Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for June, 2009


Published June 30th, 2009

Dokter - Dokter Trans Jogja

Berdiri di atas Trans Jogja dari halte Ambarukmo Palace menuju Malioboro pada Minggu siang, 21 Juni 2009, aku jadi punya kesempatan lebih leluasa untuk mengamati kanan-kiri jalan. Oh… Jogja sudah semakin ramai… toko-toko dan rumah makan sudah begitu banyak dan beragam. Dari yang sederhana, atau mengesankan sederhana (padahal tidak) sampai yang mewah dan mahal atau mengesankan begitu (padahal belum tentu). Apa bedanya Jogja sekarang dengan kota besar lainnya di Indonesia ya? Jalanan juga sudah penuh dengan berbagai jenis kendaraan… “Wis, Ti… Kowe nostalgiao kono…” Temanku yang asli Jogja meledekku. Aku bertanya-tanya tentang toko ini, warung itu, gedung ini, bangunan itu di sepanjang jalan. Jalan-jalan ini cukup sering aku lewati dulu. Dan aku berusaha mencari jejak kemana saja aku pernah mampir.

“Mbak, Malioboro masih jauh ya?” Tiba-tiba seorang gadis berkaca mata yang memakai T-shirt, yang berdiri di sampingku, bertanya. Gadis di sebelahnya, yang berbaju hijau tua ikut bertanya dengan matanya. Rupanya mereka bukan orang Jogja. Dari caranya bertanya dan ‘celingukan’ pasti mereka itu pendatang. Bus tengah menyusuri Jalan Solo.

“Oh… Mau ke Malioboro? Masih lumayan jauh… Adek dari mana?” Tanyaku, ”Liburan?”

Rupanya mereka adalah mahasiswa fakultas kedokteran dari satu universitas swasta yang cukup terkenal di daerah Cawang. Mereka akan co-as di Rumah Sakit Mata ”Dr Yap”. Lalu kami pun ngobrol ini-itu. Termasuk tentang siapa dekannya… siapa dosen faalnya… ”Kalian sudah bertemu dengan Prof W…?” Aku bertanya. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya gadis baju hijau menjawab, ”Tadi pagi, mbak… Iya, yang tadi pagi kan?” Si Baju Hijau bertanya tak yakin pada temannya yang berkaca mata.

”Mbak dokter juga ya?” Aku dan temanku tertawa. Serempak menggeleng-geleng kepala. Temanku yang dosen di universitas swasta di Jogja sedang ikut menyusun kurikulum untuk membuka fakultas kedokteran, jadi pastilah harus berhubungan dengan banyak dokter dari beberapa universitas maupun dari rumah sakit. Sementara profesor yang kutanyakan tadi adalah dokter yang dulu dosen Fakultas Kedokteran UGM (aku tidak tahu apakah beliau masih mengajar atau sudah pensiun sekarang). Beliau pernah menjadi penatar saat P4 100 jam duluuuu sekali, saat aku baru masuk kuliah. Lebih dari 20 tahun yang lalu. Setelah sekian tahun berlalu, nama beliaulah yang paling kuingat dari P4 itu.

Beliau yang saat itu juga bertugas di RS Dr Sardjito pernah mendapatiku duduk menunggu di depan klinik mata rumah sakit dekat fakultasku itu. Aku mengangguk menyapa, layaknya pasien kepada dokternya lah. Beliau yang tengah sibuk mondar-mandir akhirnya berhenti di depanku. ”Sebentar…  ko sek… Kowe sopo? Pasienku apa mahasiswaku?” Aku berdiri, ”Siap dok… bukan… saya Biologi.” Lalu beliau pun tertawa. Aku menjawab dengan gaya penataran P4.

Yo… aku kelingan saiki. Kamu Siti dari Biologi! Kenopo? Kenapa kamu di sini?” Aku ikut tertawa kecil, bahkan beliau ingat nama panggilanku saat penataran! Mmm… padahal penataran sudah setahun berlalu. Berkali-kali aku meralat namaku, berkali-kali juga beliau mengelak. ”Lho, kan kamu Siti Harmoni. Kamu Siti aja. Ya, Siti… Siti ajalah.” Penataran itu sungguh melelahkan. Pagi, siang, sore, hingga malam, dipenuhi dengan ceramah, diskusi, membuat makalah, presentasi. Kadang seru, tidak jarang membosankan. Tapi protesku tentang Siti selalu ditanggapi bercanda oleh beliau. Kelas jadi ramai dan hidup. Susah untuk mengantuk. Ternyata di luar ruang kelas, beliau tetaplah dokter yang ramah dan penuh perhatian.

Setelah memeriksa mataku yang agak bermasalah, beliau langsung memintaku masuk ke kamar periksa. ”Menyerahkanku” pada dokter yang tengah bertugas dan menyampaikan keluhanku.

Aku ono rapat, dadi kowe karo dokter iki yoDia ahlinya.” Beliau meyakinkanku sambil memperkenalkanku kepada  dokter yang diminta untuk memeriksaku. Dokter yang menanganiku dan para perawat memperlakukanku dengan ramah. Bahkan aku tidak perlu mengambil sendiri obatku dari apotik, ada perawat yang mengambilkan. Saat menunggu obat itulah aku membaca papan nama di klinik. Tentu sambil memicingkan mata karena satu mataku sudah ditutup perban. Rupanya dokter W adalah wakil kepala bagian mata di RS Sardjito saat itu… Sekian belas tahun kemudian, ayahku bercerita bahwa dokter yang memeriksa dan mengoperasi kataraknya di RS Mata ”Dr Yap” sangat baik dan ramah. Terus terang aku agak terkejut atas kebetulan ini, ternyata dokter W lah yang menangani ayahku!

Nah, memandang kedua gadis calon dokter ini, aku teringat dokter yang mengesankan itu. Di tengah berita tentang tudingan mal praktik dokter, perlakuan rumah sakit yang berlebihan atau justru kurang memadai, aku berharap bahwa profesi yang sangat mulia ini dapat dipegang oleh orang-orang yang juga berjiwa mulia. Oleh mereka yang tidak hanya punya pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang baik, tapi juga sikap perilaku yang baik.

Published June 26th, 2009

Farrah Fawcet dan Michael Jackson dalam Kenangan…

Dua orang yang jadi ikon 70-an dan 80-an telah tiada. Berita radio pagi ini memastikan kabar tersebut. Mau nggak mau aku jadi teringat tontonan masa kecil saat Farrah Fawcet masih menjadi salah satu dari Charlie’s Angels. Siapa yang tidak kenal dengan gaya rambutnya? Ketika kuliah dulu, gaya rambutnya itu pernah kutiru. Ha ha… Tidak sengaja sebetulnya. Rambutku yang panjang mencapai pinggang pada dasarnya agak susah diatur. Selama ini aku sembunyikan dengan mengepangnya setiap hari. Dimana saja kapan saja, aku kepang rambutku. Sehari sekali menyisir sudah cukup. Kepang satu atau dua akan bertahan hingga esok harinya, saatnya menyisir lagi, he he… Ketika rambut panjang sudah agak sulit dipertahankan, aku terpaksa harus potong rambut. Di salon di dekat perempatan Tugu Jogjakarta, tukang potongnya menyarankan gaya jabrik shaggy panjang. Biar nggak ketahuan kalau sebenarnya memang awut-awutan susah diatur. Aku yang tidak paham istilah persalonan cuma mengangguk-angguk pasrah. Keluar dari salon temanku langsung komentar, ”Wah… Farrah Fawcet?” Ya. Pakai tanda tanya, bukan tanda seru. Nah… tentu saja maksudnya, gaya itu cocok buat Farrah, bukan untukku. Apa boleh buat. Nasi sudah jadi bubur, ha ha… Sejak itu, rambutku nggak karu-karuan modelnya, sampai sekarang.

Farrah Fawcet terkenal sejak berperan menjadi Jill Munroe pada film Charlie’s Angels bersama dengan bintang cantik lainnya, Kate Jackson dan Jaclyn Smith, pada tahun 1976. Film ini kemudian dibuat lagi dengan bintang yang berbeda (tentu saja). Farrah Fawcet pernah menikah dengan bintang serial The Six Million Dollar Man, Lee Majors. Film The Six Million Dollar Man adalah serial yang sangat populer pada saat itu dan jadi tontonan paling kutunggu juga. Setelah berpisah dengan Lee Majors, Fawcet dekat dengan Ryan O’Neal, bahkan sempat menyatakan hendak menikah. Dengan O’Neal, Fawcet sudah mempunyai satu orang anak laki-laki. Ryan O’Neal aku tidak kenal, maksudnya, walau dia juga konon adalah aktor, aku belum pernah nonton filmnya. Yang aku tahu, O’Neal adalah ayah dari Tatum O’Neal. Bintang film tercilik yang pernah mendapatkan Academy Awards. Pada umur 10 tahun itu Tatum mendapat penghargaan sebagai artis pendukung terbaik pada film Paper Moon. Tatum kemudian menikah dengan superstars lapangan tenis favoritku sepanjang masa, John McEnroe. Sungguh keluarga yang luar biasa…

Michael Jackson, siapa yang tidak kenal namanya? Belum pernah mendengar suaranya? Belum pernah melihat aksi panggungnya? Mereka yang seusiaku rasanya dibesarkan dengan lagu-lagu dan aksi panggungnya yang sangat orsinil. Video klipnya juga pernah menjadi video musik yang paling sering diputar di MTV. Sejak masih tergabung dalam The Jackson Five hingga bersolo karir, pencipta lagu sekaligus penyanyi ini begitu menonjol, baik karya, karir, maupun kisah di seputar kehidupannya.

Aku ingat pada jam istirahat sekolah sewaktu SMA dulu. Ada temanku dari lain kelas sering datang ke kelasku. Lalu dia meniup recordernya. Maka mengalunlah One Day in Your Life dengan sangat lembut… Kemudian teman-teman yang lain bergabung ikut mendengarkan. Aku selalu mengingat saat-saat itu. Jam istirahat yang singkat menjadi terasa semakin singkat!

Michael Jackson adalah satu dari sangat sedikit penyanyi yang bisa menyanyikan lagu balada dan up beat dengan sama baiknya. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana dia yang begitu penuh penghayatan saat melantunkan One Day in Your Life bisa begitu hidup dan powerfull menyanyikan Beat It, Billy Jean, Thriller, atau Black or White? Walau aku lebih suka (dan lebih sering) mendengarkan lagu baladanya, tetapi tetaplah sangat menikmati videonya yang atraktif. Gaya menari robot dan moonwalk-nya sangat orsinil dan kemudian ditiru oleh banyak orang. Rasanya, pantaslah kalau dia dijuluki King of Pop. Bagaimana tidak, gaya menyanyinya, warna vokalnya, banyak mempengaruhi penyanyi pop, hip hop, dan R&B lainnya. Tak heran juga jika dia beberapa kali masuk dalam the Guinness World Records sebagai artis dengan 13 Grammy Awards, sebagai the “Most Successful Entertainer of All Time“, sebagai artis dengan 13 number one singles sepanjang karir solonya…

Aku juga mengenang Michael Jackson sebagai orang yang murah hati. Aku mengingat We Are The World. Lagu yang sangat terkenal pada sekitar tahun 1985. Lagu ini ditulis bersama dengan Lionel Richie sebagai bagian dari usaha untuk memperoleh dana bagi penduduk Afrika yang saat itu sangat menderita karena kekeringan berkepanjangan hingga penduduknya kelaparan. Tak kurang dari Diana Ross, Kenny Rogers, Dionne Warwick, Al Jerrau, James Ingram, Tina Turner, Billy Joel, Stevie Wonder, Paul Simon, Cindy Lauper, dan lain-lain yang kemudian tergabung dalam U.S.A for Africa (United Support of Artist for Africa) ini turut menyanyikan lagu We Are The World. Lagu ini sempat menjadi nomor 1 pada tangga lagu populer di Amerika dan Inggris.

Published June 23rd, 2009

Curhat dan Balita

“Aku mau curhat.” Seseorang nyaris berteriak dari ujung telepon. Aku tentu saja cuma bisa terhenyak. Agak kaget. Bukan karena isi curhat-nya, tapi karena suaranya yang cempreng sempat agak menusuk telinga, he he… Oh, isi curhat tentu tidak bisa dibuka di sini. Tidak semua curhat bisa, boleh, atau harus dibuka kepada semua orang toh?

Aku hanya ingin mengingat-ingat kata curhat itu. Pada awalnya curhat merupakan bentuk akronim dari curahan hati. Entah bagaimana asal-usulnya sehingga terbentuk akronim tersebut. Kita sudah terbiasa dengan pembentukan akronim yang amburadul karena memang tidak ada kaidah pembentukan akronim (anggap saja begitu karena kenyataannya, kalau pun ada, tidak selalu diikuti). Sekarang ini, aku ingin membicarakan penggunaan akronim tersebut dalam kalimat. Soalnya, penggunaan atau penempatan akronim dalam kalimat secara serampangan bisa mengganggu pola berpikir kita.

Seandainya curhat itu adalah akronim dari curahan hati, yang berarti kata/frasa benda, maka pola kalimat temanku di atas seharusnya:

Aku mau menyampaikan curhat.

Tetapi, nampaknya, pada kalimat temanku itu, curhat bukan lagi akronim dari curahan hati, tetapi mencurahkan (isi) hati. Jika memang demikian, kita anggap curhat itu adalah akronim dari mencurahkan (isi) hati yang berarti kata/frasa kerja, maka kalimat ”Aku mau curhat” sudah benar. Tidak perlu koreksi, he he…

Barangkali, penggunaan atau penempatan akronim dalam kalimat yang kurang tepat dimulai dari kurangnya pemahaman kita akan kategori atau kelas kata: kata benda, kata kerja, atau kata keterangan. Misalnya, balita yang merupakan akronim bawah lima tahun adalah kata keterangan. Dalam kalimat seringkali akronim tersebut ditempatkan seolah-olah kata benda:

Balita itu terjangkit demam berdarah.

Seharusnya, akronim balita tersebut didampingkan kepada sebuah kata benda dulu agar bisa mengisi suatu kalimat sebagai kata benda, misalnya:

Anak balita itu terjangkit demam berdarah.

Lho kok, aku jadi membahas penggunaan akronim dalam kalimat. Kalau begitu, aku mau menerima curhat temanku dulu ya!

Published June 21st, 2009

Catatan SNATi 2009

Mengikuti pembukaan Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATi) di UII Yogyakarta, Sabtu, 20 Juni 2009 kemarin, aku mencoret-coret buku catatan. Tentu saja catatannya bercampur baur dengan banyak pertanyaan, lamunan, dan usaha untuk tidak jatuh tertidur karena tidur yang sangat larut malam sebelumnya.

Dekan FTI yang membuka seminar, menyatakan bahwa TI mempunyai kemampuan untuk menjawab persoalan yang mungkin muncul di masa yang akan datang. Hmmm…

Prof Voratas Kachitvichayanukul dari AIT Thailand yang menyampaikan keynote speech pertama menyatakan bahwa orang masih saja melakukan bisnis seperti cara ayah atau kakek mereka melakukan bisnis. Begitu banyak penelitian dihasilkan, begitu banyak paper dipresentasikan atau dipublikasikan tapi tidak banyak yang telah dimanfaatkan dan memberikan benefit sebesar yang diharapkan. Bekerja dengan (memanfaatkan) komputer tidak lantas membuat tugas jadi lebih mudah. Masalahnya barangkali adalah ketiadaan kemampuan mengenali masalah yang ujung-ujungnya menyebabkan ketidaktepatan pemecahan masalah. Jadi ingat komentar Prof Nopirin saat ujian kualifikasi beberapa waktu yang lalu: Apa toh the real problem-nya? Hmmm…

Ada satu lagi pernyataan Prof Voratas yang kucatat: Kita hidup tidak begitu lama untuk bisa mempelajari dan menguasai semuanya (jadi bekerjasamalah dengan ahlinya dan biarkan mereka mengerjakan bagian yang kita tidak pahami).

Prof Mohammad Shanudin Zakaria dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada keynote speech kedua tampil bersemangat. Aku tertegak duduk lagi. Apakah IT itu suatu disiplin ataukah alat? “If you think IT as a tool, you must bring them to your discipline.”Jadi, sekarang kita ini hidup di jaman apa? Apa benar bahwa kita masih di era Information Age? Perubahan jaman memang berlangsung makin cepat. Jangan-jangan kita sudah sampai di System Age. Itu berarti kita melihat bisnis (dan yang lain-lainnya juga) sebagai suatu sistem - kompleks, interconnected and interrelated. Hmmm…

Aku membolak-balik catatan. Lho ini aku ada di mana?

Published June 16th, 2009

Narcis, Narcissus, Narcissism

Catatan Satu Tahun Ngeblog

“Ah narcis amat?” Sudah agak lebih lunak dari peringatan pertama. Ketika aku mengungkapkan keinginan untuk menulis blog pada April dua tahun yang lalu, pertanyaan itu juga pernah dilontarkan. Dengan nada yang lebih keras, bahkan. Wah… gimana ya, sekarang kan nggak cukup cuma cogito ergo sum seperti kata Descartes, tapi juga scribo ergo sum (Aku menulis maka aku ada)? Akhirnya,  setahun setelah diingatkan soal narcis itu, Juni 2008, aku jadi juga (agak rutin) menulis blog. Eh, persis setahun kemudian setelah menulis, Juni 2009, pertanyaan (atau tepatnya pernyataan, karena tampaknya tidak membutuhkan konfirmasi, he he…) itu muncul lagi…

Dikisahkan seorang pemuda putra dewa sungai Cephissus dengan Liriope. Pemuda yang sangat tampan ini menolak semua cinta yang ditawarkan padanya, termasuk cinta Echo. Dia lalu dihukum karenanya. Pemuda itu “dibuat” jatuh cinta kepada bayangannya sendiri yang terpantul di permukaan air danau yang tenang cemerlang. Pemuda itu, Narcissus, tak kuasa untuk beranjak dari tempatnya menatap pantulan wajahnya yang indah. Mengagumi ketampanannya sendiri. Mungkin sebetulnya dia juga tidak sadar, bayangan siapa yang dilihatnya. Tapi dalam kisah, tersebutlah bahwa Narcissus mati merana di tepi danau itu. Konon, di tempat Narcissus itu duduk kemudian tumbuh rumpun bunga yang indah dan diberi nama bunga Narcissus… (bunga ini di “sono” dikenal juga sebagai daffodills).

Narcissus adalah nama genus yang didalamnya termasuk tumbuh-tumbuhan bunga dengan umbi lapis, seperti Daffodils atau sejenis bakung. Narcissi (jamak dari Narcissus) sangat mudah tumbuh dari umbi. Kata Narcissus berasal dari kata Yunani narke, yang berarti mati rasa atau kelenger, pingsan. Beberapa menyebutkan bahwa nama ini diambil karena bunganya yang wangi (narcotic fragance), sementara yang lain mengasosiasikannya dengan umbi Narcissus yang beracun. Bunga Narcissus biasanya berwarna putih atau kuning.

Narcisuss adalah subyek yang sangat popular dalam Roman art. Dalam psikiatri Freudian dan psikoanalisis, terminologi narcissism merujuk pada tingkat self-esteem yang berlebihan, suatu kondisi yang biasanya adalah bentuk dari ketidakmatangan emosional.

Nah, di sinilah aku sekarang:

a. Narcis abis?

b. Sudah seperti Narcissus?

c. Menjelang narcissism?

d. Semua jawaban di atas benar.

Kalau jawabannya salah satu dari pilihan di atas, apakah itu artinya blog ini harus ditutup?

Published June 13th, 2009

The Way I Choose

Ke toko kaset bekas di suatu mall di Depok. Aku jadi seperti memutar kembali pita kenangan. Masa-masa SMP dan SMA dengan latar lagu-lagu yang luar biasa. Tahun 80-an adalah masa emas bagi banyak musisi. Dan sebagai penikmat, aku punya banyak pilihan untuk bisa dinikmati. Di rumah, segala musik diputar. Mulai dari pop, jazz, rock, disco, heavy metal sampai keroncong dan gending uro-uro. Tergantung siapa duluan yang menguasi satu-satunya radio kaset di rumah. Dan biasanya (atau selalu?) bukan aku. Jadi, aku dengarkan saja semua yang diputar. Lalu diam-diam ikut menikmati… Dangdut tidak pernah disetel, tapi toh tetap sampai juga ke telinga. Biasanya tetangga depan atau kanan yang memutar dengan volume yang cukup tinggi untuk mengundang penduduk satu RT ikut bergoyang… Maklum tinggal di gang di kampung.

Pulang sekolah adalah waktu terbaik mendengarkan lagu. Sebelum bapakku pulang, lagunya bisa campur sari dari Al Jerrau dan Areta Franklin… dari Michael Jackson dan Matt Bianco… bisa Kiss atau Genesis… bisa Boney M dan Bee Gees… Bahkan Koes Plus masih diputar disambung sama The Police lalu dilanjut sama Vina Panduwinata, Rafika Duri, Utha Likumahuwa sampai akhirnya Queen kembali membahana… Ceklek. Berhenti. Bapak datang. Maka mulailah lagu macam Pangkur Jenggleng diputar… Waljinah… Basiyo… Klenengan dari kaset-kaset produksi Lokananta. Sudah beranjak sore. Waktunya Francis Goya… atau Louis Amstrong… atau terus dengan Ki Narto Sabdo.

Esoknya, giliran Yes, Billy Joel, eh… tunggu Chris Kayhatu dulu… Pindah ke Deep Purple, sampai Pink Floyd… Disambung sama Gipsy King dan John Denver… Ganti Michael Frank. Ganti lagi Methalica… Duran Duran… Terus Dedy Stanzah, Denok Wahyudi, Keenan, dkk di LCLR Prambors… Rick Astley ngantri di belakangnya, disusul Wham! Oh, lengkap sudah ilustrasi musik pengiring makan siang, cuci piring, menyapu lantai, menyiram tanaman, mengerjakan PR, atau membaca cerita… atau ya… tiduran saja mendengarkan segala keindahan suara dan melodi.

Penjaga sekaligus pemilik toko yang ramah menunjuk satu kaset, ”Mau coba yang itu, mbak?” Aku terpana. Uhhhh… Boleh juga. Aku mengangguk. Maka mengalunlah rocker yang sedang mengabarkan kepuasan hatinya bisa memilih apa yang dia inginkan…

I live my life the way that I choose

I’m satisfied, nothing to lose

I don’t ask no favor

I don’t know the reason why

If I don’t ask no question

I… I. don’t get no lie, I don’t get no lie…

Now you give your love tenderly

Every way that you move it’s closer to me

I don’t need nobody to tell me the reason why

If I love only you baby

Oh Lord I’ll be satisfied

Baby, answer my question, if you won’t say hello

Oh baby don’t say good bye

Oh… oh…

Oh yeah I don’t need nobody

To tell me the reason why if I love only you, baby

Oh Lord I’ll be satisfied

Oh yeah Lord you know I’ll be satisfied

Because, because you satisfy my love

Satisfy my love, hey, now don’t say good bye

Oh you leave me to fight

Hey… now don’t say good bye…

Kepuasan terbesar yang bisa diperoleh seseorang adalah jika ia bisa memutuskan sendiri apa yang diinginkannya dan berhasil mendapatkannya. Itu adalah Bad Company dalam lagunya The Way I Choose

Published June 12th, 2009

Kerja Keras

Masih tentang kerja keras, my dear

Aku suka pada kerja yang pantang menyerah.

Kagum pada orang yang tahu apa yang diinginkannya, dan tahu bagaimana memperolehnya.

Banyak orang yang tidak tahu apa-apa, bahkan untuk dirinya sendiri, kan?

Tapi, bagaimana pun juga, optimismu yang kelewat takaran (kamu sendiri menyebutnya sebagai ambisi) sering membuatku keder.

Begitu keraskah hidup?

Kamu begitu gigih. Seolah dunia akan melemparmu ke luar angkasa kalau kamu berhenti barang sejenak.

Aku tidak akan pernah berusaha menghentikan kamu. Sebab kita memang berpacu dengan waktu yang tidak akan pernah berhenti berlari, apalagi berganti arah.

”Kalau kita berhenti sehari, itu artinya kita ketinggalan satu tahun, dan kita tidak akan pernah bisa mengganti kehilangan itu.” Begitu katamu.

Memang.

Aku bahkan tidak ingin kamu mengikuti iramaku.

Aku cuma mau bilang, berlarilah terus di lintasan yang benar.

Dan mengapa pula kita tidak mengatur tempo?

Tidak ada pelari maraton yang melakukan sprint sepanjang hampir 43 km terus-menerus.

Ada saat menarik napas, memperlambat tempo, mengatur langkah, mengukur kekuatan, untuk kemudian melesat lagi.

Lagi pula, sahabatku my dear

Kamu tidak sendirian…

Ada orang-orang di belakangmu, di depanmu, di sampingmu.

Mereka semua menyapamu.

Tidakkah kamu ingin membalas sapaan mereka?

Published June 10th, 2009

Wati dan Penghuni Rumah Mewah

Aku, Nia, dan Wati naik mobil kijang sewaan, masuk ke perumahan yang (konon) lumayan mewah dan (tentu) mahal di Jl. Margonda Raya.

”Aku pengen punya rumah di Indonesia, di Depok ini. Jadi kalau aku tua nanti. Aku bisa pindah ke sini lagi.” Kata Nia. ”Dekat sama kalian-kalian.” Lanjutnya sambil tertawa menunjuk aku dan Wati. Aku nggak bisa membayangkan. Sampai tua masih main sama mereka juga? Nia sedang pulang kampung ceritanya, ke Indonesia. Sudah lebih dari lima tahun dia menetap di Australia. Bekerja dan mengurus suami dan anak tiri.

”Itu!” Tiba-tiba Wati menunjuk sebuah rumah. Rumah sudut yang cantik dengan taman yang apik. ”Dijual TP Hub 081……..” Begitu tulisan pada papan triplek yang dipasang di tembok pagar berbunyi. Pak sopir menghentikan mobilnya. ”Mundur dikit, Pak, nggak kelihatan nih nomornya.” Pinta Nia.

Dia sudah mengeluarkan HP-nya, memijit nomor yang tertera di papan. ”Hallo, selamat siang…” Sudah diangkat rupanya. ”Saya Nia, to the point saja ya Bu. Saya sudah di depan rumah Ibu di Jl Pandawa Lima Blok E… Iya… Ibu mau lepas berapa?” Wati sudah mendekap mulutnya sendiri, menahan geli.

”Berapa? Satu koma delapan? Oh begitu… Juta apa Milyar, Bu? Oh begitu… Saya kira Trilyun.” Aku menggeleng-geleng. Kok semua temanku ini agak-agak semua ya…

”Saya boleh lihat-lihat, Bu?… Oh ada siapa? Bi Inah? Ya… baik. Siapa? Mang Karta? Tukang apa? Oh tukang kebun… Kebun kacang apa jeruk? Oh taman maksudnya… Baik, Bu… Saya masuk ya Bu? Sekarang… Iya. Sudah. Saya sudah di depan… Terima kasih…” Klik. HP dimatikan. Nia tersenyum senang. ”Yuk. Mariii…!” Ajaknya sambil membuka pintu mobil kijang sewaan kami.

Kami membuka pintu pagar yang tak terkunci. ”Punten… Assalamualaikum.” Seorang bapak, mungkin Mang Karta, menyambut kami, membawa gunting. Sedang menggunting rumput taman rupanya. Sementara seorang ibu, masih muda, mungkin Bi Inah, muncul dari balik pintu rumah membawa kemoceng.

”Mangga… Waalaikumsalam.” Mang Karta mempersilakan dan dengan jempolnya menunjuk supaya kami terus menemui Bi Inah.

”Saya Nia, Mang Karta.” Nia maju mendahului kami. ”Mau lihat-lihat rumah, Mang, boleh?”

”Tiasa neng… Mangga…” Mang Karta kembali mengurus rumput. Bi Inah yang menunggu di pintu tanpa banyak bicara langsung mengambil alih kendali. Mengantar kami keliling rumah. Menunjuk ini itu.

” Itu ruang duduk, dapur, kamar utama… kamar mandi…” Bi Inah terus menjelaskan. Kami menelan ludah. Mengagumi semua yang tampak megah, mewah. Lebih kagum lagi karena rumah sebagus ini hanya dihuni oleh seorang pembantu. Si empunya rumah tinggal di kompleks yang sama tapi lain blok. Kata Bi Inah, rumah satunya lebih besar dan lebih mengherankan lagi (mewahnya). Selama melihat-lihat Wati mengangguk-angguk, lalu menggeleng-geleng. Aku diam saja mengamati.

”Bi Inah, tinggal di sini?” Nia bertanya sambil memandang sekeliling. ”Sendiri?”

”Iya neng… Mang Karta mah sesekali aja kalau lagi banyak yang dikerjain.”

”Bibi nggak takut?”

”Ah nggak… Biasa.”

”Oh… udah biasa ya… Sama siapa teh, Bi? Ratna ya?” Aku dan Wati berpandang-pandangan. Wah Nia…mulai beraksi…

”Ratna siapa? Teu aya Ratna…” Bi Inah menjawab bingung. ”Kalau ibu kan namanya Ratmi. Bukan Ratna.” Maksudnya ibu Ratmi yang punya rumah bagus ini.

”Bukan Bu Ratmi, Bi. Ah Bi Inah mah suka gitu… si Ratna yang biasa di sini, di ruang duduk ini. Kalau yang di kamar atas kan siapa teh, Bi? Namanya Ulin atau Urin?”

Bi Inah mengernyitkan dahi.

”Ah si Neng mah…  jangan nyingsieunan atuh… Siapa? Nggak ada siapa-siapa kok.” Nyingsieunan itu artinya nakut-nakutin.

Nia diam-diam mengedipkan mata pada kami. ”Ratna nu geulis, Bi, cantik. Rambutnya sebenernya kribo, tapi terus direbonding jadi kelihatan lurus…panjang teh, Bi, rambutnya. Cuma pendiem Ratna itu…nggak suka berisik.” Nia menunjuk Wati yang rambutnya panjang dan lurus. Maksudnya memberi contoh model rambut… Bi Inah menengok kanan-kiri, lalu menatap Wati yang sedang menggeleng-geleng melihat TV.

”Nggak suka nonton TV.” Wati ikut menimpali, sambil tetap menonton TV yang menyala menyiarkan perkara artis yang dituduh menganiaya rekanan bisnisnya yang ngemplang utang.

Nia beranjak ke arah pintu depan, ”Ya udah atuh Bi… saya sudah selesai lihat-lihatnya. Salam buat ibu Ratmi ya. Terima kasih… Nuhun nya, Bi.”

Bi Inah mengangguk, wajahnya mendadak gugup. Sambil mengantarkan kami menuju pintu dia masih menoleh kanan-kiri.

”Bi, jangan lupa kalau mau ke warung periksa dulu kompor ya… dimatiin dulu, atau setrikaan tuh… dicabut dulu.” Tiba-tiba Wati nyeletuk. ”Bisa kebakaran… Kan banyak kebakaran karena teledor. Sayang nih rumahnya bagus.”

Bi Inah tambah gugup, ”Muhun neng. Siaplah…” Jawabnya nyaris berbisik.

”Kalau mau tidur, matiin dulu TV-nya…”

”Ratna ya…?” Tanya bi Inah khawatir.

”Bukan… Biar hemat listrik, Bi.” Jawab Wati tersenyum manis.

Published June 7th, 2009

Outbond dan Praktikum Morfologi

Hari keempat LKMM 2009. Sabtu pagi, kami berkumpul di kampus D untuk berangkat menuju Taman Buah Mekar Sari dengan 3 bus kampus. Setelah 3 hari di kelas dari pagi sampai sore, mendengar ceramah, latihan, diskusi, presentasi, dan sejenisnya. Hari ini, peserta, pemandu, penceramah, diajak panitia berkegiatan di alam terbuka. Outbond. Sebetulnya lebih tepat disebut outing, tapi tak apalah… kita sebut saja begitu.

Acara outbond di Taman Buah tidak akan kuceritakan di sini. Lebih seru kalau ikut sendiri atau melihat di t-k-p sana. Aku hanya ingin menceritakan kalau berjalan-jalan di kebun itu mengingatkan jaman kuliah dulu.

Sebagai mahasiswa Biologi, sebelum penjurusan, kami semua wajib berurusan dengan yang namanya mencandra tanaman dan hewan. Itu pelajaran namanya mulai dari morfologi, taksonomi sampai ekologi. Buatku, pelajaran itu antara asyik nggak asyik. Istilah latinnya bikin sakit kepala. Tapi jalan-jalannya seru. Selain praktikum di laboratorium, kami juga praktikum di lapangan. Yang disebut lapangan itu bisa di hutan arboretum di sebelah fakultas atau pergi naik Merapi (nggak sampai puncaklah paling sampai ke Plawangan), blusukan ke Hutan Wanagama di Gunung Kidul sana, bahkan ke Pangandaran, ke Cibodas, nyemplung ke kali atau lari-larian dikejar ombak saat identifikasi biota laut di pantai Krakal, Kukup, atau Baron.

Sebetulnya, untuk urusan tanaman, aku lebih suka menikmati keindahannya, atau ketika kecil, pohon itu artinya tantangan untuk dipanjat. Sejak masih TK, aku sudah hobi memanjat pohon. Semua pohon yang batangnya lebih besar dari pangkal lenganku, pastilah layak dicoba untuk dipanjat. Ha ha… Tapi begitu pelajaran morfo dan takso dimulai, wah… nanti dulu.

Pohon, tinggi 10-30 m. Ujung ranting bersisik. Daun bertangkai, memanjang, dengan pangkal membulat dan ujung meruncing, 6-25 kali 2,5-9 cm, seperti kulit, di bawah bersisik rapat. Bunga dalam payung tambahan samping, menggantung, berbunga 3-30. Daun pelindung bersatu mengelilingi kuncup, berbelah terbuka. Kelopak bentuk lonceng, berlekuk 6 atau bercangap 4-6…. dst… Buah bulat memanjang, 15-30 kali 13-15 cm, tertutup oleh duri tempel yang kasar… dst… Durio zibethinus. Itu deskripsi kalau ketemu pohon duren. Itu pohon yang buahnya berbau harum sampai bisa bikin pusing. Pusing juga kalau harus mendeskripsikannya!

Pohon yang menggugurkan bunga, tinggi 8-30 m. Batang muda dengan duri tempel besar berbentuk kerucut. Tajuk jarang, cabang dalam karangan tiga-tiga, menyimpang ke samping horizontal. Daun bertangkai panjang, berbilang 5-9. Anak daun berbentuk lancet, gundul, panjang 5-16 cm. Bunga terkumpul 2-15 di ketiak daun yang sudah rontok, dekat ujung ranting. Kelopak bentuk lonceng, berlekuk 5 pendek…. dst… Buah memanjang, panjang 7,5-15 cm, menggantung, membuka dari bawah ke atas dengan katup… katup dengan rambut wol yang panjang. Waktu berbunga tanpa daun… dst… Ceiba pentandra. Ini deskripsi jika jumpa pohon kapuk atau randu. Ya, pengisi bantal dan kasur itu. Mumet!

Begitulah, melewati kebun buah menuju lokasi outbond aku mengingat-ingat kembali jaman tiap hari harus bikin deskripsi. Kadang-kadang kami bercanda juga supaya pelajaran hapalan ini tidak terlalu membebani. “Hei… ada Tamarindus indica!”Lalu yang lain menyahut, “Lihat, buahnya polongan bertangkai!” Yang lain lagi meneruskan, “Daunnya berseling ya, menyirip genap.” “Ya betul, buahnya asem dipakai buat bikin sayur asem…”Lalu, kami pun teringat perut yang keroncongan belum sempat makan siang.

“Coba ya, kalau saja ada Cocos nucifera muda… Siang-siang begini, pasti segar…” Celetuk salah seorang dari kami. Pastilah dia sedang membayangkan minum es kelapa muda. “Apalagi ditambah Artocarpus integra…” Maksudnya ada nangka juga. “Eh, jangan lupa pakai Persea americana dong…” Oh ya, pakai alpokat. Ha ha… jadi es teler deh!

Published June 4th, 2009

Manajemen Waktu: Antara Kuliah, Praktikum dan Organisasi

Pada hari pertama LKMM 2009 bagi pengurus ORMAWA di UG, kemarin (3-6-09), ada pernyataan bahwa salah satu kesulitan yang dihadapi para pengurus adalah menyeimbangkan antara kegiatan belajar dan kegiatan ekstra kurikuler. Bagaimana mengatur waktu dan tenaga agar kedua tugas tidak terbengkalai.

Menurut sistem kredit semester (SKS) mahasiswa belajar setidaknya dua jam di luar kelas untuk setiap jam belajar di kelas (bahkan ada universitas yang merekomendasikan lebih dari dua jam lho!). Jika seorang mahasiswa mengambil 18 SKS, yang berarti kuliah di kelas 18 jam per minggu, maka mahasiswa tersebut harus belajar sedikitnya 36 jam per minggu di luar kelas secara mandiri. Jadi, mahasiswa tersebut harus merencanakan total jam belajar di kelas dan di luar kelas sebanyak 54 jam per minggu. Nah, jika masih harus mengurus organisasi tentu kita harus menyiasati, kapan waktu belajarnya?

Pertama-tama tentu harus kita catat dulu aktivitas ekstra kurikuler termasuk hari kerja (jika bekerja), pertemuan atau rapat organisasi, aktivitas sosial, jadwal ke luar kota (pulang kampung di akhir pekan atau liburan, misalnya), dan sejenisnya. Mencatat aktivitas ekstra kurikuler memungkinkan kita mendapat gambaran yang lebih akurat tentang seberapa penuh atau seberapa luang jadwal kita selama satu semester. Hal ini tentu memungkin jika organisasi kita juga mempunyai program kerja yang jelas.

Berikut adalah beberapa strategi yang mungkin bisa membantu membuat jadwal belajar menjadi efektif dan efesien.

1. Identifikasi waktu terbaik setiap harinya.

Apakah kita termasuk seorang “night person” atau “morning person”? Gunakan kekuatan waktu tersebut untuk belajar. Belajar pada waktu terbaik setiap harinya - apakah itu pagi (jika kita seorang “morning person”) atau malam hari (jika kita seorang “night person”) - memungkinkan kita menyelesaikan tugas dalam waktu yang lebih singkat.

2. Belajar subyek yang sulit atau membosankan lebih dulu.

Dalam keadaan segar, informasi dapat diproses lebih cepat sehingga lebih menghemat waktu. Alasan lainnya adalah lebih mudah mendapatkan motivasi untuk mempelajari sesuatu yang menyenangkan pada saat lelah daripada mempelajari subyek yang membosankan.

3. Pastikan bahwa lingkungan sekitar kondusif untuk belajar.

Perpustakaan adalah tempat yang baik untuk belajar karena satu-satunya yang bisa dilakukan di perpustakaan adalah belajar. Tetapi jika perpustakaan tidak memungkinkan untuk belajar (karena jam operasi yang terbatas, misalnya), carilah tempat yang memang benar-benar jauh dari gangguan.

4. Jangan tinggalkan rekreasi dan hiburan.

Kuliah di perguruan tinggi tidak berarti kita harus belajar sepanjang waktu. Kita harus tetap mempunyai kehidupan sosial demi keseimbangan hidup kita. Jadi, tidak ada salahnya kita menjadwalkan berkunjung dan mengobrol dengan teman atau mengerjakan hobi yang lain, termasuk juga mengerjakan tugas sebagai pengurus organisasi.

5. Usahakan punya waktu tidur dan makan yang cukup dan berkualitas.

Tidur seringkali dianggap sebagai “bank” dalam manajemen waktu. Maksudnya, setiap kali kita mendapat tugas yang membutuhkan waktu cukup banyak, kita akan “mengambil” waktu tidur kita untuk mengerjakan tugas. Hal ini jelas tidak efektif karena kita pasti akan memerlukan waktu yang lebih banyak lagi untuk mengerjakan tugas karena tubuh kelelahan sehingga kurang konsentrasi. Jadi kebutuhan tidur kita haruslah tetap diperhatikan.

6. Manfaatkan waktu menunggu atau kombinasikan dua kegiatan.

Jika menggunakan transpotasi umum untuk pergi dan pulang dari kampus kita seringkali harus menunggu beberapa menit bahkan beberapa jam di halte atau peron stasiun. Mengapa tidak manfaatkan waktu menunggu tersebut untuk membaca? Bawalah catatan atau ringkasan kuliah kemana pun kita pergi dan baca setiap ada kesempatan meskipun hanya satu paragraf.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, mobil misalnya, jangan membaca sambil mengemudi karena sangat berbahaya. Tapi tidak berarti tidak bisa belajar selama perjalanan. Dengarkan saja rekaman belajar kita sendiri dari kaset.

Kita juga bisa mengerjakan soal latihan atau menyalin catatan kuliah sambil menunggu rapat organisasi dimulai.

(Catatan: Ini adalah sebagian tulisanku yang pernah dimuat di UG News (tentu dengan perubahan sedikit) beberapa tahun yang lalu yang berjudul ”Manajemen Waktu untuk Mahasiswa”).


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.