Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for January, 2009


Published January 21st, 2009

Ke Yogyakarta lagi…

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu/ Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat/ Penuh selaksa makna…

(Yogyakarta, Kla Project)

Kunyanyikan sendiri lagu Kla Project ini. Sudah pasti tidak seindah Katon. Seperti biasa, nyanyiku fals. Kadang do sama dengan re, mi sama dengan sol, dst, kacau. Tapi tak penting, wong aku nyanyi dalam hati. Jadi buat Adi dan Katon yang bikin lagu bagus ini, percayalah saya cinta dan nggak mungkin merusak lagunya. Saya sedang senang hati menghayati perjalanan kembali ke Yogyakarta…

Berapa lama ya aku tidak berkunjung ke Jogja? Lama sekali. Bukannya tidak rindu tapi memang belum ada kesempatan. Kesempatan datang tahun ini karena KNSI 2009 diselenggarakan di UII. Makalah yang dikirim persis pada deadline ternyata diterima. Jadilah aku ke Jogja. Aku segera menyusun rencana. Naik kereta dan ketemu teman lama. Dua hal yang sudah lama aku inginkan. Terus terang, salah satu motivasi ke KNSI 2009 adalah karena Jogja-nya, he he…

KNSI adalah Konferensi Nasional Sistem Informasi. Tuan rumahnya berganti-ganti. Pada penyelenggaraan ke-5 ini, UII jadi tuan rumah. KNSI 2009 ini kerjasama antara Jurusan Teknik Informatika FTI UII dan Dept Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Acara berlangsung tanggal 17 Januari 2009.

Aku sempat bertanya-tanya di mana UII-nya? Ternyata di kampus baru di Jalan Kaliurang KM 14.5. Wuaduh… jauh dari kota ya? Aku sudah membayangkan, lewat Kridosono, Gedung pusat UGM, selokan Mataram, masih rame, Kaliurang km 5, masih rame…terus…. Kenthungan… mulai sepi… terus… tambah sepi… Ternyata! Ha ha… Seluruh Jogja sudah kota! Nggak ada judulnya jalanan sepi… bahkan sampai ke kampus UII.

Seminarnya tidak usah diceritakan ya? Seminar gitu lho. Tapi terima kasih buat UII yang menyambut dengan ramah. Panitia mahasiswa maupun dosennya sangat murah senyum dan bersahabat. Makanan enak dan berlimpah. Selamat ya! Terima kasih juga untuk undangan SNASTI 2009 yang akan datang. Semoga punya kesempatan untuk ikut serta.

Tapi sebelum ke KNSI, pertama-tama aku akan bertemu Rini dulu. Sobat lamaku semasa di UGM. Dalam perjalanan dari stasiun Tugu ke ke rumah Rini di jalan Kaliurang km sekian, aku tengok kanan-kiri. Takjub dengan keramaian dan kemeriahan kota Jogja. Dalam hati aku bersyukur keramaian ini belum terjadi ketika aku kuliah dulu. Factory outlet, restoran siap saji, mall, kaki lima, dsb sudah merambah sudut-sudut Jogja. Kalau dulu sudah ada… betapa nelangsanya. Ha ha… nggak punya uang tapi tergoda mencoba! Cilaka toh?

beringharjo.JPGAku lewat Gedung Pusat… tengok kiri, jalan masuk ke fakultasku dulu… Fakultas Biologi. Mau nggak mau semua kenangan menyerbu. Kuliah, praktikum, main, ngobrol, bercanda, diskusi, bengong… He he… Semuanya. Yang dulu sedih susah kok ya indah saja sekarang ini. Apalagi yang menyenangkan dan indah dari dulunya. “Sudah lama nggak ke Jogja ya, mbak?” Tanya sopir taksi melihatku senyum-senyum sendiri. Lewat selokan mataram… Kompleks Swakarya km 5, wah toko Kenari masih ada, tapi ya ampuuun… warung mbak Dam tempatku beli sarapan sudah tidak ada! Di situ sudah berdiri hotel! Ck ck…

adit_ati.JPGAkhirnya aku sampai ke rumah Rini. Hm… rumah yang cantik dengan penghuni yang jauh lebih cantik. Rini sobat lamaku masih seperti dulu menyambut. Di sampingnya, Adit, anak semata wayangnya. Lalu, nggak usah ditanya bagaimana kami larut dalam berbagai kenangan dan rencana masa depan… Isi cerita off the record hanya untuk berdua, ha ha…

Setelah konferensi di UII, hari minggunya, kami, Rini, Adit, dan aku jalan-jalan ke Beringharjo, Benteng Vredeburg, Taman Pintar, dan mencoba Trans Jogja. Ternyata, ada bagian yang sudah sangat berubah dan ada yang masih tetap seperti sedia kala… Tapi aku harus mengatakan bahwa aku sangat bahagia karena yang tidak berubah adalah kehangatan dan persahabatan yang ditawarkan Jogja…

Buat Rini dan Adit, trims ya atas kegembiraan bersama kemarin. Wah, aku nggak sabar menunggu acara ke Jogja lagi! Eh, Dit, kalau ke Jakarta, kita keliling dari musium ke musium ya!

Published January 12th, 2009

Perang untuk Warni

Warni, asisten rumah tangga di rumah induk semang bertanya. TV sedang menyiarkan berita dunia. “Orang-orang itu kok pada perang, rebutan opo to, mbak?” Tadinya, kupikir itu pertanyaan sederhana sekali, tapi toh untuk beberapa saat aku belum bisa menjawab. Warni tetap menunggu jawaban sambil terus menatapku.

Ya. Apa sih yang sedang diperebutkan dalam perang yang sedang berkobar itu? Apa aku mesti mengulang teori-teori dari buku sejarah. Mengutip pernyataan para pemimpin, negarawan, politikus, dan lain-lain yang menyatakan bahwa mereka membela kebenaran, menegakkan keadilan, memperjuangkan hak asasi manusia, meluruskan cita-cita…?

Tapi buat Warni, adakah alasan yang lebih tepat, yang lebih nyata, yang lebih bisa dipahami daripada kehilangan orang tua, sanak saudara, anak, bahkan nyawanya sendiri, kelaparan, dan penderitaan? Kupandang Warni, matanya berkaca-kaca terpaku pada seorang ibu yang terluka menangisi anaknya yang tewas dalam pelukannya… “Jadi… perang itu untuk apa, mbak?”

Published January 9th, 2009

Puncak

Selewat Puncak (88)

 

Sejenak kutunda nyeri di dada

Menyusuri kehijauan pucuk teh

Pada sore yang menyisakan gerah

Aku duduk dalam diam

Di sisimu yang juga diam

 

Perjalanan ini

Entah kapan kan kukenang

Tanpa tatap

Tanpa senyum

Kedekatanmu adalah hati yang

bimbang mempertautkan sunyi

 

Hijau dalam hamparan

Seperti juga kedamaian ini

Kutahu kan segera berakhir

Kutahu pula aku kan kehilangan

 

(Perjalanan ini, entah kapan kan kukenang)

Published January 2nd, 2009

ILFIL… Perasaan Kok Hilang?

Ada satu hal/ Yang tidak kusukai dari kamu/ Dan paling sering kau ulangi/

Kadang-kadang bikinku ilfil/ Kadang-kadang bikinku ilfil

Tiap hari aku, tiap hari terus/ Hanya mendengar kau/ Mengeluh dan mengeluh/

Kadang-kadang bikinku ilfil/ Kadang-kadang bikinku ilfil

Ku hanya beritahu/ Tapi terjadi lagi

Eh, eh, kok gitu sih?/ Lho kok marah?!/ Jangan gitu sayang/ Jangan gitu sayang

Eh, eh, kok gitu sih?/ Lho kok marah?!/ Jangan gitu sayang/ Jangan gitu sayang

                                                               (Kok Gitu Sih, Dewiq feat Indra Bekti)

 

“Jadi, ternyata ilfil itu maksudnya ilang feeling…” Lapor temanku. Wah, ternyata aku juga baru tahu, he he… ”Masa sih ada orang bisa gak punya perasaan…” Lanjutnya lagi. Aku termangu. Ya. Kita sering kali berurusan dengan perasaan: senang, bahagia, marah, sedih, takut, malu, dan sebagainya. Tapi hilang perasaan atau ilfil? Sebentar…

Beberapa hari sebelumnya, seorang teman mengatakan padaku, ”Jangan diambil hati… Kalau kerja nggak usah pake perasaan deh!” Nah, jadi bagaimana? Saat itu aku sedang kecewa karena banyak mahasiswa yang tidak bisa menyelesaikan tugas tepat waktu.

Dulu, didorong rasa penasaran dan tidak mau malu pada guru (dan teman-teman sekelas tentu), aku tidak pernah melewatkan membuat PR. Bisa tidak bisa, selalu aku kerjakan. Mengatasi rasa grogi, takut, dan didorong tanggung jawab sebagai anggota kelompok, aku mau saja diminta jadi juru bicara di depan kelas. Pokoknya, urusan perasaan adalah urusan ”dalam negeri” yang sedapat mungkin tidak terungkap di depan publik, tetapi tetap saja kurasakan menggelegak dalam hati. Entah malu, senang, susah, sedih, gembira, cemas… Kadang memang tidak berhasil disembunyikan. Muka merah padam atau justru pucat pasi… tangan gemetar dan berkeringat dingin… deg degan… Gestur tubuh jelas memperlihatkan bagaimana perasaanku sebenarnya saat itu. Tapi, tak jarang teman-temanku mengatakan kalau aku kelihatan meyakinkan. ”Wah… Kamu pede abis ya?”  

Dalam pengalaman yang lain, aku pernah (sebenarnya sering, hiks hiks) dituduh tidak punya perasaan. Apa yang kukatakan dan kulakukan sering tidak nyambung dengan perasaan yang sebenarnya. Misalnya, aku marah, tapi toh aku bilang, ”Oh… okey…” Sambil tersenyum pula. Atau muka datar tak bisa diduga… Akibatnya banyak yang tidak tahu dan tetap melakukan hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak kukehendaki. Hm… siapa yang rugi?

Sewaktu SMP aku pernah ikut ekskul drama. Dalam suatu sesi latihan, kami diminta untuk membayangkan kegembiraan dan kebahagiaan yang pernah dialami. Saat semua teman berkonsentrasi penuh, aku menoleh ke kanan dan kiri. Kulihat beberapa teman yang tersenyum-senyum sendiri sambil memejamkan mata. Entah kebahagiaan apa yang pernah diperolehnya tapi wajahnya menunjukkan kepuasan luar biasa. Pelatih drama memandangku tajam. Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala. Aku gagal menunjukkan ekspresi gembira dan bahagia. ”Memangnya kamu nggak pernah naik kelas?” Tanya pelatihku, maksudnya memberi semacam petunjuk kemana perasaanku harus digiring. ”Tapi kan, naik kelas itu biasa…?” Aku menjawab bingung. ”Bayangkan saja jadi juara kelas!” Kata kakak pelatih yang katanya, jebolan Bengkel Teater itu lagi. Teman-teman sudah mulai cengengesan… Aku tidak berani menantang mata pelatih yang mulai galak. Aku mengingat-ingat saat pembagian rapot… ”Itu juga biasa, Kak…” celetuk seorang temanku. Teman-teman yang lain sekarang tertawa. Celaka… Jangankan mengimajinasikan pengalaman orang lain, menunjukkan perasaan sendiri saja aku tidak mampu. Kurang ekspresif adalah kekuranganku (mungkin ini juga buah dari satu budaya…).

Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya emosilah yang bisa mendorong seseorang untuk bekerja keras mencapai sesuatu. Tetapi, bisa jadi, emosi juga yang bisa menyebabkan seseorang seolah-olah mati suri, diam membeku tidak melakukan apa pun.

Kalau begitu mengapa kita tidak memanfaatkan saja perasaan? Masalahnya, kita sering tidak mau jujur, mengakui perasaan yang asli. Kita iri setengah mati tapi kita bilang kalau kita cuma marah dan kecewa. Kita sebenarnya takut tetapi mengatakan bahwa kita tidak butuh pengakuan…

Sekarang, he he… aku harus lebih berkawan dengan perasaan. Menunjukkan perasaan kan bukan kesalahan atau dosa. Untuk itu barangkali, pertama-tama, aku harus meningkatkan kepekaan. Sebab kepekaan terhadap perasaan (sendiri maupun orang lain) dapat membuat interpretasi kita terhadap suatu situasi menjadi lebih jelas. Interpretasi yang pas akan memunculkan tindakan yang tepat pula, kan?

Kemudian, aku juga harus bertanggung jawab. Maksudku, kalau perasaan itu menjadi alasanku mengambil tindakan, aku harus bertanggung jawab terhadap perasaanku itu toh? Memangnya aku perlu marah? Harus sedih? Harus kecewa? Jika memang demikian, tindakan marah, sedih, atau kecewa yang bagaimana yang harus kutunjukkan?

Sejauh tindakan kita konstruktif dan sejalan dengan apa yang kita rasakan, rasanya itu akan baik-baik saja. Jadi, mengapa kita harus ”membuang” perasaan?


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.