Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for March, 2009


Published March 20th, 2009

Cinta yang Tandas atau Kandas?

Aku selalu takjub dengan kisah cinta. Aku yang masih sering bertanya, apa sih cinta itu, pastilah terpana pada kilau cinta meski kadang bermandikan air mata.

Setiap kali, aku menemukan kisah cinta yang berbeda. Ada cerita dimana temanku berkata, “Aku tuh kasihan sama dia.” Aku tertawa. “Itu juga cinta namanya.” Kataku sok tahu. Dia sempat protes, tapi kemudian ikut tertawa, “Begitu ya?” “Kamu boleh saja kasih nama apa, kasihan kek, melas kek, sayang kek, tapi tetap saja itu cinta.” Kataku. Lha wong sudah dua puluh tahun hidup bersama kok, susah senang tetap dijalani bareng kok. Cinta kan bisa berwujud apa saja, diberi label apa saja, tapi hakekatnya tetap saja cinta. Sekali lagi, aku sok tahu. Memang sok tahu always… mode on. He he…

Tapi aku tak berani sok tahu kali ini. Cinta yang kudengar kali ini memang bukan cinta yang biasa. Di hadapanku seorang ibu dengan enam orang anak. Dia yang selalu berjuang untuk kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh keluarganya. Wajahnya sedih walau berusaha dia samarkan, “Aku sudah ditolak” Titik-titik air menetes perlahan dari kedua matanya. Namun, secercah cahaya samar berkelebat, “Tapi aku tidak sakit hati. Aku tetap cinta.” Pandangannya menerawang jauh.

Ah, aku tidak perlu menebak-nebak isi hati yang bergejolak saat itu. Bagaimana aku menggambarkan perasaan yang berkecamuk karena ditolak oleh yang dicinta. “Jadi Ti, Aku ikut teladan junjunganku, Nabi Muhammad SAW. Aku akan hijrah.”

Dia bukan ibu yang cengeng aku tahu, sebaliknya dia adalah ibu yang sangat tegar, penuh kasih, dan tanggung jawab. Tanpa banyak protes, dia tanggung semua susah gelisah selama ini. Tak ada kata menghindar dari kewajiban. Beban yang sungguh berat dia lakoni dengan satu kepastian dan keyakinan bahwa inilah amanah yang harus diembannya sebagai mahluk, sebagai istri, sebagai ibu. Ikhlas. Walau suatu kali pernah juga dia bertanya-tanya. “Mengapa sejak lahir hingga aku sendiri melahirkan keenam anakku, aku terus dirundung masalah dan derita?” Katanya bercerita. “Sehebat apa aku ini sebenarnya, hingga diberi ujian seperti ini, bertubi-tubi, tak kunjung henti?” Lanjutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ya. Berkali-kali aku menyaksikannya harus jatuh bangun bertahan hidup. Segala daya dia kerahkan agar anak-anaknya tidak lapar, bisa bersekolah, terhindar dari hujan dan panas, tak harus malu dengan keterbatasan materi, tapi bangga dengan prestasi. Jelas aku tidak mungkin sok tahu. Aku terdiam menatapnya. Dia mengangkat wajahnya, memandangku. “Aku keras kepala namanya kalau aku tetap bertahan di sana.”

Maka di sini, duduk seorang ibu yang bertekad memperjuangkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh keluarganya. “Aku yakin, aku masih cinta, tapi aku akan memberi warna yang berbeda pada cintaku. Kubiarkan dia mengira aku menyerah dengan kepergianku. Tapi justru akan kutunjukkan cintaku yang jauh lebih besar padanya. Karena aku tak ingin dia melihatku kalah.”

Begitulah. Setelah lebih dari 40 tahun dia setia pada tanah kelahirannya, dia sampai pada titik yang tak tertahankan. “Tak mungkin aku berkhianat pada bumi yang sudah melahirkanku. Pada tanah yang selama ini aku pijak walau kadang membuatku goyah tak sanggup melangkah. Pada langit yang selalu mencurahkan sinarnya walau sering menyilaukan, mengaburkan pandanganku. Pada air yang terus menghidupi setiap langkahku walau tak jarang menghantamku bagai bah. Ya. Aku tetap cinta padanya. Jika saat ini dia menolakku, mencampakkanku, dan aku tidak bisa melawan, tak sanggup bertahan, maka aku pergi sekarang.” Aku masih terdiam menatapnya. “Aku akan hijrah dulu, kutitipkan anak-anakku pada keperkasaan Yang Kuasa. Lagi pula, ibu pertiwi masih sayang pada anak-anakku. Dia cuma tidak ramah padaku, tidak paham pada cintaku.”

Aku tidak tahu apakah buminya yang baru akan lebih manis padanya. Tapi aku mendapatkan kisah cinta yang lain…

Sahabatku, hanya doaku untukmu. Semoga cinta juga yang akan menerimamu saat kamu kembali nanti.

Published March 6th, 2009

Pelajaran Manajemen (dari Anak Unta)

Seseorang datang bercerita. “Kamu tahu?” Katanya dengan suara pelan tersendat. “Aku bisa melakukan semua pekerjaan itu dengan jauh lebih baik dari siapa pun di perusahaan itu.” Aku mengangguk. Aku sih percaya pada apa yang dikatakannya. Aku rasa dia tidak begitu saja datang terus membual. Masalahnya, mengapa dia tidak melakukannya? “Aku ingin, mau, dan bisa.” Aku mengangguk lagi. “Tapi aku tidak punya kesempatan. Sayang sekali…” Hm…

Pekerjaan yang dibicarakannya baru saja diberikan kepada rekannya yang lebih pandai melobi. Walau secara teknis, kemampuan dan ketrampilan rekannya itu tidak lebih baik darinya. Masih menurutnya, sebetulnya, kerugian bagi perusahaannya. Jika perusahaan memilih orang yang salah atau menyia-nyiakan sumber daya terbaiknya. Tapi terkadang “itung-itungannya” memang sulit dimengerti. Mungkin, mereka yang pakar di bidang HRD atau SDM bisa menjelaskannya.

Aku tidak punya kata penghiburan yang tepat untuknya. Memang begitulah kenyataannya. Apa yang kita punya bisa jadi tidak pernah bisa digunakan secara optimal. Sebabnya bisa macam-macam. Aku juga sering mendapati bahwa banyak sekali “person on the wrong place”. Orang-orang yang bercokol di suatu tempat mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak sepadan dengan keahlian dan keterampilannya. Padahal mungkin dia bisa lebih “bersinar” di tempat lain. Wah, jadi teringat sebuah cerita yang pernah dikirimkan kepadaku:

One upon a time, a very good day, a mother and a baby camel were lazing around, and suddenly the baby camel asked…

Baby: Mother, mother, may I ask you some questions?
Mother: Sure! Why son, is there something bothering you?
Baby: Why do camels have humps?
Mother: Well son, we are desert animals, we need the humps to store water and we are known to survive without water.
Baby: Okay, then why are our legs long and our feet rounded?
Mother: Son, obviously they are meant for walking in the desert. You know with these legs I can move around the desert better than anyone does! Said the mother proudly.
Baby: Okay, then why are our eyelashes long? Sometimes it bothers my sight.
Mother: My son, those long thick eyelashes are your protective cover. They help to protect your eyes from the desert sand and wind. Said mother camel with eyes brimming with pride…
Baby: I see. So the hump is to store water when we are in the desert, the legs are for walking through the desert and these eyelashes protect my eyes from the desert… Then what the hell are we doing here in the Zoo!!!!!!???


Moral cerita di atas adalah bahwa ketrampilan, pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman hanya berguna jika kita berada pada tempat yang tepat.

Heiiii…. where are you right now?

Published March 2nd, 2009

Bumi Dipijak Langit Dijunjung

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung

                                                            (pepatah Indonesia)

 

Begitulah seharusnya. Kita kan harus menghormati apa yang berlaku di masyarakat setempat? Dalam skala yang lebih kecil, kita harus mengikuti aturan tuan rumah saat bertamu. Jika di rumah sendiri kita bisa pakai sepatu sampai ke kamar tidur, kita tidak bisa melakukannya di rumah tetangga yang menghendaki sandal atau sepatu dilepas di teras rumah. Yang mengherankan adalah saat sebenarnya aturan yang berlaku sama. Mengapa di rumah sendiri kita tidak merasa perlu disiplin menjalaninya sementara saat di rumah tetangga kita bisa begitu tertibnya memperhatikan aturan?

 

Aku menggeleng-geleng kagum. Orang yang biasanya tidak merasa perlu mengikuti larangan merokok di negeri sendiri, bisa juga manis di negeri orang, tertib hanya merokok di tempat yang memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin menikmatinya. Mereka yang biasanya menyebrang jalan di mana pun mau, bisa juga lho disiplin melakukannya hanya di zebra cross atau di tempat yang sudah disediakan. Mereka yang kalau naik bus atau angkot atau ojek maunya turun persis di depan pintu pagar rumah, kok ya nggak sewot diturunkan di halte pemberhentian yang jauhnya satu dua blok dari tempat tujuan? Yang biasanya tidak mengenal kata antri, eh jadi orang yang sabar ikut dalam barisan menunggu giliran. Aku sendiri takjub, kok aku bisa tertib disiplin nggak pake ngomel?

 

Kembali ke Depok, serabutan dimulai lagi. Seorang teman bilang, “Ini kan Indonesia, lain ladang lain belalang dong, di “sana” aturan untuk diikuti, di sini aturan dibuat untuk dilanggar!” Jadi pepatah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung berlaku. He he… aku jadi nyengir. Begitu ya? Waduuuhhh!


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.