Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for May, 2009


Published May 28th, 2009

Pemanasan Gombal Wati

Pemanasan global. Bahasa kerennya global warming. Buat Wati, istilah itu benar-benar cuma istilah. “Itu gombal warning,” katanya agak menggerutu.

“Jangan sinis begitu.”

“Eh Non, kalau mereka cuma teriak-teriak tapi nggak mau bertindak. Apa namanya bukan gombal?”

Waduh, kenapa si Wati jadi sewot begini ya? Kuteliti Wati. Wajahnya memang gusar. Rambutnya yang panjang agak berkilat, sedikit berminyak. Mungkin sudah tiga hari nggak keramas.

Kami sedang duduk-duduk di teras pada sore yang gerah. Wati mengipas-ngipas dengan kipas batik, souvenir dari kondangan teman kami yang menikah bulan lalu.

”Jadi bagaimana?” Tanyaku.

Wati menggeleng-gelengkan kepala. ”Coba kamu pikir, mereka membicarakan pemborosan energi, pembalakan hutan, pemanasan global, bla-bla-bla, di hotel mewah. Makanan serba berlimpah, turah-turah. ACnya disetel duingiiin banget. Tapi anehnya mereka jadi pakai baju bagus berlapis-lapis. Pasti mahal.” Turah-turah itu maksudnya banyak bersisa.

”Itu kan namanya kontradiksi!”

Aku mengangguk-angguk.”Yah… sesekali menikmati ironi kan boleh…”

Wati mencibir. ”Huuu… Ngawur!”

Wati ini, seperti yang kubilang, tidak banyak berteori. Tidak banyak berwacana. Dia lebih sering bertindak atas keyakinannya sendiri. Menurutnya, setiap orang punya kontribusi atas kelangsungan dunia yang lebih baik. Tanpa diminta, sejak bertahun-tahun yang lalu dia mengurangi pemakaian tas kresek. Setiap kali ke pasar atau supermarket, dia membawa tas sendiri. Kalau tidak rusak atau sobek, dia tidak akan ganti. Alasannya, tas kresek, tas plastik dan sejenisnya, susah terdegradasi.

Dia lebih sering menggunakan sapu tangan daripada tisu. ”Ini mengurangi penggunaan kertas. Mencegah penggundulan hutan.” Dia memang hemat sekali urusan kertas. Semua kertas, kalau belum bolak-balik dipakai tidak akan dibuang. Tulisannya kecil-kecil, supaya muat banyak. Setelah tidak terpakai untuk menulis pun dia masih berpikir mau dimanfaatkan apa lagi… Begitu…

Urusan listrik jelas. Dia pilih lampu hemat energi, itu pun hanya dia nyalakan jika diperlukan. AC di kantor dia setel pada angka 25 derajat. Tidak terlalu dingin, supaya hemat listrik. ”Alaaah… kantor lo kan kaya!” Kata teman-temannya.

”Ini bukan soal bisa bayar apa bukan. Kalau punya banyak uang tapi barangnya nggak ada juga percuma!” Jawab Wati kalem.

Aku, diam-diam setuju semua yang dikatakan dan dikerjakan Wati. Walau kadang masih sering lupa. Cuma satu yang aku masih mikir-mikir. Soal penggunaan air. Saking hematnya Wati, dia jadi jarang mandi… ”Ah sehari sekali aja cukup kan?” Katanya sambil nyengir.

”Kita kan udah sering mandi dari kecil…” Ihhhh Watiiii…. Kita kan hidup di katulistiwa!

Published May 26th, 2009

Naik KRL Ekonomi (2)

Sungguh. Naik KRL ekonomi itu kadang-kadang mengasyikkan. Beberapa temanku, cuma bisa membayangkan seperti apa rasanya. Ingin mencoba tapi tidak (atau belum) berani. Takut. Barangkali karena mereka pernah melihat KRL lewat saat mereka berhenti di perlintasan kereta. Memandang dari balik kaca mobilnya yang adem dan nyaman sambil menggeleng-geleng ngeri. Betapa KRL yang meluncur cepat itu penuh sesak, bahkan penumpang sampai bergelantungan di pintu atau duduk di atap kereta. Belum lagi cerita soal copet atau jambret yang katanya senang beraksi di sana. Ditambah lagi kabar soal pelecehan terhadap penumpang oleh penumpang juga.

Kalau kata temanku, yang bukan Wati, yang sudah lama di Australia, naik KRL ekonomi berarti “menikmati keajaiban dunia ketiga.” Bayangkan naik kereta bareng sama pegawai berpakaian necis, mahasiswa yang mendekap map, anak sekolah dengan seragam yang pasti tadinya licin tersetrika tapi sekarang kusut, pedagang dari Bogor atau Citayam yang akan berjualan di Kota membawa keranjang berisi jambu batu, papaya, pisang, atau belimbing. Lho, malah sebelum ada kasus H5N1, itu virus penyebab penyakit flu burung, aku pernah juga mendapati di bawah bangku yang kududuki terikat dua ekor ayam kampung yang dibawa majikannya ke Kota juga. Ada ibu-ibu yang mau belanja ke Mangga Dua. Ada calon pengantin mau beli cincin kawin ke Cikini. Di gerbong yang sama juga ada kakek nenek yang mau berobat ke RSCM. Ada mbak-mbak yang mau ke Mangga Besar untuk totok wajah, beli kosmetik penghilang noda atau pemutih kulit, mau photo aura, atau cari salon yang bisa menghilangkan selulit.

Pedagang asongan hilir mudik menawarkan mulai dari kamus bahasa Inggris, buku kumpulan doa lima ribu tiga (maksudnya lima ribu rupiah dapat tiga buku), sarung HP, pinsil warna, mainan, jeruk, apel, klengkeng, gambar tempel, penambal panci, aneka koran, tabloid, dan majalah, korek api sampai korek kuping. Belum lagi yang jual minuman. Mereka yang menenteng jualannya dalam ember plastik hitam yang diisi dengan berbagai macam minuman dalam kemasan botol atau plastik, lengkap dengan potongan es batu yang berfungsi sebagai pendingin. Atau menggunakan keranjang plastik yang ditumpuk kemudian di bagian bawahnya diberi roda sehingga bisa didorong sepanjang gerbong… Kata temanku yang lain, “Udah kaya’ DRTV…” Segala ada.

Ada berbagai macam jenis pengamen juga. Dari yang sekedar menyanyi nggak jelas sambil bertepuk tangan, penyanyi bersuara lantang membawa tas berisi pengeras suara, sampai pada, kalau beruntung, serombongan pengamen yang membawa alat musik dan sound system lengkap. Ada juga orang buta yang mengaji, membaca ayat suci, atau menyanyi juga. Mereka dituntun oleh rekannya yang tidak buta, atau berjalan sendiri membawa tongkat. Eh, ada juga anak-anak yang kerjanya menyapu lantai gerbong untuk sekedar mendapat imbalan atas jasanya itu. Yang begini cuma ada di KRL Ekonomi bukan AC.

Sekarang kami mau pulang ke Pondok Cina. Jadi, kami menunggu kereta di Stasiun Juanda. Hm… sudah begitu banyak calon penumpang? Hari menjelang sore. Wati masih ingin naik KRL ekonomi non-AC. Lebih seru, katanya. Heran. Kok nggak ada matinya sih Wati ini? Aku sudah berkeringat kepanasan. Betis kaku karena terlalu banyak berdiri dan berjalan kaki. Lagi pula aku yakin nggak bakal dapat tempat duduk di kereta nanti. Eh, Wati masih menyanyi-nyanyi. Teringat pengamen yang sempat menyanyi lagunya Ikang Fawzi di KRL saat berangkat. “Hebat ya. Kok dia bisa tahu lagu itu. 80-an banget.” Komentarnya.

Dugaanku terbukti. KRL datang dari arah Kota. Sudah penuh penumpang. Kami pun terpaksa berdiri (lagi). Wati memperhatikan seisi gerbong. Mulai berkomentar tentang segala hal yang tertangkap panca inderanya, khususnya mata. Orang-orang yang berdiri di sekitar pintu yang tidak mau bergeser barang sejengkal, walau tahu tindakannya menghalangi orang yang akan keluar masuk gerbong. “Itu orang keterlaluan deh!” (Jengkel). Orang yang tega merokok walau di sekitarnya orang terbatuk-batuk. “Nggak sopan banget ya!” (Keluh). Orang yang sekenanya melemparkan gelas air mineral yang sudah kosong, atau plastik bekas bungkus roti, atau kulit salak… “Ya ampuuun, kok begitu sih?” (Gregetan). Pemuda-pemuda dengan kostum dan dandanan ala punk rock yang duduk menggerombol tapi tak saling bicara… “Mereka itu keluar rumah sudah dandan begitu?” (Penasaran). Tak ada yang luput dari perhatian Wati.

Tidak semuanya membuat gusar Wati. Karena dia juga senang mengamati model baju, celana, tas, sampai sepatu yang dipakai para penumpang. “Baju kaya’ gitu enak kali ya, adem…” (Agak bingung). Dia mengerling ibu yang memakai setelan kaos yang kelihatannya memang semacam baju tidur. “Eh, itu… bahan begitu dimana belinya ya? Bagus kalau jadi rok.” (Mupeng). Bisiknya mengomentari tas kotak-kotak warna merah yang disandang seorang remaja. “Uhh. Ada juga yang hobinya sama kaya’ gue tuh!” (Takjub campur heran). Masih berbisik-bisik dia sambil cekikikan. Aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Wati dengan isyarat matanya. Seorang wanita duduk di bangku dekat pintu memakai blus katun kembang dan bertopi hitam. Tekun membaca. Aku masih bingung apanya yang sama dengan si Wati? Ah… rupanya buku yang dibacanya. Ketika wanita itu membetulkan topinya, bukunya ikut terangkat. Cersil. Terbaca judulnya: Sakit Hati Sedalam Lautan… OKT… Emang Wati banget!

Di setiap stasiun, penumpang bertambah. Gondangdia, Cikini, Manggarai… Ada yang turun tapi lebih banyak yang naik. Tebet… Kalibata… Pasar Minggu… Akhirnya penumpang dalam gerbong makin berjejalan. Aku pun terpisah dari Wati. Aku terdorong ke depan, sementara Wati entah dimana. Aku tidak bisa lagi menoleh ke kanan dan ke kiri.

KRL berhenti di Stasiun UI. Aku berjuang agar bisa bergeser mendekati pintu. Tetap tidak melihat Wati. Semoga saja dia ingat harus turun di stasiun berikutnya. Doaku dalam hati. Tiba di Stasiun Pondok Cina aku menerobos orang di pintu agar bisa keluar. Huaah… leganya menghirup udara segar. Banyak penumpang lain berhamburan keluar juga. Aku menepi sambil mencari-cari Wati. KRL mulai bergerak lagi. Sebagian besar penumpang telah berjalan ke luar stasiun. “Ah… mana Si Wati?”

Aku duduk dulu menunggu. Memperhatikan sekeliling. Kriiing… Tiba-tiba HP-ku berdering. Dari Wati!

“Haiiii Non…” Wati berseru di antara suara kereta, “Aku ndak isa turun. Aku terbawa kereta!”. Walah… Rupanya Wati tidak berhasil menembus gerombolan orang yang hobi banget berdiri di pintu, menghalangi orang yang mau turun atau naik. Semoga saja Wati bisa turun di Stasiun Depok Baru, pikirku sambil berjalan ke luar stasiun…

Oh ya, aku sudah bilang kalau ini cuma cerita, kan? Seperti biasa, cerita ini dimirip-miripkan dengan kisah yang sebenarnya.

Published May 24th, 2009

Mendapat dari Kehilangan

Losing is a Winning

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela. Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan, Pak.”
“Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga?”
Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

Sepenggal cerita itu dikirimkan oleh seorang teman dalam suatu milis yang aku ikuti. Mula-mula, aku tidak terlalu menganggapnya istimewa. Tapi kemudian aku menemukan bahwa pesan moral yang disampaikannya sangat berharga. Apa aku bisa melakukan apa yang dikerjakan bapak tua itu dengan serta merta?

Aku memeriksa diriku sendiri. Berapa sering aku mempertahankan sesuatu. Bukan hanya karena benar-benar ingin memilikinya, melainkan lebih karena aku tidak ingin orang lain memilikinya? Bahkan, mungkin, untuk barang atau hal-hal yang aku sudah tidak memerlukannya lagi.

Apakah watak manusia memang selalu ingin menguasai? Ingin lebih dalam segala hal dibanding orang lain? Tidak rela bila orang lain bisa melebihi kita? Bahagia bila hanya kita yang bisa? “Jika aku tidak punya, kamu pun tidak boleh memilikinya!” Begitukah?

Seperti bapak tua dalam cerita, kadang kita harus belajar melepaskan sesuatu. Betapa pun kita menganggap sesuatu itu sangat berharga bagi kita. Barangkali, itu lah saatnya kita kehilangan sepatu, supaya kita bisa mendapatkan sepatu yang lebih baik.


Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi orang yang membutuhkan. Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik.

Published May 23rd, 2009

Naik KRL Ekonomi (1)

Aku mau cerita lagi. Masih tentang Wati yang kali ini mau naik kereta api. Tepatnya naik kereta api listrik. Biasa disebut KRL (Singkatan dari apa ya? K-nya kereta, L-nya listrik, tapi R-nya apa? Rel, gitu? Atau apa ya?). Dari Pondok Cina ke Juanda. KRL itu termasuk alat transportasi utama di Jabodetabek. Murah meriah. Nyaman? Belum tentu. Setidaknya sangat berperan dalam mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan yang terkenal macet ini. KRL juga favorit bagi banyak pegawai, pedagang, mahasiswa, pelajar, pengemis, pengamen, pengangguran yang sedang punya urusan. Berjasa bagi mereka yang akan pergi dan pulang bekerja, atau kuliah, atau sekolah, atau belanja, atau wisata, atau mengunjungi orang tua, atau menengok mertua, atau menjenguk menantu, atau menjemput cucu… dan masih banyak atau lainnya.

Pada Minggu pagi yang cerah. Wati berseri-seri menungguku di depan loket di Stasiun Pondok Cina. Kami memang sudah bersepakat untuk bertemu di situ. Bajunya warna merah fuhchia, menyala. Jeans coklat abu-abu (halah… warna apa pula ini? Pokoknya gitu deh) dengan sulaman bunga di sisi-sisinya. Feminin sekali. Sepatu mochasin warna abu-abu (sangat boleh jadi tadinya hitam). Topi kulit bundar warna krem. Pakai kaca mata peneduh warna coklat pula. Luar biasa. Dia mengacungkan 2 buah tiket begitu melihatku datang. “AC masih lama, jadi kita naik yang biasa aja.” Katanya. Rupanya dia sudah membeli tiket untuk kami. Naik yang biasa aja itu maksudnya naik KRL Ekonomi Non-AC.

Untuk yang belum tahu, KRL Jabodetabek, khususnya di jalur Bogor-Jakarta, ada macam-macam jenis KRL. KRL Ekonomi Non-AC, KRL Ekonomi AC, dan KRL Ekspres. KRL ekonomi berhenti di tiap stasiun yang dilewati kecuali Gambir, sedangkan KRL ekspres hanya berhenti di stasiun tertentu saja, termasuk Gambir. Tiket karcis bervariasi. Dari yang seribu lima ratus sampai sebelas ribu. Tergantung tujuan dan jenis kereta.

Kami menunggu di peron. Stasiun Pondok Cina termasuk bebas dari pedagang kaki lima, jadi peronnya lega. Aku dan Wati duduk di bangku yang terbuat dari besi rel bekas. KRL ekonomi pertama yang berhenti terlalu penuh. Banyak penumpang yang sama-sama menunggu, nekat masuk ke dalam gerbong yang pintunya tidak pernah tertutup itu. Mereka kaum yang lebih pemberani dari kami rupanya. Sementara aku dan Wati memutuskan untuk menunggu kereta berikutnya.

Kami (terutama aku) ragu bisa bernapas dengan leluasa dalam gerbong yang padat penumpang itu. Ah, jangan bilang aku manja begitu. Dengan tinggiku yang berkisar satu setengah meter, aku bisa terancam tidak mendapatkan oksigen. He he… Coba aku berdiri di antara penumpang-penumpang itu. Menghadap ke mana pun muka ini bakal mentok kalau bukan punggung, dada, atau waduh… ketiak (maaf) penumpang lain… Mau? Nggak ah. Aku pernah terjebak dalam kondisi begitu. Leherku pegel bukan main karena sepanjang perjalanan harus mendongak terus. Toh sekarang kami tidak sedang diburu waktu. Untunglah 15 menit kemudian kereta datang lagi. Penuh sih, tapi rasanya kami masih bisa berdiri dengan tegak tanpa terdesak-desak dan bisa bernapas dengan bebas. Kami pun naik. Berdiri menghadap jendela yang terbuka. Tidak terlalu dekat pintu. Hm… sempurna.

Suasana di dalam kereta boleh dibayangkan. Orang tua, anak muda, bahkan batita yang digendong atau dipangku ibunya. Laki-laki, perempuan, masing-masing dengan urusannya sendiri. Ada yang tertidur menyandar ke jendela yang bolong, ada yang merokok sambil melamun, ada yang bercengkrama dengan pasangannya tak peduli dunia, ada yang bercanda tertawa-tawa dengan teman-temannya dengan suara yang sama sekali tidak ditahan. Ada yang baca koran gossip, tabloid olah raga, atau novel. Ada yang sekeluarga asyik makan tahu goreng dengan cabe rawit (dibeli dari pedagang yang mondar-mandir di kereta juga)… Ada yang makan anggur sambil menyemburkan bijinya kemana pun dia suka. Ada yang sibuk ber-sms. Ada yang nekat berteriak-teriak di telepon. Ada yang bengong. Ada yang senyum-senyum sendiri… Mungkin sedang membayangkan jadi anggota DPR di Senayan atau terpilih menjadi menteri setelah pilpres nanti.

Begitulah, berdiri di gerbong KRL yang penuh sesak, Wati (dan aku juga sih) menemukan banyak hal menarik.

“Jeruk… yang jeruk… satu seribu, enam goceng… goceng enam, murah!”

Seorang pedagang jeruk berseru mengatasi deru roda kereta beradu dengan rel. Wati menoleh mencari si penjual, seorang pemuda kurus yang secara mengherankan sanggup mendorong dan mengangkat sekaranjang jeruk dari gerbong ke gerbong. Mungkin sudah terlatih, terbiasa.

Seorang ibu gemuk sibuk memilih. “Tujuh boleh? Kecil nih…” Katanya menawar.

“Enam dah murah, Bu… di supermarket mah nggak dapet. Ini juga ngabisin aja.” Kata si penjual. Lalu menoleh ke Wati, “Mangga neng… Boleh jeruknya.”

Wati menunjuk-nunjuk jeruk di keranjang, “Iya jeruk. Manis apa asem?” Wati bertanya.

“Ohh… Manis ini mah jeruknya… moal hanjakal. Sok lah… mangga…” Si penjual mengangsurkan tas kresek pada Wati.

“Nggak ada yang asem?” Tanya Wati lagi.

“Nggak ada. Cobain dulu boleh. Manis lah ditanggung.”

Sementara si ibu gemuk sudah selesai memilih. “Ini. Tujuh ya?” Gigih menawar rupanya ibu itu.

Si penjual mengambil kantong kresek hitam berisi jeruk hasil pilihan Si Ibu, menghitung isinya, “Ya udahlah… ngabisin,” katanya sambil menerima uang lima ribuan dan memberikan sekantong kresek jeruk itu pada si ibu yang jadi tersenyum-senyum senang.

“Gimana neng?” Sekarang si penjual bertanya pada Wati lagi. Aku melihat Si Ibu tadi sudah mengupas satu butir jeruk untuk anaknya. “Disamain lah sama Si Ibu itu.” Kata Si Penjual sambil mengatur letak jeruk di keranjangnya.

“Nggak ah. Nggak ada yang asem.” Wati menggeleng. Temanku ini sudah sibuk memperhatikan penjual asesoris yang lewat. Pernak-pernik asesoris itu direnteng sedemikian rupa. Mulai dari sisir, jepit rambut, bando, bros, sampai kalung dan liontin. Penjual jeruk sejenak terdiam menatap Wati.

Aku terpaksa harus urun suara. “Dia mah emang sukanya yang asem, Mang.” Kataku.

“Ih, si neng…” Penjual menggeser keranjangnya, menawarkan jeruk pada penumpang lainnya. Seorang pemuda mengambil sebuah lalu memberikan uang seribu. “Aneh…” Si Penjual jeruk masih heran rupanya.

Wati menoleh, “Serius, Bang. Nggak bercanda. Kalau Abang ndak jual jeruk asem ya udah.”

Sepasang suami istri (mungkin) yang duduk di depan kami tersenyum-senyum memandang Wati lalu aku. Aku terpaksa mengangguk dan tersenyum pada mereka, sementara Wati sudah sibuk memilih peniti.

Oh… Betapa aku cinta KRL… Betapa aku cinta Indonesia… Negeri yang serba ada, serba kaya…

Published May 21st, 2009

Sajak-Sajak Lalu

Kangen (1)

Dear

Tak akan kubiarkan

Hatiku membenci siapa pun

Juga Kamu

Hanya karena namamu lah yang kuingat

(1992)

Kangen (2)

Apalagi yang menjadi beban bagimu?

Bukan rasa terbuang

Bukan pula rasa cemburu

Tapi kesepian memang tak kenal waktu

(1992)

Hari - hari Lewat

Hari-hari yang lewat

Kemanakah perginya?

Tidak kau tinggalkan jejak sedikit pun

Bila kutengok dalam catatan

Mereka menyebut sejumlah angka

Sebaris kalimat

Tidak ada arti

Karena waktu kehilangan makna

Hari-hari lewat

Kemana sembunyi?

Hari-hari yang belum teraba

Itukah jawabnya?

(1993)

Published May 19th, 2009

Ini Hidup, Erika…?

”Untuk apa sih hidup?” Erika bertanya sambil menggeliat. Masih di tempat tidur. Pintu kamarnya terbuka sejak pagi sekali. Ferina, adik Erika yang sekamar dengannya sudah terdengar menyanyi di kamar mandi. Matahari belum lagi menampakkan diri. Tapi dia harus bergegas. Ah, seluruh penghuni rumah ini memang sudah begitu hibuk. Bahkan Ganesya, si bungsu nan kalem pun sudah bersiap-siap memakai sepatunya. Dia berseragam putih abu-abu. ”Jangan sampai terlambat. Jalanan makin macet sedang aku ada ulangan.” Di luar sana, semua benda masih terlihat samar-samar…

Ya, untuk apa hidup kalau kita hanya berjalan seperti robot: bangun, mandi, sarapan, mengejar bus, kerja, dimarahi bos atau ngomelin anak buah, pulang, tidur, bermimpi (mungkin, sekali-sekali) dan begitu seterusnya, dengan irama yang sama? Setiap hari!

Erika nyengir. Sekarang dia sudah rapi. Siap memulai harinya. Pada jam bahkan menit yang tepat dia sudah berada pada kondisi seperti hari-harinya yang lain. ”Bosan!” Katanya. Tapi dia tidak berhenti. ”Hah? Berhenti atau mati…!” serunya lagi. Itu terlalu berlebihan kan, Erika. Mungkin kita hanya perlu mengatur tempo. Waktu berjalan memang. Waktu juga tidak pernah berbalik arah. Tapi ibarat lari maraton, kita kan tidak bisa sprint terus sepanjang 43 kilometer?

Mmm… aku mengunyah pisang ambon untuk sarapanku. Masih ada sepotong roti dan segelas kopi yang menjadi menuku pagi itu.

”Tidakkah ada yang bisa kau nikmati, Erika? Bahkan percakapan penumpang bus yang duduk di depanmu, barangkali… yang tercuri dengar? Warna atau model baju teman sekantormu menarik untuk dikomentari mungkin? Atau menebak-nebak omelan apa yang akan dilontarkan bosmu?”

Dia tertawa… Aku juga.

Aku tahu, bukan soal itu yang merisaukanmu. Tapi… entah apa pula.

Kulayangkan pandang ke luar jendela. Orang-orang sudah lalu-lalang di gang. Bergerak ke segala arah. Ada yang dengan kepala tegak. Banyak yang tertunduk. Ada yang gagah. Ada pula yang tertatih. Ada yang berjalan pelan. Banyak yang setengah berlari. Apa sebenarnya yang mereka cari?

Sekarang, giliranku bersiap-siap pergi. Apa juga yang kucari?

Published May 14th, 2009

Krisis Ekonomi Wati

Beberapa waktu yang lalu, krisis ekonomi menjadi kata yang paling banyak disebut. Di koran, TV, radio, bahkan di kafe dan warung kopi. Amerika krisis ekonomi. Indonesia krisis lagi. Aku juga krisis, berulang setiap bulan menjelang pembagian gaji. Ha ha… Tapi ini cerita tentang Wati. Walau bersama jutaan orang di seluruh dunia, berada pada situasi yang sama, dia bisa punya pemikiran berbeda, perilaku berbeda. Banyak orang bisa berteori. Banyak orang mengaku mengerti. Masalahnya, tidak banyak orang yang punya teori dan mengerti tapi mau mengamalkan ilmunya dengan sepenuh hati. Lain dengan Wati. Nggak perlu sekolah ekonomi, dengan kesadaran sendiri dia mencoba membantu mengatasi krisis.

”Hari ini kita beli kain, aku mau jahitin baju dan rok.” Ajaknya pada sore yang mendung.

”Kemana?” Tanyaku.

”Toko kain di mall yang situ itu, yang sepi…”

”Lha, nanti nggak sesuai selera?”

“Ah, cuma baju buat main aja kok.” katanya sambil beranjak ke kasir. Membayar pempek dan tekwan yang baru saja kami habiskan. Kami pun keluar dari warung dan berjalan kaki menuju mal. Cuma satu kilometer dari warung.

“Duitmu belum habis juga?” Aku pura-pura menyelidiki. Selama makan tekwan tadi, dia bercerita bahwa minggu lalu dia baru belanja ke ITC. “Cuma beli ini lho, benang sama sandal,” begitu ceritanya. “Sandalnya buat mami. Nanti kukirim lewat pos.”

“Yah… gaji bulan kemaren kan masih ada.” Jawab Wati. Kaya’nya sih bercanda. Tapi mukanya serius begitu. “Duit disimpen terus juga nggak tambah banyak kok.” Maksudnya, menyimpan uang di bank. Kalau jumlahnya sedikit, bunganya tidak bisa menutupi biaya administrasi dan sejenisnya itu jadi saldonya pasti makin berkurang terus… Daripada berkurang karena jelas-jelas diambil bank, dia belanjakan saja uangnya. “Banyak yang senang.” Lanjutnya.

Di jalan, kami mampir dulu ke Warpad. Warung Padang. Wati membeli sebungkus nasi dan sepotong ikan tongkol. ”Jangan pakai sambel jangan pakai kuah. Ikannya yang besar ya? Nasinya yang banyak.” Pesannya pada yang melayani. Aku tahu, Wati nggak doyan tongkol. ”Buat siapa?” Wati nyengir kuda. ”Oleh-oleh buat yang di rumah lah…” Itu artinya buat Felix deCat dan adik-adiknya.

Perilaku belanja Wati memang makin menjadi sejak krisis ekonomi. ”Harusnya kamu nabung!” Fani menasihati. Fani memang paling pintar menahan diri. Entah mau buat apa uangnya kalau sudah banyak nanti. ”Jaman lagi susah begini…” lanjut Fani. Fani itu teman kami juga. Sama-sama karyawan kantor yang beruntung masih belum dipecat. Belum naik gaji sih, tapi perusahaan masih membayar jerih payah kami.

”Begini ya.” Jawab Wati sungguh-sungguh atau setidak-tidaknya tampak sungguh-sungguh. ”Kalau semua orang nggak mau belanja, terus pedagang itu siapa yang beli? Kalau pedagang tutup pemasoknya juga bangkrut. Pabrik-pabrik berhenti produksi. Buruhnya banyak dipecat, gak bisa kasih makan anak istri.”

”Lagian, aku kan beli produk dalam negeri.”

Kemarin, Wati memang baru bercerita tentang tetangganya yang terpaksa menjual TV. Buat modal jualan bakmi setelah tidak bekerja di pabrik sepatu lagi.

Fani menggeleng-geleng bingung. Aku mengangguk-angguk walau belum terlalu paham. ”Apa hubungannya?” Kamu aja deh yang menerangkan kepada kami. Iya. Kamu kan yang paham dan mengerti teori ekonomi. Mikro maupun makro. Bagaimana menjelaskan perilaku Wati?

Published May 8th, 2009

Apresiasi dan Ekspresi

Agenda rapat hari itu sebenarnya sudah jelas: ada dua kegiatan “besar”. Kegiatan yang satu karena melibatkan banyak dosen dan banyak sekali mahasiswa. Kegiatan yang satu lagi karena lumayan strategis, bisa menentukan arah dan dinamika kegiatan kemahasiswaan di masa datang.

Barangkali karena agenda yang berat itu maka semua yang hadir, duduk diam menunggu. Tegang (he he… agak lebay nih…). Rapat memang belum dimulai. Lalu tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Rani itu mahasiswa semester berapa?” Yah, Rani siapa yang dibicarakan tidak perlu kujelaskan. Tahu sendiri lah. Oh… Bukan, dia bukan mahasiswa UG. Setidaknya, Rani yang dimaksud itu bukan Rani yang mahasiswa UG, jadi tidak masuk dalam wilayah pembicaraan rapat mestinya. Tapi kan rapat memang belum dibuka. Pertanyaan itu jadi merembet ke segala hal… Dari teori konspirasi sampai apresiasi (Mungkin ini yang disebut ice breaker, pemecah kebekuan, ha ha… karena sejak itu suasana jadi cair… penuh tawa dan ramai komentar).

Teori konspirasi tidak usah dibahas. Bukan karena tidak penting dan tidak menarik. Cuma terlalu njlimet buatku. Isi kepala masih alot untuk diajak berpikir rumit. Aku mau cerita soal yang satu lagi. Apresiasi. Mengapa orang Indonesia sulit mengapresiasi sesuatu?

“Mungkin karena budaya kita juga. Orang Indonesia, Jawa khususnya, diajarkan untuk tidak terlalu gumun. Ojo gumun.” Kata temanku.

“Aku sih bukannya tidak bisa mengapresiasi, tapi tidak mengekspresikannya.” Kata temanku yang satu lagi.

“Bagaimana aku tahu kamu mengapresiasi kalau disimpan dalam hati? Tidak pernah mengekspresikannya?” Tanyaku. Aku harus catat ini karena mungkin berguna saat merancang metode pelatihan di Bidang Kemahsiswaan nanti.

Mengapresiasi dan mengekspresikannya sebetulnya baik bagi kedua belah pihak ya? Bagi yang mengapresiasi, sikap ini menunjukkan kejujuran dan kebesaran hati. Kita jadi terbiasa bersaing secara sehat. Mengakui prestasi orang lain bisa memicu semangat untuk juga maraih prestasi di bidang yang sama atau di bidang lain. Bagi yang diapresiasi, penghargaan (apa pun bentuknya, bukan melulu soal uang) jelas sangat berarti, merasa kerja kerasnya dihargai. Dan, tentu saja menambah semangat untuk terus mengasah diri meraih prestasi yang lebih tinggi

Aku tercenung. Barangkali, itu sebabnya tidak banyak prestasi yang bisa kita raih. Karena prestasi tidak pernah kita catat dan hargai sebagai prestasi. Kita mudah sekali berkomentar, “Ah… gitu doang…!” Sementara kita tidak pernah melakukan yang cuma “gitu doang” itu. “Yaaah… Ini mah gue juga bisa.” Tanpa pernah sekali pun memperlihatkan “kebisaan” kita itu. Padahal, sekali lagi, prestasi adalah prestasi. Suatu capaian yang patut diberi apresiasi. Sekecil apa pun. Tentu saja apresiasinya harus proporsional agar kita tidak segera berhenti dan berpuas diri. Nah, barangkali, kelangkaan apresiasi itu maka orang jadi malas untuk menunjukkan kemampuannya…

Barangkali…

Published May 5th, 2009

Istilah oh Istilah…

“Gue mau nge-warnet dulu ya!” kata seorang mahasiswa. “Nggak usah, aku bawa laptop. Di sini kan ada hotspot!” kata mahasiswa satunya. Aku menghitung-hitung. Ada tiga istilah komputer dan internet di situ. Warnet, laptop, dan hotspot. Ah ya, komputer dan internet sendiri adalah satu istilah. Kecuali warnet, semua istilah yang diucapkan dua orang mahasiswa tadi adalah istilah yang berasal dari bahasa Inggris.

Warnet (warung internet) meramaikan jagat akronim dalam bahasa Indonesia, menyusul wartel (warung telepon) dan warteg (warung tegal). Warnet merujuk pada tempat pelayanan jasa internet yang kini mulai merebak di kota-kota besar dan kecil di Indonesia.

Aku jadi teringat pada makalah yang pernah kukirimkan pada suatu seminar nasional sistem informasi. Aku yang tidak punya latar belakang akademis ilmu komputer berusaha keras agar tidak keliru menggunakan istilah dalam bidang sistem informasi tersebut. Namun, tak urung moderator seminar berkomentar juga, “Ibu menggunakan istilah Indonesia ya? Saya malah belum familiar.” Rupanya beliau jadi sering menduga-duga apa sebenarnya yang aku tulis, he he… Waduh, sempat kagok juga jadinya.

Aku juga pernah mengikuti penataran tentang penerjemahan buku ajar. Banyak diskusi menarik sehubungan dengan upaya pemerkayaan kosakata berikut peristilahannya untuk semua bidang ilmu. Mulai dari perlu atau tidaknya sampai pada bagaimana caranya agar usaha penyesuaian atau penerjemahan itu dapat diterima dan digunakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan buku-buku ajar (terutama untuk perguruan tinggi) berasal dari Barat dan berbahasa Inggris. Bagi yang menguasai bahasa Inggris, tentu penggunaan istilah Inggris tidak menyulitkan, tetapi bagi mereka yang tidak paham bahasa Inggris, penggunaan istilah Inggris bisa menyulitkan pembelajar memahami apa yang disampaikan.

Dalam bidang ilmu komputer sebenarnya telah ada beberapa kamus istilah komputer. Memadai atau belum kamus tersebut dapat dilihat dari dua hal, yaitu perumusan konsepnya dan penentuan padanan bahasa Indonesianya. Pada umumnya definisi yang menjelaskan istilah yang menjadi lema kamus sudah memenuhi persyaratan leksikografi, tetapi penentuan padanan Indonesianya sering belum tepat. Salah satunya karena penerjemahannya yang terlalu harfiah atau pilihan katanya yang tidak sesuai.

Contoh pengindonesiaan istilah komputer dan internet melalui penerjemahan atau dengan mencarikan padanannya, misalnya back up dipadankan dengan cadangan atau rekam cadang. Istilah itu diterjemahkan dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari hasilnya (cadangan) dan dari prosesnya (rekam cadang). Cursor diterjemahkan menjadi pemandu.

Pengindonesiaan juga dilakukan melalui penyesuaian ejaan, misalnya diskette dan icon masing-masing diindonesiakan menjadi disket dan ikon. Access dan hypertext menjadi hiperteks dan akses. Laptop bahkan diindonesiakan tanpa penyesuaian ejaan sama sekali. Untuk penyesuaian ejaan menyangkut istilah yang dalam bahasa Inggrisnya lebih dari satu kata, biasanya dilakukan dengan mempertimbangkan struktur yang berlaku dalam bahasa Indonesia yaitu, hukum D-M (diterangkan – menerangkan). Misalnya, application program menjadi program aplikasi.

Dalam penerjemahan istilah pun hukum D-M tetap berlaku, misalnya soft ware menjadi perangkat lunak, flow chart dipadankan dengan bagan alir, sedangkan password dipadankan dengan kata sandi. Istilah-istilah tersebut rasanya sudah tidak terlalu asing. Tetapi bagaimana dengan CPU (central processing unit)? Konsepnya diterjemahkan menjadi unit pemrosesan pusat atau unit pemrosesan sentral, namun singkatannya (UPP atau UPS) sama sekali tidak popular. Lebih banyak orang tetap menggunakan singkatan CPU.

Agak lebih jarang lagi digunakan adalah padanan istilah WWW (world wide web). Ada usulan untuk memadankan istilah tersebut dengan WWW (waring wera wanua). Padanan itu berasal dari bahasa Jawa Kuno: waring berarti ‘jala’, wera bermakna ‘luas’, dan wanua menggambarkan ‘daerah atau wilayah yang dihuni’. Atau mungkin ada yang lebih suka menggunakan istilah jjj (jaring jagat jembar)?

Ohya, aku belum tahu, istilah hotspot padanannya apa ya?

Ingin belajar. Ingin mengerti. Ingin tahu. Semuanya tidak mudah. Tap, ah, masa’ menyerah?


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.