Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for October, 2008


Published October 29th, 2008

Kebenaran atau Pembenaran?

bude-ati.jpgAda yang percaya kalau gambar atau photo ini asli? Seorang mahasiswa “menyulap” aku menjadi model mural di negeri antah barantah. Ha ha… Ketika melihat photo itu aku tertawa, “Wah… Boleh juga!”.  Gambar “olahan” semacam itu, atau bahkan yang lebih canggih pasti bisa dibuat dengan teknologi komputer yang sekarang memang begitu majunya.

Nah, kebetulan Pak Budi Hermana menulis tentang Etika, Moral, dan Hukum di blognya (http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana). Mungkin, contoh gambar ini bukan contoh yang terlalu tepat untuk ilustrasi tentang etika di bidang TI.  Aku hanya ingin menunjukkan bahwa banyak hal bisa dilakukan dengan teknologi. Dan batasnya sering tidak terlihat. Boleh atau tidak? Etis atau tidak? Benar atau salah? Jawabnya seringkali tidak mudah. Jauh dari sederhana.

Aku sendiri senang dengan “photo baru” itu. Lucu. Serasa jadi Luna Maya mengiklankan pasta gigi dan topi (ada nggak sih?)! Hi hi… Teman-teman, jangan khawatir. Aku tidak (kalau lagi optimis: belum) secantik, secanggih, dan seterkenal itu.

Terlepas dari photo rekaan tapi terkait dengan kebenaran. Aku teringat orasi ilmiah pada acara wisuda UG lebih dari sepuluh tahun yang lalu (Oh ya, besok, 30 Oktober 2008,  juga ada acara wisuda UG di JCC). Waktu itu, Prof Bambang Hidayat menyinggung soal kebenaran dan pembenaran. Aku sempat termangu-mangu.

Kebenaran atau pembenaran? Dimana letak perbedaannya? Apakah kebenaran adalah hasil dari pembenaran? Atau, apakah pembenaran dapat menghasilkan kebenaran?

Jika kebenaran adalah nilai mutlak, maka mestinya pembenaran merupakan sesuatu yang sia-sia. Tapi toh seringkali tetap dilakukan, terutama oleh orang-orang yang berkepentingan terhadap nilai-nilai kebenaran tersebut.

Hmm… So?

Published October 24th, 2008

Meniti Karir

Ada pertanyaan yang melintas saat ikut menangani UG Career Days tanggal 21-23 Oktober 2008 yang lalu.

Waktu aku kuliah dulu, Job Fair, Career Expo, Career Days, Titian Karir, atau apa pun namanya, rasanya masih sangat jarang terdengar. Setidaknya, di kampusku dulu tidak ada kegiatan semacam itu. Rekrutmen di kampus sering. Tapi dikumpulkan dalam satu kegiatan, rasanya kok tidak pernah. Setelah lulus pun aku belum pernah datang ke acara seperti itu walaupun beberapa tahun belakangan ini banyak sekali kampus maupun EO yang mengadakannya. Dipungut biaya mau pun gratis.

Pertanyaanku adalah: Bagaimana orang mulai meniti karirnya? Kapan, dari mana, dan bagaimana memulainya? Kadang-kadang, kita mendapat cerita bahwa si A mulai bekerja dari nol lalu merangkak naik hingga posisi puncak. Sementara si B bertengger di atas sejak mulai bekerja untuk kemudian tetap di atas selamanya sampai bosan sendiri dan minta pensiun dini. Kemudian si C, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terus saja mencari posisi yang paling tepat (menurutnya sendiri tentu saja), tapi tak juga dapat…

Ya. Para pengunjung yang datang mengunjungi perusahaan peserta pameran sambil membawa setumpuk berkas lamaran pastilah bertanya-tanya. Antusias sekaligus cemas. Tepatkah langkah yang saya ambil hari ini? Sesuaikah pilihan saya? Dapatkah saya memulai karir saya dari sini?

Perusahaan yang datang dan menerima sejumlah besar aplikasi tentu juga punya harapan sendiri. Walau kelihatan penat mereka tetap semangat. Toh ada pertanyaan juga. Apakah saya mendapat apa yang saya cari? Apakah tenaga kerja yang handal dan mumpuni bisa saya dapatkan di sini?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin saja muncul di benak peserta dan pengunjung, kan?

Pertanyaanku kemudian: Apakah UG Career Days dapat mempertemukan harapan dari kedua belah pihak? Semoga.

Published October 22nd, 2008

Diskusi

Kamu pasti kesal kalau aku mulai diskusi sama destroyer-destroyer  itu.

Kami sendiri menamakannya debat kusir.

Nah, karena namanya juga kusir maka semua ingin pegang kendali.

Kadang-kadang kami lebih nekat lagi, karena kami hanya ingin berbeda saja.

Topik, alasan, kesimpulan tidak penting. Pokoknya rame!

“Kalian memang tukang ribut, iseng, kurang kerjaan!”

Kamu benar.

 

Destroyer I, bilang, “Ente sih asal omong aja”, tapi toh kalau aku setuju pendapatnya,

dia jadi ribut, “Lho, kok kamu setuju. Kreatif dikit lah..!”

Destroyer yang lain pun protes, “Kita jadi nggak ada diskusi nih.”

Akhirnya kami memang ribut terus dan protes sana-sini.

Kelompok pemberang jalan terus. Kamu uring-uringan terus.

Tidak tahan ribut tapi lebih tidak tahan tidak mendengar apa-apa.

 

Sebetulnya kamu tidak perlu khawatir pada pembicaraan kami.

Lihat saja, kami toh belum pernah melanggar aturan (karena kami lebih sering menertawakan diri sendiri)

Dan, walaupun selalu berbeda pendapat, setidak-tidaknya kami punya kesepakatan: agree in disagree.

Kami berpisah dengan keyakinan (atau ketidakyakinan) masing-masing, tanpa dendam,

dan tetap rindu untuk bertengkar lagi.

 

Kamu percaya nggak kalau aku justru dapat ide-ide baru dari sana?

Kegembiraan sederhana karena kami selalu berusaha untuk mendengarkan dan patut didengarkan.

Kadang-kadang, kesempatan seperti itu langka, kan?

Perbedaan-perbedaan ini justru membuatku lebih kaya.

Apa jadinya kalau di dunia ini hanya ada satu rupa, punya satu suara?

Berbeda dengan orang lain bukan kesalahan, kurasa.

Kita sering lupa satu hal ini.

Sedangkan dunia ini diciptakan dengan sejuta warna…

 

Published October 15th, 2008

Home Sweet Home

Apakah yang kau pikirkan tentang rumahmu?

Aku selalu berharap memilikinya

Rumah adalah awal dari segala peristiwa

Di sana segalanya bermula, di sana segalanya ditentukan

Walau tak selamanya di sana semua akan berakhir

Bahkan mungkin kita tidak akan pernah kembali ke sana, selamanya

 

Memang ada kalanya seisi rumah begitu menjemukan

Tapi begitu kita melangkah keluar

Kita segera tahu bahwa kita akan segera pulang lagi

Bagaimana pun mengasyikkannya perjalanan kita

Kita tetap merindukan untuk pulang ke rumah

 

Rumah adalah tempat menambat sauh

Sebelum atau sesudah berlayar

Tempat kita mengisi perahu dengan seribu satu macam

Bekal untuk perjalanan selanjutnya

Rumah juga tempat kita melepas penat

Setelah berjalan jauh

Rumah selalu menjadi impian setiap musafir

 

Tapi apa sebenarnya yang mengikat kita di rumah?

Apakah karena jendelanya yang lebar?

Karena lampu kristalnya yang anggun?

Karena dindingnya yang kokoh?

Atau karena tamannya yang indah?

Sedangkan rumah tidak mesti berjendela, berdinding,

berlampu, atau bertaman

Dia tidak terbatasi dinding beton sekali pun

Dia begitu bebas menentukan bentuknya sendiri:

Bulat, segitiga, atau kubus

 

Yang jelas, dia menyimpan segala kesabaran

Keramahan, ketulusan, dan kearifan

Dia selalu jujur walau sering kita tidak mengakuinya

Dia selalu menyeru pada kebaikan

Biarpun kita tidak selalu mendengarkannya

Dia tidak pernah bosan mengingatkan

Walau kita terus alpa

Dia tidak pernah putus asa

Sekalipun kita seringkali mengalahkannya

 

Dia memang lautan yang siap menampung

Semua air yang mengalir padanya

Dia samudera tempat kita diayun gelombang

Yang siap menelan dan mengembalikan

 

Dialah rumah kita

Dialah hati nurani kita.

 

Published October 13th, 2008

Struggle for life

Apa yang menyebabkan

Seseorang dapat bertahan hidup

Kenangan akan masa lalu

Atau harapan akan masa datang?

Published October 8th, 2008

Merajut Hari…

Aku paling tidak suka tidak punya kegiatan. Nganggur tidak mengerjakan apa-apa membuat senewen. Jadilah aku selalu saja cari-cari pekerjaan. Mulai dari baca buku sampai menyapu. Pokoknya harus melakukan sesuatu. Jadi. mungkin saat melamun pun aku kelihatan sibuk, he he…

Melengkapi sifatku adalah tambahan rasa penasaran. Bisa nggak ya bikin itu? Mampu nggak mengerjakan ini? Coba aja! Itu prinsipnya. Kalau terbukti tidak bisa ya apa boleh buat… Aku toh pernah cerita tentang karya setengah jadi atau seperempat jadi… Sekedar mengikuti kata hati lah… Mencoba ini itu.

Liburan kali ini, aku diberi bekal benang oleh Ire. Benang rajut warna kuning melon merek DMC ukuran 8. Mungkin Ire mengujiku, masih bisa nggak aku merajut sampai jadi dan hasilnya bisa digunakan. Ha ha… Berat juga. Sudah lama sekali aku tidak merajut…

Aku jadi teringat pelajaran prakarya ketika SD dulu. Di sekolah, prakarya yang diajarkan sebatas membuat bunga dari kertas atau sedotan. Menyulam sapu tangan, atau berkelompok membuat taplak meja. Pelajaran itu lumayan menyenangkan. Tapi tidak cukup untukku. Di rumah, aku masih ikut-ikutan ibuku membuat aneka hasta karya. Puas kalau bisa membuat (tepatnya mencoba membuat) sendiri.  Walau begitu, tidak banyak hasil yang  tersimpan di rumah. Boneka kain perca, waktu itu, kubagi-bagi untuk teman dan para sepupu. Gambar kristik dipajang di rumah para bulik, adik-adik ibuku (ketika berkunjung lebaran kemaren, karya itu masih dipajang!), juga gambar sulaman… Hanya beberapa saja yang masihrajut2.JPG ada di rumah, dalam kondisi yang sudah memprihatinkan pula, ha ha…

Dalam hal rajut-merajut, suatu kali, di kelas 4 SD, kami diminta mengumpulkan karya yang boleh dikarang sendiri dari bahan apa saja. Bebas.  Aku membuat taplak kecil (runner) rajutan dari benang wol. Berjuang melawan kebosanan (karena biasanya aku berhenti begitu merasa sudah bisa). Betapa kecewanya ketika hasil karyaku hanya dinilai 6. Aku tidak begitu peduli teman-temanku dapat nilai berapa. Mereka menyerahkan hasil karyanya masing-masing. Tidak satu pun yang membuat rajutan. Ketika kutanya kepada bu guru, mengapa nilaiku cuma 6? Apakah kurang bagus? (tentu saja sih kenyataannya juga karyaku tidak begitu rapi… anak kelas 4 SD gitu lho). Jawabannya lebih mengherankan aku, “Ini terlalu bagus untuk kamu buat sendiri.”

He he… Kecewa sih tetap, tapi aku tidak protes lagi (bertanya saja sudah memerlukan keberanian luar biasa saat itu).  Aku anggap komentar itu sebagai pujian. Dasar ndableg!

rajut1.JPGDi rumah, ibuku tetap memasang karyaku di meja tamu. Juga sarung bantal hasil rajutanku. Itu sudah cukup menyenangkanku.  Ini karyaku dari masa yang sudah sangat lama lalu itu.

Taplak bundar dengan motif buah anggur itu dulunya sarung bantal. Sekarang bantalnya sudah dibuang, tapi rajutannya diselamatkan walaupun sudah ada benang yang putus.  Usianya sudah lumayan tua. Dibuat ketika aku kelas 4 SD itu!

Nah, sekarang bagaimana dengan satu gulung benang rajut warna kuning melon ini? Aku pun membongkar lagi koleksi hakpenku. Mencari jarum rajut yang sesuai dengan ukuran benang. Alhamdulillah masih ada… Aku memilih membuat stole. Mungkin berguna untuk menahan angin kumbang di malam hari. Dan, Re, PR-mu sudah kuselesaikan! Stole sepanjang hampir dua meter untuk ibuku. Tarikannya agak semrawut, karena dikerjakan juga disela-sela karantina awal dan akhir puasa, mengerjakan borang. Ini dia. Terima kasih ya!

stole1.JPG

Published October 7th, 2008

Lebaran Reuni

Alhamdulillah… Lebaran ini aku dapat pengalaman seru. Selain bisa berkumpul bersama keluarga, berjumpa tetangga, dan saudara,  ikhlas saling maaf - memaafkan… Aku dapat bonus yang lain. Pertama, bertemu teman-teman lama. Kedua, punya kesempatan mencicipi (kembali) makanan khas Cirebon.

Bonus pertama sangat menyenangkan hati.  Aku bertemu dengan teman-teman SMA, lalu kesempatan berikutnya dengan teman-teman SMP. Menyenangkan? Tentu. Beberapa di antara mereka sudah lebih dari dua puluh tahun tak kujumpa. Lebih menyenangkan lagi, aku tidak lupa nama mereka… Ha ha… Banyak kejadian memalukanku karena aku tidak bisa menyebut nama dan mengingat wajah teman lama (Sssttt… Itu terjadi pada rapat DP2M DIKTI 21 September yang lalu di Accacia. Kakak angkatan waktu kuliah dulu, yang sekarang dosen di USU Medan, menyapaku lebih dulu sementara aku masih berusaha keras mengingat kapan dan dimana aku pernah mengenal dia… Nuwun sewu yo, Mas. Tapi akhirnya aku berhasil juga kan menyebut namamu dengan lengkap? Waduh… lha wong aku pernah jadi praktikannya je…).

Bertemu teman-teman SMA karena diundang ke rumah teman sebangku waktu kelas 3 SMA dulu. Ternyata, di sana sudah datang teman-teman yang lain. Jadilah kami berenam, Inot, Teguh, Budi, Cahyono, dan Bram, dan aku duduk di teras yang berangin. Nyamuk yang ikut nimbrung tidak dipedulikan. Tuan rumah sudah pasang obat nyamuk dan sedia minyak kayu putih. Maklum, Cirebon di awal oktober masih panas terik di siang hari, berangin kencang menggigit di malam hari, lengkap dengan nyamuk yang pantang menyerah mencari mangsa. Tapi semua asyik bertukar cerita. Aku lebih banyak mendengarkan dengan hikmat (tapi lebih sering tidak bisa menahan senyum geli). Bulan awal Syawal yang cuma secuil mengintip dari balik gerumbul pohon mangga di halaman rumah tetangga.Tidak mau ketinggalan.

Hari Sabtu tanggal 4 Oktober berikutnya, aku berkumpul dengan teman-teman SMP. Acara resminya adalah halal bi halal alumni SMP Negeri 1 Cirebon. Teman-teman di Cirebon menyiapkan acara ini untuk teman-teman satu angkatan. Wah, ada wajah-wajah tak asing yang kujumpa walau sejak lulus SMP tak pernah bertemu! Ada sekitar 60 orang yang datang. Membuat kebon mangga di halaman belakang rumah Rhamdani menjadi semarak. Tenda sederhana di pasang. Dan kami semua hilir mudik berpindah dari gerombolan satu ke gerombolan lainnya. Sibuk menyapa, bersalaman, tertawa, tukar nomor telepon, tapi tidak lupa menikmati setiap suguhan yang tersedia.

Kelihatannya teman-teman sekelasku di 3E jadi penampil paling aktif. Tidak bisa melihat mikropon nganggur. Apalagi ada organ terpasang. Maka Boni pun kontan cuap-cuap jadi provokator acara ayo menyanyi. Adjat tidak bisa tidak langsung unjuk kebolehan di depan keyboard. Mula-mula mengiringi Boni yang menyanyi dengan mantap walau agak-agak lupa syair, lalu Nike yang masih saja bersuara merdu merayu, kemudian duet Nike dan Sulaiman (yang bertekad akan kembali berlatih nyanyi supaya sisa-sisa kejayaan juara nyanyi jaman SMP dulu bisa ditunjukkan lagi tahun depan!). Iwan Darmawan sibuk juga mau tampil menyanyi lagu Broerie yang dangdut (Emang ada gitu? Terserahlah, pokoknya maju, njaluk urug pisan nyanyie). Teman-temanku yang luar biasa! Ohya, di luar kelas 3 E, ada Chaidir tentu, yang kali ini hanya kuat satu lagu terus minta time out cari segelas air. Lalu Hesti dan Iwul, dua sahabat kompak menyanyi sambil tetap tak melepas senyum gembira bisa tampil bersama.

Terima kasih buat teman-teman di Cirebon yang sudah bekerja keras membuat acara ini terlaksana. Budi, Soni, Nining, Harris, Dedi Kris, Ahmad Tavip, Dedi Umar, Basit, Yanti, pokoknya semua sie repot deh. Juga tuan rumah Rhamdani yang bahkan merelakan sebagian pohon mangganya dipangkas supaya bisa terpasang tenda… Iwan Wahyu dan Meli sang pembawa acara. Heru Kusuma yang memimpin doa. Erris, pak ketua OSIS, dan Hesti yang menggelar cerita nostalgia. Untuk semua teman-teman yang sudah bersedia datang. Teman-teman yang harus menunda kepulangan ke kota tempat sekarang tinggal. Teman-teman yang khusus datang ke Cirebon untuk berkumpul teman lama, menikmati persahabatan yang tak lekang oleh jarak dan waktu. Teman-teman yang walau harus segera bertolak ke kota lain memenuhi panggilan tugas toh tetap menyempatkan mampir walau sejenak… Terima kasih untuk persahabatan dan kebersamaan yang indah ini…

Bonus kedua  juga tak kalah menyenangkan. Mencicipi hidangan khas kota Udang. Tahu gejrot yang sekarang merambah dengan meriahnya ke Jakarta, tetap saja menjadi salah satu menu yang dinanti. Empal gentong lengkap dengan irisan lontong dan serbuk cabai merah yang langsung bisa bikin gerah, dan tak ketinggalan krupuk kulit. Nasi Jamblang dengan aneka lauk pauk yang bisa dipilih sesuai selera: dendeng gepuk, perkedel, tahu, tempe, sambel goreng, paru, telur, dan sebagainya. Krupuk mlarat dan sambel asem yang segar menggugah selera. Krupuk aneka warna yang dijuluki mlarat barangkali  kerena krupuk dengan rasa asin dan sensasi sedikit manis ini digoreng tidak dengan minyak goreng yang mahal, tapi digoreng dengan pasir (tidak heran, kadang-kadang ada butiran-butiran pasir yang masih tertinggal menempel di krupuk).  Nah, krupuk ini disusun di pincuk (sekarang pakai piring kertas) lalu di atasnya diberi kangkung dan tauge rebus, disiram dengan sambel asem yang manis, asin, asem, pedas. Cuaca panas, sambel asem yang pedas. Pas. Semua tersedia di acara halal bi halal alumni SMP Negeri 1 Cirebon. Sehari sebelumnya, saat melihat kesiapan tempat untuk pertemuan silaturahmi itu, aku juga sempat mencium aroma docang yang menghimbau. Sayang, aku masih kenyang, jadi cukup puas mengira-ngira saja kegurihan masakan itu. Sampai sekarang aku belum pernah merasakan docang. Yang terlihat olehku, docang itu terdiri dari lontong dengan sayur daun singkong dengan bumbu kelapa parut, mirip oblok-oblok daun singkong, tapi kuahnya lebih bening. Silakan ikut membayangkan kalau mau, seperti apa rupa dan rasa docang ini… He he… Semoga lain waktu aku sempat juga mencicipinya.

Untuk semua kerabat, teman dan sahabat di mana pun berada:

Selamat Idul Fitri 1429 H

Mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan dan kekhilafan saya selama ini…

Semoga kita semua diberi kesempatan bertemu lagi dengan ramadhan berikutnya.


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.