini, biar aku malu jika terlupa.

Kurang kah yang kurang padaku,
sehingga aku harus memamerkan kekuranganku,
untuk mengundang kasih sayang?

Published July 24th, 2009

Pesonamu

Buat A dan R


Tidak Mengerti

Tidak. Aku tidak paham

Aku tidak buta

Tapi, bukankah mustahil mengerti

Semua kolom, semua relung dalam jiwa manusia?

Tidak. Aku tidak paham

Aku bukan tidak punya hati

Cuma terlalu banyak sisi

Tidak. Aku tidak berhenti


Sehabis malam

Apakah kau gelisah setelah percakapan panjang semalam?

Apakah kau masih bertanya setelah semua jawab yang tak tuntas?

Apakah kau masih ragu setelah semua peristiwa?

Yang terjadi dan yang luput dari ingatan?


Di bawah cemara

Kita biasa bercanda di bawah luruhan daun jarum

Aku menggaruk-garuk gatal

Terlalu. Semut merah tengah berpesta

Kita tertawa saja

Lembar-lembar hidup tengah diisi

Hei… boleh pinjam tip ex?

Ah… coret saja dengan spidol hitam atau merah itu!

Kita kembali menekuri catatan

Kamu. Kamu. Siapa yang tahu akan ada apa hari ini?

Kita terus bercanda.

Hanya pada Sang Waktu kita tunduk.


Pesonamu

Kesederhanaan dan kemegahan adalah pesona

Karena terpadu dalam satu ayunan langkah

Kebencian dan kecintaan jadi belenggu

Karena terpadu dalam satu tarikan nafas

Ketika semua berlalu

Hanya angin yang mendesau

Satu yang tertinggal

Senyummu.

Published July 23rd, 2009

Wati Berduka

Ada yang berbeda hari itu. Wati datang dengan wajah sedih. Tak ada kedipan mata genitnya. Tak ada senyum lebarnya. Bahkan kritikan tajam yang biasa dilontarkan setelah upacara kedipan mata dan senyum lebar pun ikut menghilang. Wati, duduk terhenyak di depanku. Loyo. Lemas tak bertenaga.

”Sudah dengar berita, Non?” Suaranya lirih saja. Aku mengangguk.

”Bodoh.”

”Tak punya hati.”

Aku mengangguk lagi. Sudah cukup. Sudah lengkap.

Apalagi yang bisa diharapkan jika kebodohan dan kebutaan hati bersatu?

Pagi itu, Jumat, 17 Juli 2009, Wati tidak tersenyum. Entah berapa banyak lagi wati yang lain yang bahkan tidak hanya tidak bisa tersenyum? Mereka yang kehilangan sanak saudara terkasih, keluarga tersayang, sahabat tercinta? Mereka yang terluka tidak hanya raga, tapi juga terguncang jiwanya?

Peristiwa di pagi itu, merenggut banyak hal. Juga kata-kata.

Published July 20th, 2009

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono

Sajak Duabelas

Langit tak pernah curiga. Ia hanya melengkung di atas kita,
di tengahnya matahari-seperti bola mata.
Langit tidak pernah mengawasi langkah kaki kita,
tak pernah risau apakah kita ke selatan atau utara.
Langit suka berkaca pada bola matamu, yang tak letih
Menatapku, yang tak pernah berkejap seolah kawatir ia akan
Meninggalkanmu; di tengah kota yang selalu gelisah membincangkan cuaca
langit tak pernah mendengar keluhmu, “Kenapa ia di sana?”

Sajak Empatbelas

Rasanya aku pernah mengenal jala laba-laba itu. Tidak
di hutan. Semakin rapat di antara penangkal petir pencakar
Langit dan menara mesjid. “Tapi benang-benangnya tak tampak,”
katamu ketika kita berusaha lolos darinya. Seperti sebuah jerit.

Sajak Tujuhbelas

Rambutmu berkibaran di arus angin penghujan,
beberapa percik air tempias di pipimu. Demi Tuhan,
bukan karena itu aku mencintaimu, bukan
karena bajumu yang kusut-tak kaurapikan.


Sapardi. Siapakah kamu? Apakah aku pernah mengenalmu?

Mengapa tidak sekalian kamu kuliti aku? Ceritakan saja pada semua orang tentang kesedihanku kemarin. Tentang kegelisahanku dua hari lalu. Tentang kemarahanku seminggu yang lalu… Tentang keterkejutanku beberapa tahun yang lalu. Semuanya. Pinggan yang kamu lukis itu… Masih ingat? Sudah gompil-gompil dan retak-retak… Heran aku karena sampai hari ini belum pecah berantakan. Ayolah… Katakan saja pada setiap pendengar setiamu tentang air mataku yang tak pernah lagi jatuh… tentang hatiku yang selalu gelisah karena terombang-ambing antara ingin menghiburmu dan membahagiakan hatinya… tentang kemarahanku karena tak mampu bahkan untuk sekedar menipu hati sendiri…

Sapardi. Siapakah kamu Sapardi?
Berjanjilah padaku bahwa kisah ini belum selesai. Mungkin rambutku nanti sudah sepanjang yang kamu bayangkan. Mungkin mataku nanti secemerlang yang kamu gambarkan. Mungkin. Tolong. Berjanjilah seandainya pun aku jauh dari yang kamu bayangkan dan gambarkan, teruslah bercerita… Sampaikanlah kisahmu.  Atau kabarkan sajalah hatimu sendiri…

Ha ha… GR banget ya. Tapi begitulah. Setiap kali membaca sajak-sajaknya aku jadi GR sendiri. Aku yakin. Sapardi sudah terlalu sering mendapat klaim yang bahkan jauh lebih hebat dan lebih baik dari itu. Tapi siapa peduli? Menurutku, puisi bernilai bagi yang mengapresiasi. Walau mungkin jauh dari bayangan sang penciptanya sendiri.

Mula-mula aku membaca Sajak Sembilanbelas di koran Pikiran Rakyat. Aku lupa tanggal berapa. Aku cari-cari lagi tapi tidak ketemu. Malah aku menemukan Sajak Satu sampai Sajak Delapanbelas di lembar Bentara harian Kompas sekitar Maret 2004. Rupanya sajak-sajak itu memang baru dipersiapkan untuk diterbitkan sebagai buku. Semoga saja segera terlaksana. Sebab, dalam Catatan pada buku, “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” Sapardi Djoko Damono sempat menuliskan kekhawatirannya bahwa jangan-jangan buku kumpulan puisinya itu adalah yang terakhir. Semoga beliau tidak marah. Sebab seperti suara yang mendadak muncul yang didengarnya, “Apakah orang marah bisa menulis cerita?”

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono lahir pada 20 Maret 1940 di Solo. “Duka-Mu Abadi” merupakan kumpulan puisinya yang pertama yang diterbitkan oleh pelukis Jeihan Sukmantoro pada tahun 1969. Kumpulan puisinya yang terakhir “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” (2002) diterbitkan oleh Yayasan Indonesia Tera bekerjasama dengan “Jurnal Kalam”. Buku puisinya yang lain yang kukoleksi adalah “Hujan Bulan Juni” (1994). Sedangkan buku puisi lainnya yang sudah diterbitkan adalah “Mata Pisau dan Akuarium” (1974), “Perahu Kertas” (1983), “Sihir Hujan” (1984),  “Arloji” (1998),  dan “Ayat-ayat Api” (2000).

Published July 18th, 2009

Que Sera Sera

Apa sih artinya suatu kejadian dan peristiwa yang berlangsung di sekitar kita?
Hanya suatu kejadiankah atau sekedar kebetulan?
Apakah setiap peristiwa adalah rangkaian dari peristiwa yang lain?
Ataukah setiap kejadian adalah mandiri, terlepas sama sekali dari kejadian yang lain?
Jika suatu peristiwa adalah bagian dari peristiwa yang lain, apakah segala sesuatu yang kukerjakan dapat mempengaruhi terjadinya peristiwa yang lain pada orang lain?
Ataukah sebaliknya, apa pun yang terjadi padaku sesungguhnya adalah rangkaian dari kejadian yang dilakukan orang lain?
Apa yang harus terjadi, terjadilah. Tapi apa sih yang harus terjadi itu?

Published July 16th, 2009

Kenangan Sepanjang Jalan Margonda Raya (2)

Makan yuk!

Menyusuri sepotong Jalan Margonda Raya, khususnya di area sekitar kampus D UG di Jalan Margonda Raya 100 untuk urusan makan sekarang. Ternyata, banyak warung makan yang dengan sangat percaya diri menyebut asal-usul daerahnya lho… Ini sungguh bukan soal SARA, tapi soal selera (makan). Ternyata, dalam radius 200 meter, segala rasa tersedia.

Mulai dari rumah makan Padang yang menjual randang dan teman-temannya, warung Tegal yang komplit lauk pauknya, dari tempe goreng hingga ikan tongkol dan telur dadar, sampai soto Ngawi yang tidak cuma jualan soto. Warung pempek Palembang yang selain menjual adaan dan kapal selam, juga menyajikan tekwan dan mie celor.

Bakso Malang di siang yang panas atau sore yang hujan? Boleh sekali. Mau bakso urat, bakso alus, tahu, mie kuning atau bihun? Silakan. Oh mau Gudeg Jogja juga ada. Dan jangan lupa, sroto Banyumas lengkap dengan mendoan. Aih… masih ditambah pula dengan pecel Madiun! Atau mau ke warung gado-gado Betawi ibu Umi aja? Tinggal pilih gado-gado atau rujak atau asinan… Kalau mau yang panas berkuah boleh pesan ke sebelahnya, soto Pak Sadi. Suroboyo rek!

Masih belum kenyang? Kita jalan lagi. Tak jauh dari situ, di samping jalan menuju stasiun Pocin, kita bisa makan mie Aceh yang… bikin keringat berleleran. Pedasnya itu lho! Ya sudah, ke sebelahnya saja, menikmati soto Kudus plus paru goreng, tahu dan tempe bacem, sate telur puyuh atau bakwan jagung.

Karena urusan makan ini, aku jadi ingat rumah makan dan warung yang bertahan dan yang sudah menghilang di sepanjang Margonda. Sekarang ini, sudah banyak warung dan rumah makan serta restoran baru yang muncul di sepanjang Margonda, tak sedikit yang tutup dan berganti dan berganti lagi bahkan beralih fungsi tidak menjual makanan lagi.

Published July 12th, 2009

Kenangan Sepanjang Jalan Margonda Raya (1)

Berjalan (kaki) sepanjang Margonda? Yang benar saja…!

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Depok awal tahun 1992. Jalan Margonda, entah waktu itu sudah pakai Raya atau belum, masih lengang. Kemacetan adalah hal yang tidak pernah terpikirkan. Menyeberang masih bisa leluasa. Merem juga bisa (he he… lebay). Saking sepinya. Bagaimana tidak, angkutan umumnya cuma ada bus Miniarta jurusan Pasar Minggu – Depok yang sudah menghilang begitu maghrib menjelang dan bus Patas 43 jurusan Pasar Baru – Depok, yang lewatnya entah kapan… saking jarangnya. Angkot D 11 sudah ada, tapi belum lewat jalan Margonda, jadi kalau mau ke Kelapa Dua dari jalan Margonda harus dua kali naik angkutan umum. Naik bus Miniarta dulu sampai halte UI lalu dilanjutkan naik angkot D 11 yang berputar di Gardu. Kalau tidak ingin ikut memutar, silakan menyeberangi rel kereta lalu menunggu angkot D 11 di halte UI di seberang jalan.

Sekarang ini mau ke arah mana saja ada bus kota dari terminal Depok melalui Jalan Margonda. Ke Tanjung Priok, Kalideres, Pulogadung, Bekasi, Blok M, Grogol, Senen, Tanah Abang, sampai ke Lebak Bulus. Ada! Naik angkot ke Kampung Rambutan, Pasar Rebo, Taman Mini, Pondok Labu, atau yang paling dekat, ke PAL? Bisa! Semua lewat Jalan Margonda. Oh, tentu saja Jalan Margonda sudah lebih lebar dari pada 17 tahun yang lalu. Sudah ada dua jalur untuk masing-masing arah dipisahkan oleh pembatas jalan (Pembatas jalan itu bagiku berfungsi juga untuk menenangkan diri dulu sebelum berjuang lagi menyebrang jalur satunya, he he…).

Dulu, sepanjang Jalan Margonda pun belum banyak rumah dan toko. Banyak lahan di kiri kanan jalan masih berupa kebon mangga dan rambutan. Sekarang sudah bersalin rupa jadi apartemen, mall, restoran, show room mobil, dan ruko. Dari kampus ke pertigaan Ramanda (dulu, Ramanda adalah satu-satunya dept store di sepanjang jalan ini), jalan kaki terasa sangat jauh karena sepi, tapi masih bisa dinikmati. Kalau lagi iseng, aku masih bisa jalan kaki dari Pondok Cina ke toko buku satu-satunya di Depok, yaitu Grafiti (yang lalu tutup). Tempatnya, kemudian berganti menjadi supermarket Hero, lalu sekarang Ace Hardware. Sekarang, jalan kaki dari depan kampus UG ke Margo City saja sudah deg-degan, karena khawatir terserempet bus kota, angkot, motor, atau menyenggol wajan panas milik pedagang gorengan, martabak, fried chicken, dsb. Trotoar yang ada adalah milik para pedagang kaki lima, atau jadi lahan parkir yang punya toko atau warung… atau tempat memajang mobil bekas yang dijual. Peringatan penting bagi pejalan kaki lainnya adalah tetap awas dan waspada juga dengan pengendara motor yang melawan arus.

Toko, warung, restoran, mall, ruko, dan perumahan bermunculan di wilayah Depok, tak terkecuali di sepanjang jalan Margonda. Tentu saja makin menambah meriah suasana jalan. Kalau dulu kemacetan hanya pada hari tertentu dan jam tertentu, sekarang kemacetan bisa dinikmati kapan saja sepanjang hari sepanjang tahun… mungkin kecuali saat lebaran. Jalan Margonda Raya ibarat etalase kota Depok. Kalau mau lihat kemajuan kota Depok, lihatlah jalan Margonda. Indikator kota yang maju yang sering diukur dengan adanya mall, ruko, rumah makan terkenal, bioskop, dan sejenisnya bisa dilihat di sepanjang Margonda. Sejak menjadi kota administratif lalu menjadi kota madya, Depok memang terus menggeliat… tapi di sisi lain, Jalan Margonda Raya menjadi makin tak memadai sebagai akses utama dari dan ke Depok. Sebagai orang awam, aku sering bertanya-tanya, tidakkah sebetulnya kondisi ini bisa diperhitungkan sebelumnya?

Lalu, akhir-akhir ini sudah mulai ada pengerjaan pelebaran jalan di beberapa ruas sepanjang Margonda. Wah, mestinya para pengguna jalan Margonda sudah bisa berharap kelak tidak perlu bermacet ria jika melintas Jalan Margonda. Mahasiswa yang mau ujian tidak perlu alasan kena macet jika terlambat… Apalagi kalau jalan tol juga jadi dibangun. Pasti akan mempengaruhi tingkat kepadatan lalin di Jalan Margonda. Ah… tapi… tapi… tapi…

Published July 10th, 2009

Gunadarma dan Ahli IT

Beberapa waktu yang lalu, aku sudah menulis tentang calon-calon dokter yang kutemui di atas Trans Jogja dari Ambarukmo ke Malioboro. Ya. Mereka para mahasiswa fakultas kedokteran dari universitas di daerah Cawang Jakarta. Masih ada yang tertinggal dari pertemuan dengan mereka itu. Saat itu mereka bertanya apakah aku dokter juga. Aku menjawab bukan. Lalu temanku menjelaskan bahwa aku adalah dosen di Jakarta, Depok tepatnya. “Oh… UI?” Aku menggeleng lagi. “Bukan.” Jawabku. “Saya dosen di Universitas Gunadarma.” Mereka saling pandang, “Kalau begitu mbak ini pasti ahli IT. Ahli komputer!” Seru para mahasiswi tersebut. Aku tersenyum. “Gunadarma kan jago di IT, kan?” kata salah seorang dari mereka padaku.

Temanku memandangku sambil tersenyum juga. Kebetulan aku ke Jogja karena acara yang berhubungan dengan IT. Tapi disebut ahli mah jauh pisan atuh. Dia, temanku itu,  masih sering tidak percaya kalau aku sudah “berpaling ke lain hati.” Tidak lagi mengurusi bakteri di laboratorium mikrobiologi. Atau sibuk mencampur ini itu di laboratorium biokimia. Melihat koloni jamur melalui mikroskop, atau kegiatan semacam lainnya. Aku bilang, aku sudah tidak luwes lagi memegang petri di atas bunsen, memegang pipet, menanam biakan mikro dan sejenisnya. Dulu, kalau jalan-jalan pun, yang diamati habitat ini itu lalu ambil sampel. Sekarang, kalau jalan-jalan yang dilihat warung jajanan. Ha ha… Sementara dia masih menikmati penelitian sampai ke pelosok Papua melihat berbagai biota.

Untunglah kemudian percakapan dengan rombongan calon dokter ini beralih ke bagaimana dan dimana belanja baju batik, tas etnik, selendang, sandal, asesoris dan sebagainya. ”Tapi yang murah-murah aja mbak… Dimana carinya?” Aku mengangguk. Ingat jaman kuliah dulu. Syarat terakhir itu yang paling penting dan menentukan. Ha ha… murah! Sebenarnya sih sampai sekarang juga begitu, he he… Temanku pun berusaha memberi petunjuk bagaimana dan dimana mesti berbelanja di Malioboro dan sekitarnya. Aku cuma mengangguk-angguk saja. Agak kurang pengalaman sih.

Apa yang ingin aku sampaikan adalah pernyataan tentang aku sebagai ”ahli IT” itu. Rupanya, begitu menyebut nama Universitas Gunadarma maka asosiasinya adalah IT atau komputer. Nah, silakan mengintepretasikan sendiri. Ini bisa jadi kekuatan, tapi juga sekaligus merupakan tantangan. Apa pun jurusannya, kemampuan IT melekat padanya. Apakah persepsi masyarakat di luar sana itu benar atau tidak? Yuk mariii!

Published July 7th, 2009

Pilihan

Kita tidak punya pilihan lain
Kecuali bahwa kita harus memilih
Mau tak mau.

Published July 4th, 2009

Uang: Lain Ladang Lain Belalang

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya

(pepatah Indonesia)

Ini soal uang. Bukan uang sebagai alat pembayaran yang sah, tapi lebih pada bagaimana kita menilai dan menghargai uang. Mengumpulkan rupiah demi rupiah itu kan tidak mudah (bagiku). Jadi kalau kadang-kadang terkesan sangat perhitungan mohon dimaklumi. Hi hi…

Ketika aku berkesempatan jadi tumis (turis miskin) ke negara tetangga, aku diingatkan untuk membawa mata uang lokal, kalau bisa dalam pecahan kecil juga. Negeri tetangga yang makmur berlambang binatang (?) berkepala singa tapi berbadan ikan itu punya mata uang yang disebut dollar. Sin Dollar lah. “Untuk tip…” Kata temanku yang memang sering ke manca negera. Ada kebiasaan memberi tip untuk setiap layanan yang diberikan. “Buat belanja barang-barang kecil juga,” katanya lagi. Aku cuma nyengir. Di dompetku hanya ada dua lembar 50-an dollar. Memang hanya sebegitu bekalku. Ditambah rupiah secukupnya agar pulangnya nanti bisa naik bus dari bandara ke Pasar Minggu lalu lanjut ke Depok.

Berbekal dua lembar lima puluhan dollar itulah aku sampai di Singapura. Ketika harus membeli sesuatu seharga 2 dollar 30 sen di pasar, si pedagang menerima uang tanpa banyak cincong dan memberi kembalian dengan jumlah yang tepat. Sekarang aku punya berbagai pecahan uang kertas dan koin. Di Dept Store besar aku membeli barang yang harganya 6 dolar 20 sen. Aku pakai lima puluhanku yang satu lagi. Kasirnya juga tidak banyak ini itu minta uang pecahan lebih kecil. Dia menerima uangku dan memberi kembalian persis seperti yang tertera pada mesin kasir. Tidak lebih tidak kurang. “Thank you. Come again.” Desisnya dengan seulas senyum tipis. Aku mengangguk saja. Off course aku tidak akan kembali kalau tidak harus membeli barang penting yang kuperlukan. “Larang kabeh, rek!”

Saat hendak mencoba naik MRT (secara di Indonesia aku pengguna KRL Jabodetabek gitu lho. Kesempatan mencoba naik kereta api yang serupa tapi (betul-betul) tidak sama tentu tidak boleh dilewatkan) aku melihat mesin penjual tiket juga jelas menyebutkan uang pecahan berapa yang diterima dan pasti mengembalikan kelebihannya kalau harga karcisnya lebih murah daripada yang kita bayarkan.

Kembali ke Indonesia. Di bandara Soekarno-Hatta, aku mengeluarkan lima puluh ribuan (rupiah) untuk membeli tiket bus Damri ke Pasar Minggu. Mbak penunggu loket bilang, “Pake uang pas aja.” Aku mengaduk-aduk dompet lalu menggeleng-geleng kepala, “Nggak ada, mbak.” Sebenarnya aku nggak perlu buka-buka dompet pura-pura mencari, wong sudah hapal isinya. Memang nggak ada. Si mbak acuh tak acuh saja tetap menggeleng, “Nggak ada kembalian.” Lalu? Ya, tidak ada lalu. Selesai. Aku menghela nafas. Sekarang sudah jam 9 malam dan loket ini sudah buka sejak pagi hari, masa tidak punya uang kembalian? Aku menoleh kanan-kiri. Untunglah aku bertemu teman yang juga akan membeli tiket jurusan yang sama. Dengan uang lima puluhan itu aku dapat dua karcis dan kembalian sepuluh ribu.

Di Supermarket keesokan harinya, aku membeli makanan kecil. Tanpa ba bi bu, kasir menerima uang yang kusodorkan dan tanpa ba bi bu juga memberi kembalian yang jumlahnya kurang enam puluh lima rupiah. Kalau beruntung, biasanya aku diberi sebutir permen dan senyum permintaan dimaklumi, tapi sering kali kasir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin sedang marahan sama pacarnya sehingga semua orang wajib menerima wajah cemberutnya. Sekarang aku yang cuma bisa menggeleng-geleng kepala. He he…

Di Negaraku tercinta ini uang seratus rupiah jarang ada yang mau, apa lagi dua puluh lima rupiah. Aku pernah melihat sendiri kok pengamen di bus membuang uang seratusan rupiah yang dia dapat. Sementara saat belanja ke supermarket aku tetap njlimet memperhatikan selisih harga antar satu toko dengan toko lainnya. Selisih harga dua puluh lima rupiah kadang bahkan lima belas rupiah diburu, padahal begitu sampai di kasir, kita bisa kehilangan lebih dari itu. Aku sampai berpikir, untuk apa uang dua puluh lima rupiah, lima puluh rupiah, dan seratus rupiah itu masih juga dibuat? Lagi pula bahan dan ongkos membuat koinnya itu tentu lebih mahal dari itu? Mengapa juga harga barang di toko diberi harga yang ’aneh-aneh’ seperti Rp. 2925, Rp 49. 875, dan sejenisnya? Eh, aku lupa, harga sebegitu kan lumayan berarti kalau kita belinya satu kodi, ya?


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.