Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for December, 2008


Published December 27th, 2008

Manajemen Jaim

“Kamu sok jaim.” Protes salah seorang temanku. Dia sudah kelaparan, tapi usulnya untuk makan di warung tenda pinggir jalan dijawab dengan gelengan kepala oleh temanku ”sang tertuduh” sok jaim tadi. Akhirnya kami semua masuk ke restoran tak (terlalu) jauh dari situ. Restoran ini dijamin punya meja yang bersih, pramusaji yang cantik dan rapi, daftar menu yang tercetak bagus, tentu dengan harga yang lebih lumayan, musik diputar sepantasnya, toilet yang tidak pesing, punya tempat parkir yang luas. Temanku, sang jaim, dengan lega duduk dan mulai memesan, ”Bukan sok jaim. Aku memang harus jaim.” Katanya. Dia tidak mau terlihat nongkrong di pinggir jalan oleh anak buah atau, apalagi, rekanan bisnisnya.

Pembicaraan di meja makan kemudian tidak lagi tentang menu makan siang yang disodorkan oleh pramusaji restoran. Topiknya beralih ke soal jaim, perlu atau tidak perlu?

Aku teringat situasi saat menghadiri seminar. Seringkali panitia bolak-balik mengingatkan peserta untuk mengisi kursi di deretan depan terlebih dahulu. Kita bisa mendapat kursi di depan, tapi lebih sering menolak dan memilih duduk di tempat yang ”aman”, yang tidak terlihat… Mengapa? Merasa tidak pantas? Malu? Tidak ingin terlihat itu maksudnya supaya dikira low profile? Ini jaim atau bukan?

Di kampus, aku masih sering menegur mahasiswa yang datang ke kampus memakai sandal jepit atau memakai jeans yang robek di beberapa tempat. Aku tidak percaya bahwa bersandal jepit dan berjeans lusuh dan robek adalah penampilan yang oke untuk mahasiswa. Jadi aku menganggap mereka kurang jaim sebagai mahasiswa.

Walau tidak persis sama, situasi terbalik pernah terjadi padaku. Dulu, ketika masih kelas 1 SMA, aku pernah dinasihati oleh salah satu guru matematikaku. Bukan perkara tidak mengerjakan PR trigonometri atau aljabar, tapi soal penampilanku. Kata beliau, aku kurang menampilkan diri sebagai perempuan. Ha ha… Dengan rambut lewat bahu yang selalu dikepang, aku tetap belum dianggap feminin. Memangnya kenapa? Waktu itu, aku tidak mengerti.

Pada masa-masa itu aku pernah protes, mengapa orang dibilang kurang ajar hanya karena bicara terus terang? Mengapa orang dibilang baik hanya karena dia cakep? Mengapa orang dibilang sopan karena bajunya bagus dan datangnya naik sedan? Semacam itulah… Tentu saja saat itu pemahamanku masih sangat dangkal. Belum nyambung.

Jadi, ini soal jaim. Jaga image. Maksudnya bagaimana? Jadi ingat iklan deodoran jaman dulu, ”Kesan pertama begitu menggoda… selanjutnya terserah anda…” Diskusi terus berjalan. Segelas es jeruk belum bisa menurunkan suhu pembicaraan. Empat kepala sama-sama hitam (berseling uban), pendapat bisa jauh berbeda.

Lalu, aku menemukan tulisan Eileen Rachman tentang Image Management di halaman Klasika harian Kompas. Sukses seseorang tidak bisa lepas dari sejauh mana impact yang ia berikan pada lingkungan sekitar. Ini mustahil dilaksanakan tanpa kekuatan soft skills, termasuk bagaimana ia mengelola kesan orang lain mengenai diri dan kredibilitasnya.

Menurut Eileen, mengelola kesan itu berarti:

”Hadir” dan Membuat Posisi. Di era penuh kompetisi seperti sekarang, kehadiran kita perlu dibuat seefektif mungkin. Kita perlu senantiasa menampilkan kredibilitas, kompetensi, dan supremasi melalui gaya berkomunikasi, kekuatan mempengaruhi orang lain, dan membuat kesan yang tidak terlupakan.

Mainkan Efek Psikologis. Bila kita sendiri merasa kikuk, tidak pede, atau tidak nyaman karena salah kostum, misalnya, bagaimana kesan yang diterima orang lain akibat aura negatif yang terpancar dari ketidaknyamanan kita? Warna, kerapian, kesesuaian, dan pilihan bahan pakaian bisa membawa efek psikologis pada pihak yang mencerapnya.

Etiket Menggambarkan Etika. Kita harus mengembangkan keterampilan ”gaul” agar bisa menguasai situasi sosial yang kita hadapi. Termasuk harus dikuasai adalah apa yang boleh dan tidak boleh dalam budaya korporasi dan bisnis, jamuan makan, cara bertelepon, cara beresepsi, cara antre, dan lain-lain. Penguasaan etiket dan tata krama ini perlu sehingga kita bisa terlihat tahu membedakan apa yang pantas dan tidak pantas.

Bukan Sikap ”Dibuat-buat” tetapi Membuat Sikap. Kita bisa memilih sikap kita sendiri: menjadi orang yang lebih ramah dan santun atau menjadi orang yang disiplin dan tepat waktu. Menampilkan sikap ini perlu ditunjang oleh ketrampilan body language, gerak, dan tutur kata yang sesuai. Sikap tidak tulus, arogan, dan dibuat-buat hanya ditampilkan oleh orang yang belum sadar akan adanya pilihan sikap ini.

Published December 20th, 2008

The Last Lecture dan Sertifikasi Dosen

Baru beberapa hari yang lalu aku mendapat kepastian berita bahwa aku lulus sertifikasi dosen. Alhamdulillah. Masih belum tahu apa yang bisa dilakukan dengan sertifikat itu nantinya, tapi pengalaman mengikuti sertifikasi itu tetap saja membekas di hati. Terutama saat harus menulis deskripsi diri. Aku tak ingat berapa lama aku harus duduk diam di depan layar komputer yang sudah menyala. Tetap tidak yakin dengan apa yang harus kutulis untuk deskripsi diri. Aku sudah membaca buku petunjuk. Aku sudah mendengarkan pengarahan, tetap saja aku termangu. Bagaimana aku akan mendeskripsikan diriku?

Mengapa menulis tentang diri sendiri begitu sulit? Masalahnya mungkin bukan karena kita tidak mengenal diri sendiri, tapi benarkah INI yang INGIN kita sampaikan? Cukup berhargakah untuk diungkapkan? Atau pertanyaannya mungkin: yang MANA yang HARUS dikemukakan? Ketika sampai pada pertanyaan apa kelebihan dan kekurangan kita, apakah kita cukup berani mengakui? Mengatakan kelebihan sama sulitnya dengan mengakui kelemahan. Hm… Ini jelas kelemahanku juga. Setelah mengumpulkan keberanian dan sedikit dukungan data akhirnya deskripsi diri itu selesai juga. Dua puluh satu halaman dengan banyak tabel (tabelnya berfungsi juga sebagai “subal”, he he… supaya deskripsinya terlihat tebal).

Mungkin, banyak diantara teman-teman yang tidak harus mengalami apa yang kualami itu. Buka tutup komputer berkali-kali hanya untuk menjawab 11 pertanyaan. Nah, tentu aku lebih tidak berani lagi membandingkan situasinya dengan apa yang dialami Randy Pausch ketika menyiapkan Pesan Terakhir. Tapi Randy, dengan satu dan lain cara, benar-benar telah membantuku menyelesaikan deskripsi diri.

scan.jpg”The Last Lecture” adalah buku yang ditulis Randy Pausch dan Jeffrey Zaslow. Pausch mendiktekan apa yang ingin dia tulis kepada Zaslow, seorang kolumnis Wall Street Journal, melalui telepon genggamnya selagi dia bersepeda di sekitar rumahnya. Saat itu dia sudah didiagnosa menderita kanker pangkreas yang tidak dapat disembuhkan. Hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Terus terang, ini jenis buku yang jarang sekali kulirik. Tapi saat sibuk ngedumel karena deskripsi diri yang tak kunjung berwujud itulah aku menemukan buku ini bertumpuk-tumpuk di toko buku Gramedia Depok. Aku membuka sembarang halaman, lalu muncul kalimat itu ”Jangan Terlalu Terobsesi dengan Pendapat Orang”. Eh, nyindir nih? Aku buka halaman lain, ”Jangan Mengeluh, Bekerja saja Lebih Keras”. Ok, aku bawa buku ini ke kasir dan membawanya pulang.

Di Carnegie Mellon (dan banyak kampus perguruan tinggi lainnya), ada kegiatan yang disebut Pesan Terakhir atau Last Lecture. Para profesor diminta memikirkan kematian mereka dan merenungkan hal-hal apa saja yang paling berarti bagi mereka. Kearifan apa yang akan mereka sampaikan pada seluruh yang hadir atau pada dunia bahkan. Para profesor itu diminta untuk memberikan semacam pesan terakhir, a hypothetical final talk. Randy ditawari oleh panitia untuk memberikan sesi pesan terakhirnya bulan September 2007. Buku The Last Lecture ini adalah “kepanjangan” dari apa yang telah disampaikannya di podium dan diputar serta diakses oleh jutaan orang di seluruh dunia melalui You Tube.

Randy Pausch adalah profesor ilmu komputer, khususnya bidang interaksi manusia dan komputer dan bidang disain, serta dikenal sebagai pionir dalam riset realitas maya di Universitas Carnegie Mellon. Randy menikah dengan Jai dan dikaruniai tiga orang anak.

Sebagai orang yang tengah sakit parah dan tak tersembuhkan Randy tidak bicara soal kematian. Pesan terakhirnya adalah tentang bagaimana menjalani hidup. ”Intinya bukanlah tentang mewujudkan impian Anda. Intinya adalah tentang bagaimana Anda menjalani hidup. Jika anda menjalani hidup dengan cara yang benar, karma akan berjalan sendiri. Impian-impian itu yang akan mendatangi Anda.”

Randy meninggal dunia Jumat pagi, 25 Juli 2008 pada usia 47 tahun. Dia telah mengatakan apa yang harus diungkapkannya.”Karena saya dosen, maka saya memberikan kuliah.” Dan ketika membaca bukunya (aku belum sempat melihat videonya), aku tahu, dia telah memberikan kuliah tentang kegembiraan hidup, kejujuran, integritas, rasa terima kasih, dan hal-hal lain yang dia junjung tinggi. ’Saya tidak menyampaikan pesan itu hanya karena ingin. Saya menyampaikan pesan itu karena saya harus.” Tulisnya. Pesan itu memang tidak hanya bagi mereka yang hadir di Auditorium Carnegie Mellon tapi juga bagi anak-anaknya yang sangat dia cintai, yang masih kecil-kecil.

Dan tentang deskripsi diri untuk sertifikasi itu, aku pun mulai duduk tegak memikirkan apa, siapa, mengapa… Keberuntungan apa lagi yang kuharapkan? Aku sudah diberi kepercayaan begitu besar untuk melakukannya pada kali pertama kesempatan itu datang. Lagipula ada yang harus kusampaikan. Kubuka kembali laptop dan mulai menulis.

Gigih memang sifat terpuji, tetapi tidak berarti bahwa semua orang harus selalu menyaksikan sekeras apa kita berusaha (Randy Pausch).

 

Judul                : The Last Lecture

Penulis              : Randy Pausch dan Jeffrey Zaslow

Kategori           : Kisah Nyata, Psikologi

Penerbit            : UFUKPRESS, Jakarta

Tahun               : 2008

Published December 19th, 2008

Tersenyum

Berita baik atau buruk? Aku memutuskan untuk menghadapinya dengan tersenyum. Ada beberapa kabar yang aku tunggu. Menurutku semuanya penting. Semuanya bisa mengubah arah kemana aku akan berjalan. Hm… Setiap perjalanan punya tujuan yang mulia. Hanya saja tantangannya berbeda-beda. Jadi aku akan tersenyum. Dan bersiap saja untuk mulai menyusun langkah.

Published December 16th, 2008

Hari ini aku kehilangan

Hari ini aku kehilangan marahku

aku kehilangan sedihku

aku kehilangan benciku

aku kehilangan dendamku

Andaikan kini yang tertinggal

adalah sabarku

adalah maafku

adalah kasihku

adalah sayangku

Kupeluk engkau dengan sepenuh mesra

tapi aku kehilangan rasaku

sama sekali…

Published December 12th, 2008

Pelajaran Manajemen

Seorang teman mengeluh tentang rekannya yang baru saja mendapat promosi. ”Aku nggak ngerti, kenapa dia yang naik…?”. Katanya setengah geram setengah sedih. Rekan kerjanya itu tidak pernah terlihat sibuk apalagi lembur di kantor, sementara dia selalu pontang-panting mengejar target yang diberikan oleh perusahaan. Hm… kayaknya bukan hal yang aneh. Kita sering mendengar kasus begini, toh? Saya lalu teringat cerita yang pernah dikirimkan pada saya (oleh teman yang lain lagi) beberapa waktu yang lalu. Ini ceritanya:

 

It’s a fine sunny day in the forest and a lion is sitting outside his cave, lying lazily in the sun. Along comes a fox, out on a walk.
Fox: “Do you know the time, because my watch is broken”
Lion: “Oh, I can easily fix the watch for you”
Fox: “Hmm… But it’s a very complicated mechanism, and your big claws will only destroy it even more.”
Lion: “Oh no, give it to me, and it will be fixed”
Fox: “That’s ridiculous! Any fool knows that lazy lions with great claws cannot fix complicated watches”
Lion: “Sure they do, give it to me and it will be fixed”
The lion disappears into his cave, and after a while he comes back with
the watch which is running perfectly. The fox is impressed, and the lion continues to lie lazily in the sun, looking very pleased with himself. Soon a wolf comes along and stops to watch the lazy lion in the sun.
Wolf: “Can I come and watch TV tonight with you, because mine is broken”
Lion: “Oh, I can easily fix your TV for you”
Wolf: “You don’t expect me to believe such rubbish, do you? There is no way that a lazy lion with big claws can fix a complicated TV
Lion: “No problem. Do you want to try it?”
The lion goes into his cave, and after a while comes back with a perfectly fixed TV. The wolf goes away happily and amazed.

Scene :
Inside the lion’s cave. In one corner are half a dozen small and intelligent looking rabbits who are busily doing very complicated work with very detailed instruments. In the other corner lies a huge lion looking very pleased with himself.

Moral cerita:

JIKA ANDA TIDAK TAHU MENGAPA SEORANG MANAJER BEGITU TERKENAL, LIHAT APA YANG DIKERJAKAN OLEH ANAK BUAHNYA.

 

Nah rasanya kita sudah dapat Pelajaran Manajemen dalam konteks dunia kerja dari cerita itu:

JIKA ANDA INGIN TAHU MENGAPA SESEORANG YANG KELIHATANNYA TIDAK LAYAK DIPROMOSIKAN, LIHAT APA YANG DIKERJAKAN OLEH ANAK BUAHNYA.

 

Masih mau marah atau sedih? He he…

 


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.