Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for November, 2008


Published November 28th, 2008

Ujian… Ujian… How to Make Achievement Test and Assessments

Sementara menyiapkan soal untuk diujikan pada Ujian Tengah Semester ini, mataku tertumbuk pada buku yang sempat kuterjemahkan separuh isinya. Buku itu diberikan kepadaku oleh seorang teman yang sedang kuliah di Manajemen Pendidikan UNJ (maaf banget, dalam bentuk fotokopian). Saat itu terjadi perdebatan (ini untuk menyangatkan saja, sebenarnya yang terjadi adalah pembicaraan seru di antara waktu makan siang atau di sekretariat dosen sebelum masuk kelas) tentang mana yang lebih baik soal pilihan ganda atau esai.

Buku ini, How to Make Achievement Test and Assessments ditulis oleh Norman E. Gronlund. Buku lama sih, edisi kelima tahun 1993.  Tapi buku ini memberikan sedikit pencerahan padaku tentang seluk-beluk tes. Walau pun ujungnya menambah rasa bersalahku karena rasanya kok belum mahir membuat tes yang benar.

Apa yang kusampaikan di sini adalah ringkasan terjemahanku (yang agak berantakan) dari Bab 3, 4, dan 5 buku tersebut. Sebagai catatan, ini masih jadi bahan pelajaran buatku. Membuat tes yang baik perlu ilmu dan keterampilan dan latihan dan pengujian juga.

Penulisan Item Seleksi : Pilihan Ganda

Item pilihan ganda adalah item tipe seleksi yang paling banyak digunakan dan dipandang cukup tinggi. Item pilihan ganda ini dapat didisain untuk mengukur hasil belajar yang bervariasi, dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks, dan dapat merupakan item yang berkualitas paling tinggi.

Item pilihan ganda terdiri dari batang (stem), yang memaparkan situasi masalah, dan beberapa alternatif (opsi atau pilihan), yang menyediakan solusi yang mungkin untuk masalah yang telah dinyatakan dalam stem. Stem dapat berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak lengkap. Alternatif terdiri dari satu jawaban yang benar dan beberapa jawaban yang salah yang terlihat masuk akal yang disebut pengacau (distracters). Fungsi dari pengacau adalah untuk membuat bingung siswa yang tidak tahu pasti jawaban yang benar.

Item pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan yang diperoleh dan berbagai macam hasil belajar yang kompleks lainnya. Format item tunggal mungkin paling banyak digunakan untuk mengukur pengetahuan  (knowledge), pemahaman (comprehension), dan penerapan (application). Latihan penafsiran yang terdiri dari satu seri item pilihan ganda yang didasarkan pada materi pengenalan (misalnya, paragraf, gambar, atau grafik) terutama berguna untuk mengukur kemampuan analisis, interpretasi, dan hasil belajar yang kompleks.

Item pengetahuan biasanya mengukur kemampuan mengingat materi yang sederhana. Item pemahaman (comprehension) mengukur tingkatan siswa dalam hal memahami arti suatu materi. Item aplikasi mengukur apakah siswa dapat menggunakan informasi untuk situasi yang nyata (kongkret). Item-item yang didisain untuk mengukur prestasi di atas tingkat pengetahuan harus mengandung sesuatu yang baru.

Item pilihan ganda yang efektif harus menampilkan tugas yang penting dan jelas dimengerti oleh siswa, dan dijawab dengan benar oleh siapa saja yang telah mencapai sasaran belajar. Untuk itu terdapat beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk penulisan item pilihan ganda yang efektif.

Stem suatu item pilihan ganda harus menampilkan satu problem tunggal yang diformulasikan dengan jelas yang berhubungan dengan hasil belajar yang penting. Jawaban yang diharapkan harus benar atau jelas sebagai yang terbaik, seperti yang dikehendaki. Distracter (alternatif yang tidak benar) harus cukup masuk akal untuk menjauhkan siswa yang tidak tahu dari jawaban yang benar. Item harus ditulis dalam bahasa yang sederhana dan jelas, yaitu bahasa yang terbebas dari isi yang tidak fungsional. Item harus bebas dari sumber-sumber kesulitan yang tidak relevan (misalnya, ambiguitas) yang dapat menyebabkan siswa yang tahu justru salah menjawab. Item harus bebas dari petunjuk yang tidak relevan (misalnya, asosiasi verbal) yang dapat menyebabkan siswa yang tidak tahu justru menjawab dengan benar. Format item harus memungkinkan tanggapan yang efisien dan mengikuti aturan tata bahasa yang normal.

Penulisan Item Seleksi : Benar-Salah, Mencocokkan, dan Latihan Menafsirkan

Item pilihan ganda memberikan format paling umum yang berguna untuk pengukuran prestasi pada berbagai tingkatan belajar. Jadi, jika item tipe seleksi akan digunakan, prosedur yang efektif adalah memulainya dengan item pilihan ganda dan beralih ke tipe item lain jika memang diperlukan, sesuai dengan hasil belajar atau isi bahasan yang akan diukur. Sebagai contoh, (1) ketika hanya ada dua alternatif yang mungkin, maka beralih ke item benar-salah; (2) jika ada sejumlah faktor yang akan direlasikan, maka beralih ke item mencocokkan; dan (3) jika item adalah untuk mengukur analisis, interpretasi, dan hasil belajar yang kompleks lainnya, maka akan beralih ke latihan menginterpretasikan. Prosedur semacam ini memungkinkan penggunaan kelebihan-kelebihan item pilihan ganda dan penggunaan item tipe seleksi secara lebih tepat.

Item benar-salah, atau alternative-response, adalah tepat jika hanya ada dua alternatif yang mungkin. Item-item benar-salah digunakan untuk mengukur kemampuan siswa untuk mengidentifikasi apakah pernyataan tentang fakta tertentu adalah benar. Format dasar item benar-salah adalah berupa pernyataan yang deklaratif dimana siswa harus menentukan apakah pernyataan tersebut benar atau salah.

Setiap pernyataan benar-salah harus berisi hanya satu ide utama, dinyatakan dengan singkat, bebas dari petunjuk dan sumber kesulitan yang tidak relevan, dan mempunyai satu jawaban yang akan disetujui oleh pakarnya. Modifikasi dari item benar-salah terutama berguna untuk mengukur kemampuan untuk ‘membedakan antara fakta dan pendapat’ dan ‘mengidentifikasi hubungan sebab akibat’. Modifikasi dari item benar-salah ini dapat digunakan dalam latihan menginterpretasikan untuk mengukur berbagai tipe hasil belajar yang kompleks.

Item mencocokkan adalah variasi dari bentuk pilihan ganda dan item yang tepat jika memberikan pengukuran yang lebih padat dan efisien pada prestasi yang sama. Item mencocokkan terdiri dari daftar premis (premises) dan daftar respon (response) yang akan direlasikan dengan premis. Item mencocokkan yang baik didasarkan pada materi yang homogen, mengandung satu daftar ringkas premis dan respon yang tidak sama jumlahnya dengan premis (lebih atau kurang) yang dapat digunakan lebih dari satu kali, dan daftar respon tersebut diletakkan pada kolom di sisi sebelah kanan. Petunjuk untuk item mencocokkan harus mengindikasikan dasar untuk mencocokkan dan bahwa setiap respon dapat digunakan lebih dari satu kali.

Latihan menginterpretasikan berisi satu seri item tipe seleksi didasarkan pada satu materi pengenalan (misalnya, paragraf, tabel, diagram, grafik, peta, atau gambar). Latihan menginterpretasikan dapat menggunakan item pilihan ganda dan/atau item alternative-response untuk mengukur berbagai hasil belajar yang kompleks. Materi pengenalan yang digunakan dalam latihan menginterpretasikan harus relevan dengan hasil belajar yang akan diukur, baru bagi peserta tes, pada tingkat baca yang tepat, dan seringkas mungkin.

 Penulisan Item Suplai : Jawaban Singkat dan Esai

Item tipe suplai digunakan hanya jika meberikan jawaban adalah elemen penting dalam sasaran belajar (misalnya, mendefinsikan istilah lebih ditekankan daripada mengidentifikasi arti suatu istilah). Pada item tipe suplai siswa diminta memberikan jawaban yang dapat berupa satu kata atau beberapa halaman tanggapan. Meskipun panjang tanggapan merupakan satu rangkaian kesatuan, item tipe suplai biasanya dibagi kedalam (1) item jawaban singkat, (2) esai dengan tanggapan terbatas, dan (3) esai dengan tanggapan lengkap.

Item jawaban singkat (atau melengkapi) meminta siswa peserta tes untuk memberikan kata yang tepat, angka, atau simbol untuk menjawab pertanyaan atau melengkapi pernyataan. Tipe item ini juga mencakup soal-soal berhitung dan bentuk item sederhana lainnya yang lebih membutuhkan suplai jawaban daripada sekedar memilih jawaban. Kecuali jika digunakan dalam soal-soal hitungan, item jawaban singkat ini terutama digunakan untuk mengukur pengetahuan yang sederhana.

Item jawaban singkat kelihatan mudah untuk ditulis dan digunakan tetapi ada dua masalah utama dalam menyusun item jawaban singkat ini. Pertama, sangat sulit untuk menulis frasa pertanyaan atau pernyataan tidak lengkap yang hanya ada satu jawaban yang benar. Kedua, ada masalah pengejaan. Ini, tentu saja, mengintrodusir elemen subyektivitas yang cenderung menyebabkan penilaian menjadi lebih tidak dapat diandalkan untuk mengukur prestasi. Karena itu setiap item jawaban singkat harus ditulis dengan hati-hati sehingga hanya ada satu kemungkinan jawaban, seluruh item dapat dibaca sebelum sampai pada isian jawaban, dan tidak ada petunjuk yang tidak ada hubungannya dengan jawaban.

Dalam penilaian item jawaban singkat, berikan angka untuk semua jawaban benar dan pisahkan penilaian untuk ejaan.

Pertanyaan esai paling berguna untuk mengukur kemampuan mengorganisir, mengintegrasikan, dan  menyampaikan pendapat. Pertanyaan esai tidak efisien untuk mengukur tingkat pengetahuan karena hanya memberikan contoh yang terbatas, dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak ada hubungannya (misalnya, kecakapan menulis, gertakan, tata bahasa, ejaan, dan tulisan tangan), dan nilainya subyektif dan tidak reliabel.

Karakteristik yang paling menonjol dari pertanyaan esai adalah kebebasan dalam memberikan jawaban. Seperti dalam item jawaban singkat, siswa harus memberikan jawaban mereka sendiri. Dengan pertanyaan esai, bagaimanapun, mereka dapat bebas memutuskan bagaimana mendekati permasalahan, apa informasi aktual yang akan digunakan, bagaimana menyusun jawaban, dan usaha apa yang harus dicurahkan untuk setiap aspek jawaban. Jadi, pertanyaan esai terutama berguna untuk mengukur kemampuan mengorganisir, menggabungkan, dan menyampaikan pendapat. Tingkat kemampuan yang disebutkan tadi adalah tipe performa yang tidak cocok diukur dengan item tipe seleksi dan item jawaban singkat.

Kebebasan menanggapi yang diberikan dalam pertanyaan esai sangat bervariasi. Siswa mungkin diminta untuk memberikan jawaban yang singkat dan tepat, atau mereka diberi kebebasan yang besar dalam menentukan bentuk dan cakupan jawabannya. Pertanyaan tipe pertama umumnya disebut pertanyaan dengan jawaban terbatas (restricted-response questions) dan tipe kedua disebut pertanyaan dengan jawaban lengkap (extended-response questions). Pembagian ini bersifat arbriter tetapi merupakan pasangan kategori yang cukup baik untuk mengklasifikasikan pertanyaan esai.

Pertanyaan dengan jawaban terbatas. Pertanyaan dengan jawaban terbatas memberikan batasan yang ketat terhadap jawaban yang harus diberikan. Batasan tentang materi bahasan yang harus diperhatikan umumnya didefinisikan dalam soal, dan bentuk spesifik jawaban umumnya juga diindikasikan. Pertanyaan esai dengan jawaban terbatas dapat lebih mudah ditulis dan dinilai, tetapi berhubung dengan terbatasnya jawaban maka kurang berguna untuk mengukur hasil belajar yang sangat kompleks (misalnya, integrasi beberapa materi).

Pertanyaan dengan jawaban lengkap. Pertanyaan dengan jawaban lengkap memberi kebebasan hampir tidak terbatas pada siswa untuk menentukan bentuk dan cakupan jawaban mereka. Meskipun pada beberapa kejadian, batasan yang agak kaku diberikan juga, misalnya batasan dalam waktu atau panjang halaman, pembatasan pada materi yang dimasukkan dalam jawaban dan bentuk tanggapan dijaga agar sesedikit mungkin. Siswa harus diberi kebebasan yang memadai untuk menunjukkan ketrampilan dalam mensintesis dan mengevaluasi, dan cukup awasi agar kecakapan dan kemampuan intelektual yang diharapkan diungkapkan dalam pertanyaan. Jadi, jumlah struktur akan bervariasi dari satu item ke item tergantung pada hasil belajar yang akan diukur, tetapi tekanan harus selalu diberikan pada kebebasan sebanyak yang dimungkinkan oleh situasi.

Pertanyaan esai harus ditulis untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, menampilkan tugas yang jelas, dan hanya mengandung pembatasan yang diperlukan untuk menggali jawaban yang diharapkan serta memberikan penilaian yang memadai.

Jawaban esai harus dinilai dengan memfokuskan pada jawaban yang diharapkan, dengan menggunakan model jawaban atau serangkaian kriteria sebagai pedoman, dengan menilai pertanyaan demi pertanyaan, dan dengan mengabaikan identitas penulis. Jika keputusan penting akan didasarkan pada hasil tes, dua atau lebih penilai yang kompeten harus digunakan.

Published November 28th, 2008

Lawan dari Takdir

“Kamu tahu bedanya nasib dan takdir?”

Bo, teman masa SMA dulu pernah bertanya begitu.

Saat itu aku tidak mau sekedar menghiburnya dengan menjelaskan apa itu nasib dan apa itu takdir. Sesungguhnya pun aku tidak tahu. Jadi aku menggeleng-geleng. “Memangnya kenapa?” Alih-alih menjawab, aku malah balik bertanya. Nggak nyambung pula, ha ha…

amytan.jpgSekian tahun kemudian Amy Tan menulis The Opposite of Fate. Lawan dari Takdir.

Pada beberapa karyanya terdahulu seperti The Joy Luck Club (1994)  dan The Bonesetters’s Daughter (2005), Amy Tan selalu bisa menggambarkan banyak kejadian biasa (maksudku peristiwa sehari-hari yang bisa dialami oleh banyak orang) yang jadi terasa luar biasa (karena caranya bercerita atau karena sebenarnya memang istimewa tanpa kita sadari). Kadang-kadang aku membacanya sambil mengangguk-angguk. Merasa pernah tahu situasi yang diceritakannya. Kadang-kadang sambil tersenyum geli atau tersentak kaget mendapati betapa dekatnya apa yang dipaparkan itu dengan bayanganku. Narasinya sangat lancar hingga karena begitu detilnya kadang-kadang aku tidak sabar untuk segera melompat ke halaman berikutnya. Untungnya, Amy Tan punya semangat humor yang tinggi. Kebosanan bisa terlupakan.

Dalam semua karyanya Amy Tan memang selalu mempertanyakan takdir dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Tokoh-tokoh yang ditulisnya sering mempertanyakan apa yang seharusnya dilakukan pada berbagai kesempatan dalam hidupnya. Mereka, tokoh-tokohnya itu, kadang kebingungan juga. Lawan dari Takdir tampaknya bisa menjelaskan mengapa Amy Tan menulis begitu. Dia sendiri sangat dekat dengan kenyataan tersebut.

Dalam buku ini Amy Tan bercerita tentang keluarganya (ibunya yang luar biasa, terutama), hantu-hantu penghuni komputernya, band rock and roll-nya, Stephen King, sampai penyakit yang menyerangnya. Tentu saja semua misteri yang menghubungkan keyakinan dan takdir. Bahkan Amy Tan dengan bahasanya yang mengalir itu menunjukkan bahwa pilihan-pilihan pribadi sampai kebetulan-kebetulan yang dialaminya “membentuk”nya menjadi seperti apa adanya saat ini.

Ibuku, yang tadinya mati-matian berharap aku menjadi dokter saat aku dewasa, akan langsung berkata dengan bangga kepada semua orang yang mau mendengarkannya, “Dari dulu aku sudah tahu kelak ia akan jadi penulis.” Dan dengan berkata demikian, takdir telah diubah dan sebuah harapan telah terpenuhi. Inilah aku, penulis, persis seperti telah diperkirakan ibuku ( Catatan Bagi Para Pembaca, Hal 13).

Semua perubahan takdir sebenarnya berkisar pada satu hal, yaitu harapan. Harapan membuat semuanya mungkin. Harapan akan selalu ada.

Judul   : Lawan dari Takdir (judul asli: The Opposite of Fate)

Penulis  : Amy Tan

Kategori : Non Fiksi

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2006

Published November 25th, 2008

Seribu Wajah

Seribu wajah tak kukenal
Seribu wajah tak kumengerti
Seribu wajah kembali
Menyapa
Bertanya

Seribu wajah menanti

Published November 19th, 2008

Ini Idealisme?

 

Apa sih idealisme itu?

Apakah dia yang membuat orang berjalan lurus

Menuju cita-cita?

Tanpa mentolerir simpangan

Sekecil apa pun?

 

Ru, menurutku sih tidak ada yang tidak punya idealisme. Idealisme macam apa? Itulah soalnya. Jadi buat apa sebenarnya kita rusuh dengan cita-cita orang lain? Kalau mereka pengen sekolah, kerja, kaya, kawin… hidup happily ever after, apa salahnya? Kalau mereka bilang bahwa yang paling pokok adalah bisa memuaskan segala keinginan hidup, terutama materi, apa salahnya? Kita kan tidak wajib mengikutinya. Kita masih boleh memilih idealisme kita sendiri, dan menanggung segala risikonya sendiri.

Aku sih tidak menolak jadi orang kaya (kaya’nya enak to?). Punya uang selalu punya kesempatan dan kemungkinan untuk berbuat lebih banyak daripada yang bokek. Hanya saja, aku tidak rela juga kalau harus mengorbankan segala sesuatunya hanya untuk mencapai apa yang disebut orang sebagai “hidup (sangat) layak”. Dan itu tidak berarti aku harus miskin papa tanpa harga diri, kan? (Ahh… kecenderuangannya kan suka begitu: Kalau kaya lalu SOK kuasa, kalau miskin lalu DIANGGAP tidak punya harga diri).

Ru, kalau tidak hanya tiga jam antara Cirebon-Bandung yang macet di Sumedang, mungkin kita bisa diskusi lebih seru dan sengit lagi ya? Mungkin tentang apa yang kamu bilang sebagai “Hidup yang dipilih”.

Tapi, bagaimana pun, selamat malam Ru, sahabatku. Memilih cara kadang sama membingungkannya dengan memilih tujuan, ya?

Published November 13th, 2008

Bulan pun Menanti Sepi

 

Bulan tengah menanti di ujung malam. Sudah hampir fajar memang dan Bulan sudah makin pucat. Tapi dia enggan segera mengambil selimut awan abu-abu itu. “Aku masih akan menanti…,” lirih bisik Bulan. Bintang Gemintang yang sejak senja menemani sudah lelah berkedip, tapi juga belum putus asa. Dengan setia mereka menemani Bulan, “Siapa tahu dia segera terjaga…” Hibur mereka. Bulan hanya tersenyum mengangguk “Terima kasih, sahabatku…”

 

Dua minggu ini Bulan hanya sesekali menyapa teman-teman Bintangnya. Bulan bukan sedang tidak ingin bermain apalagi bosan pada sahabat-sahabat malamnya itu. Bulan hanya takut pada mendung yang hari-hari ini kerap muncul. Mega gelap hitam itu seringkali mencoba mengajuk hatinya. Membujuknya untuk mengarungi semesta yang asing. “Ada banyak rahasia yang akan kubukakan padamu,” rayunya. “Ada Planet-planet dengan gelang warna-warni yang berkilauan. Kau akan senang bertamasya di sana. Atau kamu mau bertemu dengan teman-temanmu yang selama ini hanya kau dengar lewat Meteor atau Komet yang lewat? Kuantarkan kau pada Europa atau Callisto… Atau Miranda, Ariel… ” Bulan menggeleng. “Aku berjanji menunggunya di sini…” Lalu mendung pun marah. Dia menjerit, berteriak, sampai kemudian menangis tersedu… Mencurahkan kekesalan hatinya pada semua yang ada di Bumi… “Ah… Bulan…” Keluh Mega yang mulai luruh cair menderas. Bulan cuma menunduk sedih… “Seandainya kau ada di sini…,” keluhnya.

 

Kemudian, di tepian pagi ini Bulan pucat tersenyum. Akhirnya yang dinanti menyapa. Juga dengan wajah yang pasi. Bulan beringsut mendekat. Ragu.  “Aku lelah, Bulan.” Ah… Bulan pun berhenti melangkah, makin pucat. “Banyak sekali yang ku kerjakan. Maafkan aku.” Bulan mengangguk mengerti. “Padahal aku hanya ingin memandangmu… dan menghiburmu jika kau perkenankan aku…” Bisiknya dalam hati. Bulan lupa bahwa dia hanyalah pelengkap malamnya. Saat-saat yang rawan dan gundah. Saat-saat dia membutuhkan tempat berkeluh kesah, menumpahkan kegelisahannya entah pada apa. Tapi percakapan setiap malam itu telah menjadi candu. Bulan menghela nafas.

 

Dari sudut mata, Bulan menampak Matahari yang mulai beranjak. Dengan ceria menebarkan pesona. “Selamat Pagi…!” Seru Sang Surya ramah. Bulan mengangguk membalas sapanya. Lalu sekali lagi berpaling menatap wajah yang dirinduinya. Betapa lelah, betapa gusar, betapa kelam… Ah, sahabatku, rupanya aku salah kira. Aku selalu merasa tersanjung setiap kali kau sisipkan aku diantara doa malammu. Aku selalu mengira kau merindukan aku karena kau sebut aku sambil menghirup kopi di pagi buta… Selama ini. Rupanya pada minggu-minggu tanpa berita banyak hal yang terjadi. Dan bodohnya aku tidak pernah mencoba bertanya… “Maafkan penantianku…” Bulan berbisik beranjak. Tanpa sanggup melambaikan tangan. Bulan kembali ke kesunyiannya, ke sepinya sendiri… Bintang-bintang meredup, tak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Published November 12th, 2008

Yogya, satu episode

 

(1) Yogya, Satu Episode

 

Biarkan hatimu terpasung

Jika kamu enggan

Menatap matanya

Biarkan hatimu terpasung

Jika kamu enggan

Menatap senyumnya

Mata yang resah

Senyum yang pahit

Hati yang tertawan

Biarkan

Biarkan waktu menyeret masa

 

 

 

(2) Yogya, Satu Episode Lagi

 

Bahkan dalam diam

Kita berkejaran dalam waktu

Tapi kita tidak pernah bergegas

Karena walau berlari

Kehidupan tak mau menunggu

Terus berputar, berpusing

Published November 8th, 2008

Ceritaku dan Ceritanya

 

Ceritaku:

Ingatanku pada seorang gadis. Pendiam. Kaku.

“Hai… Tadi aku dengar Utha Likumahua… Aih jadi ingat gadis berambut panjang jaman di senat mahasiswa dulu…” Katanya.

Aku tertawa. Itu kan berarti hampir dua puluh tahun yang lalu.

“Dia selalu sedang serius rapat, atau sibuk ngetik bikin daftar peserta seminar, atau bantuin Dony yang sedang nyiapin dekorasi…”

Aku mengangguk. Rasanya aku tahu suasana itu. “Ha ha… Kamu sendiri ngapain?”

“Aku selalu sedang bingung gimana caranya bisa terlibat dengan kesibukannya… He he… Padahal teman-teman sudah atur supaya aku selalu di seksi yang sama dengannya setiap kali ada kepanitiaan.”

“Terus si Utha?”

“Iya… dia selalu nyanyi mengiringi kesepianku di tengah canda tawa mereka semua…”

“Ha ha… Kasihan sekali deh kamu.”

“Kasihan kok ketawa…” Katanya sambil tertawa juga, “Ok, jangan lupa besok malam nonton Milan! Lihat bagaimana elegannya Kaka…” Sambungnya menutup percakapan. Wah. Padahal dia tahu, Milan buatku tetap Maldini.

 

Ceritanya:

Ingatanku pada seorang gadis. Manis. Berambut sebahu.

Matanya yang bulat jarang sekali diarahkan padaku. Kecuali kalau aku sengaja mengajaknya bicara, yang jarang sekali mampu kulakukan.

Bicaranya yang pelan tapi galak jarang sekali bisa membujukku untuk tidak mengenangnya pada malam-malam yang lapar di tengah-tengah laporan praktikum histologi, embriologi, taksonomi… Dan aku selalu kangen untuk mendengar suaranya, tawanya, bahkan kritikannya sekalipun.

Sikapnya yang tenang jarang sekali bisa meyakinkan aku untuk menyebutnya sekedar tidak peduli atau sombong. Dan aku tetap berusaha melintas di hadapannya untuk menegurnya atau sekedar memandangnya atau meliriknya.

Aku ingat saat pertama kali melihat dan bicara dengannya. Bisa kudeskripsikan tempat dan waktu dan semuanya padanya atau pada siapa saja tentang itu. Dan dia cuma mengerutkan kening sambil geleng-geleng kepala. ”Begitu…?” Sadis sebetulnya. Setidaknya aku mengharapkan jawaban sedikit simpati. Tapi dia memang tidak pernah merepotkan diri untuk basa-basi.

“Ah kamu pasti tidak tahu, karena kenangan itu milikku!” Agak menyakitkan mengakuinya.

Tapi dia malah tersenyum dan mengangguk, “Kamu beruntung…punya kenangan itu”

Apa pun maksud kata-katanya itu, senyumnya, anggukannya, dan suaranya segera jadi milikku pula. Dalam ingatan tentu saja.

 

Ceritaku. Ceritanya. Cuma cerita.

Published November 3rd, 2008

Main Egrang di Kampoeng Bandorasa

Di Kampoeng Bandorasa, 2 Nopember 2008. Saat mencoba sarang peluncuran flying fox di atas pohon petai, aku melihat 2 pasang egrang tersandar di dinding kolam. Waahhh…

Di Ciborelang-Jatiwangi dulu, halaman rumah tetanggaku masih banyak pohon tinggi. Ada pohon mangga, jambu, kersen (cerry), duwet (jamblang), kedondong dan beberapa jenis pohon lainnya. Semua pohon itu adalah ajang latihan memanjat yang asyik. Jadi, setiap pulang sekolah aku dan teman-teman langsung memilih pohonnya masing-masing. Aktivitas ini tentu mengasyikkan bagi kami tapi mencemaskan buat para orang tua… Pohon mangga terlalu tinggi, duwet banyak ulatnya, kersen mudah patah dahannya, dst… Pokoknya, jangan naik-naik pohon lah…

Tapi anak SD kan energinya berlebih, tidak bisa memanjat kami balapan lari di atas rel kereta. Melompat di atas bantalan kayu rel kereta sambil tertawa-tawa, tapi benar-benar uji ketrampilan dan uji nyali saat harus melompati balok kayu di atas jembatan… Salah melompat atau terpeleset bisa nyemplung kali!Untungnya kami tidak usah khawatir ada kereta yang lewat. Rel itu sudah lama tidak digunakan lagi… Aktivitas ini juga tidak membuat orang tua tenang menikmati istirahat siang, he he…

Entah siapa yang mengusulkan, kemudian kami beralih ke egrang. Egrang (atau jangkungan) biasanya dibuat dari dua batang bambu sepanjang kurang lebih dua meter. Masing-masing batang bambu tersebut kemudian diberi pijakan (kira-kira 50 hingga 75 cm dari bawah).  Pijakan ini juga terbuat dari bambu.

egrang.JPG Dengan kaki bertumpu pada pijakan dan berpegang pada bambu, kita bisa melangkah kemana-mana… Kakak-kakakku, dua-duanya laki-laki, langsung mahir berjalan-jalan dengan egrang. Kawan-kawanku ada yang bisa ada yang terus berlatih tapi tidak pernah berhasil. Aku mencoba sampai bisa. Maka, kami bergantian mengitari halaman depan rumahku sampai ke halaman belakang rumah tetangga.

Ketika aku pindah ke Cirebon, main egrang masih diteruskan. Terutama karena halaman rumah tetangga depanku di Sunyaragi ini masih luas dan teduh oleh pohon sawo yang rindang. Cocok sebagai arena bermain jangkungan.

Nah melihat egrang tersedia di Kampoeng Bandorasa, aku pun turun dari pohon petai. ”Emang bisa?” Temanku bertanya tak percaya. Aku juga tidak terlalu yakin. Sudah bertahun-tahun tidak pernah melakukannya. ”Kita lihat saja,” kataku.

 Berkali-kali aku terpeleset. Tidak bisa mendaratkan kaki dengan sempurna di atas pijakan. Penasaran, aku lepas saja sepatu kets yang kupakai. Lalu… Hup! He he…



Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.