Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for February, 2009


Published February 20th, 2009

Kepompong Persahabatan

Di rumah TQ, di Bandung, aku, TJ, dan TQ berkumpul. Tempat favorit kami adalah meja makan. Seingatku, sejak pertama kali kami bertiga (sebetulnya dulu berempat sama WQ) sering main bareng, pasti ada acara makannya. Entah ringan entah berat. TJ yang pilihan menunya terbatas tak pernah terganggu dengan apa yang tersaji. Walau dia nggak bisa makan dia nggak akan kesal apalagi iri dengan ragam makanan yang aku atau TQ pilih. Tentu saja asalkan ada hidangan lain yang bisa dia nikmati, he he…

Secara berkelakar kami mengklaim bahwa kami adalah satu geng. Bukan gengster serem yang kerjanya nakut-nakutin yang bukan anggota dan menyiksa yang ingin menjadi anggota. Justru kami bersama karena adanya persamaan nasib sebagai sesama “orang kecil” yang “diperlakukan istimewa” oleh teman-teman satu kelas. Mereka yang merasa dirinya “orang besar” mempersilakan kami duduk di bangku paling depan! Hm… Posisi yang bagus karena pandangan ke papan tulis tidak terhalang, tapi sangat tidak menguntungkan karena tidak pernah bisa ngumpet dari mata para guru yang awas melihat siapa yang belum mengerjakan PR atau belum membuat tugas atau diam-diam makan permen coklat…

Sepulang dari Bandung, aku jadi tergoda untuk berpikir tentang pertemanan, persahabatan. Siapakah temanku? Apakah aku sahabat baginya? Apakah kami kawan karib? Bagaimana persahabatan dimulai? Apa ada alasan mengapa aku berteman dengannya tapi tidak bisa akrab dengan yang lain?

Aku pernah menerima surat yang berbunyi begini: “… Aku tidak akan ragu menyebutmu sebagai sahabatku, tapi aku tidak yakin kamu mengaggapku sebagai temanmu. Kamu tidak pernah cerita apa-apa padaku…” Aku terkejut. Dan sedih tentu saja. Aku sendiri punya perasaan serupa padanya.

Bertahun-tahun yang lalu, saat baru bekerja setelah lulus kuliah. Seorang temanku tergopoh-gopoh menelpon. “Tolong kalau nanti ada orang perusahaan tanya, Apakah kau temanku, kau jawab saja iya.” Ada apa rupanya? Ternyata dia baru saja mengisi form penilaian (entah dalam rangka apa) dari HRD. Disitu ada isian: Sebutkan 5 teman yang paling dekat denganmu. Tak lupa, temanku minta maaf merasa diri lancang menyebutku sahabatnya. Mengapa dia harus minta maaf? Aku juga lumayan lama tertegun setelahnya. Jika aku berada pada situasi yang sama dengannya, apakah aku akan memasukkan namanya dalam daftar teman dekatku? Telponnya membuatku berpikir.

Beberapa waktu yang lalu aku datang ke resepsi pernikahan seorang teman. Sambil menghirup minuman ringan, aku dan beberapa orang teman berbincang-bincang. Tiba-tiba ada yang bertanya, mengapa si Ini, si Itu, tidak datang. Apakah tidak diundang? Atau tidak ingin datang? Kami segera sadar bahwa pertanyaan semacam itu tidak pada tempatnya diajukan. Lalu pembicaraan melenceng menjadi “Siapakah temanmu? Siapakah orang yang ingin kamu ajak ikut merasakan kebahagiaanmu? Siapakah teman yang tidak canggung meminta bantuanmu dan kamu tidak segan menolong?”. Hm… Kami semua terdiam, saling pandang.

Pada Tgl 25 Januari 2009 itu, pada siang menjelang sore yang agak mendung itu, kami - aku, TQ dan TJ - duduk mengelilingi meja untuk ngopi dan ngrumpi. Tidak ada agenda istimewa mengapa aku datang dari Depok  dan TJ sengaja meluncur dari Cirebon untuk sama-sama bertemu di rumah TQ di Bandung. Heran? Tentu tidak, bukan. Kami memang hanya ingin bertemu saja. Jarak lebih dari 100 km bukan halangan untuk menjumpai sahabat lama.

Apa yang kami bicarakan juga bukan sesuatu yang luar biasa. Obrolan ringan diseling guyonan yang mungkin hanya lucu di antara kami. Tapi sekali lagi, ini bukan kejadian luar biasa, bukan? Kadang-kadang bahkan kami sudah senang dengan saling mengetahui bahwa kami berada pada tempat dan waktu yang sama. Merasakan cuaca yang sama, menghirup udara yang sama. Percakapan kadang tidak diperlukan untuk mengetahui bahwa kita berada di antara para sahabat.

Seminggu sebelumnya, aku berada ratusan kilometer dari Bandung, juga bersama sahabatku. Rindy. Di rumah Rindy di Jogja, aku bernostalgia dengan kenangan bersama. Tertawa karena peristiwa yang biasa tapi kami kenang dengan kebahagiaan luar biasa. Betapa persahabatan tidak berjarak.

Seminggu sesudahnya, An, sahabatku yang lain, menelpon. Menanyakan apakah aku perlu bantuan untuk mengganti laptopku yang hilang. Dia ingin memastikan bahwa aku bisa segera beraktivitas seperti biasa. Dia tahu aku suka melotot di depan komputer untuk sekedar membaca atau menulis sesuatu. Laptop hilang sangat mengesalkan bukan hanya karena harganya mahal menurut kantongku tapi semua file yang belum sempat diback up yang ikut lenyap sungguh lebih menyesakkan. Ah, mengetahui bahwa dia akan membantu saja sudah amat sangat melegakan. Begitu juga dengan sms dan email-email lain yang berdatangan. Semuanya menyampaikan simpati yang tulus atas kehilangan laptop dan terutama isinya itu. Kata-kata hiburan, ledekan konyol, kemarahan, kegeraman, dan keprihatinan semua temanku itu, tawaran utang sampai kesediaan mengantar beli laptop baru, sungguh membuatku merasa jauh lebih ringan.

Teknologi memungkinkan aku berhubungan dengan semua sahabatku dimana saja, kapan saja. Ada telepon, sms, email, jaringan pertemanan di dunia maya, dan sebagainya. Tapi kebahagiaan bertatap muka, menyaksikan ekspresi dan menyentuh rasa kebersamaan tetaplah menakjubkan. Karena itu meski terdengar aneh, kadang-kadang aku menempuh jarak ratusan kilo untuk sekedar bertatap muka. Walau pun jika kopi darat tidak mungkin dilakukan, teknologi komunikasi toh bisa jadi andalan menyambung tali silaturahmi.

Kurasa aku menemukan titik terang jawaban atas pertanyaan “Siapakah sahabatmu?”

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah punya seorang sahabat. Aku yakin dia tidak akan meninggalkanku apa pun yang kulakukan. Dia selalu bisa mengatakan bahwa dia paham, mengerti atas semua tindakanku. Terlepas dia setuju atau tidak. Persis seperti yang kulakukan padanya. Kami saling mendukung dalam susah dan senang. Tapi sebelumnya, kami bahkan tidak pernah bercakap-cakap lebih dari tiga kalimat. Kami merasa tidak punya satu minat pun yang sama yang bisa mendekatkan kami sampai kemudian kami menyadari bahwa teman-teman dekat kami masing-masing sudah lulus lebih dulu. Saat menunggu dosen pembimbing skripsi kami itulah, kami saling membagi senyum, “It’s ok. Kita senasib!” Mungkin itulah makna senyum kami saat itu. Lalu kami jadi sering jalan bareng… Ternyata kami bisa tertawa mendengar lelucon yang sama! Tapi aku harus berpisah dengannya karena dia “pulang” terlebih dulu…

Pada saat aku masih merasa ada kekosongan yang ditinggalkannya, aku bertemu dengan seorang yang begitu saja menawarkan persahabatan yang mesra. Pada suatu acara yang disponsori oleh Dikti, aku bertemu dengannya. Aku bukanlah orang yang mudah akrab, tapi dengannya aku tidak terlalu canggung. Sekarang kami masih sering takjub, bagaimana kami dipertemukan. Padahal, kalau dipikir-pikir, kami punya banyak perbedaan. Sahabatku ini membuatku lebih percaya diri karena dia tidak pernah ragu menunjukkan rasa cintanya padaku. Jika aku berhasil melakukan sesuatu dia tak lupa menyampaikan selamat. “I am very proud of you!” Serunya. Jika aku melakukan kesalahan, dia tersenyum, “Mbak lupa ya…?” tegurnya.

Sahabatku yang lain punya riwayat sendiri. Dia bukan orang yang mudah bergaul. Teman-teman selalu mengatakan bahwa dia adalah orang yang sulit dan sangat tidak mudah didekati dan jarang mendekati. “Mungkin kejujuranku terlalu mengganggu.” Katanya.Yah, kadang-kadang keterusterangan membuat tidak nyaman yang mendengar, memang. Maka, dengan antusias dia pergi ke belahan benua yang lain. Dia bilang, di sana, semua orang hanya mengurusi urusannya sendiri dan tidak perlu banyak basa-basi. Tapi, ketika sampai di sana, dia menangis mengadu, mengapa tak banyak yang mau berteman dengannya? Sms-smsnya mengatakan bahwa dia merasa sangat terasing. Aku sempat berkata, “Mengapa kamu tidak lakukan seperti apa yang pernah kamu lakukan padaku?” Seingatku, dia yang pertama kali menemuiku dengan alasan meminjam buku. “Hei… Aku El, kudengar kamu punya buku XYZ… dst” Lantas, kami berteman. Saling meminjam buku dan diskusi. Hampir setiap hari.

Rasanya, aku juga menemukan sedikit alasan tentang bagaimana pertemanan dan persahabatan dimulai…

Seorang sahabat berkata,”Make a friend!” Jika tidak ada yang datang padamu, kamu saja yang datangi mereka, katakan, “Mari kita berteman.” Gitu aja kok repot.

Aku mengingat-ingat semua kisah pertemananku. Ya, banyak cara dan banyak cerita. Aku tidak bisa menuliskan satu persatu semuanya. Yang jelas persahabatan bukan tanpa ujian. Jarak, waktu, situasi, kondisi sering kali membuat persahabatan yang paling kental sekalipun mencair. Goyah. Tapi ujian yang sama juga bisa menjadikan persahabatan jauh lebih akrab, kuat dan tak ternilai.

Persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
persahabatan bagai kepompong
hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
maklumi teman hadapi perbedaan
persahabatan bagai kepompong
na na na na na…

                                    (Kepompong, Sind3ntosca)

Aku pernah membuat kesalahan karena tidak pernah menunjukkan perasaanku pada teman dan sahabatku. Tidak pernah mengatakan betapa berharganya mereka buatku. Padahal banyak hal yang aku lakukan dan berhasil kuselesaikan karena dukungan dan bantuan teman-teman. Jadi dimana pun kalian berada, para sahabatku, aku mengirimkan cinta dan terima kasihku. Terima kasih sudah jadi sahabatku. Thank you for being my best friend… Semoga aku juga bisa jadi sahabat yang baik bagi kalian.

 

Catatan: Tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua teman dan sahabat, maaf, semua nama yang disebutkan di atas disamarkan.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.