Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for April, 2009


Published April 28th, 2009

Hari yang Aneh…

Sebentar. Sebelum diteruskan bacanya, aku mau kasih tahu dulu kalau ini cuma cerita. Tentang Wati. Kalau ceritanya ternyata mirip dengan kejadian sebenarnya, ini bukan kebetulan, he he… memang dimirip-miripkan. Kadang-kadang kan cerita itu memang mirip dengan kejadian sehari-hari atau sebaliknya kejadian nyata tapi mirip cerita, ya kan?

Wati itu temanku. Orang Jawa Timur. Nama panjangnya Kiswati. Nggak tahu kenapa diberi nama begitu. Temanku yang lain, yang namanya Wati semuanya orang Sunda. Tapi sungguh, ini Wati dari Jawa Timur. Jujur orangnya.  Ceplas-ceplos kalau bicara. Tak bermaksud menyakiti, tapi yang diucapkan seringkali membuat orang terkejut, mengernyit, atau justru geli.

Hari ini Wati naik mikrolet dari Pasar Minggu ke Kampung Melayu. berarti M16 warna biru telor asin. Penumpang penuh sesak. Ada pegawai, ada anak sekolah berseragam SMA, ada ibu-ibu mungkin pulang dari belanja, ada juga bapak-bapak yang entah apa profesinya. Wati duduk terdesak di pojok belakang. Mengipas-ngipas mukanya pakai majalah. “Jendelanya nggak bisa dibuka…” gerutunya. Tak ada reaksi dari penumpang lain. Aku juga cuma menoleh sebentar, lalu kembali memandang jalan di belakang angkot yang macet. Di depan mikrolet juga jalan macet. Kalau nggak macet pastilah mikrolet ini ngebut.

Sudah sepuluh menit, angkot cuma maju sepuluh meter. Wati terus mengipas-ngipas sambil memandangi penumpang lain satu persatu. “Jeng!” Dia mencolek dengkulku. Aku yang duduk di depannya nyaris terlonjak kaget. Buyar deh lamunan jadi seperti ibu-ibu bersanggul modern naik merci terbaru di belakang angkot. Tuh, wajahnya mulus, tidak mengkilat berkeringat kaya si Wati yang melotot di depanku. “Yo opo? Kapan nyampe nih?”Aku nyengir, “Macet.” Aku menjawab pelan.

“Lha iya macet! Tiap hari begini?” Tanyanya. Aku mengangguk. Ibu yang duduk di sebelah Wati menoleh, “Biasa, mbak.” Ibu itu malah tersenyum, mungkin kasihan melihat Wati tersiksa. Wati menggeleng-gelengkan kepala. “Ternyata, orang Jakarta itu suabar-suabar ya?” Maksudnya sabar banget. “Moso, pagi subuh berangkat, kejepit di angkot, kepanasan, macet, gak ada yang marah-marah. Semua nrimo.” Penumpang lainnya, nggak cuma ibu-ibu di sebelah Wati, memandang Wati tawar, lalu kembali menatap hampa entah kemana…

———

Sudah sampai Pasar Senen sekarang. Aku takut ke Pasar Senen ini, tapi Wati iseng banget pengen tahu. Jakarta itu tidak bisa dipisahkan dari pasar, katanya. Apalagi Pasar Senen. Ah nggak jelaslah alasannya, wong apa yang dia cari sebetulnya ada juga di pasar-pasar lainnya. Mungkin lho. Aku, terus terang, nggak terlalu paham apa yang dijual di Pasar Senen dan pasar-pasar lainnya. Dalam setahun, mungkin cuma 2 atau 3 kali aku masuk pasar. Itu pun pasar PAL di Kelapa Dua Depok sana. Itu pun bukan buat belanja, paling mau mengobraskan kain…

“Berapa, Bang?” Tahu-tahu Wati sudah memegang kain katun kotak-kotak di kios kain. Si Abang yang ditanya sigap mendekati. “Tiga puluh lima.” Jawabnya. “Bukan… maksud saya berapa lebarnya?” Abang penjual menarik gulungan kain dari tumpukan, “Biasa Bu…”

“Apanya yang biasa? Saya nggak tahu. Nggak biasa. Jadi berapa?” Aku diam. Mulai nih…

“Lebarnya? Oh… biasa Bu, satu lima belas.” Abang penjual berambut kriting menggelar kainnya. “Bagus Bu, katun Jepang. Halus.”

“Ah Jepang… Nggak usah Jepang-jepang. Saya suka produk dalam negeri. Kasihan industri tekstil kita. Abang mau penduduk Indonesia banyak nganggur?” Aku tertawa dalam hati. Abang penjual nyengir. “Ini motif Jepang maksudnya, mbak, dibuatnya di Tangerang.” Pintar nih Abang penjual kain. Pinter ngeles…

“Maksudnya Kerawang, Bang? Ya sudah berapa se-meter?” Wati nggak percaya keterangan Abang Padang itu, tapi nggak terlalu peduli juga. Buktinya dia nanya harga. “Tiga puluh lima, mbak. Butuh berapa?” Eh, si Abang kok manggil mbak? Nggak tahu ah.

Wati memandangku, “Kalau bikin rok-blus… lebar satu lima belas, dua setengah cukup nggak?” Aku menaksir-naksir. “Ah… tiga meter aja Bang!” Tanpa menunggu jawabanku, Wati sudah memerintah si Abang buat memotong.

“Nggak pake nawar dulu, mbak?” Sekarang ganti aku yang memandang Wati. Khawatir…

“Bang, kalau jualan yang betul dong. Maksud Abang ini apa? Katanya tiga lima, sekarang saya disuruh nawar. Maksudnya apa?” Wati kelihatan gusar.

“Namanya juga pasar, mbak, ada tawar-menawar…” Si Abang menjawab sambil mengambil kayu meteran. Siap mengukur. Wajahnya seperti tanpa dosa.

Wati menggeleng-geleng, “Jadi berapa harga sebenarnya. Jujur dong! Kalau tiga lima, bilang tiga lima. Berapa yang bener?” Aku nyaris tidak bisa menahan tawa. Kaya’ adegan Srimulat.

“Dua lima bolehlah…” Wati menggerutu nggak jelas… “Gimana sih…”

“Jadi?” Abang mengacungkan gunting. “Jadi deh!” Kupandang berganti-ganti. Abang penjual terus Wati. Dari Wati terus ke Abang kain…

Published April 18th, 2009

Trilogi Ashadi: Cinta Mahasiswa

“Mahasiswa adalah mahluk ajaib, bisa melakukan hal-hal yang ajaib.” Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Ashadi Siregar. Aku tersenyum-senyum mendengar pernyataannya sekian tahun yang lalu itu. Dalam suatu pelatihan jurnalistik kampus yang aku ikuti, Ashadi Siregar, dosen FISIP UGM sekaligus penulis novel itu berkata di depan mahasiswa peserta dari berbagai fakultas di UGM dan perwakilan mahasiswa PT lain di Jogja. Beliau memberikan beberapa contoh ‘keajaiban’ yang dilakukan mahasiswa sebelum membedah persoalan pers mahasiswa. Aku tersenyum-senyum karena sebenarnya itu juga yang kupikirkan ketika pertama kali membaca novelnya.

Saat itu, aku yang masih SMP atau SMA mencuri-curi baca novel milik kakakku. Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir. Rangkaian kisah mahasiswa bernama Anton Rorimpandey dengan Erika di Jogja, Tody dan Irawati, hingga Widuri yang hijrah ke Jakarta lalu bertemu Joki Tobing. Dalam novel popular itu aku mendapat kesan bahwa mahasiswa itu hebat, terlebih lagi ajaib.

Ketika akhirnya aku jadi mahasiswa, yang pertama-tama kulakukan adalah mengecek lokasi. Ke Gedung Pusat, Bunderan UGM, Balairung, Asrama Mahasiswa, dan tempat-tempat yang disebutkan Ashadi dalam novelnya. Di sini keajaiban itu dilakukan? Apakah tempat bernama kampus itu yang menyebabkan mahasiswa menjadi mahluk ‘berbeda’? Ruang-ruang kelas berjendela lebar dengan bangku-bangku kayu coklat kusam penuh coretan, apa bedanya dengan ruang kelasku di SMA dulu? Bangku beton di bawah naungan pohon cemara di halaman kampus itu tidak istimewa, dingin, jauh dari mewah. Tapi di situ sekumpulan mahasiswa asyik mengobrol, diskusi, bahkan mungkin bertengkar atau merenung…

Takjub berikutnya adalah perbedaan perlakuan. Pada kuliah hari pertama, sang dosen menyapa, “Selamat pagi saudara-saudara!” Wah, aku bukan anak-anak lagi, pikirku. Aku, kami, mahasiswa, disapa sebagai sesama dewasa. Tapi itu juga membawa konsekuensi. Begitu menjadi mahasiswa, maka semua keputusan dan tindakan adalah tanggung jawab pribadi. Tak peduli masih tergagap-gagap hidup sendiri merantau, belum fasih mengatasi perbedaan budaya dan bahasa, bingung mengatur uang saku pas-pasan dan belum canggih mengatur jadwal kuliah dan praktikum. “Sekarang kamu mahasiswa!” Begitulah. Mahasiswa harus tanggap situasi dan kondisi, berpikir cepat, mandiri, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Merengek bukan tempatnya, lari dari tanggung jawab apalagi.

Bertahun-tahun kemudian, aku menemukan novel karya Ashadi Siregar itu lagi. Sudah dicetak ulang oleh penerbit yang berbeda (dulu Gramedia sekarang GagasMedia) dalam format yang lebih kecil dan ilustrasi sampul yang lebih ‘muda’. Aku tak tahan untuk tidak membaca ulang. Nostalgia. Ha ha…

Sekarang, aku masih menganggap bahwa menjadi mahasiswa tetaplah ‘ajaib’. Banyak kesempatan bisa dilakukan oleh mahasiswa. Disadari atau tidak, mahasiswa punya kedudukan istimewa. Kalau mahasiswa protes, mereka dianggap mewakili idealis yang murni dan tidak tercemari kepentingan selain kebenaran. Kata-katanya seringkali lebih didengar dari doktor ahli sekali pun. Coba yang teriak-teriak itu kumpulan sarjana, pasti dianggap sedang frustasi karena terlalu lama menganggur.

Saat kubaca kembali Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir, aku membayangkan mahasiswa sekarang. Situasi dan kondisi memang agak berbeda. Barangkali perhatian, fokus, dan nilai yang dianut juga ada yang berbeda, tapi setidaknya aku menangkap ada persoalan yang sama: keresahan menghadapi masa depan yang tak pasti.

Judul Buku: Cintaku di Kampus Biru (pernah difilmkan dan dibuat sinetronnya dengan judul yang sama)

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan X)

Judul Buku: Kugapai Cintamu (pernah difilmkan dan dibuat sinetronnya dengan judul yang sama)

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan IX)

Judul: Terminal Cinta Terakhir

Penulis: Ashadi Siregar

Kategori: Novel

Penerbit: GagasMedia

Tahun: 2004 (Cetakan VI)

Published April 1st, 2009

The Boss is (not) Always Right

Ada pertanyaan menggelitik di kelas, “Bagaimana menghadapi atasan yang menganut paham like and dislike?” “Memangnya salah ya?” Aku balik bertanya. Kelas jadi gaduh.

Aku menunjuk pada sekelompok mahasiswa yang selalu duduk bergerombol selama kuliah. “Kalian selalu saja duduk berdekatan saat kuliah.” Mereka mengangguk setuju. Aku menunjuk kelompok yang lain, “Kalian juga selalu bersama-sama. Saya pernah melihat kalian makan bersama di warung setelah kuliah.” Mereka tertawa, tapi membenarkan pernyataanku.

Kalau kita punya nilai dan prioritas dalam memilih teman kok rasanya wajar saja. Kalau kita merasa nyaman atau tidak nyaman pada suatu situasi tertentu kok juga bisa diterima. Atasan atau bawahan, setiap orang bisa punya preferensi pertemanan sendiri.

Dalam kasus atasan tidak (belum) menyukai kita, maka sebaiknya kita lah yang harus lebih banyak bekerja keras. Atasan itu pastilah lebih sibuk, lebih banyak urusan, dan lebih besar tanggung jawabnya. Dia pasti sering harus sendirian memikirkan dan mengambil keputusan (uhhh, siapa bilang jadi atasan itu gampang?). Dia seperti di puncak menara yang diterpa angin lebih kencang daripada para bawahan yang duduk-duduk di kaki menara, kan? Pada kondisi seperti itu, mana mungkin kita mengharapkan atasan kita selalu manis, menyapa ramah dan bukannya marah-marah pada kita?

Jadi hubungan bawahan-atasan tidak hanya tanggung jawab atasan. Bawahan bahkan punya andil lebih besar dalam menjalin hubungan yang lebih manis dengan atasan. Bawahan tidak bisa memilih boss sementara boss sangat mungkin memilih anak buah.

Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah bawahan yang baik adalah dengan memberikan masukan dan informasi yang diperlukan oleh atasan. Lain dengan kita, para bawahan yang bisa ngrumpi kesana-kemari. Atasan kita itu lebih terisolir dari acara semacam itu. Jadi kita bisikinlah rahasia umum yang beredar di kantor misalnya. Kita beri tahu atasan tentang berbagai hal yang mungkin berguna baginya untuk mengambil tindakan yang tepat bagi perusahaan. Bukan hanya informasinya yang harus penting tapi juga harus dengan cara yang lebih mudah diterima atasan.

Nah, jadi, kita yang harus pandai-pandai memberikan informasi yang diperlukan dan bermanfaat baginya. Dan, tentu saja dengan cara yang tepat. Jangan selalu menunggu diminta atasan. Ingatlah bahwa kita adalah bagian dari tim yang sama.

Wah, jadi mlesetin lagunya Candil sewaktu masih di Seurieus…

Boss juga manusia punya rasa punya hati… Jangan samakan dengan pisau belati…

(Rocker juga Manusia, Seurieus)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.