Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for September, 2008


Published September 22nd, 2008

Thinking Alone…

Lagi berpikir-pikir nih…

Kalau berpikir terus dan tidak pernah bertindak, apa jadinya dunia ya?

Tapi, kalau bertindak terus tanpa pernah berpikir, apa juga jadinya dunia?

“Thinking alone does not make a man being human”

Berpikir semata tidak membuat seseorang menjadi manusia (bijaksana)…

Published September 19th, 2008

Kuliner Gaya Jatiwangi

Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirim pesan pendek. “Wah ada kuliner gaya Majalengka di TV”. Maka ingatan pun melayang pada sekian tahun yang lalu saat aku masih di Jatiwangi dan tinggal di Ciborelang. Untuk yang belum kenal, Jatiwangi adalah satu kecamatan di Kabupaten Majalengka Jawa Barat.

Makan dan makanan seringkali tidak hanya masalah rasa, kan? Makan dan makanan juga bisa membawa semua nostalgi. Lengkap dengan semua gambaran suasana yang membuatnya tidak lepas dari kenangan.

Jadi, apa yang bisa kuingat (dan kurindu) tentang pengalaman kuliner di Jatiwangi, kota penghasil genteng itu?

Kecap (yang pasti nomor satu) cap Menjangan. Tidak ada sarapan dengan telur dadar atau tempe tahu goreng tanpa siraman kecap Majalengka cap Menjangan yang telah diberi potongan cabe rawit dan bawang merah. Heran juga kenapa diberi nama Menjangan. Apa dulu sekali, di Majalengka banyak menjangan berkeliaran? Tidak tahu. Aku sering diminta ibu membeli kecap dengan menukarkan botol hijaunya itu ke pasar Sutawangi atau pasar Ciborelang. Belum ada edisi isi ulang masa itu. Apa kecap cap Menjangan masih diproduksi hingga kini dan apakah rasanya masih seperti yang kuingat dulu? Entahlah.

Ampas kecap yang dioseng-oseng dengan cabai hijau. Butir-butir kedelai hitam yang lunak berasa gurih dengan sensasi sedikit pahit dan aroma kecap mestilah berasal dari hasil samping pabrik kecap. Tauco semacam ini pertama kali kutemui di Jatiwangi. Di kota tinggalku sebelumnya tidak ada. Terus terang, ketika pertama melihatnya dijual di pasar aku tidak mengira kalau itu bahan makanan. Biasanya penjual menggelarnya di atas tampah (semacam nampan bundar terbuat dari anyaman bambu). Penjual memakai cangkir untuk menakar seberapa banyak ampas kecap yang dibeli. Ternyata, oseng-oseng ampas kecap ini tepat untuk pelengkap menu makan siang sepulang sekolah. Ohya, di Cirebon, ampas kecap ini juga ada. Tetapi warnanya agak coklat tidak hitam dan tidak selunak yang di Jatiwangi. Dalam ingatanku, ampas kecap Majalengka tetaplah lebih gurih. Perkenalan pertama memang bisa lebih menggoda…

Di Jatiwangi ini pula aku terkenang pada rujak kucur. Begitu kami menyebutnya.  Semacam pecel yang dijajakan keliling oleh Bi Aweh (semoga benar nih aku memanggilnya, maaf ya Bi kalau salah menyebutkan nama). Segala sayur mayur rebus (kankung, kacang panjang, kecipir, kol, tauge, dll) ditaruh dalam pincuk daun pisang lalu disiram dengan saus kacang. Saus kacang atau bumbu rujak yang dikucurkan di atas sayuran ini rasanya asin, manis, asam, dan tentu sangat pedas menyengat bagi lidah kecilku saat itu. Sulit mendeskripsikan rasanya… antara pecel dan asinan barangkali ya sang bumbu itu. Segarlah kesimpulannya, he he… Pas sebagai kudapan pada siang  yang terik di Ciborelang. Apa ada yang meneruskan usaha Bi Aweh berkeliling menjajakan rujak kucur hingga kini?

Gedong gincu dan pisang apuy. Itu dua macam buah yang juga baru kukenal ketika tinggal di Jatiwangi. Ada berapa banyak macam mangga dan pisang di Indonesia sebenarnya? Banyak sekali ternyata. Aku bukannya tidak pernah makan mangga dan pisang. Mangga golek, harum manis, tali jiwa, pakel, cengkir adalah jenis mangga yang sudah ada dalam kamus buahku sebelumnya. Tapi mangga berbentuk bundar sebesar kira-kira bola tenis berwarna hijau oranye menyala pada pangkalnya itu segera menjadi favoritku. Dulu, ibuku sering membelinya di pasar Kadipaten. Di sana, mangga gedong ini begitu melimpah ruah. Sedangkan pisang apuy, mm… jelas buah ini melengkapi perbendaharaan pisang yang telah lebih dulu kunikmati sebagai pencuci mulut, pisang raja dan ambon lumut. Pisang yang jika masak berwarna kuning (sering kali dengan bintik-bintik hitam)  ini sangat legit. Tapi, hati-hati. Pilih yang benar-benar tua dan masak kalau tidak ingin mendapati rasa sedikit asam dan tekstur buah yang keras mengkal. Kemudian, pisang apuy ini kutahu disebut juga raja sereh.

Masih ada lagi? Tentu. Masih banyak makanan yang aku kenal pertama kali di Jatiwangi ini (walaupun ada yang sampai kini tidak berani kucicipi). Rajungan, marus, swike (hayo, siapa yang belum pernah mendengar swike Jatiwangi?)… dan sederet lagi yang lainnya. Seingatku, di pertigaan menuju Lanud Sukani berbagai macam makanan digelar pada sore hari… Oh, tak terasa, itu sudah lebih dari tiga dekade.

Published September 12th, 2008

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu


”… Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.” susanna.jpg

Kalau ada buku yang kubeli karena judulnya. Ini salah satunya. Judulnya begitu menghanyutkan sekaligus provokatif. Mau tak mau aku mengambilnya dari rak pajang toko buku.

Novel karya Tamaro ini pernah kubaca saat dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas. Bergaya naratif, novel ini agak berbeda dengan novel populer yang biasa aku baca. Terus terang, biasanya, gaya narasi agak membosankan aku. Tapi saat membaca karya Tamaro ini aku bahkan penasaran bagaimana Olga akan menuliskan seluruh kisah hidupnya untuk cucunya yang meninggalkannya sendirian untuk pergi ke Amerika.

Alasan lainnya adalah nama Tamaro. Aku tidak tahu siapa Tamaro selain bahwa nama itu menyiratkan Italia. Jarang sekali karya sastra Italia diterbitkan di Indonesia kan? Inggris, Perancis, Amerika, India, Jepang, China, bahkan Brazil, aku masih lebih sering menjumpai. Tapi novel Italia sangat jarang kudapatkan.

Aku tidak pernah merasakan punya nenek. Itu alasanku yang berikutnya. Aku jadi ingin tahu bagaimana seorang nenek berupaya menggapai hati cucunya yang dulu begitu dekat kemudian seiring waktu, mulai merentang jarak, semakin jauh dan dalam. Nyaris tak terjembatani.

Pembohong, itu bisa jadi judul otobiografiku, kata Olga. Tapi, untuk apa mengaku? Untuk apa menanti kejujuran? Orang sering tidak peduli pada pengakuan seseorang bahkan tidak mau tahu alasan mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu. Jadi untuk apa mengaku? Mengapa harus jujur? Bagaimana jika ia hanya membuat luka yang baru?

Kejujuran memang tidak sesederhana itu. Kejujuran memerlukan wilayah dimana orang saling percaya (Pengantar, hal. 15). Tapi itulah perjuangan Olga. Bagaimana dia akan menuliskan hal-hal yang amat peka yang menyangkut hubungan-hubungannya di masa lalu, dengan cucunya dan dengan orang-orang lain. Rahasia yang belum siap ia nyatakan tapi pernah terlontar tanpa sengaja. Pengakuan yang ia percaya pernah membuat putrinya, Ilaria, sangat terluka karena kejujuran yang begitu saja terbuka.

Olga sangat ingin dipahami, terutama oleh cucunya. Belas kasih, katanya, bukan sikap mengasihani! Bagaimana pun, dia harus membuka kartu, bercerita tentang penderitaannya sebagai perempuan di tengah keluarganya, perkawinannya dengan Augusto untuk mengikuti tradisi, cinta sejatinya pada Ernesto yang tak pernah dia ragukan tapi tentu saja tidak mudah ditunjukkan, dan tentang Ilaria putrinya, sang pemberontak feminis radikal, serta tentang semua kenangan hidup indah bersama cucunya.

Membaca novel ini aku merasakan cinta seorang nenek, lebih tepat seorang perempuan. Pada dunia yang sangat patriarkis, pengakuan Olga adalah juga pengakuan perempuan. Kekhawatiran dan harapan seorang perempuan.

Akhirnya dengan menuliskan pengakuannya ini, Olga berharap mencapai rekonsiliasi dengan cucunya (dan terutama dengan dirinya). Perubahan paling penting pertama yang harus dilakukan ada di dalam dirimu sendiri. Begitu Olga bilang. Berjuang untuk suatu gagasan tanpa terlebih dahulu mengenal dirimu sendiri adalah hal paling berbahaya yang bisa dilakukan manusia.

Judul       : Pergilah Ke Mana Hati Membawamu (Judul asli: Va dove Ti Porta il Cuore)

Penulis    : Susanna Tamaro

Katagori : Fiksi

Penerbit  : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun     : 2004

Published September 12th, 2008

Berburu ke Padang Datar

Hari ini, aku bertekad menyelesaikan (paling tidak, meneruskan) pekerjaan yang sudah pernah dimulai lalu terbengkalai… Bukan hal yang luar biasa kalau aku meninggalkan karya setengah atau bahkan seperempat jadi, he he… Bahkan guruku SD dulu pernah menasihati begini, “Ah kenapa tidak kamu lanjutkan? Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi…”

Mengingat nasihat bijak itu, jadilah aku duduk manis dan mulai bekerja lagi… Hm… banyak proyek menunggu untuk ditangani, ternyata… Ok. Let’s start from now on!

Biar bunga berkembang mekar…

Published September 7th, 2008

Proses atau Produk?

Proses bukan masalah, yang penting produk!” Kalimat tersebut sudah sangat sering kita dengar, tetapi tidak sering kita pahami maksudnya. Kalimat tersebut memang bisa punya dua sisi. Pertama, kalimat tersebut bisa mempunyai konotasi positif. Kalimat itu dapat menyiratkan adanya pengerahan daya dan upaya untuk menghasilkan produk yang terbaik, terutama jika sumber daya dan tenaga kita dalam keadaan minimal. Jika tenaga terbatas kita cari akal supaya produk tetap dapat dihasilkan. Jika sumber daya sangat-sangat terbatas, maka kita akan mencari cara, teknologi, dan upaya-upaya alternatif yang kreatif dan inovatif agar hasilnya tidak mengecewakan. Jika pengertian itu kita ambil maka kita boleh mengharapkan seluruh proses yang dilakukan adalah hasil kreativitas dalam mengolah sumber daya, mudah-mudahan tidak disertai pemborosan dan penghamburan sumber daya, suatu kesia-siaan yang tidak perlu. Kita juga boleh mengharapkan bahwa hasil yang diperoleh menjadi optimal.

Kedua, kalimat di awal tulisan ini dapat juga berkonotasi negatif. Sayang sekali, pengertian yang negatif inilah yang lebih banyak berlaku. Kalimat tersebut dapat merupakan cerminan ketidakpedulian terhadap proses yang terjadi asalkan mendapatkan hasil yang diinginkan. Pengusaha-pengusaha besar dengan bangga mengumumkan kerajaan konglomerasinya yang luar biasa besar, walaupun diperoleh dengan jalan menipu atau memeras bahkan menjarah. Pejabat-pejabat tanpa sungkan memamerkan kekayaannya yang luar biasa, walaupun diperoleh dari kolusi dan korupsi. Jadi jangan salahkan juga jika kita menemui mahasiswa yang dengan bangga menunjukan hasil ujiannya yang gemilang meskipun diperoleh karena mencontek.”Ah… yang penting kan hasilnya!”  Memang kita sering hanya terpana dengan hasil atau produk akhir. Kita seringkali hanya merasa berhasil dan sukses jika dapat menunjukkan produk, apa pun proses yang terjadi di belakangnya.

Konon, ketidakpedulian terhadap proses, seringkali berkaitan dengan ketiadaan etos kerja. Orang tidak menemukan kepuasan dalam usaha memperoleh sesuatu tetapi lebih pada kepuasan mendapatkan hasil. Karena itu kalau saja ada yang gratis atau dihadiahkan, maka tanpa sungkan-sungkan orang bersuka cita menerimanya. Jika bisa mendapatkan gaji tanpa bekerja, mengapa tidak? Jika dapat lulus sekolah tanpa ikut kuliah, ikut praktikum, ikut ujian dan sebagainya, mengapa tidak? Jika bisa kaya tanpa usaha, ah… mengapa tidak? Kerja keras untuk mendapatkan sesuatu tidak dianggap sebagai suatu pencapaian apalagi kepuasan. Ini budaya yang maunya serba instan, langsung jadi. Ah, semoga, aku hanya mengada-ada.

Published September 6th, 2008

Il Postino, Kesabaran yang Menyala-nyala

antonio.jpg

 

Bagai sekuntum bunga pada wanginya.

Aku terikat pada kenangan samar tentangmu.

Aku hidup dengan perih yang mirip luka.

Jika kau sentuh aku, kau kan merusakku hingga mustahil diperbaiki.

 

Puisi itu tertulis di sampul novel karya Antonio Skármeta, il Postino, versi Indonesia.

Novel yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Spanyol dengan judul Ardiente Paciencia (Inggrisnya Burning Patience, Kesabaran yang Menyala-nyala) ini menceritakan suka duka persahabatan penyair Chile yang mendapat hadiah Nobel Sastra tahun 1971 dengan seorang pemuda bernama Mario Jiménez yang bertugas mengantarkan surat-surat untuk sang penyair. Waktu itu sang penyair tengah mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil bernama Isla Negra.

Sebagaimana layaknya pemuda yang bercita-cita mandiri. Mario Jimenez menolak mengikuti jejak ayahnya dan sebagian besar penduduk di desa itu, menjadi nelayan. Dia mencoba membangun karirnya sendiri yang menurutnya lebih sesuai (dan lebih intelek) yaitu dengan menjadi tukang pos.

Mario mengantarkan surat dan paket yang ditujukan kepada satu-satunya pelanggannya, penduduk paling terkenal di pulau itu, Neruda. Kepada Neruda ini kemudian Mario belajar tentang puisi dan bahasa. Begitu dekatnya dia menganggap hubungannya dengan Neruda sehingga dia berani meminta Neruda untuk ikut membantunya mendekati Beatrice, seorang gadis pelayan bar. Walaupun Mario akhirnya dapat memperoleh cinta Beatrice lebih karena puisinya sendiri.

Saat Salvador Allende menjabat presiden Chile, dan Neruda ditunjuk sebagai duta besar untuk Perancis, Mario lah yang menjadi mata dan telinga Neruda di Isla Negra dan Chili pada umumnya. Mario merekam semua kejadian dan mengabarkannya pada Neruda. Bagaimana kehidupan di Chile yang mula-mula berjalan dengan baik, kemudian mulai terjadi kemunduran karena pemogokan dan kekerasan.

Neruda, yang pada beberapa tahun kemudian memenangkan hadiah Nobel untuk kesusasteraan pulang ke pulau Isla Negra dan meninggal di sana, sedangkan Mario sendiri menghilang, tidak diceritakan kemana dan bagaimana. Memang saat itu, boleh dikatakan Chile menghadapi tahun yang sulit dan menegangkan. Tahun-tahun menjelang kudeta yang dilakukan Jenderal Pinochet.

Terlepas dari akhir ceritanya yang ’down beat’, novel ini menggambarkan tokoh yang nampaknya dikagumi benar oleh penulisnya. Pablo Neruda. Lengkap dengan penggambaran yang detil dan agak kocak sebenarnya. Aku sendiri tertarik dengan buku ini mula-mula karena puisi yang terpampang di sampul depan novelnya. Entahlah. Aku belum berhasil mencari tahu apakah Neruda atau  Skármeta yang menulisnya.

Karena seperti  Skármeta menggambarkan tentang cinta Mario pada Beatrice yang diilhami puisi Neruda, Neruda pun menulis dalam pidato penerimaan Nobelnya:

“Dengan demikian, puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.”

 

Judul       : Il Postino (Judul asli dalam Spanyol: Ardiente Paciencia)

Penulis    : Antonio  Skármeta

Kategori  : Novel

Penerbit  : Akubaca

Tahun     : 2002


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.