ILFIL… Perasaan Kok Hilang?
Ada satu hal/ Yang tidak kusukai dari kamu/ Dan paling sering kau ulangi/
Kadang-kadang bikinku ilfil/ Kadang-kadang bikinku ilfil
Tiap hari aku, tiap hari terus/ Hanya mendengar kau/ Mengeluh dan mengeluh/
Kadang-kadang bikinku ilfil/ Kadang-kadang bikinku ilfil
Ku hanya beritahu/ Tapi terjadi lagi
Eh, eh, kok gitu sih?/ Lho kok marah?!/ Jangan gitu sayang/ Jangan gitu sayang
Eh, eh, kok gitu sih?/ Lho kok marah?!/ Jangan gitu sayang/ Jangan gitu sayang
(Kok Gitu Sih, Dewiq feat Indra Bekti)
“Jadi, ternyata ilfil itu maksudnya ilang feeling…” Lapor temanku. Wah, ternyata aku juga baru tahu, he he… ”Masa sih ada orang bisa gak punya perasaan…” Lanjutnya lagi. Aku termangu. Ya. Kita sering kali berurusan dengan perasaan: senang, bahagia, marah, sedih, takut, malu, dan sebagainya. Tapi hilang perasaan atau ilfil? Sebentar…
Beberapa hari sebelumnya, seorang teman mengatakan padaku, ”Jangan diambil hati… Kalau kerja nggak usah pake perasaan deh!” Nah, jadi bagaimana? Saat itu aku sedang kecewa karena banyak mahasiswa yang tidak bisa menyelesaikan tugas tepat waktu.
Dulu, didorong rasa penasaran dan tidak mau malu pada guru (dan teman-teman sekelas tentu), aku tidak pernah melewatkan membuat PR. Bisa tidak bisa, selalu aku kerjakan. Mengatasi rasa grogi, takut, dan didorong tanggung jawab sebagai anggota kelompok, aku mau saja diminta jadi juru bicara di depan kelas. Pokoknya, urusan perasaan adalah urusan ”dalam negeri” yang sedapat mungkin tidak terungkap di depan publik, tetapi tetap saja kurasakan menggelegak dalam hati. Entah malu, senang, susah, sedih, gembira, cemas… Kadang memang tidak berhasil disembunyikan. Muka merah padam atau justru pucat pasi… tangan gemetar dan berkeringat dingin… deg degan… Gestur tubuh jelas memperlihatkan bagaimana perasaanku sebenarnya saat itu. Tapi, tak jarang teman-temanku mengatakan kalau aku kelihatan meyakinkan. ”Wah… Kamu pede abis ya?”
Dalam pengalaman yang lain, aku pernah (sebenarnya sering, hiks hiks) dituduh tidak punya perasaan. Apa yang kukatakan dan kulakukan sering tidak nyambung dengan perasaan yang sebenarnya. Misalnya, aku marah, tapi toh aku bilang, ”Oh… okey…” Sambil tersenyum pula. Atau muka datar tak bisa diduga… Akibatnya banyak yang tidak tahu dan tetap melakukan hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak kukehendaki. Hm… siapa yang rugi?
Sewaktu SMP aku pernah ikut ekskul drama. Dalam suatu sesi latihan, kami diminta untuk membayangkan kegembiraan dan kebahagiaan yang pernah dialami. Saat semua teman berkonsentrasi penuh, aku menoleh ke kanan dan kiri. Kulihat beberapa teman yang tersenyum-senyum sendiri sambil memejamkan mata. Entah kebahagiaan apa yang pernah diperolehnya tapi wajahnya menunjukkan kepuasan luar biasa. Pelatih drama memandangku tajam. Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala. Aku gagal menunjukkan ekspresi gembira dan bahagia. ”Memangnya kamu nggak pernah naik kelas?” Tanya pelatihku, maksudnya memberi semacam petunjuk kemana perasaanku harus digiring. ”Tapi kan, naik kelas itu biasa…?” Aku menjawab bingung. ”Bayangkan saja jadi juara kelas!” Kata kakak pelatih yang katanya, jebolan Bengkel Teater itu lagi. Teman-teman sudah mulai cengengesan… Aku tidak berani menantang mata pelatih yang mulai galak. Aku mengingat-ingat saat pembagian rapot… ”Itu juga biasa, Kak…” celetuk seorang temanku. Teman-teman yang lain sekarang tertawa. Celaka… Jangankan mengimajinasikan pengalaman orang lain, menunjukkan perasaan sendiri saja aku tidak mampu. Kurang ekspresif adalah kekuranganku (mungkin ini juga buah dari satu budaya…).
Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya emosilah yang bisa mendorong seseorang untuk bekerja keras mencapai sesuatu. Tetapi, bisa jadi, emosi juga yang bisa menyebabkan seseorang seolah-olah mati suri, diam membeku tidak melakukan apa pun.
Kalau begitu mengapa kita tidak memanfaatkan saja perasaan? Masalahnya, kita sering tidak mau jujur, mengakui perasaan yang asli. Kita iri setengah mati tapi kita bilang kalau kita cuma marah dan kecewa. Kita sebenarnya takut tetapi mengatakan bahwa kita tidak butuh pengakuan…
Sekarang, he he… aku harus lebih berkawan dengan perasaan. Menunjukkan perasaan kan bukan kesalahan atau dosa. Untuk itu barangkali, pertama-tama, aku harus meningkatkan kepekaan. Sebab kepekaan terhadap perasaan (sendiri maupun orang lain) dapat membuat interpretasi kita terhadap suatu situasi menjadi lebih jelas. Interpretasi yang pas akan memunculkan tindakan yang tepat pula, kan?
Kemudian, aku juga harus bertanggung jawab. Maksudku, kalau perasaan itu menjadi alasanku mengambil tindakan, aku harus bertanggung jawab terhadap perasaanku itu toh? Memangnya aku perlu marah? Harus sedih? Harus kecewa? Jika memang demikian, tindakan marah, sedih, atau kecewa yang bagaimana yang harus kutunjukkan?
Sejauh tindakan kita konstruktif dan sejalan dengan apa yang kita rasakan, rasanya itu akan baik-baik saja. Jadi, mengapa kita harus ”membuang” perasaan?






January 2nd, 2009 at 3:23 pm
Lagipula mau buang dimana? Siapa juga yang mau terus2an jadi listener. Cape deh. Yup, mending bersahabat dengan perasaan. Itu jalan keluarnya. Mbo yang rukun antara tindakan dan perasaan. Hargailah perasaan dengan jujur. Mantapkan tindakan. Jangan terlalu larut dalam perasaan. Ndak baik juga.
Sing sabar yo bude.
Weleh weleh dereng ical toh ilfilnya, hehe
Tenangkan pikiran, kendalikan perasaan. Selamat mengambil tindakan. Bon Courage ^__^
January 3rd, 2009 at 9:38 am
wah…kalo gitu mbak atik cocok jadi politisi nih….ato diplomat juga he3x….
emang kadang kita butuh ‘tanpa ekspresi’ juga sih mbak…
spy kita tetap netral….
kalo aku blum bisa tuh nutupi perasaan…
jadinya banyak yg sebel kalo aku lg keliatan cemberut ato bertampang nyelidik he3x…..
January 10th, 2009 at 9:50 pm
Hati2 juga dengan perasaan sobat, karena rasa bukan cuma dihati, kulit bisa merasakan dingin atau panas, lidah bisa merasakan manis, asin Dll. Kalau jasmani lagi sakit ukuran rasa kadang bisa menipu, makanan enak jadi rasanya ngga enak bagi yang sakit. udara panas terasa dingin bagi yang demam. Tapi kalau rasa di hati yang menjadi ILFIL mungkin karena secara rokhani juga lagi sakit kali ya…?
January 11th, 2009 at 3:48 am
Aha… sebetulnya antara ilfil (kalau ilfil itu maksudnya gak punya perasaan) dan kurang mahir mengekspresikan perasaan adalah berbeda. Ada saat tertentu dimana mestinya kita bisa dan boleh menyatakan perasaan kita sepenuhnya, tidak hanya dengan kata-kata tapi juga lengkap dengan mimik dan gerak tubuh. Ada kalanya kita mesti menahan dulu perasaan kita (dan tindakan, tentunya) karena memang tidak memungkinkan untuk ditampilkan. Begitu bukan? Ini juga butuh kepekaan dan keterampilan dan tanggung jawab.
January 14th, 2009 at 10:07 am
aduh perasaan pakai ketrampilan pula, bukanya reflek dan otomatisasi, sakit bilang aduh, sedih kita nangis dll. ati ketrampilannya tambah aja jadinya, dari peneltian, ngajar, sulam menyulam, dan ketrampilan ilfil…., hik, hik, hik…
January 16th, 2010 at 6:43 pm
Oh. . Ternyata ilfil itu ilang perasaan ya. . Wkwkwk
January 18th, 2010 at 8:22 am
Kalau melihat konteks kapan kata itu diucapkan, sepertinya ilfil itu hilang rasa atau selera ya? Saya sempat beberapa kali mengamati, setelah mengucapkan kata itu, yang bersangkutan jadi cemberut, malas menanggapi, atau bahkan menghindar… Kosa kata berkembang, kadang kata tertentu mengalami pergeseran makna bahkan perubahan arti. Tapi seseungguhnya saya juga sedang menunggu ada yang menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata itu, he he…
May 27th, 2010 at 6:15 pm
owh.. wa kira ilfil itu sekilas mendengar lagu nya ” bikinku ill feel” (gag enak badan / merasa sakit).
ternyata ilang perasaan ea..
bentar,, ilang perasaan bukan nya “dari suka jadi tidak suka lagi”??
November 9th, 2010 at 3:59 am
SUMPAH,, GUE ILFIL SAMA PARA LELAKI !!
November 29th, 2010 at 7:48 am
I had got a desire to start my business, however I did not have enough of cash to do that. Thank goodness my close friend told to utilize the mortgage loans. So I received the short term loan and made real my old dream.